Suasana salju yang turun, dengan huru-hara manusia berkerumun di Taman Kota. Membawa sekitar menjadi ramai, meskipun di sana perempuan dan Hito duduk bersama menceritakan keluhan di tempatnya. Namun, tanpa dirasakan perempuan itu menundukkan kepalanya tahu akan makna dari perkataan Hito.
Hanya beberapa kalimat saja, perempuan itu tahu apa yang ia lakukan sebelumnya pada ibunya. Perempuan itu sekarang tahu apa arti dalam kata "Mandiri" yang diucapkan ibunya. Membuat mengeluskan air mata yang keluar, Hito tidak tahu sama keadaan perempuan di sampingnya. Hito memejamkan matanya sambil menghela napas dinginnya.
"Apa kau tahu sekarang?"
Perempuan itu menganggukkan kepalanya, sambil menutupi matanya. Hito lalu bersuara lagi memberikan sebuah kata semangat dan harapan untuk perempuan tersebut, walaupun keadaannya menjadi sedih. Hito tahu bahwa di saat itulah, dirinya harus berubah kehidupan orang lain. Yang aslinya Hito di bumi tidak bersosialisasi kepada orang lain.
"Aku punya satu kata semangat yang terus aku simpan sampai sekarang, kalau bagimu ini tidak berguna. Anggap saja ini hadiah dari seorang pertama kalinya aku ketemu,"
"Ingatlah. Seberapa banyak lagi luka yang harus kudapatkan, berapa banyak lagi rintangan yang harus kulewati, berapa banyak air mata lagi yang harus kukeluarkan hingga aku dapat tersenyum lagi? Ini semua akan berlalu,"
Sepatah kata yang di ucapkan oleh Hito, Hito merasa perempuan di sampingnya menundukkan kepalanya terus. Sehingga Hito menoleh ke hadapannya sambil memegang kepalanya.
"Setiap hari, setiap detik. Selagi kau masih boleh bernapas, selagi itu ada peluang untuk kau perbaiki hidup kau."
Perempuan yang juga menatap Hito menoleh padanya, kemudian Hito membalas dengan senyumannya. Perempuan itu sadar akan semua terjadi biarkan yang lalu menjadi sebuah kenangan akan menjadi tolak ukurnya untuk melakukan berubah.
"Terima kasih. Kakak, aku cukup senang dengan kakak yang mau memberikan aku nasehat dan juga kisah hidup kakak,"
"Walau hanya sebagian, tapi ini sangat berguna untuk aku kedepan,"
"Sebelumnya aku ingin kenalan namaku Eug–"
Ketika perempuan itu ingin menyelesaikan kalimatnya, ada seorang pria muda dengan berpakaian kerajaan memanggil namanya dari kejauhan.
"Putri!" teriak pria muda berpakaian kerajaan lengkap.
Perempuan itu sudah tahu, ada seorang yang mencarinya ia lalu menghentikan omongannya di mulutnya. Hito awalnya ingin mendengarkan apa yang dikatakan perempuan itu, lalu mencari suara teriakannya dari kursi yang didudukinya.
"Maafkan. Aku kakak. Aku tidak bisa berlama lagi di sini menemani kakak main,"
Perempuan itu mencemaskan Hito ditinggalkan olehnya, Hito tahu situasi dari seorang perempuan itu sudah sepatutnya dicari oleh orang tuanya. Yang ada dalam hati Hito adalah rasa syukur bahwa ia dapat menyelamatkan seorang perempuan untuk pertama kalinya dalam hidup, hanya sekali saja, Hito sudah mengetahui apa yang harus dilakukannya.
"Tidak apa. Aku tahu. Pergilah ke seorang pria kerajaan yang memanggilmu, biarkan aku sendiri disini menatapmu dari jauh agar kamu selamat." Papah tangan Hito ke belakang baju perempuan tersebut.
"Kau harus tahukan apa yang kukatakan sebelumnya?"
Perempuan itu kemudian menganggukkan kepala untuk kedua kalinya.
"Iya. Apapun yang kakak katakan. Aku akan mengingat selalu perkataan kakak," jawab perempuan tersebut dengan cerianya.
Lalu perempuan tersebut beranjak dari kursi bersama Hito, kemudian ia lari menuju pria muda kerajaan yang meneriakkan namanya. Hito melihatnya dari belakang memperhatikan gerak langkahnya berlari, dengan senyum yang tidak sadar. Hito mengeluarkan ekspresinya bahagianya.
Setelah jauh dari hadapan Hito, perempuan itu sampai ke hadapan pria muda kerajaan tersebut. Kemudian memegang tangan pria muda kerajaan untuk pulang dari acara raya dingin, namun tidak lupa perempuan itu menghadap ke belakang menatap Hito dari jauh memberikan lambaian tangannya.
Hito menatap dari jauh, membalasnya juga dengan seksama. Tidak jelang lama perempuan itu tidak tampak lagi di mata Hito. Sampai di hadapannya apapun, yang ada sekarang kerumunan orang ramai kembali berlalu lalang di jalan.
Hito kemudian menundukkan kepalanya merenungi kehidupan di masa saat ini, walau sesaat. Hito teringat akan ia lakukan di dunia yang baru, Hito pun bangun dari kursi melanjutkan keinginan Hito berpergian ke tempat lain. Langkah ingin berjalan, tangan Hito ditarik oleh orang untuk menyuruhnya berhenti.
"Eh! Apa ya–" ujar Hito.
Hito menoleh ke belakangnya, awalnya Hito kira seorang pencuri atau preman. Yang ada dirinya ditarik Paman Erio yang sengaja menarik tangannya.
"Mau kemana dirimu, Hito." tarik tangan Paman Erio.
Hito merasa jengkel terhadap dirinya dibuat cemas sama keadaan yang tengah sendirian membuat Hito jadi was-was.
"Paman. Kalau paman seperti itu lagi, Hito reflek akan memukul tangan Paman," jelas Hito yang seperti marah.
Paman Erio tertawa mendengarkan apa yang dikatakan oleh Hito, serasa Hito dapat memukul tangannya.
"Hahaha, Hito. Maafkan Pamanmu yang sengaja usil menarik tanganmu. Memang ini inisiatif Paman tidak memanggilmu,"
"Karena kau mendekat seorang perempuan, kan?" bisik Paman Erio.
Hito yang tahu perkataan yang dilontarkan Paman Erio, Hito langsung menutup mukanya yang nampak memerah.
"Pa– Paman. Apa yang diucapkan Paman!" ujar Hito malu.
"Paman dari tadi memperhatikan kamu, Hito. Dari senyum sampai melambai tangan, serasa Paman kembali di waktu muda,"
"Paman!"
Hito meneriakkan Paman Erio membuat sekitarnya terfokus sama teriakkan Hito, akibatnya Hito terdiam menahan malu.
"Hahaha. Paman bukan mengolokmu, paman hanya senang. Dirimu dapat berbaur dengan orang lain yang awalnya cuma pendiam di pojokan,"
"Tapi, pa–"
"Hito. Itu adalah hal biasa di saat seorang lelaki bertemu dengan perempuan. Berinteraksi dan berkenalan itu adalah hal lumrah. Kenapa dirimu jadi malu?"
Hito mengarungkan kepalanya, mencari kata yang ingin membantah Paman Erio mengucapkan ia malu.
"Hmmm. Hito hanya tidak biasa," sanggah Hito.
Paman Erio menghela napasnya, ia tahu bahwa Hito ini masih terbilang malu dengan lari dari kenyataan di lihat. Namun, Hito mengalihkan paman Erio agar ia tidak mengetahui apa yang terjadi pada Hito sendiri. Setelah perdebatan begitu panjang, Paman Erio berdiri dan melihat sekitarnya.
Paman Erio memutuskan untuk berkeliling bersama Hito sambil menikmati tempat-tempat yang belum dikunjungi oleh mereka.
"Hito. Kau mau ikut paman ke seberang sana?" paman Erio menyodorkan tangannya.
Hito awalnya masih malu, kemudian menerimanya. Paman Erio yang tersenyum kecil menatap tingkahnya. Lalu Paman Erio mengajaknya jalan-jalan di sekeliling acara raya dingin yang di selenggarakan.
Sambil berjalan Paman Erio merasa ada yang janggal di pakaian Hito.
"Syal kesayanganmu. Kemana Hito?" lirik Paman Erio memeriksa pakaian Hito.
Hito pun mendengarkan, kemudian memegang kerah baju.
"Ekhmm, Paman … seperti syalnya Hito jatuhkan deh," jawab Hito.
Paman Erio memegang kepalanya ketika mendengarkan jawaban bohongnya Hito.
"Arhhh …,"
"Kenapa Paman?"
...----------------...
"Eugenia," panggil pria muda berpakaian kerajaan merupakan Ayah dari anak perempuan tersebut.
perempuan itu menoleh pada ayahnya.
"Iya. Yah,"
Ayahnya kemudian duduk menghadap ke wajahnya perempuan itu, sambil memegang kedua tangannya.
"Eugenia. Ayah minta kamu jelaskan pertemuan dengan anak laki-laki tadi." jelas Ayahnya memegang erat tangan anaknya.
"Ayah. Dia itu orang baik yang menolong Euge tersesat tadi, kalau tidak ada anak laki-laki itu. Euge akan tersesat dan tidak bertemu dengan Ayah lagi," jawab perempuan yang bernama Eugenia dengan jujur mengerutkan alisnya.
Perempuan itu tidak lain adalah seorang putri kerajaan yang masih kecil bernama Eugenia, dan di saat ini ia menjelaskan alasannya kepada Ayahnya Sang Raja Kerajaan Helium yang selama ini menyembunyikan identitas di depan publik agar bisa berbaur dengan penduduk sekitarnya.
"Eugenia. Ayah minta maaf, jika berburuk sangka dengan kawanmu yang baru. Ayah hanya ingin kamu jujur saja daripada berbohong untuk kedua kalinya."
"Euge tahu Ayah,"
"Baiklah. Eugenia, ayah ingin bertanya syal wool kamu dapat ini darimana?" tanya Ayahnya itu kembali.
Eugenia lalu memperhatikan syal yang dipakainya.
"Tidak! Syal ini milik anak laki-laki itu!"
Seketika Eugenia menjadi panik karena barang dipakainya lupa ia kembali pada orangnya.
"Euge. Kau tidak tahu nama anak laki-laki itu?"
Eugenia kemudian menggelengkan kepalanya merasa bersalah bahwa ia tidak mengembalikan syal ini. Ayahnya tahu ia terlarut sama kesalahan sama orang, kemudian Ayahnya menggendongnya untuk membujuknya.
"Sudah, sudah. Lain waktu nanti, Euge akan bertemu anak laki-laki itu. Pakailah sementara, jika ada kesempatan Ayah ingin juga bertemu anak laki-laki itu,"
Eugenia pun mengusap air matanya yang teringat sama syal milik anak laki-laki yang ditemukan tersebut dibawa olehnya.
"Iya. Yah,"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 62 Episodes
Comments
Sampawn
pendekar fanbar 🌚
2023-09-23
0
Sampawn
yujinia
2023-09-23
0
Sampawn
wah bahaya nih, belum ditelah langsung pegang teguh 🌚🤭
2023-09-23
0