"Terimakasih sudah menyukai lukisan saya, Pak Frans.. " Celvin sambil tersenyum. Frans tersenyum, "Kalau boleh saya ingin lukisan itu," Frans sambil menunjuk lukisan seorang wanita yang bersandar di pohon, "Tentu saja pak," Celvin sambil tersenyum.
"Anda ini sangat hebat loh, masih mudah sudah sukses seperti ini," Puji Frans. "Pasti orang tua anda bangga,"
"Terimakasih pak, tapi saya tidak punya orang tua.. "
"Oh maafkan saya ya... oh iya nama anda ini mirip sekali sama nama orang yang saya kenal dulu," Frans.
"Nama saya memang banyak yang pakai,"
Frans mengangguk sambil tersenyum, "Kapan-kapan kita makan malam ya, saya ingin mengenal anda lebih dalam..." Frans. Celvin mengangguk tersenyum. Lalu Frans pamit pergi karena dia ada kerjaan.
"Wah gila, dia tidak kenal wajah mu?" Hendrik dengan heran, "Tentu saja, wajahku berubah, dia juga tidak kenal denganmu kan."
"Iya sih,"
Celvin tersenyum.
Plak!
Zara mama Viona menampar pipi Viona. "Kau pikir kau siapa beraninya menentang perintahku?" Zara dengan dingin.
Viona berdecih tersenyum. Dia menatap mamanya dengan tatapan kesal, "Kenapa? aku tidak boleh melakukan apa yang aku suka?" Viona.
"Aku akan berhenti main piano, aku tidak kau ikut kompetisi apapun lagi." Viona.
"Tidak." Bantah Zara.
Viona berdecak kesal, "Mama egois, mama hanya memikirkan apa yang mama inginkan. Mama selalu mengurungku dan menyuruhku bermain piano, aku juga butuh kebebasan.... " Teriak Viona dengan kesal.
"Lalu kalau kau bebas kau mau apa? main sama temen lagi? kau pikir mama tidak tahu, kau tidak pernah punya teman." Zara.
Viona hanya diam.
"Mama melakukan ini agar kau punya kesibukan. Jangan merasa punya teman, kau ini tidak punya siapa-siapa selain mama disini. Mengerti?" Zara dengan dingin, lalu dia keluar dari kamar Viona. Viona menghela nafas dengan kesal.
"Dia sudah di ruang rapat sekarang?" Zara, "Sudah nyonya, tuan membeli salah satu lukisan disana," Jawab asisten pribadinya. "Biarkan saja, yang penting dia melakukan tugasnya dengan baik." Jawab Zara.
Malam harinya.
Celvin dalam perjalanan pulang, dan dia turun dari mobilnya lalu masuk supermarket. Celvin membeli beberapa minuman, dan dia tidak sengaja menabrak Viona, "Oh maafkan saya," Ucap Celvin. Viona mengangguk, lalu dia pergi.
Setelah itu Celvin membayar di kasir, tapi Viona sedang dalam masalah di kasir, "Ini juga tidak bisa," Ucap kasir setelah memberikan kartu ke Viona. Viona mendengus kesal, "Saya bayar mbk," Celvin. Viona hanya diam, karena dia juga tidak punya uang cash.
Setelah itu Viona keluar tanpa mengucapkan terimakasih, dan Celvin juga keluar. Viona masih berada di luar, lalu Celvin berjalan melewatinya, "Yang tadi akan aku ganti," Ucap Viona.
Celvin menoleh ke Viona, "Begitu kah caranya berterimakasih?"
"Aku tidak memintamu membayarnya, kalau tidak dihukum semua kartu ku bisa," Viona dengan kesal.
Celvin hanya mengangguk, lalu dia pergi tapi Viona menahannya. "Siapa namamu? berikan nomor telepon mu, akan aku kirim uangnya."
"Tidak perlu,"
"Aku tuh benci kalau aku hutang budi sama orang lain." Viona dengan kesal.
"Kalau begitu belikan aku apartemen,"
"Apa? kau gila? kau mau mengambil kesempatan ya?" Viona.
"Itu hanya uang kecil, jadi tidak usah balas budi." Jelas Celvin.
"Enggak. Baiklah akan aku belikan apartemen." Viona dengan kesal.
"Apa kau sekaya itu?"
"Iya aku sangat kaya, berikan nomormu!" Viona, lalu Celvin memberikan kartu namanya ke Viona, "Wah kau CEO muda ya, tapi apa kau beneran mau apartemen?" Viona dengan heran.
Celvin menghela nafas, "Berikan saja uang." Jawabnya lalu dia pergi.
"Orang itu juga kaya, kenapa dia mau minta imbalan ya?" Gumam Viona dengan heran.
Calvin tersenyum.
Sampai di rumah, Celvin melihat makanan di meja makan, dia tahu Celine yang membuatkan makanan itu. Lalu Celvin segera menghabiskannya meskipun dia sudah makan tadi.
Setelah itu Celvin masuk ke kamar Celine dan dia melihat Celine yang terlelap tidur, Celvin mendekat ke kakaknya lalu dia memegang tangan kakaknya.
Dia senang kakaknya mulai bahagia sekarang, meskipun sangat sulit untuk keluar rumah.
Rumah Viona.
Viona melihat Frans dan Zara yang sedang makan bersama. "Viona tidak makan?" Frans. "Jangan panggil namaku," Viona dengan kesal lalu dia masuk ke kamar.
"Jangan sok akrab dengannya apalagi menganggap dia seperti anakmu." Zara dengan dingin.
Frans tersenyum, "Sekali-kali aku ingin makan bareng juga dengan anak istriku."
Zara berdecih tersenyum, "Ingatlah... kau ini hanya boneka ku. Kau mau aku menyuruhmu tidur di gudang lagi?"
"Maaf maaf.. " Frans sambil tersenyum.
Saat Viona masuk ke kamarnya dia melihat kopernya yang sudah disiapkan, karena dia besok mau mengikuti kompetisi. "Hah~" Gumamnya dengan kesal, "Nona silahkan istirahat, besok anda akan ke LA." Pembantu. Viona tersenyum, "Iya bik,". Lalu pembantu itu keluar.
Viona bingung harus bagaimana, dia sangat ingin berhenti jadi pianis, dia ingin kabur tapi ATMnya di bekukan semua oleh mamanya. Lalu Viona ingat kalau dia punya kenalan baru, Viona membawa barang-barangnya dan dia keluar lewat jendela tanpa sepengetahuan orang-orang.
Celvin berada di supermarket itu lagi karena Viona terus menerus meneleponnya. Dia sebenarnya malas dan capek tapi Viona terus menggangunya. "Pak CEO tolong akuuuu..." Viona sambil ngos-ngosan.
"Kenapa bawa koper segala, katanya mau bayar hutang." Celvin dengan heran.
"Aku kabur dari rumah, aku mohon beri aku tumpangan ya ya ya.. " Viona dengan memelas.
"Katanya tidak mau hutang budi, tapi malah nambah hutang budi!" Celvin.
"Aku mohon ya... ya... aku tidak punya teman ataupun siapa-siapa lagi ya.. ya... " Pinta Viona.
Celvin menghela nafas.
"Maaf aku tidak bisa," Jawab Celvin dan dia pergi begitu saja.
"Heeehhhhh aduhhhh ngeselin banget sih, terus aku harus kemana. Masa iya pulang lagi." Gumam Viona dengan kesal.
Celvin merebahkan dirinya di rajang kamarnya. Dia sedang berpikir. "Apa dia menguntungkan," Gumam Celvin dengan heran. Lalu sekretaris Celvin meneleponnya.
Iya...apa anda sudah menemukan apa yang saya inginkan?- Celvin.
Iya pak, saya sudah menemukan tentang Pak Frans.-
Baiklah, besok beritahu saya. Terimakasih ya.. - Celvin.
Baik pak sama-sama.-
Keesokan harinya.
Celvin keluar kamar karena dia ingin membuat sarapan untuk kakaknya. Tapi saat dia ke dapur dia terkejut melihat Hendrik dan kakaknya yang sedang membuat sarapan, "Kapan kau datang?" Tanya Celvin, "Ayo sarapan tuan muda... " Ledek Hendrik. Celvin berdecih tersenyum lalu dia menghampiri kakaknya, "Kakak hari ini mau ngapain aja?" Tanya Celvin dengan manis. Hendrik tersenyum melihatnya, dia tahu sahabatnya ini benar-benar sayang ke kakaknya.
"Membuatkan Celvin makan siang," Jawab Celine sambil tersenyum.
Celvin tersenyum, "Kalau begitu ayo sarapan dulu," Ajaknya.
Lalu mereka sarapan bersama.
"Liburan nanti kita bertiga mancing yuk," Ajak Hendrik.
"Kau pikir kita masih sekolah apa." Sahut Celvin.
"Makanya kita tuh harus hidup seperti anak sekolah, ada liburnya enggak kerja mulu... " Hendrik.
"Kakak mau kan?" Hendrik.
Celine mengangguk, mereka berdua sontak terkejut.
"Beneran mau?" Celvin.
Celine tersenyum.
"Kalau begitu aku akan atur jadwalnya." Jawab Celvin.
"Wah di luar ekspetasiku," Hendrik.
"Celvin kakak lihat berita kalau JB Group membeli lukisan mu?" Celine. Calvin hanya tersenyum. Celine tidak tahu kalau Frans itu ayahnya karena wajah Frans berubah, dan hanya Calvin yang tahu, karena sejak dulu dia selalu mengawasi ayahnya itu.
"Jangan terlalu berhubungan dengan mereka ya, kakak takut mereka mencari keuntungan sendiri." Celine.
Calvin mengangguk tersenyum.
Setelah itu Celvin bersiap-siap untuk kerja, dan Celine menunggunya di luar. "Aku kerja dulu ya kak," Pamit Celvin sambil jongkok didepan Celine. Celine merapikan dasi Celvin yang berantakan itu.
"Maaf kakak menyusahkanmu selama ini," Celine dengan sedih.
"Jangan begitu. Aku sayang sama kakak, aku akan menjaga kakak sampai kapanpun. Aku janji." Celvin.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 65 Episodes
Comments