Bab 3 [Kebodohan]

Keadaan Ibu tiri Hito yang sudah menahan amarahnya, kemudian berdiri dan langsung saja menyerang ke Hito. Helmi tahu akan kedatangan Ibu tiri yang sudah tersulut emosi dan amarahnya yang sudah memuncak, kemudian menghindar dari terkaman dari Ibu tirinya yang ingin menjambak rambut Hito kembali, "Sini kau Hito!! Aku sudah geram sama dirimu! Arhh!!"

Terkaman Ibu tiri datang pada Hito dengan prediksi pertama, Helmi tahu apa yang akan dimulai oleh si Ibu tiri Hito ini seperti sebuah game tutorial untuk menghindari serangannya ini, Helmi menggeserkan badannya ke samping, Ibu tiri Hito tidak percaya bahwa Hito yang sebelum berwajah lemah kini memasang muka yang lain pada sebelumnya.

Karena sudah tersulut amarah yang tidak tertahan, konsentrasi Ibu tiri menjadi berantakan dan tidak mengetahui bahwa Hito menghindari dirinya tersenyum menyeringai.

Dengan gini Helmi memberikan balasannya berupa tendangan kembali di arah belakang Ibu tirinya secara keras kembali.

Brak!!

Tendangan Hito yang diarahkan Helmi tepat mengenai tulang belakang Ibu tiri secara keras, walaupun disisi lain Helmi berusaha sekuat tenaga menendangnya agar Ibu tiri jatuh tersungkur, sementara tubuh Hito sekarang masih dikategorikan lemah. Demikian Helmi mengetahui hal yang dimiliki Hito tersebut.

Helmi menutupinya kelemahan pada tubuh dengan cara perkataan lancang yang menghina Ibu tiri agar seolah mengira bahwa dirinya masih sehat dan bugar, namun di dalam tubuhnya penuh perasaan sakit yang bergejolak.

"Kyaaa! Kurang ajar kau Hito!!" teriak Ibu tiri terdengar lantang, bergema seisi ruang kamar Hito, namun Helmi sudah mengetahui rencana kedua Ibu tiri yaitu memancing orang lain untuk melihat bahwa dirinya disiksa oleh anak pertama Keluarga Alexander ini.

Helmi tahu akan hal ini akan datang pada waktunya, ia berpikiran cuma memberikan sedikit tekanan pada tumpuan kakinya lebih kuat agar memancing orang sekitar lebih ramai dan heboh agar dapat memalukan Ibu tirinya, "Teriak lagi Pelacur, lebih bagus kau berteriak lebih nyaring lagi seperti anjing menggonggong mencari tuannya." sindir Helmi masih dalam tubuh Hito menatap Ibu tirinya secara sinis meskipun posisi ibu tirinya tengah tengkurap ketika tersungkur oleh Hito.

"Bajingan kau Hito!! Kau puas sekarangkan! Sudah berani melawan ak– Ahnn!! Lepaskan kakimu Hito!!" suara meringis Ibu tiri menahan kesakitan di belakang dadanya, tetapi Helmi memainkan perannya disini dan berupaya membuat Ibu tiri menderita secara perlahan walau tidak sampai mati, tapi bisa meninggalkan bekas untuk mengingatnya.

"Sekarang aku tekankan kembali, mulai saat ini tidak ada lagi yang namanya penyiksaan dan kekerasan lagi pada diriku!" Helmi mejambat rambut Ibu tiri kembali seperti rambut Hito yang dijambak sebelumnya, "Kau, sekali lagi mencari perhatian di depan Ayahku atau kau punya hak prioritas untuk menggekangku, yang ada aku akan membunuhmu secara perlahan-lahan tanpa memikirkan perasaan ayahku."

"Aku tidak peduli sekarang mau namaku dicoret oleh keluarga sini atau aku dianggap pembunuh, tapi yang penting balasan setimpal untuk dirimu. Aku harus balas dengan cara prinsipku sendiri." Tekan Helmi di dalam tubuh Hito menyertakan prinsipnya serta memberi ungkapan ketidaksukaan pada tindakan Ibu tiri semena-mena, alhasilnya Ibu tiri hanya terdiam sesaat saja tetapi wajahnya terlihat masam seperti layaknya menyimpan dendam kesumat.

Tidak lama setelahnya Ayah Hito datang berserta pelayan lainnya yang mendengarkan suara kecoh keributan di Kamar Hito, Namun. Rombongan Ayah berserta pelayan tidak menduga situasi istri keduanya di hajar oleh anaknya sendiri.

"Hito! Apa yang kau lakukan pada Ibu keduamu?" tanya Ayah Hito secara tegas, di benaknya serasa ingin sekali memarahi Hito.

"Ayah tidak lihat apa yang aku lakukan? Dan kenapa selama ini Ayah tidak memperhatikan anak Ayah selama 2 tahun disiksa dan di campakkan disini?" Helmi berusaha mengungkapkan kekejian dan kebegisan yang Hito alaminya.

Ayah Hito yang mendengarkan keluhan anaknya selama 2 tahun terdiam dan tidak berkutik di pandangannya. Begitu mirisnya juga para pelayan merasa terlibat akan kesalahan mereka dahulu yaitu selama ini tidak melayani Hito secara tulus.

"Hito … Ay–"

"Aku hanya butuh bukti fakta! Kenapa aku mendapatkan perlakuan seperti ini, berbeda sama Kai, mendapatkan perlakuan lebih istimewa dariku!"

Hito teriak terus mengungkap kegelisahan yang sudah lama ia pendam dalam hatinya, namun ayahnya cuma menganggap sepele serta menganggal biasa dalam pendidikan pengajaran dihadapan anak seusianya.

"Hito tenangkan diri, Ayah akan jelaskan. Sementara kau lepaskan ibumu dari tanganmu dulu, Ayah mau kau jangan menyiksanya,"

"Menyiksa?" Beo Helmi menjambat rambut Ibu tiri secara kuat.

"Yang lebih tersiksa jiwa dan mental itu siapa Ayah?"

"Aku atau pelacur yang Ayah bawa ini?"

Helmi di dalam tubuh Hito menguji hati Ayahnya secara secercah pertanyaan pada Ayahnya dengan segenap hati dan perasaan, namun di tanggapan hati Ayahnya lebih mengarah pada Ibu tiri daripada Hito sendiri, akibatnya Hito menelan pahit harapan pada Ayahnya.

"Hito! Lepaskan tanganmu! Ayah mau kau tenang sekarang!" tegas Ayah Hito kembali sambil mengenggam tangannya untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak inginkan. Helmi juga tahu batasan untuk melakukan pada Ibu tiri, namun kemauan Helmi adalah Ayahnya menyuruh ia masuk keruang Ayah seperti waktu di masa kecil. Oleh karena itu, Helmi menekan Ibu tirinya secara terus-menerus sampai kesakitan.

"Aku tidak akan melepaskan ini, sebelum Ayah mengatakan bukti faktanya padaku!"

"Kau mau bukti fakta apa?" pungkam Ayah Hito menggerutkan alisnya.

"Aku hanya mau, Ayah berbicara secara empat mata denganku, tanpa sepengetahuan pelacur ini." Usul Helmi sambil menunjukkan Ibu tirinya, dengan menjambak rambutnya.

"Baik, Ayah akan menerima usulanmu, tapi sekarang, kejadian ini anggap saja sudah selesai di tangan Ayah, nak."

"Iya, sebagai penutup,"

Helmi yang berada di tubuh Hito mengentak kepala Ibu tirinya ke lantai secara kuat langsung di depan hadapan pelayan dan Ayahnya. Spontan merekapun terkejut sama aksi yang dilakukan oleh Hito, karena Helmi merasa sangat membenci Ibu tirinya, Helmi mengentak kepala Ibu tiri ke lantai sampai 3 kali hingga berdarah.

Dalam sekejap, Ayahnya sudah mendidih panas isi kepalanya ingin marah pada Hito, kemudian Ayah Hito berinisiatif maju menuju ke Hito untuk menghentikan tingkahnya, Helmi mengetahui tindakan Ayahnya, kemudian Hito menghentikan tindakan dirinya hanya Hito membalas menyeringai saja.

"Sudah,"

Elusan tangan Helmi membersihkan tangannya dari darah, serta Helmi secara batin merasa puas akan penyiksaan balik ini.

"Baiklah. Ayah bawalah pelacur ini pergi dari kamarku dan juga, pelayan yang ada di depan mulai sekarang layani tuan kalian yang asli ini."

"Jangan sampai kalian mengecewakan diriku, yang ada kalian akan seperti orang malang di pangku Ayahku itu." Tunjuk Helmi mengarahkan pada pelacur yang digendong oleh Ayahnya, agar pelayan di istana ini dapat memahami contoh di depan, contohnya apa yang tidak disukai oleh Hito. Oleh sebab itu pelayan merasa segan dan menerima apa yang akan diminta Hito mulai hari ini dan masa mendatang.

"Baiklah, Tuan Hito, kami akan melayani mulai sekarang, atas izin ini kami akan turut pada peraturanmu." Jawaban dari pelayan yang sudah memberanikan dirinya, dan tahu akan konsekuensi diterima, walaupun hanya sebagian, asalkan ia mau untuk dipakai sebagai senjata untuk Helmi lakukan.

"Bagus, aku suka sama dirimu yang percaya diri. Apakah ada yang lain lagi?" tanya Hito kembali, namun tidak ada sedikitpun yang memberanikan dirinya mengangkat tangan, hanya satu pelayan saja. Sontak ketika pelayan ini mengangkat tangannya, Ayah Hito memperhatikan tingkah Hito secara lancang dan menghiraukan kehadiran Ayahnya tanpa menoleh apapun.

"Hito! Apa yang kau bilang pada pelayan istana!"

"Aku hanya, mengatakan siapa yang ingin melayaniku? Memangnya kenapa? Kai saja banyak di beri pelayan, masa aku tidak?" resah Hito membalikkan omongan Ayahnya. Setelah itu, Hito berjalan menuju Pelayan yang mau melayaninya, "Daripada Ayah, ngurusin permasalahan Hito, angkat saja pelacur itu, pindahkan ia dari kamar Hito. Dan Hito mau besok pagi Ayah akan berbicara empat mata bersama Hito."

Ayah Hito yang geram sama sikap dan perlakuan Hito yang tidak sopan pada tata krama keluarga serta sangat biadab di depan Ayahnya, "Kurang ajar kau Hito! Segitunya kau sama Ayah!"

"Kalau Hito tidak gitu, dimana hati kepedulian Ayah akan bergerak pada Hito," balas Hito menoleh ke Ayahnya sambil berjalan ia menyahut Ayahnya terus-menerus.

"Ayah hanya peduli pada orang lain saja, tapi anak asli Ayah sendiri saja tidak dipedulikan dan di campakkan semaunya," cela Helmi mengerut mukanya keluar dari kamarnya dalam keadaan kacau kehadiran orang ramai.

"Sungguh pemikiran bodoh, orang tua seperti itu," cela Helmi kembali mengelilingi matanya kepada Ayah tanpa memikirkan martabat atau status orang tuanya lebih tinggi daripada Helmi sendiri.

Terpopuler

Comments

Firenia

Firenia

ceritanya hito ini pangeran? kupikir keluarga bangsawan biasa...

2024-01-08

1

Firenia

Firenia

teruskan hitoo

2024-01-08

0

Life is just an illusion🥲

Life is just an illusion🥲

sadis sadis sekali ni bocah kwkwk

2023-08-26

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 [Kepergian...]
2 Bab 2 [Hal tak terduga...]
3 Bab 3 [Kebodohan]
4 Bab 4 [Sendirian]
5 Bab 5 [Langkah Pertama]
6 Bab 6 [Hal yang ingin dicapai!]
7 Bab 7 [Permintaan]
8 Bab 8 [Penjelasan]
9 Bab 9 [Kenangan]
10 Bab 10 [Kejadian terulang]
11 Bab 11 [Ringan Kepala]
12 Bab 12 [Tersembunyi]
13 Bab 13 [Kesepakatan]
14 Bab 14 [Kesenangan]
15 Bab 15 [Pertemuan]
16 Bab 16 [Berpisah]
17 Bab 17 [Investigasi]
18 Bab 18 [Kembang Api]
19 Bab 19 [Harapan]
20 Bab 20 [Amarah]
21 Bab 21 [Beraksi!]
22 Bab 22 [Jujur]
23 Bab 23 [Zhen Hu]
24 Bab 24 [Hemipenthes Shunsk Part 1]
25 Bab 25 [Hemipenthes Shunsk Selesai]
26 Bab 26 [Rencana Berhasil]
27 Bab 27 [Taktik Hito dan Ruhee]
28 Bab 28 [Perundingan]
29 Bab 29 [Bersalah]
30 Bab 30 [Berkelana di Mulai] / Season I berakhir.
31 Bab 31 [Kecurigaan] / Season II dimulai.
32 S2 | Bab 32 - [Bandit]
33 S2 | Bab 33 - [Desa Clen]
34 S2 | Bab 34 - [Kilas Lalu]
35 S2 | Bab 35 - [Kilas Lalu selesai]
36 S2 | Bab 36 - [Rencana Hito Kembali]
37 S2 | Bab 37 - [Niel]
38 S2 | Bab 38 - [Perasaan Tidak Enak]
39 S2 | Bab 39 - [Siksaan]
40 S2 | Bab 40 - [Sen]
41 S2 | Bab 41 - [Sergapan]
42 S2 | Bab 42 - [Takhayul]
43 S2 | Bab 43 - [Orang Misterius]
44 S2 | Bab 44 - [Bungkam Ruhee]
45 S2 | Bab 45 - [Masa Lalu Henry]
46 S2 | Bab 46 - [Masa Lalu Henry Part 2]
47 S2 | Bab 47 - [Masa Lalu Henry Part 3]
48 S2 | Bab 48 - [Masa Lalu Henry Part 4]
49 S2 | Bab 49 - [Masa Lalu Henry Part 5]
50 S2 | Bab 50 - [Masa Lalu Henry Berakhir]
51 S2 | Bab 51 - [Kompromi]
52 S2 | Bab 52 - [Kompromi Selesai]
53 S2 | Bab 53 - [Keadaan Hito]
54 S2 | Bab 54 - [Keterpurukan]
55 S2 | Bab 55 - [Penyamaran]
56 S2 | Bab 56 - [Persiapan]
57 S2 | Bab 57 - [Harimau telah terbangun!]
58 S2 | Bab 58 - [Pikiran setiap PoV tokoh]
59 S2 | Bab 59 - [Konfrontasi Dimulai!]
60 S2 | Bab 60 - [Konfrontasi II]
61 S2 | Bab 61 - [Konfrontasi III]
62 S2 | Bab 62 - [Konfrontasi IV]
Episodes

Updated 62 Episodes

1
Bab 1 [Kepergian...]
2
Bab 2 [Hal tak terduga...]
3
Bab 3 [Kebodohan]
4
Bab 4 [Sendirian]
5
Bab 5 [Langkah Pertama]
6
Bab 6 [Hal yang ingin dicapai!]
7
Bab 7 [Permintaan]
8
Bab 8 [Penjelasan]
9
Bab 9 [Kenangan]
10
Bab 10 [Kejadian terulang]
11
Bab 11 [Ringan Kepala]
12
Bab 12 [Tersembunyi]
13
Bab 13 [Kesepakatan]
14
Bab 14 [Kesenangan]
15
Bab 15 [Pertemuan]
16
Bab 16 [Berpisah]
17
Bab 17 [Investigasi]
18
Bab 18 [Kembang Api]
19
Bab 19 [Harapan]
20
Bab 20 [Amarah]
21
Bab 21 [Beraksi!]
22
Bab 22 [Jujur]
23
Bab 23 [Zhen Hu]
24
Bab 24 [Hemipenthes Shunsk Part 1]
25
Bab 25 [Hemipenthes Shunsk Selesai]
26
Bab 26 [Rencana Berhasil]
27
Bab 27 [Taktik Hito dan Ruhee]
28
Bab 28 [Perundingan]
29
Bab 29 [Bersalah]
30
Bab 30 [Berkelana di Mulai] / Season I berakhir.
31
Bab 31 [Kecurigaan] / Season II dimulai.
32
S2 | Bab 32 - [Bandit]
33
S2 | Bab 33 - [Desa Clen]
34
S2 | Bab 34 - [Kilas Lalu]
35
S2 | Bab 35 - [Kilas Lalu selesai]
36
S2 | Bab 36 - [Rencana Hito Kembali]
37
S2 | Bab 37 - [Niel]
38
S2 | Bab 38 - [Perasaan Tidak Enak]
39
S2 | Bab 39 - [Siksaan]
40
S2 | Bab 40 - [Sen]
41
S2 | Bab 41 - [Sergapan]
42
S2 | Bab 42 - [Takhayul]
43
S2 | Bab 43 - [Orang Misterius]
44
S2 | Bab 44 - [Bungkam Ruhee]
45
S2 | Bab 45 - [Masa Lalu Henry]
46
S2 | Bab 46 - [Masa Lalu Henry Part 2]
47
S2 | Bab 47 - [Masa Lalu Henry Part 3]
48
S2 | Bab 48 - [Masa Lalu Henry Part 4]
49
S2 | Bab 49 - [Masa Lalu Henry Part 5]
50
S2 | Bab 50 - [Masa Lalu Henry Berakhir]
51
S2 | Bab 51 - [Kompromi]
52
S2 | Bab 52 - [Kompromi Selesai]
53
S2 | Bab 53 - [Keadaan Hito]
54
S2 | Bab 54 - [Keterpurukan]
55
S2 | Bab 55 - [Penyamaran]
56
S2 | Bab 56 - [Persiapan]
57
S2 | Bab 57 - [Harimau telah terbangun!]
58
S2 | Bab 58 - [Pikiran setiap PoV tokoh]
59
S2 | Bab 59 - [Konfrontasi Dimulai!]
60
S2 | Bab 60 - [Konfrontasi II]
61
S2 | Bab 61 - [Konfrontasi III]
62
S2 | Bab 62 - [Konfrontasi IV]

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!