"Baiklah, Hito. Pelatihan pedang kita cukupkan sampai disini saja dulu, besok kita akan lanjutkan lebih matang kembali," ucap Paman Erio yang sudah kelelahan mengajarkan Hito.
Hito juga merasa kelelahan bersertaan dengan Paman Erio juga, kemudian Hito berhenti sampai melanjutkan pelatihan kembali di keesokan harinya.
"Iya, Paman. Kita lanjutkan besok kembali, tapi kalau bisa, Hito bisa datang lebih awal kesini,"
"Penilaian Paman. Dirimu sudah mengerti dan lancar apa yang Paman latih padamu, yang belum saja bagi Paman adalah kuda dan langkahmu masih terlihat kaku," sambung Paman Erio.
"Itu saja penilaian pelatihan perlu Paman awasi untukmu, Hito. Nanti coba-coba sedikit praktek di istana agar kakimu mudah terbiasa dengan langkahnya,"
"Baik, Paman. Hito akan dengar nasehat Paman, Hito pamit dulu kembali ke istana, Paman." Pamit Hito.
Sesudah pamitan Hito berdiri dengan menundukkan kepala untuk Paman Erio dan membalikkan badan, Hito pun pergi dengan membuka bajunya yang sudah basah sampai mengelap keringat diwajahnya.
Paman Erio memandang Hito dari kejauhan, sudah bisa memperkirakan apa yang diinginkan Hito lakukan sama dirinya. Paman Erio mengetahui langkah Hito akan membuat perubahan besar pada istana di hari akan datang, Paman Erio yakin bahwa Hito mempunyai langkah teguh di hatinya apa yang ia inginkan di jalannya sendiri. Tanpa memikirkan kendala yang dialami hadapinya.
Sekejap memandang, datanglah seekor burung merpati yang membawa surat di kakinya dengan tanda bulu berwarna putih terang. Paman Erio sudah tahu kedatangan burung merpati ini di jadwal malam yang sunyi, kemudian mengangkat tangannya agar burung merpati itu dapat mendarat di tangannya.
Paman Erio membelai burung merpati itu sekian lamanya, tidak lupa Paman Erio membawanya ke dalam tenda. Agar tidak membuat orang sekitar menjadi curiga, setelah di dalam tenda. Paman Erio membuka surat yang dikirimnya selama ini, surat ini berasal dari luar istana lebih tepatnya surat kiriman dari Ibunya Hito selama berkelana di beberapa wilayah.
Di dalam surat itu, ibunya Hito menulis tentang keadaan Hito sampai menanyakan Hito apa sudah berubah dalam dirinya. Paman Erio yang selama ini menjaga dan mengawasi Hito menulis apa yang ia lihat, sampai Paman Erio tidak lupa bilang. Bahwa Hito sudah kelihatan mirip dengan Ibunya dari sifat dan wajahnya, sesekali Paman Erio tertawa dalam menulis ini karena mengingat kisah Ibunya Hito dulu. Sampai Paman Erio juga menulis cerita tujuan Hito inginkan dalam surat tersebut.
Paman Erio sudah tahu apa langkah Hito yang diinginkan sampai gebrakan besar yang Hito lakukan, sampai Paman Erio menulisnya di malam hari dengan tinta cairnya. Paman Erio menyisipkan sebuah permintaan kepada ibunya Hito, permintaan Paman Erio adalah ibunya Hito dapat bertemu dengan Hito selama ini. Walaupun sebentar, ibunya tahu apa yang Hito butuhkan sebagai sandarannya.
Setelah Paman Erio menulis semua balasan surat itu, Paman Erio menggulung surat dan mengikatnya dengan erat di kaki burung merpati ditandakan sebuah bulu putih sebagai kode. Burung merpati yang sudah siap terbang mengantar surat, lalu Paman Erio membawanya keluar dan melepaskan secara bebas terbang ke udara. Dengan berbekal permintaan, Paman Erio bisa tahu bahwa selama ini Ibunya Hito mengkhawatirkan anaknya di istana.
Beralih ke Hito seperti biasa di larut malam ia kembali ke istana, di tengah koridor yang seperti sepi dan kadang pula ada beberapa pelayan di sekitar sana. Akan tetapi kerja pelayan itu pun hanya berbicara orang lain saja tanpa memikirkan pekerjaan selesai atau tidak, sampai Hito pun tidak tahu apa-apa dilirik mereka dengan tatapan sinis. Layaknya seorang menggunjing tanpa tahu penyebab atau akibatnya.
Hito lalui saja seperti tidak peduli pada omongan dan cibiran orang lain, tanpa mengurusi mereka. Hito menganggap waktu adalah uang, sepersekian waktu itu adalah hal sangat berguna bagi dirinya untuk melangkah maju. Tidak peduli orang mau menganggap dirinya rendah, haram, ataupun sebelah mata. Yang penting Hito jalankan hidup sesuai jalan ia tempuh sendiri.
Ketika Hito sudah sampai di kamarnya, kemudian Hito pergi lagi ke tempat pemandian yang terbengkalai yang ia rahasiakan dari orang istana. Tatkala Hito memandang sekeliling tempat pemandian itu sebelum dirinya masuk, agar tidak merasa dirinya tidak diawasi oleh orang lain maupun diikuti. Akhirnya Hito masuk ke pemandian yang terbengkalai, dan berendam langsung ke dalam kolam yang sudah lama ia tinggalkan.
Pada sebelumnya, Hito sudah membersihkan semua tempat ini dengan sihir, saat itu. Hito berjumpa di tempat pemandian pertama kalinya di dalam istana, meskipun Hito tidak dapat mandi di tempat yang layak. Di dalam kolam yang tenang dan malam yang begitu terang, Hito masih memikirkan ingatan sebelum Hito pindah. Hito memikirkan wajah perempuan yang dulunya dalam game yang Hito mainkan, mengincar dirinya dengan lembut dan perasaan itu Hito mengingat terus lamunan tangan dan rambutnya memenuhi pikiran Hito, sayangnya perasaan itu hanyalah samar-samar dalam ingatan yang belum terungkap apa adanya.
Sehingga Hito terus melamun memikirkan tentang perempuan itu, sampai Hito membasuh mukanya beberapa kali sampai merendamkan kepalanya. Untuk membuang pikiran identitas perempuan yang mengincar dirinya.
"Masih jauh, jauh. Perjalanan kamu Hito. Kenapa kau malah memikirkan perempuan," kata Hito memegang pipinya.
"Kita masih banyak perjalanan kita lalui, pikirkan langkahmu Hito. Perempuan itu nanti saja, tahan godaan nafsumu,"
"Yang harus aku lakukan adalah pergi ke Goa Herk, Goa tersembunyi di Desa Shei untuk mengambil artefak dan warisan tersembunyi. Sesudah umurku 8 tahun, aku gunakan konflik Kang Shan sebagai keuntunganku agar aku bisa berbicara dengan Ibu tiriku lagi," lanjut Hito.
Setelah Hito berbicara, Hito tertawa sendiri merasa langkahnya sudah berhasil setengah. Tinggal menunggu gerakan dari Ibu tirinya, melakukan sebuah masalah pada Hito.
"Haha … aku ingin tahu, bagaimana reaksi pelacur itu menanggapi anaknya yang tersiksa sampai koma dihantamku,"
"Apa ia menyediakan perangkap untuk diriku, aku bersedia saja menunggu perangkap itu, Ibu tiri." Pikir Hito sudah mau membuat masalah kembali.
...----------------...
"Bagaimana tabib? Apa kau dapat menyembuhkan Kang Shan secara total?" tanya Ibu tirinya mencemaskan keadaan Kang Shan.
Tabib itu memeriksa tubuh Kang Shan yang lemah dari bagian leher hingga kepala masih membiru dengan luka sudah disembuhkan.
"Aku tidak bisa menyembuhkan secara total, kondisi anakmu. Aku bilang ia mengalami koma dan mungkin akan terbangun di waktu yang lama, sebab bagian lehernya dan kepalanya terkena hantaman keras,"
"Oleh itu, aku akan sarankan. Kau mengobati ini dengan resep yang aku berikan, dan juga awasi anakmu. Kemungkinan ada sebagian luka yang terbuka menyebabkan pendarahan itu kembali di dalam kepalanya." Tutur tabib itu dengan menyerahkan resep obatnya.
Tidak lama setelah menyerahkan obat, tabib itu menarik tangan Ibu tiri untuk mendekatkan tubuh Ibu tirinya ke alat vitalnya tabib yang menonjol sampai menyuruh memegangnya.
"Jangan lupa ongkos waktumu sebelumnya, aku akan menunggumu, Cantik." bisik tabib ke telinga Ibu tiri dengan mengusap perut Ibu tiri dengan lembut, dan tubuh tabib meronta kepanasan.
Ibu tiri yang tersipu wajahnya yang merah lalu merasakan juga kepanasan tubuh tabib itu, membawa hasrat seksual Ibu tiru bergejolak, dengan perasaannya geli Ibu tiri kemudian ibu mendorongnya.
"Aku tahu, tapi tolong jangan disini!" ujar Ibu tiri mendorong tubuh tabib.
"Iya, aku tahu. Tinggalkan aku ciumanmu dulu sebagai tanda aku harus pulang dulu." Suruh tabib genit berusaha meraih bibir Ibu tiri.
Tanpa berlama sekalipun, hubungan antara tabib dan Ibu tiri menjadi hal tersembunyi di dalam kamar Kang Shan tanpa sepengetahuan Ayah Hito, Ibu tiri sudah mempunyai hubungan lain di luar jangkauan pengawasan Ayah Hito. Setelah hubungan itu terjadi, tabib itu keluar dari kamar Kang Shan dengan keadaan normal tanpa dikerahkan oleh siapapun. Bisa dibilang tabib itu menyembunyikan identitas, dengan tenang tanpa sekitarnya tahu akan tingkah lakunya yang seolah tidak punya masalah.
Tabib itu berjalan keluar dari istana dengan diantar oleh pelayan setia suruhan ibu tiri tersebut, dengan gagah serta tenang dalam perjalanan. Sampai di momen inilah, tabib itu berpapasan dengan Hito yang telah selesai berendam, Hito yang melihatnya sekilas terdiam saja dan sedikit melirik mengamati tabib itu berjalan. Siapa sangka bahwa tabib dipanggil oleh ibu tiri adalah tabib berhidung belang yang dipikirkan oleh Hito sebelumnya.
Seketika Hito menatap tabib itu kembali sampai tabib berbelok ke koridor lain, bagi Hito ini adalah kejadian yang ia gunakan nantinya untuk menyerang Ibu tirinya. Di dalam hatinya sehingga Hito tersenyum jahat di bibirnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 62 Episodes
Comments
Mafufu Rawr
Kok bisa gk kena sensor bagian pelacurnya!?
2024-01-20
0
Ladyrose 🍯
bener2 ya 🤧
2024-01-03
1
Life is just an illusion🥲
astaga padahal baru beberapa paragraf
2023-09-03
0