"Hacihhh!!!"
Hito bersin di saat sedang makan manisan apel yang sudah diolah menjadi kuah di Bar Kota Caliburn, sehingga menarik perhatian Paman Erio untuk menanyakan keadaan Hito.
"Hito. Kenapa dirimu? Apa kuah apelnya kurang panas?"
Hito pun merespon Paman Erio dengan mengangkat tangannya.
"Tidak Paman. Hito merasa ada yang membicarakan Hito,"
Paman Erio mengerutkan alisnya mendengarkan Hito berkata.
"Siapa orang yang berani membicarakanmu, Hito."
"Padahal dirimu ini anak rumahan, iya kali ada yang pembicara tentang dirimu," pikir Paman Erio menatap Hito meniup kuahnya.
Hito hanya menghela napasnya, bahwa selama ini Paman Erio tidak tahu sifat busuk orang di dalam istana ketimbang di luar istana.
"Hufftt … Paman nih, seolah tidak tahu orang istana seperti apa,"
Paman Erio mendengarkan apa yang di ungkap Hito dengan nada lesunya, kemudian ia terdiam saja. Karena tahu akan penderitaan Hito timpa selama ini, cuma ia tidak bisa berkutik karena bukan kekuasaan Paman Erio dalam istana.
Sesudah memakan kuah apel di restoran, Paman Erio mengajak kembali Hito keluar untuk bermain apa yang bisa ia lakukan di acara raya dingin ini sebagai menghibur rasa di masa istirahat. Paman Erio tahu bahwa yang dibutuhkan Hito adalah berani untuk beradaptasi di luar dan berinteraksi dengan orang lain.
Awalnya yang malu, Hito malah menjadi berani untuk berbicara dengan orang lain. Tanpa memikirkan lagi hambatan yang dimilikinya, Paman Erio hanya merasa Hito berdiri kuat dengan kepercayaan dirinya tanpa menyandarkan tubuhnya pada orang lain. Berpendirian teguh dan percaya diri adalah hal harus dipegang setiap orang untuk tidak jatuh ke dalam bayangan orang lain yang berkata pada dirinya. Biarpun jelek dan bagusnya, kita sendirilah yang tahu.
"Paman. Lihat apa yang Hito dapatkan."
Sontak Paman Erio yang bersandar di tiang tenda bermain tercengang melihat Hito mendapatkan boneka yang begitu banyak ketika bermain lempar gelang ke cawan.
"Hito! Apa kau yakin memborong ini semua!"
Hito pun menjawab Paman Erio yang gelagapan melihat dirinya.
"Iya. Kenapa? Ini murni Paman, Hito bermain lempar gelang nih,"
"Tapikan, tidak seharusnya di borong. Hito." Ucap Paman Erio menepuk jidatnya.
"Yah, sudahlah. Boneka ini kita sumbangkan ke panti asuhan Kota Caliburn, Hito lihat sekeliling banyak anak kecil mengirikan Hito mendapatkan banyak boneka, Paman."
Tanpa sadar Hito tahu sekeliling dikerumuni anak kecil yang mau boneka yang didapatkan oleh Hito.
"Baguslah, kalau gitu. Kita ke panti asuhan saja untuk memberi bone–"
"Hito! Katamu ingin memberikan boneka ke panti asuhan? Kenapa di jual!"
"Paman. Ini kesempatan yang bagus untuk mengandakan koin emas dengan gini, kita tidak perlu khawatir pengeluaran kita,"
Hito tidak berpikir apa yang dikatakan ia sebelumnya, yang ada ia melihat anak kecil menyodorkan 1 koin emas kepada Hito untuk membeli boneka yang didapatkan Hito sendiri. Alhasil Hito berpikiran boneka ia dapatkan bisa dijual jual daripada memberikannya ke Panti Asuhan anak-anak.
"Terima kasih koin emasnya,"
"Sama-sama kakak." Ucap anak kecil mengambil boneka tersebut.
Kemudian anak kecil itu kembali ke hadapan orang tuanya dengan perasaan senang menunjukkan boneka yang dibelinya, Hito menatapnya dari jauh merasa bahagia dengan apa yang dilakukan oleh ia bisa membawa dampak baik kepada orang lain.
Di sisi lain, Paman Erio tidak habis pikir dengan tingkah Hito yang masih misterius apa yang sebenarnya Hito lakukan.
"Gimana dapat berapa koin emas hari ini?" tanya Paman Erio melirik Hito dengan serius.
Hito tidak menghiraukan apa yang pamannya lirik, yang ada Hito melayangkan segepok koin emas Hito kumpulkan.
"Lumayan, adalah untuk Hito tabung untuk keperluan mendesak nanti." Ungkap Hito menyimpan koin emasnya yang banyak dalam tasnya yang ia bawa.
Paman Erio tersenyum kecil melihat tingkah Hito memikirkan perencanaan finansial yang dihadapinya, walaupun Hito sangat berani melakukan penjualan secara murah. Namun Hito tidak terpikirkan dirinya gengsi ataupun memikirkan hal lain, tentu itu murni apa yang dilakukan.
Paman Erio hanya berpihak kepada Hito apa yang ia lakukan, jika benar dan baik ia lakukan. Maka Paman Erio tidak perlu bergerak atau melakukan gerakan preventif, demikian juga sebaliknya sebagai orang tua kedua. Paman Erio harus berhak bertanggung jawab merawat Hito.
"Hito. Ayo ikut Paman, kita ke pinggiran sungai untuk melihat kembang api." ucap Paman Erio menarik tangan Hito.
Hito yang tidak tahu apa-apa, hanya mengikuti Paman Erio menarik tangannya. Ketika itu Hito tengah memasukkan barangnya ke tas.
"Paman. Sebentar, memangnya ini sudah mau jam berapa?"
Paman Erio hanya berjalan terus tanpa menoleh sedikitpun ke Hito.
"Sudah. Ikuti saja tangan Paman nih, ini mau tengah malam. Kalau ketinggalan, berarti kita tidak mengikuti inti dari acara ini," jelas Paman Erio.
Hito pun terdiam saja, mengikuti Paman Erio berjalan menuju ke pinggiran sungai Kota Caliburn. Dari melewati Taman Kota Caliburn hingga alun-alun mereka lewatkan demi sebuah kembang api. Hito tidak terpikiran ada apa dengan Paman Erio sampai bersemangat untuk membawanya ke pinggiran sungai.
Ketika sudah sampai, Hito heran melihat keramaian orang yang sudah berkumpul di pinggiran sungai dengan beberapa orang menyiapkan sebuah lampion terbang dan juga korek api. Hito menatap wajah Paman Erio yang senang memperhatikan keramaian orang di sana, kemudian matanya kembali tertuju pada Hito.
"Kenapa Hito, apa dirimu merasa janggal di tempat orang ramai nih?"
Hito menggelengkan kepalanya, karena ia sudah beradaptasi dengan keadaan sekitar. Hito mulai bisa terbuka untuk publik di sekitarnya, walau hanya sementara, tetapi sikap dinginnya masih bisa dilihat dan dirasakan orang lain. Hanya orang tertentu yang dapat mengenal Hito lebih dalam.
"Hito. Kau tahu, setiap malam di ujung tahun. Penduduk yang ada di luar Kota Caliburn akan datang di Sungai Hannam untuk melihat kembang api dan menerbangkan lampion untuk berdoa, agar di tahun mendatang akan memberikan rezeki, nasib, dan keikhlasan yang lebih baik dari sebelumnya," jelas Paman Erio memandang ke arah kapal yang ingin menghidupkan kembang api.
Sehingga Hito memandang apa yang dilihat oleh Paman Erio, ketika Hito memandangnya Hito baru teringat dengan masa lalunya di mana ia bermain game ini ketika event musim dingin dan tahun baru bergema di dalam game yang ia mainkan.
Hito mengingat kembali sejarah tradisi yang ada di Kota Caliburn, tradisi ini sudah dilaksanakan dari masa leluhur pertama Kerajaan Helium. Makanya ada pepatah dari game itu teringat di pikiran Hito bilang. 'Masa lalu adalah kenangan terbaik yang membawamu dalam kemenangan, karena masa lalu tak hanya memberikan kenangan. Namun juga mengenalkanmu akan makna kehidupan.' Sehingga pepatah inilah menjadi kunci sejarah tradisi berlangsung dari sekian lamanya Hito dapat rasakan di waktu yang nyata ini.
Hito hanya melamun melihat Sungai Hannam yang penuh dengan kapal yang berlalu lalang membawa lampion yang ingin diterbangkan, sehingga Paman Erio menegur Hito untuk menyadarinya.
"Hito. Sadarlah." Sapa Paman Erio menyodorkan tangannya ke hadapan mata Hito yang tidak berkedip sesekali pun.
Hito pun tersadar akan lamunannya, ia sadar selama ini angan-angannya bisa menjadi nyata. Walau hanya mengingat memori di bumi sedikit saja, namun bisa membawa dampak pada pikiran Hito. Sehingga Hito memejamkan matanya untuk kembali pada realita yang ia hadapi sekarang, di waktu yang berbeda.
"Maaf Paman. Hito sepertinya teralihkan sama pikiran Hito selama ini," ungkap Hito.
"Hito. Paman tidak permasalahan pikiranmu, cuma keadaanmu yang membawa Paman lebih mengkhawatirkan dirimu," ucap Paman Erio menatap Hito.
Ketika Paman Erio berkata apa yang dikhawatirkan ia, Hito mulai sadar apa yang ia lakukan sendiri. Sampai Hito menundukkan kepalanya untuk berkata pada kenyataannya.
"Paman. Hito in–"
Teng!
Teng!
Teng!
Bunyi bel jam berkumandang di setiap Kota Caliburn menandakan pergantian malam tahun baru mulai datang, tanpa dirasakan oleh Hito omongannya yang ingin ia nyatakan ke Pamannya terpotong dengan suara menara jam besar di Kota Caliburn.
Beberapa penduduk di sekitarnya sudah berteriak ricuh menantikan datangnya kembang api, sampai di penghujung malam. Rombongan kapal di Sungai Hannam sudah melambaikan tangannya ke atas memberikan kode. Dan di waktu itulah kembang api di hidupkan secara serempak.
Hito tidak terpikirkan, bahwa malam ini Hito berulang tahun ke delapan tahunnya, tepat saat kembang api di nyalakan di atas. Umur Hito sudah beranjak ke delapan tahun, bukan tujuh tahun lagi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 62 Episodes
Comments
Sampawn
katanya mau dikasih kepanti asuhan kok ngak jadi, wahh parahh nih si hito/Curse/
2023-09-25
0
Sampawn
gimana sih ini/Sweat/
2023-09-25
0
Sampawn
anak rumahan kayak author aja/Doge/
2023-09-25
0