Setelah pelayan itu teriak melengking di koridor, membuat para pelayan yang berjaga di sekitarnya menghampiri suara teriak pelayan ibu tiri tersebut.
"Kenapa? Mei?" tanya pelayan lain datang mendengar teriakan pelayan bernama Mei dengan perasaan takut terlihat dari wajah pucatnya.
"It– itu t– tuh!" tunjuk tangan pelayan Mei menunjukkan Kang Shan tergeletak tidak sadar dirinya dengan bersimbah darah.
Pelayan yang bersama Mei tadi melihat Kang Shan tergeletak secara jelas pada waktu malam hari, ketika hujan lebat disertai guntur. Tanpa berlama, mereka segera melaporkan ke pelayan lainnya untuk meminta pertolongan.
"Tenang Mei jangan takut, kita melihat ini secara jelas. Tapi kita tidak tahu siapa pelaku yang membuat kekerasan secara keji ini," pungkas Pelayan lain memeluk Mei menangis, takut melihat korban kekerasan di depan mata.
Tidak lama kemudian, datanglah pasukan penjaga berserta pelayan lainnya mengangkat tubuh Kang Shan sampai membersihkan darah di lantai. Setelah selesai membersihkan semua, para pelayan yang melihat hal brutal ini. Dengan perasaan takut, mereka menutupi permasalahan ini dengan diam. Sampai ada yang tidak akan menceritakan cerita ini terjadi pada orang manapun, namun kadang kala ada sebagian pelayan yang menjadi muka dua diantara pelayan istana.
...----------------...
Matahari sudah terbenam dengan hujan yang sudah reda dan dinginnya di waktu pagi hari ini menyelimuti udara yang ada diluar sana, membawa Hito terbangun dari tidurnya. Hito pun memulai kembali aktivitas seperti biasanya dengan olahraga pagi, walaupun masih terbilang awal, Hito tetap konsisten untuk mengejar tujuan dirinya.
Hito berinisiatif berolahraga seperti biasa di dalam kamarnya, tidak lupa Pelayan Seri datang untuk melihat keadaan Hito. Sampai Pelayan Seri menyuguhi beberapa makanan dan minuman ditaruhnya di rak tempat tidur, walau sedikit. Tapi itu sudah sebagian jatah porsi Hito yang diberikan oleh istana.
Hito tidak mengkhawatirkan tentang makanan dan minuman istana, selama makanan dan minuman itu masih layak dimakan. Hito tidak akan perlu mengeluh terhadap aturan jatah keseharian ia yang diatur oleh Ayahnya. Atau bisa jadi sekarang, jatah keseharian diatur penuh oleh Ibu tirinya.
"Terima kasih Seri sudah mau mengantarkan makanan dan juga minumannya," ucap Hito.
Pelayan Seri yang mendengar ini lalu menundukkan kepalanya.
"Iya Hito, Seri keluar dulu. Hito bisa melanjutkan olahraga kembali,"
Hito mendengarkan ucapan yang dikatakan oleh Seri, kemudian Hito membalasnya dengan melambaikan tangannya kepada Seri. Seri yang sudah mengetahui apa yang dikatakan oleh Hito dari isyaratnya, kemudian Seri tersenyum kecil dan keluar dengan pelan.
Hito tetap tahu sikap perlakuan Pelayan Seri ini sepertinya berbeda dari sikap pelayan biasanya, cuma di pikiran Hito. Apa Seri selama ini melayani Hito mendapatkan perlakuan sinis ataupun dibenci oleh para pelayan lainnya dibelakangnya, atau malah sebaliknya. Hal itu terus terbenam di dalam pikiran Hito, tapi Hito bisa tahu dimana saatnya ada seorang yang bersembunyi di balik batu, sengaja menyembunyikan hal lain yang berbeda di hatinya.
Beberapa jam kemudian, Hito seperti biasa melakukan olahraga. Sampai dilanjutkan istirahat sebentar, sehabis itu Hito akan ketemu dengan Paman Erio. Sebelum Hito ketemu Paman Erio, Hito ingin mengambil makanan yang disuguhi Pelayan Seri sebelumnya. Tetapi ketika Hito mulai menyuapkan makanannya, Hito melihat makanan yang diberikan oleh Pelayan Seri ada sebagian murni pemberian dan ada yang diracuni.
Hito tidak mengira, makanan yang diberikan oleh Pelayan Seri ini pasti pemberian dari Ibu tirinya. Tanpa terpikir lama Hito langsung meletakkan kembali dan mengambil sebagian yang masih bersih dari racunnya, setelah itu Hito keluar dari kamarnya untuk menemui Paman Erio dan juga meminta makanan di sana.
Seusai keluar dari kamar, Hito berjalan keluar dengan memakan makanan yang disuguhi pelayan Seri sambil berjalan. Hito tidak memikirkan sekitarnya, walaupun heboh ataupun ada buah bibir yang terjadi di kalangan pelayan, tetapi Hito hadapi dengan kepala dingin. Sambil berjalan santai, Hito melewati pelayan lain tersebut.
Ketika Hito sudah keluar dari istana, Hito baru mengingat kejadian kemarin malam. Hito melakukan penyiksaan secara keras pada Kang Shan. Oleh karena itu, nahasnya Kang Shan sekarang mengalami koma ataupun amnesia, lantaran Hito mengetahuinya dari pembicaraan pelayan di dalam istana yang keluar dari mulutnya. Sampai akhirnya istana memanggil tabib dari luar dari berita Hito dengarkan, cuma anehnya Hito tidak melihat tabib itu berada.
Kemungkinan tabib itu datang pada waktu malam ataupun pagi awal sebelum Hito keluar, di dalam perasaan Hito sekarang ia nampak lega dan bisa membalaskan dendamnya kepada Kang Shan yang selama ini menyiksanya. Lebih bagus lagi bagi Hito adalah ia koma selamanya sampai menerima cacat di bagian kepalanya.
Setelah memikirkan banyak hal yang di lalui, Hito pun sampai di tempat pelatihan pasukan Paman Erio berada, Hito pun langsung memanggil, "Paman!" panggil Hito untuk Paman Erio.
Paman Erio mendengar Hito memanggilnya lalu menyuruhnya kesini dengan lambaian tangannya, Hito yang senang akan kehadiran Paman Erio. Kemudian menghampirinya kemari, dengan antusias Hito mengikuti arah lambaian tangan Paman Erio.
Dari pagi menjelang sore yang dilalui bersama dengan Paman Erio, Hito hari ini banyak memakan ilmu dari Paman Erio berikan. Tak sesekalipun Hito dipukul dan diarahkan Paman Erio, Hito tetap teguh untuk ikut pelatihan ini.
"Jadi semua yang telah diberikan oleh Paman kepada Hito, walaupun Paman berikan teori semua. pastinya, di praktek lapangan akan berbeda dari Paman sampaikan,"
"Oleh karena itu, malam ini Paman akan mengetes Hito mengayunkan pedang dan juga kuda-kuda berpedang," lanjut Hito.
"Apa kau siap Hito?" tanya Paman Erio yang sudah siap melatih Hito dengan wajah senangnya.
Hito pun merasakan inilah sebuah batu loncatan untuk ia memulai belajar mandiri tanpa bertumpu bantuan orang lain lagi.
"Iya, Paman. Aku siap dengan segala suruhan Paman untukku." Jawab Hito dengan lantang dan tersenyumnya.
Paman Erio sudah merasa tekad Hito sudah bulat, dan langsung Paman Erio keluar mengambil pedang kayu untuk diserahkan kepada Hito.
"Baik. Kita akan mulai dengan pedang kayu terlebih dahulu, kalau sudah terbiasa. Pedang kayu ini akan berubah menjadi pedang besi,"
"Ingatlah bahwa yang kau perlukan itu susah payah dan pantang menyerah untuk mencapai keberhasilan, untuk itu Hito. Paman harap kau janganlah seperti berguru kepalang ajar bagai bunga kembang tak jadi,"
"Kau harus ingat dirimu berasal, dan ingat selama hidup ini, janganlah bergantung pada kepada akar lapuk. Kau mengerti apa yang Paman bilang, Hito?" tanya Paman Erio.
Hito mengetahui apa yang dikatakan Paman Erio yang sudah makan garam selama kehidupan ini, membuat Hito percaya sepenuhnya sampai menganggukkan kepalanya untuk menerima pembelajaran Paman Erio dengan teguh.
"Baik, Paman. Hito mengerti apa yang dikatakan Paman," jawab Hito.
Seusai Hito menjawab apa yang ditanyakan Paman Erio, Paman Erio pun membawa Hito dan juga pedang kayunya ke tempat lapangan luas. Disinilah Hito berlatih cara mengayunkan pedang, menebas, sampai memegang pedang dengan baik dan benar. Walaupun suasana di tempat pelatihan Hito sudah terbiasa, Hito senang bahwa selama ini ada orang yang baik mengajarkan ia berlatih pedang.
Jam demi jam terlewatkan, Hito berlatih dengan memeras keringat cukup banyak. Begitu juga Paman Erio melatih Hito dengan pelan dan sabar, agar Hito mudah terbiasa dan mengerti apa yang dapat dicontohkan sampai dipraktekkan. Hito pun dapat menangkap dengan cepat apa yang diperagakan Paman Erio.
"Begitu Hito, lakukan terus, terus, terus. Sampai tanganmu berdarah. Tahanlah rasa sakit itu! Karena rasa sakit adalah ujian untukmu maju ke depan" ujar Paman Erio
Mendengarkan apa yang dikatakan oleh Paman Erio. Hito pun tahu tangannya sudah mengelupas dan ada sebagian robek, Hito tetap tegar merasa perihnya luka. Dengan kerja keras ini, Hito harus tetap menahannya agar terbiasa semuanya di lalui dengan baik.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 62 Episodes
Comments
Mafufu Rawr
Tangan yang mengelupas karena terlalu keras menggenggam gagang pedang sangat menggambarkan betapa kerasnya dia berlatih sampai lupa mengatur seberapa keras genggamannya./Scowl/
2024-01-20
0
Mafufu Rawr
Menjadi gossip se isi istana awkwkwkwk
2024-01-20
0
Life is just an illusion🥲
itulah
2023-09-03
0