Siu…
Boom!!
Boom!!
Gemerlap kembang api menghiasi langit dengan penuh warna-warni menyambut malam yang indah di akhir pengganti tahun, Hito hanya memandangnya seumur hidup dalam dunia sunyi yang ia hadapi sebelumnya.
"Hito. Janganlah ragu maupun takut, tapi kau harus bersyukur di hari yang cukup indah di waktu malam ini. Kau harus menunjukkan senyummu untuk kebebasan yang selama ini kau pendam, buanglah secara jauh-jauh." Jelas Paman Erio memukul belakang Hito dengan pelan.
"Kau tahu, acara inilah yang kita dapatin sekali dalam setahun. Karena kenangan tidak bisa diulang di waktu yang sama dan mustahil akan terjadi lagi,"
"Oleh karena itulah, alasan Paman membawamu kesini, Hito. Paman hanya berharap dirimu dapat memahami arti kenangan dan keikhlasan,"
"Di masa mendatang, Paman tidak akan bersama dengan dirimu lagi, Hito." Ungkap Paman Erio tersenyum kecil menahan kesedihannya.
Ungkapan Paman Erio menyembunyikan sebuah makna tersirat untuk Hito, Hito pun menoleh pada Paman Erio merasakan apa Paman Erio ungkap. Bahwa selama Hito sudah berdiri mandiri untuk bisa menempuh jalan yang diinginkan, maka Hito akan tahu penderitaan apa saja yang harus dilalui ia. Maka, dari itu Hito tahu apa yang diungkap Paman Erio di waktu mendatang.
"Kenapa Paman baru mengungkapkan apa yang akan terjadi di masa depan? Apa Paman sudah memprediksinya lebih dulu atau sudah merencanakan?" tanya Hito membalas ungkapan Paman Erio.
Paman Erio hanya membeku tidak menjawab apa yang ditanyakan oleh Hito, sehingga menjadi tanda tanya Hito sendiri. Apa yang dimaksud ungkapan itu dilontarkan pada Paman Erio sendiri.
Boom!!
Boom!!
Kembang api yang masih membumbung ke atas langit disusul oleh kembang api lainnya membawa suasana menjadi canggung, Hito tidak memikirkan lagi apa diungkapkan Paman Erio sendiri. Malahan itu adalah sebuah ungkapan di dalam story character Paman Erio yang Hito teringat mengerjakan misi pelepasan dan pengembala di komputer gamenya.
Memang waktu memisahkan jarak antara kebersamaan, tapi tidak harus melupakan semua jasa yang ada. Hito tetap akan mengingat terus game ia mainkan, meskipun berbekal ingatannya. Dan perubahan dalam alur kehidupan berubah seiring takdir yang di jalan Hito sendiri.
Setelah kembang api selesai di lepaskan semua, di momen inilah lampion di terbangkan. Sebelum diterbangkan, lampion harus dituliskan sebuah harapan atau doa. Agar harapan atau doa tersebut bisa dikabulkan dan diterima di hari lain.
Hito awalnya bingung apa yang ia lakukan, kemudian Paman Erio memberikan lampion kepada Hito.
"Hito. Ini lampion paman siapkan, sebelum terbang tuliskan harapan atau doa untuk tahun yang akan mendatang," senyum simpul Paman Erio melihat Hito bingung.
Tanpa lama, Hito menerima lampion yang diberikan oleh Paman Erio. Disini Hito mengingat harapannya yang ia ingin nulis, meskipun di dalam pikirannya bercabang. Hito berdiam diri sejenak memikirkan kata yang ingin ia tulis.
Baru inilah, Hito menyampaikan harapannya di sebuah kertas yang lusuh dikarenakan biaya membeli lampion yang berkualitas bagus sangatlah mahal. Akhirnya, Paman Erio memilih harga yang terjangkau dan bisa terbang ke atas saja.
Suasana ricuh orang menulis harapan dan mulai menerbangkan lampionnya masing-masing, Hito mulai menulis harapannya dengan bantuan Paman Erio memberikan tinta hitam kepada Hito.
Sedikit demi sedikit, Hito mulai menulis dengan perlahan apa yang ia harapan di tahun akan mendatang. Dengan keseriusan Hito menulis, Paman Erio memperhatikannya dari belakang sambil memantau apa Hito tulis. Dari sini Paman Erio tahu, bahwa Hito sudah belajar mandiri tanpa perlu arahan atau bimbingan mengenai cara menulis.
Pembelajaran menulis adalah hal yang harus diutamakan dalam pembelajaran, terkadang banyak orang menganggap menulis di secarik kertas atau menulis di mana pun dianggap mudah dan biasa. Namun mereka tidak tahu arti dari menulis itu bisa memperlihatkan karakter dari seorang dan seni yang ditampilkan dalam sebuah tulisan.
Hito menulis harapannya di secarik kertas lampion miliknya dengan harapan berupa. 'Di tahun yang akan datang ini, semoga saja diriku ini diterima apa adanya. Tanpa memikirkan hidup itu pahit ataupun susah, jadikan hari itulah hal yang membuatku bangkit dan mulai berdiri. Berharap suatu hari nanti, aku mendapatkan orang yang mau menganggap diriku.' Tulis Hito di lampionnya dengan tinta bertegak sambung. Hito pun menghela napasnya lega apa yang ia harapkan.
"Sudah?"
Hito pun menoleh pada Paman Erio dan mengangguk kepalanya menyerahkan lampionnya.
"Saatnya lampion ini akan diterbangkan ke atas. Hito, tolonglah paman memegang lampion ini supaya paman dapat menghidupkan api sumbunya." Jelas Paman Erio mengambil korek api.
Hito yang tahu, lalu menolong pamannya dengan memegangnya. Setelah itu Paman Erio mengambil api dan menghidupnya ke sumbu lampion tersebut. Sekejap lampion itu sudah mengembang dan mulai terasa ingin terbang keatas langit, tanpa terasa Hito mulai melihat detik-detik lampion akan diterbangkan secara bersamaan.
Dan bunyi menara jam besar berada di Taman Kota Caliburn berbunyi lagi menandakan bahwa pelepasan atau menerbangkan lampion di mulai. Secara bersama beberapa penduduk mulai melepaskan lampionnya dengan suka citanya, begitu juga Hito melepaskan lampionnya terbang ke atas diikuti lampion Paman Erio juga terbang.
Malam tahun baru dan salju masih turun dengan butiran kecil membawa suasana yang penuh dengan cahaya yang melambangkan kesucian dan suka ria para penduduk merayakan acara ini. Tidak luput langit dipelukanmu lampion harapan berterbangan di langit dengan harapan semua doa untuk tahun mendatang bisa terkabul.
"Paman. Harapan yang Paman tulis di lampion apa?" tanya Hito yang ingin tahunya.
Paman Erio yang masih memandang ke atas langit mengatakan harapan yang ia tulis.
"Harapan Paman adalah. Semoga Paman bisa panjang umur, sehat selalu dan bisa hidup bebas bersama keluarga di Desa Shei," ucap Paman Erio menyampaikan harapannya di lampionnya.
Hito lalu terdiam memikirkan Desa Shei adalah tempat tujuannya mencari sebuah misteri yang ia cari, adalah Goa Herk yang Hito carikan di sana. Namun, bagaiman bisa Paman Erio bertempat tinggal di sana. Apakah mereka tahu tentang Goa Herk ini. Hito pun berpikir keras di sini.
...----------------...
Di Kerajaan Helium di taman luar istana yang penuh pelayan dan pasukan menyambut malam penggantian tahun baru, keramaian yang hangat menyelimuti rasa kekeluargaan di Kerajaan Helium. Eugenia Seorang putri Kerajaan dan salah satu anak terakhir di Kerajaan Helium ingin menerbangkan lampionnya, ketika Euge pulang dari acara raya dingin yang diadakan Kota Caliburn.
Pada saat itu, Eugenia diawasi oleh Ayahnya dibelakang dengan mata menyorot pada Euge.
"Euge, apa dirimu masih mengikuti tradisi yang dilakukan masyarakat di sana?" tanya Ayah Euge mengerutkan alisnya memperhatikan tingkah Euge.
Euge merasa Ayahnya tidak mengerti apa yang diinginkan lalu ia bungkam dengan perkataan tidak mengenakan.
"Ayah. Selama ini Euge punya harapan di dalam hati yang terpendam, tapi mirisnya Ayah tidak tahu apa diharapkan Euge di Istana dan menganggap sesuatu itu sepele dan menyeringainya saja," ungkap Euge dengan tenang mengatakan tentang Ayahnya di belakangnya.
Euge tidak peduli lagi dengan kondisi ia yang terbelakangi di Istana maupun tempat tinggal, ia percaya perkataan seorang anak laki-laki membuka hatinya untuk memberanikan dirinya menyampaikan apa yang Euge pendam.
Setelah Euge mengatakan harapan di hatinya, Ayahnya membeku tanpa berkata apapun, sampai pelayan di sekitar merasakan Euge berubah dan sebagian ada yang takut akan Ayahnya melakukan sesuatu padanya.
Tapi Euge tetap menulis harapan di lampion itu dengan semangat dan senyum mesra, meskipun keadaannya di mengenakkan bagi dirinya.
Ayahnya, Sang Raja Kerajaan Helium merasa putrinya sudah merasakan apa arti dari berani pendapat. Lalu Ayahnya meninggalkan Euge sendiri di taman Istana dengan perasaan senyum tersimpul, bahwa anak kesayangan ia dapat berpendapat apa yang kurang pada Ayahnya sendiri.
"Euge. Perkataanmu membuat aku terpukau sama apa yang kau pendam selama ini, maka itulah yang aku inginkan," ungkap Ayahnya berjalan masuk Istana dengan tegak dan berwibawa tersenyum simpul di balik tubuhnya meninggalkan Euge.
Euge tahu Ayahnya akan meninggalkan ia sekian kalinya, Euge tetap teguh menulis harapannya. Harapan di tulis oleh Euge di sebuah lampion kertas berukiran lambang Istana Kerajaan Helium adalah. 'Harapanku dapat bertemu dengan anak lelaki itu kembali dan berteman dengan baik. Aku akan ingat perkataan darimu, sampai syal woolmu menjadi kenangan yang aku simpan sampai takdir menemukan kita di lain waktu.' Harapan yang ditulis Euge kemudian ia mandiri menerbangkan sendiri menggunakan api yang disediakan pelayannya.
Tanpa suruhan maupun berkata. Euge menerbangkan sendiri dan menatap langit yang penuh lampion, Euge merasa dirinya sangat senang bertemu dengan anak lelaki itu. Meskipun ia tidak tahu namanya. Ia akan ingat pemberian syal wool di terpasang di lehernya dengan lembut, hingga Euge memejamkan matanya mengingat rupa anak lelaki itu memegang syal woolnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 62 Episodes
Comments
Opick Rahman
lanjut thor
2023-09-28
1
Sampawn
yuje terdoktrin /Scare/
2023-09-25
0
Sampawn
eakk ini isi hati author /Sly/
2023-09-25
1