Chapter 12

Celvin kembali ke kamar Viona karena dia mulai merasa mengantuk. Saat dia masuk dia melihat Viona yang tidur membelakanginya, Celvin bersikap tidak peduli, dia merebahkan dirinya di samping Viona.

"Kenapa kau melakukan itu?" Viona dengan isakannya.

Celvin tersenyum kecil, dia senang Viona melihatnya.

"Apa?" Celvin.

Viona menoleh ke Celvin, dan Celvin terkejut melihat mata Viona sembab. Dia kasihan tapi dia harus melakukan hal ini.

"Kenapa kau berciuman dengan Bianca?" Viona dengan kesal.

"Viona aku mudah suka sama orang, karena nafsu. Jadi aku harap kau paham!" Celvin.

Plak!

Celvin menghela nafas setelah menerima tamparan keras dari istrinya itu. Tapi jauh di dalam hatinya dia merasa senang, setidaknya Viona bisa melampiaskan amarahnya ke dirinya.

"Viona, ingatlah pernikahan ini hanya bisnis. Jadi jangan terlalu dalam mencintaiku. Tidurlah kita harus terlihat baik-baik saja." Ucap Celvin sambil tersenyum sinis lalu dia tidur membelakangi Viona.

Viona pergi keluar, dia semakin marah jika melihat Celvin di sampingnya.

"Maaf Viona, ini pilihan terbaikku." Gumam Celvin.

Keesokan harinya.

Keluarga mereka sedang sarapan bersama, kali ini Bianca duduk di sebelah Celvin. Mereka terlihat asik mengobrol berdua dan mengabaikan Viona.

"Kakak kapan-kapan datang ya ke show ku," Pinta Bianca.

Celvin mengangguk tersenyum, "Pasti."

Viona mendengus kesal, lalu dia meninggalkan meja dan pergi keluar rumah.

"Kamu bertengkar dengan Viona?" Zara.

"Engga ma," Jawab Celvin sambil tersenyum.

"Oh ya Celvin nanti dateng ke ruangan mama ya, ada hal yang ingin mama bicarakan denganmu," Ucap Zara sambil tersenyum.

Dan setelah sarapan selesai, Celvin masuk ke ruang kerja Zara. Dia melihat foto seorang pria tua yang terpajang di dinding, dia mengira jika itu adalah kakeknya.

"Itu kakeknya Viona," Ucap Zara, dia tahu Celvin terlihat penasaran dengan pria yang di foto itu. Celvin mengangguk mengerti. Lalu mereka dudu di sofa.

"Ada apa ma?" Celvin.

"Mama ada kerjaan di luar negeri untuk 5 hari kedepan, ditambah papa juga enggak ada, mama ingin...." Zara pindah tempat duduk dan dia duduk di samping Celvin. Celvin mulai merasa aneh dan risih karena Zara sengaja menempelkan dadanya di lengan Celvin.

"Mau minum dengan mama?" Tanya Zara sambil mengusap dagu Celvin.

Celvin harus terlihat tenang dan santai, karena dia punya rencana untuk ini.

"Tentu saja," Celvin sambil tersenyum manis.

"Cowok kurang ajar... enggakk cowok tapi kakek kurang ajar... habis keponakanku sekarang mamaku?" Viona dengan kesal, dia melihat Zara dan Celvin pergi hanya berdua tanpa pamitan dengannya. "Cih! buang-buang waktu aku memikirkan si ngeselin itu." Geram Viona.

"Kau harus hati-hati dengannya," Bianca.

"Sejak kapan kau disini?" Viona dengan kesal.

"Dia pria yang berbahaya dari sorot matanya," Bianca sambil tersenyum ke Viona. Viona melipat kedua tangannya dan tersenyum sinis ke Bianca, "Makanya kalian berciuman kan?" Sindirnya.

Bianca tersenyum, "Itu karena mulutnya manis," Jawabnya.

"Aku mau pulang, aku sengaja tidak bilang mereka agar aku bisa bicara denganmu."

"Pulang saja," Jawab Viona lalu dia pergi meninggalkan Bianca.

Celvin dan Zara berada di Bar. Mereka minum berdua, dan Zara bersandar di dada Celvin.

"Kenapa mama tertekan sekali akhir-akhir ini?" Celvin sengaja memancing Zara.

"Jika orang-orang tahu aku menipu mereka aku bisa berakhir mengenaskan," Zara dengan sedih.

"Mama harusnya lebih berhati-hati kan, banyak bunga yang mama ambil tapi sebenarnya itu bukan bunga tapi duri." Celvin sambil tersenyum sinis.

"Kamu benar, aku menyesal mengambilnya. Harusnya aku milih orang lain bukan suami kakakku," Zara.

"Kenapa begitu?" Celvin.

"Dia bilang kalau anak-anaknya sudah mati. Tapi aku tidak percaya tujuanku mendekatinya dan menawarkan dia posisi ini karena aku takut anak-anaknya kembali dan mengambil semuanya."

"Lalu apa anak-anaknya sudah mati?" Celvin dengan nada dingin.

"Dia bilang begitu, dan aku belum menemukan keberadaan mereka sampai sekarang," Zara dengan kesal.

"Kalau mereka ada di sekitar mama... " Celvin mengusap pipi Zara sambil tersenyum menggoda, "Apa yang akan mama lakukan?"

"Tentu saja membunuhnya... Celvin kenapa kamu tampan sekali," Zara dengan heran, lalu Zara mencium pipi Celvin,dan Celvin merangkul Zara, "Mama tidurlah, mama terlalu mabuk." Ucapnya sambil tersenyum. Zara mengangguk tersenyum.

Celvin menggendong Zara dan menidurkannya di ranjang. Setelah itu Celvin mulai mencari surat wasiat yang palsu. Dia mencari di kamar dan ruangan Zara hampir 2 jam tapi dia tidak menemukan apapun. "Dimana sih," Gumam Celvin dengan kesal.

Rumah Celine.

Hendrik datang ke rumah Celine, dan mereka berdua makan ayam yang Hendrik belikan.

"Celvin pasti sibuk ya, jarang menemuiku." Hendrik dengan sedih.

Celine tersenyum, "Telepon saja, dia pasti datang kok," Jawabnya.

"Ah~ aku rindu Celvin yang dulu... dia berubah semenjak kejadian itu....eh kak maaf bukan begitu maksudku.. " Hendrik merasa tidak enak karena terlalu blak-blakan tentang isi hatinya, padahal hal itu menyangkut Celine. Dan raut Celine sedih saat itu, dia sangat menyadari kesalahannya.

"Jangan minta maaf, apa yang kamu bilang itu benar. Kakak juga merindukan Celvin yang ceria seperti dulu," Celine dengan sedih.

"Dan kamu tahu, sekarang ambisinya jadi lebih besar, kakak takut sekali kalau dia kenapa-napa." Celine.

"Yang bisa kita lakukan hanya percaya dengannya, aku harap semuanya cepat berakhir." Hendrik.

Celine mengangguk tersenyum.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!