Viona sontak terkejut karena tiba-tiba Celvin memukul anak itu, "Pergi!" Celvin dengan tatapan tajamnya. Anak-anak itu terlihat ketakutan dan mereka berlari.
"Kenapa kau memukulnya?" Viona dengan heran.
Celvin teringat saat kakaknya di lecehkan dan dia kesal saat Viona juga di lecehkan.
"Jangan pakai pakaian begitu, itu untuk keselamatan dirimu sendiri. Masuklah!" Celvin dengan kesal.
"Kenapa sih dia," Gumam Viona dengan heran.
Sampai di apartemen.
"Kau mau jalan-jalan? aku bisa memesankan tiket sama hotelnya," Celvin sambil menatap Viona.
"Kenapa?"
"Kau sepertinya kurang refreshing, kalau di pikir-pikir hidupmu itu terlalu ngenes, enggak punya teman lagi," Celvin dengan heran.
"Apa ada ya orang yang ceplas ceplos begini," Viona dengan heran. Lalu dia duduk di sofa. Dan Celvin juga duduk.
"Aku sering melakukan itu tapi rasanya biasa saja,"
"Ya itu karena kau tidak punya teman," Celvin.
"Dimana aku bisa beli teman?" Viona menoleh ke Celvin.
"Tidak bisa dibeli. Teman yang tulus itu lebih besar harganya daripada 1 koper uang." Celvin.
Viona hanya diam.
"Kau tidak mau ya jadi teman ku?" Viona.
"Aku suamimu."
"Kan itu enggak beneran," Viona.
"Lalu kalau aku mau kau mau apa?" Celvin.
"Aku mau jalan-jalan, cerita-cerita, begitu deh pasti asik," Viona dengan senang.
Celvin melihat Viona dengan iba, dia paham kalau anak ini kesepian, dia tidak punya tempat cerita dan hanya menahannya sendirian.
"Kau punya teman kan? bagaimana rasanya?" Viona dengan antusias.
"Menyenangkan."
"Wah aku iri," Viona dengan sedih.
"Tidurlah, aku mau pulang... " Celvin beranjak dari tempat duduknya.
Viona menundukkan kepalanya dengan sedih. Andai saja dia punya teman pasti juga menyenangkan. Lalu Celvin menengok ke Viona, "Heh besok mau jalan-jalan? aku beritahu bagaimana rasanya punya teman."
Viona mendongak ke Celvin dengan wajah senang, dan dia mengangguk dengan cepat. Lalu Celvin berbalik badan dan dia tersenyum lalu dia pergi.
Sampai Rumah.
Celvin segera menyalakan laptopnya dan penyadap suara yang dia pasang di berbagai tempat di rumah Zara terpasang dengan baik. Saat makan tadi Celvin sempat ke kamar mandi, tapi dia diam-diam memasang penyadap suara itu.
'Aku sungguh capek hidup begini, aku mati saja kah?' Frans.
'Bapak kecapekan, bapak butuh istirahat!' Asisten Frans.
'Ah~ malam ini aku tidur di gudang lagi kah? padahal aku hanya melakukan kesalahan sedikit saat kerja.'
Celvin mengerutkan keningnya.
"Kenapa tidur di gudang," Gumam Celvin dengan heran. Mendengar hal itu Celvin jadi kasihan ke ayahnya tapi dia tidak mau rasa kasihan itu menutupi kebenciannya ke ayahnya. Dan dia mematikan laptopnya karena dia tidak mau terpengaruh oleh simpatinya sendiri.
Keesokan harinya.
Sesuai dengan perjanjiannya dengan Viona, Celvin mengajak Viona jalan-jalan di taman sambil makan ice cream. "Cerita saja kalau mau cerita, itulah enaknya ada teman." Celvin.
"Eum... apa ya...." Viona dengan bingung. "Ah kenapa sulit ya, apa karena tidak iklas?" Omel Viona.
"Kenapa jadi nyalahin?" Celvin dengan kesal.
"Tidak asik," Viona dengan sedih. Celvin menghela nafas, lalu dia melihat penyewaan sepeda, "Mau naik sepeda?"
"Ha? sepeda? aku tidak bisa."
"Aku boceng, ayo!" Ajak Celvin.
Dan Celvin membonceng Viona naik sepeda keliling taman. Viona terlihat sangat senang karena ini pertama kalinya dia menaiki sepeda. Setelah itu mereka turun dan istirahat.
"Seru juga ya," Viona dengan senang. Celvin berdecih tersenyum, dia menoleh ke Viona, meskipun Viona itu anak yang menyebalkan baginya tapi dia tetaplah keponakannya, dia menganggap Viona sebagai adiknya sendiri dan dia melupakan fakta bahwa Viona istrinya sekarang.
"Sudah ya aku mau kerja, ayo pulang!" Celvin.
"Lain kali gini boleh?" Viona.
"Akan ku pikirkan nanti."
Viona mendengus kesal.
Celvin kembali ke kantor, saat dia berjalan ke ruangannya para karyawannya terlihat senang dan bahagia, Celvin mengerutkan keningnya dengan heran, dia kebingungan dengan tingkah mereka, dan saat dia masuk ke dalam ruangannya, Jery langsung menghampirinya.
"Pak anda sudah lihat berita? pernikahan bapak dengan istri bapak menyebar." Jery.
"Apa? bagaimana bisa?" Celvin dengan heran.
"Istri CEO itu yang melakukannya, dia melakukan wawancara dan sengaja mengatakan itu." Jery.
Celvin menghela nafas dengan kesal, lalu dia menelepon Zara.
Ma, kenapa mama menyebarkan itu? bukankah kita sudah sepakat tidak mempublishnya?- Celvin.
Mama tidak suka aja kau di sukai banyak gadis-gadis SMA, lagian kita bakal untung banyak kalau berita ini menyebar.- Zara.
Kalau begitu aku tutup teleponnya!- Celvin.
Dan setelah dia menutup teleponnya, Celvin memukul mejanya dengan keras. Dia sangat merasa dikhianati oleh Zara, dia takut saja jika kakaknya tahu tentang hal ini.
"Apa yang akan anda lakukan pak?" Jery.
Celvin diam.
"Sepertinya 2 orang akan terluka karena ini,"
"2 orang?"
"Kakak anda dan juga istri bapak,"
"Viona? kenapa memangnya bukankah itu tidak ada pengaruhnya dengan dia?" Celvin.
"Iya sih tapi dilihat banyak orang yang suka dengan anda mungkin saja mereka membencinya." Jery.
"Rasain tuh dasar pelakor!" Teriak anak SMA yang melempari Viona dengan telur. Viona menoleh ke anak itu dengan tatapan kesal, "Berita itu yang buat mereka kenapa aku jadi imbasnya." Geram Viona dengan kesal. "Pergi sana dasar pianis gadungan,"
Viona menatap mereka sambil tersenyum manis lalu...
Celvin pulang ke rumahnya setelah selesai dengan pekerjaannya. Dan saat dia masuk dia melihat Celine yang menunggunya di ruang tamu dengan wajah datar. Celvin mulai cemas dan bingung mau memberi alasan bagaiaman ke kakaknya.
"Kakak," Celvin jongkok didepan Celine.
"Kamu kenapa menikahi keponakan mu sendiri?" Celine dengan heran.
"Kak, aku punya alasan untuk itu." Jelas Celvin dengan nada lembut.
"Tapi ini sudah kelewat batas, bagaimana jika mereka tahu siapa kamu," Celine.
"Tenang saja, mereka tidak tahu kok." Celvin.
"Celvin... "
"Kak, maaf tapi aku tidak bisa menjelaskan alasan sebenarnya tapi aku melakukan ini untuk kebaikan kita." Celvin sambil tersenyum.
"Lalu gadis itu akan menderita karena ulahmu, dia juga punya hidup sendiri."
"Dia akan baik-baik saja aku yakin," Celvin sambil memegang tangan Celine.
"Kakak harap kamu tidak balas dendam apapun ke mereka ya... " Celine. Celvin tersenyum kecil.
"Sekarang dimana dia?"
"Dia tinggal di rumah baru yang aku beli,"
"Suruh saja dia tinggal disini,"
"Enggak, dia harus disana."
"Kalau begitu kamu yang kesana, bagaimanapun dia istrimu jadi temani dia ya... "
"Enggak, aku ingin sama kakak."
"Celvin, setidaknya kamu harus tanggung jawab sama dia,"
Celvin menghela nafas.
Lalu Hp Celvin berdering dan Celvin mengangkatnya.
Iya ada apa? - Celvin.
Gawat pak, istri bapak di kantor polisi dan beritanya sudah menyebar. - Jery.
Aku akan kesana, jemput aku! - Celvin.
Lalu dia mematikan teleponnya.
"Kak aku pergi dulu ya," Pamit Celvin.
"Celvin, jangan pernah mencintai dia ya." Celine.
"Pernikahan ku hanya bisnis, dan itu akan aku tancap di pikiranku." Celvin sambil tersenyum lalu dia pergi.
"Anak ini bikin ulah apa," Gumam Celvin dengan heran.
Jangan lupa like sama comen ya guys :)
Terimakasih :)
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 65 Episodes
Comments