Di Istana Keluarga Alexander, pada malam salju yang turun lebat.
"Gimana hasil investigasi, apakah menemukan buktinya?" tanya Ibu tiri itu kepada pelayan setia.
Namun, hasil investigasi selama tiga hari ini menunjukkan bukti yang nihil dalam mendalami kekerasan yang menimpa Kang Shan. Ibu tiri terus meminta investigasi lagi demi anak pertamanya walaupun hasil tetap nihil terus, tetapi ada pelayan setianya membantah untuk melanjutkan investigasinya.
"Lebih baik, kita tidak melanjutkan saja Putri Rossa. Karena tidak ada buktinya langsung di tempat kejadian perkara yang kita temukan, yang ada kita lakukan sia-sia saja," jelas pelayan setia Ibu tiri tersebut.
Ibu tiri mendengarkan penjelasan dari pelayan setianya membuat ia berpikir panjang dan teringat bahwa Kang Shan ditemukan pelayan lain yang bertugas menjaga di malam hari.
"Ruhee. Apa kau bisa membawa pelayan yang menemukan Kang Shan pertama kali. Aku ingin berbicara langsung di hadapannya."
Pelayan setia itu awalnya terkejut mendengarkan kawannya dipanggil oleh Ibu tiri, padahal kawan pelayan ini adalah sebagai saksi dan juga menolong Kang Shan. Sementara di mata Ibu tiri menaruh pikiran curiga sama kawan pelayan setia itu.
"Putri Rossa, ia tid–"
"Jangan membantah omonganku, bawakan saja ia kesini. Aku hanya ingin kepastian darinya." sela Ibu tiri dengan nada tegas menyuruh pelayan setia di sampingnya.
Setelah berbicara, pelayan setia itu pun lalu berpamitan dan bergegas mencari pelayan yang menemukan Kang Shan pertama kalinya. Walaupun pelayan itu adalah kawannya, ia tidak bisa melindungi karena kekangan dan peraturan yang berkuasa membawa ia harus merelakan hubungan antar kawan.
"Demi Kang Shan, aku rela banting tulang harus menemukan buktinya. Kalau tidak aku akan bergerak sendiri,"
Tidak lama datanglah tabib di belakang Ibu tiri dengan telanjang dadanya mengucap suaranya di telinganya Ibu tiri dengan lembut.
"Ada apa sayang, kenapa seharian ini kamu marah terus sih." ucap tabib itu memegang rambut Ibu tiri.
Lalu tabib itu berpindah ke sofa yang diduduki Ibu tiri tersebut.
"Janganlah, marah ... Apa kau kurang puas dengan tubuhku ini,"
Ibu tiri itu hanya terdiam saja tanpa menoleh pada tabib itu walau sudah memasang muka sedihnya bak binatang kucing, tetapi hati Ibu tiri itu luluh sama tabib itu memancing ia memegang perutnya.
"Gimana rasanya, apa kau ingin lebih dari sebelumnya." ujar tabib itu menarik tangannya Ibu tiri mengelus perutnya sampai kebawah.
Ibu tiri yang sepertinya risih dengan keadaan tabib mencondongkan badannya ke tubuhnya, lalu Ibu tiri ingin memarahi.
"Diam! Aku in–"
Tuk… Tuk…
Tanpa sengaja suara Ibu tiri keluar dengan lantang bisa ditahan oleh dirinya, ketika mendengarkan suara ketukan pintunya. Kedatangan seseorang ini melainkan pelayan setianya dan juga kawannya yang menjadi saksi pertama dalam menemukan Kang Shan terluka parah.
Akhirnya, Ibu tiri menyuruh tabib itu awalnya nafsuan. Kemudian merapikan pakaiannya.
"Permisi Putri Rossa. Saksinya hamba sudah carikan, tolong izinkan masuk." Pelayan setia Ibu tiri mengetuk pintunya.
"Iya silahkan," jawab Ibu tiri dalam kamarnya.
Kemudian pelayan setia pun masuk dengan perasaan tegang dan juga grogi ingin menyampaikan apa yang terjadi sebelumnya. Sebagai saksi pelayan itu hanya menundukkan kepalanya tidak berani menatap wajah Ibu tiri dengan berjalan pelan-pelan.
Dan di Ibu tiri sendiri tengah sibuk merapikan keadaan tempat duduknya, padahal di belakangnya sifatnya yang merapikan ada tabib yang sedang bersembunyi menguping pembicaraan saksinya berkata.
"Bagus Ruhee. Kamu sudah mau melaksanakan suruhanku,"
"Sekarang jelaskan Ruyi, bagaimana awal mulamu bertemu dengan Kang Shan yang sudah tergeletak dengan kondisi luka cukup banyak." Tanya Ibu tiri itu mengarah pada pelayan Ruyi yang sebagai saksi awalnya bertemu.
Pelayan Ruyi tahu akan pertanyaan yang dilontarkan Ibu tiri tersebut, kemudian ia menjawabnya secara jujur mengenai apa yang terjadi di waktu malamnya berjaga.
Pelayan Ruyi menjelaskan awalnya bertemu dengan Kang Shan di saat ia menjaga tugas pada malam hari di waktu hujan badai turun dengan deras. Dengan berbekal sebuah lilin dan cahaya bulan saja, pelayan Ruyi berjalan menyusuri koridor sekedar mengecek jika ada sesuatu yang membawanya curiga di dalam istana. Ia akan berteriak atau meminta tolong bantuan dari pelayan lain.
Awalnya pelayan Ruyi melihat sebuah jejak kaki basah dan sebuah pintu yang terbuka sedikit di waktu malam hari, pelayan Ruyi mengira ada kedatangan penyusup yang masuk ke dalam Istana. Pelayan Ruyi menjelaskan bahwa ia mengikuti jejak kaki dan tetesan air yang basah berjalan menyusuri koridor.
Pelayan Ruyi mengecek tetesan air tersebut, sampai akhirnya ia mendengarkan teriakan kesakitan yang nyaring berdengung di telinganya. Dari situ pelayan Ruyi berlari menyusuri koridor yang panjang untuk menuju ke sumber teriakan, ketika sudah sampai di sana dengan kondisi gelap gulita. Pelayan Ruyi menghidupkan lilin yang di pegangnya menggunakan korek.
Ketika sudah hidup, pelayan Ruyi terkejut dan terjatuh melihat keadaan Kang Shan sudah tidak sadarkan dirinya dengan mata masih terbuka dan luka di lehernya cukup parah. Cuma penyesalan pelayan Ruyi tidak melihat siapa pelaku dibalik kejadian, dikarenakan tertutup sebuah bayangan gelap di malam hari.
Sontak pelayan Ruyi berteriak meminta tolong kepada pelayan lain untuk membantunya mengevakuasi tubuh Kang Shan yang sudah tergeletak tidak sadarkan diri. Sehingga penjelasan pelayan Ruyi apa yang terjadi ia katakan dengan jujur tanpa mengakali Ibu tiri tersebut, alih-alih masih terpikirkan bahwa pelakunya adalah orang yang tinggal di istana sini.
"Berarti. Sebelum kau sampai di sana Kang Shan sudah tidak sadarkan, tapi yang masih terpikirkan olehku. Pelakunya hanya nampak bayangan saja. Hmmm … koridor itu mengarah ke kamarnya Hito, kan?" tanya Ibu tiri melirik ke wajahnya pelayan Ruyi.
Pelayan Ruyi yang selama ini tahu denah membenarkan kejadian tersebut.
"Iya. Putri Rossa arah koridor itu menuju ke kamarnya Hito,"
Ibu tiri kemudian berdiri teringat bahwa selama ini Hito pulang larut malam menyebabkan Ibu tiri menaruh perasaan bahwa pelaku sebenarnya adalah Hito itulah. oleh karena itu, Ibu tiri mengumpulkan buktinya terlebih dahulu.
"Selama ini. Aku terpikirkan bahwa Hitolah pelaku sebenarnya," erang Ibu tiri menahan dendamnya sesudah menyimpulkan bukti kekerasan tersebut.
"Tapi … Putri Rossa. Apa Putri tidak salah menuduh Hito sebagai pelakunya sendiri?"
"TIDAK!" tegas Ibu tiri melirik pelayan Ruhee.
"Yang jelas tidak ada pelaku orang luar yang menyerang istana secara cerdik seperti penyusup, yang jelas pelaku itu adalah orang dalam istana itu sendiri!"
Kemudian Ibu tiri itu meminum anggur merah yang ada di mejanya untuk meredamkan amarahnya.
Gluk…
Gluk…
"Arghhh!!"
Amarah yang tidak tertahankan, lalu Ibu tiri melampiaskan amarahnya dengan menghempas cawan yang berisi anggur merah ke lantai.
Craang!
Pelayan lain yang melihat ini sontak menundukkan kepalanya dan meninggalkan kamar Ibu tiri dengan pelan tanpa mengucapkan apapun. Dengan perasaan yang tidak biasa mereka lalui dengan sabar.
"Hito … Hito … Hito terus orangnya, kenapa anak itu tidak puas menyiksa anakku!" marah Ibu tiri menghentakkan tangannya ke cermin.
Tabib yang melihat keadaan perempuannya yang sedang naik pitam mengetahui di balik penyiksaan anaknya, kemudian tabib itu berinisiatif memeluk Ibu tiri tersebut. Dengan perasaan cemasnya.
"Tenanglah Rossa!" peluk tabib dari belakang menenangkan Ibu tiri.
Ibu tiri kemudian terjatuh di dalam pelukan tabib menangis tersedu-sedu memikirkan apa yang ditimpa anaknya.
"Kenapa … kenapa anak itu terus menjadi petaka bagiku, jika ia berada di rumah ini terus … hiks … hiks…," tangis Ibu tiri tersebut memeluk tubuh tabib dengan erat.
Padahal di tampang wajah tabib tersebut menunjukkan wajah dua,senang akan menimpa Ibu tiri, sehingga ia berpura-pura berperan seolah merasakan. Namun, tabib mempunyai rencana lain dalam Keluarga Alexander. Entah itu rencananya akan dilakukan kapan, tapi tabib itu harus segera mengambil alih Keluarga Alexander.
"Sabar, sabar. Aku tahu semua ini terjadi, tapi aku punya rencana untuk menyerang Hito secara langsung," senyum tabib menyusun rencananya.
"Apa?"
"Sini aku bicarakan,"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 62 Episodes
Comments
Sampawn
ngeri nih tabib
2023-09-25
0
Sampawn
iuhh/Puke/
2023-09-25
0
Sampawn
eakk langsung ngegas/Sly/
2023-09-25
0