Chapter 11

Celvin berhenti didepan rumah kakaknya. Tapi dia masih di dalam mobil, dia tidak paham kenapa ayahnya memberikan surat ini untuknya. Dia takut kalau ayahnya tahu siapa dirinya. Tapi tidak mungkin karena dari awal ayahnya memang tidak mengenali dirinya.

Lalu Celvin turun dan masuk ke dalam rumahnya. Dia sangat merindukan kakaknya jadi dia pulang ke rumah kakaknya.

"Kakak," Panggil Celvin. Celine menoleh ke Celvin dengan heran, "Kamu kesini? bagaimana dengan istrimu?" Celine. Celvin tersenyum lalu dia jongkok didepan kakaknya, "Dia di rumah, aku rindu kakak makanya aku kesini," Celvin.

"Kakak sedang buat apa?" Celvin.

"Syal untuk kalian berdua," Celine.

Celvin tersenyum kecil.

"Hendrik tadi kesini, dia bawain ayam,"

"Dia juga memberitahu ku," Celvin.

"Kak,"

"Hm?"

"Bagaimana kalau aku ingin tempat kita yang sebenarnya?" Celvin.

Celine diam dan menatap adiknya dengan tatapan sedih, dia tahu dan paham apa yang dia maksud adiknya itu.

"Tidak. Kamu sudah terlihat hebat di tempat sekarang," Celine sambil tersenyum.

Celvin tersenyum kecil.

"Kak, kita jalan-jalan yuk ke taman,"

Celine diam.

"Sepi kok, enggak ada orang... katanya sudah tidak takut orang lagi," Canda Celvin.

"Sedikit," Celine. Celvin tersenyum kecil.

Lalu Celvin membawa Celine ke taman. Dia mendorong kursi roda kakaknya itu.

"Sudah lama kan enggak keluar, bagaimana?" Celvin.

"Segar," Celine dengan senang.

Celvin tersenyum.

Lalu Celvin membawa Celine jalan-jalan ke taman. Celine merasa nyaman disana karena sepi tidak ada siapapun.

"Kakak senang?" Tanya Celvin sambil menoleh ke kakaknya. Celine hanya mengangguk tersenyum menjawab pertanyaan adiknya itu. Ini baru pertama kalinya dia keluar selain ke dokter, dan akhirnya dia bisa menghirup udara segar lagi. Dan Celvin tentu saja dia juga senang melihat kakaknya senang.

Keesokan harinya.

Celvin mampir ke rumah Viona sebelum berangkat ke kantor. Sampai di dalam Celvin melihat banyak sekali piring yang belum di cuci, "Habis makan apa saja dia ini,"

"Kemana saja semalam?" Viona yang memeluk Celvin, Celvin tersenyum kecil.

"Maaf." Ucap Celvin sambil mengusap rambut Viona.

"Nanti malam mama mengajak kita makan malam, ada kerabat mama yang datang ke rumah," Viona.

Celvin melepas pelukannya, dan dia merapikan rambut Viona, "Iya nanti kita dateng,"

"Papa kabur!"

Celvin menoleh ke Viona dengan tatapan terkejut, sebenarnya dia sudah tahu hanya saja dia harus berpura-pura. "Maksudmu kabur?"

"Entahlah. Biarkan saja, aku kasihan melihatnya selama ini," Viona.

"Kenapa kasihan?" Celvin dengan heran.

"Dia itu budak mama, sama seperti ku. Kalau dia salah melakukan sesuatu mama menghukumnya lebih berat dariku, pokoknya kasihan deh... " Viona dengan sedih. Celvin tersenyum kecil menanggapi ucapan Viona. "Aku mau kerja dulu, nanti malam aku jemput ya.... " Ucap Celvin sambil mengusap rambut Viona, Viona mengangguk tersenyum.

Kantor Celvin.

Celvin sedang mendengarkan pembicaraan Zara dan asistennya lewat penyadap suara yang dia pasang di rumah Zara.

'Tidak ada jejak sama sekali nyonya, tuan sepertinya tidak keluar negeri,' Ucap asistennya.

'Dia mungkin masih disini, pokoknya cari terus jangan sampai dia melakukan hal bodoh. Ah~ pak tua itu kenapa selalu merepotkanku,' Zara dengan kesal.

'Bagaimana dia tahu surat aslinya,' Zara dengan heran.

'Jika publik tahu, aku tidak tahu harus bagaimana lagi,' Ucap Zara dengan kesal.

'Apa perusahaan akan baik-baik saja nyonya jika mereka tahu?' Asisten Zara.

'Perusahaan akan baik-baik saja, tapi aku akan digeser. Dan Frans yang akan menjadi penggantiku. Maka dari itu cepatlah temukan dia!' Tegas Zara.

Lalu Celvin mematikan penyadap suaranya, dan dia berdecih kecil setelah mendengar ucapan mereka. Kini dia merasa punya cara untuk menjatuhkan Zara.

Dan HP Celvin berdering, dia menerima notif pesan dari Viona, Viona mengirimkan fotonya memakai dress pink yang akan dia pakai nanti malam, dia bertanya ke suaminya apakah dressnya cocok atau tidak. Celvin senyum-senyum melihat foto Viona yang sangat cantik itu.

Celvin langsung menjawab jika dia sangat cantik memakai dress itu dan setelah menjawabnya dia langsung menutup HPnya. Celvin menghela nafas dengan dalam, dia sama sekali belum menemukan rencananya untuk Viona, dari awal dia menikahi Viona hanya untuk balas dendam ke ayahnya tapi sekarang dia terlanjur mencintainya. Dan Viona itu keponakannya, dia benar-benar bingung dan tidak tahu bagaimana kelanjutan hubungannya dengan Viona.

Celvin keluar dari ruangannya dan dia ingin minum kopi di cafe kantornya. Dan ternyata Jery mengikutinya sejak tadi.

"Kenapa mengikutiku?" Celvin sambil menerima kopinya, lalu dia memberikan kopinya ke Jery. "Aku ingin menanyakan hal penting,"

Lalu mereka duduk setelah keduanya menerima kopi.

"Ada apa ya pak?" Jery dengan penasaran.

"Aku mencintai Viona," Ucap Celvin setelah meneguk kopinya itu.

Raut wajah Jery terlihat sangat terkejut mendengar ucapan Celvin. Hal ini sangat jauh dari rencana mereka, dia tidak menyangka Celvin akan mencintai keponakannya sendiri.

"Bukankah nona keponakan anda pak?" Jery.

"Ya.. itu benar tapi aku membutuhkannya." Celvin.

"Maaf sebelumnya pak, cinta itu berbeda dengan butuh. Bapak mencintainya karena bapak butuh dia sebagai sandaran, dan untuk memuaskan nafsu bapak." Jelas Jery.

Celvin menatap Jery dengan tatapan tajamnya. Dia merasa kesal dengan ucapan Jery, tapi setelah Celvin pikir apa yang di ucap Jery ada benarnya. Dia menyukai Viona karena butuh dan nafsu.

"Apa iya begitu," Gumam Celvin dengan heran.

"Sebelum rasa bapak lebih dalam. Bapak segera menyelesaikan apa yang bapak inginkan,"

"Bukan Frans yang aku inginkan, tapi pemilik JB Group. Aku akan mengambil apa yang menjadi miliku semula," Celvin sambil tersenyum sinis. Jery ikut tersenyum.

"Untuk masalah Viona, aku akan mengatasinya sendiri. Ah~ aku bodoh!" Gumam Celvin dengan kesal.

Malam harinya.

Celvin dan Viona sedang makan malam dengan Zara dan kerabatnya itu. Kerabat Zara datang dari Italia, dia adalah seorang pianis terkenal di Italia, perempuan yang seumuran dengan Viona itu bernama Bianca. Dia adalah anak dari bibi Zara, adik dari papa Zara.

"Maaf Bianca, paman ada urusan di luar negeri jadi tidak bisa ikut makan," Zara sambil tersenyum.

Bianca tersenyum menanggapi Zara, "Iya tidak apa-apa kok bi, oh iya Viona aku dengar berhenti jadi pianis?"

"Kenapa?" Sahut Viona dengan kesal, mereka berdua tidak pernah akur sejak dulu, dan Viona membenci Bianca karena dia sering dibandingkan oleh mamanya.

"Iya, sekarang dia menikah jadi bibi ingin dia fokus ke suaminya saja," Zara sambil tersenyum.

Bianca menoleh ke Celvin, "Wah suaminya ganteng," Bianca sambil tersenyum. Celvin tersenyum menanggapinya, dan dia menoleh ke Viona yang terlihat kesal dengan Bianca.

Ini kesempatan ku, maaf Viona.

-Batin Celvin-

Setelah selesai makan malam, Celvin duduk di ruang tamu dengan Bianca. Mereka terlihat asik mengobrolkan banyak hal, Viona kesal melihatnya dan dia masuk ke kamar.

Viona menunggu Celvin masuk ke kamarnya, hampir 2 jam Celvin tidak masuk. Dan Viona memutuskan untuk keluar mencari Celvin, tapi dia tidak melihat Celvin di ruang tamu, di meja makan, dan dia luar. Viona tambah cemas lalu dia ke halaman belakang rumahnya, dia tersenyum senang melihat Celvin yang berdiri di pinggir kolam renang itu, tapi saat dia mendekat ternyata ada 2 orang disana.

Viona melihat Celvin yang sedang berpelukan dengan Bianca, lalu mereka berciuman.

"Apa-apaan mereka... "

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!