Karena perbuatan anak-anak SMA tadi membuat Viona geram dan akhirnya mereka saling menyerang. Tapi sekarang mereka sudah berdamai, Celvin meminta maaf atas perbuatan istrinya itu di depan anak-anak dan para wartawan disana. Dan sekarang mereka pulang.
Sampai rumah, Celvin mengobati luka-luka memar di wajah Viona.
"Sakit tauk," Omel Viona.
Celvin menghela nafas.
"Sekarang kau harus hati-hati dalam bersikap karena semua tentang kita sudah jadi sorotan publik." Celvin.
Viona mendengus kesal.
"Lagian kenapa aku jadi korban dari perbuatan kalian dan kenapa aku yang harus ikut alur kalian?" Viona dengan kesal.
Celvin diam dan menatap Viona, jujur dari lubuk hatinya dia juga merasa bersalah karena menggunakan Viona sebagai alatnya.
"Diamlah," Celvin lanjut mengobati luka Viona.
"Aku tidak sudah hati-hati, aku hanya keluar beli snack, mereka datang dan melempariku telur. Apa aku harus diam saja begitu?" Viona sambil meneteskan air matanya. Celvin terkejut dan sangat merasa bersalah karena membuat hidup Viona jadi lebih menderita.
"Aku juga enggak mau terlibat dengan rencana bisnis hiks... kalian yang hiks.. aku inginkan hanya hidup bebas tapi sampai detik ini sama saja..hiks.. hiks.. " Ucap Viona sambil tersedu-sedu.
Sungguh hati Celvin ikut sedih melihat gadis didepannya menangis seperti ini, lalu Celvin memeluk Viona tanpa mengatakan apapun.
Maaf Viona, maaf... aku janji akan baik denganmu dan lebih memperhatikan mu.
-Batin Celvin-
Setelah Viona merasa tenang, mereka duduk di ruang tamu bersama dan tidak ada yang bicara, suasananya jadi hening. Tapi pada akhirnya Celvin yang mulai pembicaraan.
"Viona, kau punya keinginan?" Celvin.
"Aku sudah memberitahu,"
"Iya? kapan?" Celvin.
"Aku ingin teman,"
"Teman yang bagaimana?"
"Yang selalu ada untukku, yang selalu jadi tempat ceritaku, seperti itu....." Viona sambil menundukkan kepalanya.
"Aku bisa tinggal sering disini," Celvin.
Viona menoleh ke Celvin, "Kenapa? kau pikir aku mau berteman denganmu apa?" Viona dengan kesal.
Celvin tersenyum, "Aku akan tunjukkan teman yang enak," Ucapnya sambil mengusap rambut Viona.
Viona terkejut karena Celvin melakukan hal itu dengan tiba-tiba.
"Tidurlah, sudah malam... " Celvin.
"Aku malas tidur," Viona.
"Kalau begitu aku yang tidur." Celvin masuk ke kamar Viona.
"Heh gimana sih," Omel Viona dengan kesal.
Dan akhrinya mereka tidur satu kamar, tapi Celvin tidur di sofa sedangkan Viona di ranjangnya. Celvin terbangun karena dia merasa haus, dan dia keluar kamar untuk mengambil minum. Dan dia membuka HPnya, dan Zara mengirimkan dia pesan sejak sore tadi tapi Celvin tidak tahu itu.
(Kerja kerasmu sangat bagus, mama menyukaimu.)
"Apa maksudnya," Gumam Celvin dengan heran, dia langsung mematikan HPnya. Lalu Celvin membuka gorden jendela, dia melihat pemandangan lampu-lampu kota yang sangat indah itu.
"Apa akhir dari semua ini," Gumamnya.
Keesokan harinya. Sesuai sengan janji Celvin, dia akan ikut Hendrik ke rumah orang tuanya di desa. Perjalanannya sangat jauh dan memakan banyak waktu.
Setelah sampai di sana, mereka saling berpelukan dan mengobrol banyak hal. Orang tua Hendrik sangat baik ke Celvin, mereka menganggap Celvin seperti anaknya sendiri.
Dan kegiatan mereka disana juga banyak. Celvin dan Hendrik membantu mama Hendrik memetik sayuran untuk di masak, dan buah juga. Dan mereka memasak bertiga. Celvin tampak sangat bahagia berada di rumah ini.
Dan malam harinya. Mereka sedang memakan camilan yang di buat Hendrik dan Celvin.
"Eum... kalian ini pinter masaknya ya," Puji mama Hendrik.
"Iya dong ma, tangan ajaib gituloh... " Hendrik dengan menyombongkan diri. Celvin menghela nafas sedangkan mereka tertawa melihat tingkah anak mereka.
"Celvin paman dengar kamu sudah menikah, kenapa tidak diajak istri mu?" Papa Hendrik.
"Ah maaf paman, dia ada kerjaan di kota," Celvin tersenyum. "Oh iya aku minta maaf ya tidak memberitahu tentang itu, karena pernikahan itu privat," Celvin.
"Tidak apa-apa nak, yang penting kamu bahagia," Mama Hendrik. Celvin hanya tersenyum.
"Ada yang ingin aku tanyakan ke paman sama bibi,"
"Iya apa Celvin?"
"Apa bibi sama paman pernah melihat mamaku?" Celvin.
Mereka berdua tiba-tiba saling menatap, dan raut wajah mereka terlihat sedih.
"Tidak apa-apa, ceritakan saja apa yang paman bibi tahu," Celvin sambil tersenyum.
"Dulu ayahmu meminta bantuan kita, karena dia sedang diincar oleh orang, jadi kita beri tempat tinggal dan membantunya mencari kerja, dan merawat kamu dan Celine. Ayahmu bilang mama mu dibunuh orang, tapi ayah mu tidak memberitahu orang itu." Jelas mama Hendrik dengan sedih.
"Dulu sebelum berubah, ayahmu itu baik dan sayang ke kalian berdua. Tapi ayahmu berubah semenjak dia dililit hutang preman-preman,"
Celvin hanya diam.
Hendrik menoleh ke Celvin, dia tahu Celvin sedang bimbang sekarang.
Karena tidak bisa tidur, Celvin duduk di teras rumah sambil minum teh hangat, lalu Hendrik ikut duduk dengannya.
"Kau baik-baik saja?" Hendrik.
Celvin berdecih tersenyum.
"Kenapa? apa pertanyaan ku lucu?" Omel Hendrik dengan heran.
"Bukan begitu tapi aku pikir benar ya semua orang pasti suka ditanya begitu,"
"Ha?"
"Kata-kata simpel seperti itu menandakan kalau kita diperhatikan," Celvin.
"Apa sih,"
"Aku baik-baik saja, tenang saja."
"Lalu kau masih ingin melakukan itu?"
"Tentu saja, hukuman haruslah terjadi dengannya. Aku tidak peduli sebaik apa dia," Celvin sambil tersenyum. "Besok dia akan di cari banyak wartawan."
"Kenapa?"
"Lihat saja!" Celvin sambil tersenyum.
Kesokan harinya, mereka berpamitan untuk kembali pulang. Setelah sampai di kota mereka langsung berangkat kerja.
Sampai di kantor, Celvin masuk ke ruangannya dan Jery sudah menunggunya di dalam.
"Bagaimana apa sudah kau lakukan?" Celvin.
"Sudah pak," Jery.
Celvin tersenyum, lalu dia menyalakan TVnya dan muncullah berita tentang Fras, jika dia bermain dengan wanita malam.
"Selamat datang di tahapan awal, ayah~" Celvin sambil tersenyum
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 65 Episodes
Comments