"Aku harus bagaimana... " Celvin menundukkan kepalanya dengan sedih, lalu Celine mengusap pundak adiknya itu. "Semuanya sudah berlalu.... yang terjadi di masa lalu biarlah itu terjadi," Celine. Celvin menggelengkan kepalanya. Dia tidak ingin melupakan hal itu.
"Celvin, jika kamu hidup untuk hal itu, kamu tidak akan pernah bahagia." Celine.
"Cobalah untuk menerima semuanya, meskipun itu menyakitkan." Celine.
"Bagaimana dengan kakak?" Celvin.
"Kakak baik-baik saja, kakak baik-baik saja kok," Celine sambil tersenyum.
Celvin memeluk kakaknya dengan erat, "Yang aku punya hanya kakak, kakak jangan pernah sakit dan terluka aku mohon..... " Celvin.
Celine mengangguk mengerti.
"Kau juga, adikku... "
Beberapa hari kemudian. JB mengadakan event untuk ulangtahun, mereka mengundang artis terkenal dan juga Celvin memamerkan lukisannya. Keluarga Zara sibuk menyambut tamu-tamu penting.
"Kapan sih selesainya," Bisik Viona.
"Kenapa?" Celvin.
"Ramai orang, pusing!" Viona dengan kesal.
Celvin tersenyum kecil, "Sabar."
"Aku mau duduk sama makan kue," Viona pergi.
"Anak itu," Celvin dengan heran.
Viona makan kue dengan asiknya, dia tidak peduli dengan tamu-tamu mamanya itu, tapi dia melihat Celvin sedang mengobrol dengan beberapa wanita sexy.
"Cih apa mereka kesini pamer punggung," Gumam Viona dengan kesal.
Dan salah satu wanita itu berpelukan dengan Celvin.
"Ciahhhh paan sihh meluk-meluk gitu, gatel banget." Viona dengan kesal. Lalu Viona menyusul Celvin dan dia langsung menggandeng lengan Celvin.
"Kau ngapain?" Bisik Celvin dengan heran.
Viona tersenyum ke mereka semua.
"Ini ya istrinya cantik ya," Puji mereka.
"Iya saya Viona, saya memang cantik." Viona.
Celvin tersenyum. "Kau ini kenapa?" Bisik Celvin.
Viona menoleh ke Celvin, "Aku kenapa? kenapa tanya?" Omel Viona.
"Cemburu?"
Viona hanya diam.
Setelah itu Celvin pamit ke kamar mandi, dan saat dia keluar dia mendengar percakapan Zara dan ayahnya.
"Apa? kau tidak mau menemui mereka? kenapa?" Zara.
"Mereka mempermalukan ku di depan publik," Frans.
"Itu karena kau bodoh! harusnya kau menanggapi dengan tenang bukan marah-marah, kau mau reputasi perusahaan kita rusak?" Zara.
"Lalu apa aku harus tersenyum saat mereka menghina ku?" Frans.
"Iya. Kau harus tahan." Zara.
Celvin terlihat kesal dengan perlakuan Zara ke ayahnya.
"Kau lupa? kau itu anjingku." Zara sambil tersenyum lalu dia pergi.
Frans hanya menghela nafas, lalu dia pergi.
Celvin mengepalkan tangannya dengan kesal, dia tidak terima ayahnya dihina dan direndahkan begitu oleh orang lain.
Celvin kembali ke dalam, dan dia melihat Zara sedang asik mengobrol dengan teman-temannya sedangkan Frans juga sedang menyambut para tamu.
"Ih kemana aja sih?" Viona dengan kesal.
"Kenapa?"
"Ayo pergi," Viona tiba-tiba menarik tangan Celvin lalu mereka pergi.
"Kenapa membawaku ke mobil?" Celvin dengan heran.
"Disana ramai, kita pulang saja yuk!" Ajak Viona.
"Kau gila? disana banyak tamu penting, kau kira ini hanya mainan apa," Omel Celvin.
"Kau bilang mau menjadi temanku, jadi temani aku aja yuk,"
"Kemana?" Celvin.
"Nonton bioskop,"
"Ha? dengan pakaian itu? bukankah pakaianmu kurang terbuka?" Sindir Celvin.
"Tidak apa-apa biar enggak gerah,"
"Tapi aku yang gerah," Gumam Celvin sambil melepas kancing atasnya, Viona tersenyum mendengarnya lalu dia mendekatkan dirinya ke Celvin, "Kenapa?" Godanya.
"Minggir minggir nanti aku enggak fokus nyetir!" Celvin.
Viona terkekeh.
"Viona, maaf. Aku juga cowok dan hal-hal seperti itu kadang aku kurang bisa mengendalikan diriku." Celvin.
"Apa kau terbiasa melakukan itu? sama orang lain?" Omel Viona.
"Enggak, tapi aku tidak tahu kenapa aku hilang kendali denganmu,"
"Kau suka sama aku kali," Canda Viona.
"Jangan."
"Kenapa? apa aku kurang cantik?" Omel Viona.
"Bukan begitu tapi-"
"Jalan!"
Mereka menonton bioskop bersama, Celvin menyuruh Viona mengenakan jasnya agar menutupi dadanya. Setelah menonton bioskop mereka makan ice cream berdua, lalu foto bersama juga. Malam itu sangat menyenangkan bagi mereka dan Celvin semakin tidak bisa mengontrol dirinya. Dia menunjukkan perhatian, dan kasih sayangnya ke Viona dengan lebih, melebihi paman ke keponakannya. Dan Celvin bahagia dengan itu, dia merasa beban dan masalahnya hilang saat bersama Viona.
Keesokan harinya.
Viona sedang membuat sereal untuk sarapan mereka berdua. Saat sedang asik menuangkan serealnya tiba-tiba Celvin memeluknya dari belakang.
"Astaga... " Viona.
"Kenapa tidak membangunkanku?" Celvin dengan suara serak.
"Pakai bajumu," Viona.
Celvin tersenyum.
Tiba-tiba Celvin membalikan tubuh Viona dan mengadap ke dirinya, lalu Celvin mengusap pipi Viona.
"Aku akan pulang cepat nanti," Celvin.
"Kenapa pulang cepat?" Goda Viona.
"Kangen lah," Jawab Celvin.
Viona tersenyum kecil.
"Viona, kau menyukaiku?" Celvin.
Viona mengangguk.
"Kenapa?"
"Eum.. karena kau sudah aku anggap temanku sejak kita ketemu, kau menyebalkan tapi menyenangkan, dan kau membutuhkan aku!" Viona.
Celvin tersenyum kecil.
"Ayo," Ajak Celvin.
"Kemana?"
"Mandi bareng!" Celvin langsung menggendong Viona dan membawanya ke kamar mandi.
Celvin sedang sibuk di ruangannya, dan dia menyalakan penyadap suaranya.
'Dimana kita menyimpannya?' Zara.
'Nyonya, sepertinya pak Frans yang bawa pergi, dari kemarin saya tidak melihatnya.' Asisten Zara.
'Apa? bagaimana bisa? CEPAT CARI DIA!' Zara.
'Bisa-bisanya dia membawa surat wasiat itu, kenapa dia bisa tahu tentang itu.... ' Gumam Zara.
"Kenapa ayah kabur bawa surat wasiatnya," Gumam Celvin dengan heran.
Malam harinya.
Celvin keluar dari kantor dan dia melihat Frans yang menunggunya di mobil.
"Papa?" Celvin.
"Celvin, tolong bawa ini ya....." Frans memberikan surat wasiat itu ke Celvin.
"Ini apa pa?"
"Pokoknya kamu harus bawa sampai papa ambil kembali," Frans, lalu dia pergi begitu saja.
"Apa maksudnya," Gumam Celvin.
Lalu Celvin masuk ke dalam mobilnya dan dia membaca surat wasiat itu, di surat itu tertulis kalau pewaris sebenarnya adalah laki-laki dari turunan mamanya Celvin.
"Aku?"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 65 Episodes
Comments