Beberapa Bulan

Hari berikutnya Drian dan Queen sudah kembali ke rumah, hari demi hari mereka menjalani kehidupannya seperti biasanya. Keduanya masih tidur di kamar yang berbeda walaupun di antara mereka mulai muncul keakraban yang tidak mereka sadari, ribut di kesehariannya sudah menjadi hal biasa yang malah membuat rumah itu semakin ramai.

Ini adalah tepat 7 Bulan mereka menikah, keduanya juga mulai nyaman dengan kehidupan ini.

Saat hendak makan malam tiba-tiba Queen dapat telpon dari Julian, ia langsung mengangkat sambungan telpon itu sambil makan.

"Ada apa kak malam-malam telpon?" tanya Queen dengan mulut masih penuh makanan.

"Queen, Wilona mau lahiran," ucap Julian terdengar panik.

"Bagus dong," balas Queen santai, nyatanya sampai saat ini Queen tidak tau bagaimana kondisi kehamilan Wilona yang sebenarnya.

"Aku mau minta maaf terlebih dahulu sama kamu, maaf karena kita udah nyembunyiin ini semua dari kamu."

Queen mulai terlihat bingung, Drian yang mendengar ucapan Julian ikut bingung, ia menatap Queen dan Queen hanya menggelengkan kepalanya saja.

"Ada apa sih kak? Aku gak ngerti."

"Jadi sebenarnya kandungan Wilona sejak dulu bermasalah, ada tumor di rahim Wilona yang membuat dokter mengatakan bahwa hanya akan ada satu nyawa yang bisa di selamatkan, intinya jika Wilona ingin hidup maka ia harus merelakan bayinya di gugurkan atau ia bisa melahirkan bayi itu dengan jaminan nyawanya sendiri yang nanti akan ia pertaruhkan, kita sejak tau tentang kondisi Wilona sudah berusaha membujuk Wilona untuk menggugurkan saja kandungannya. Tapi ia menolak," Julian menjelaskannya secara panjang lebar.

"Kenapa kakak gak bilang ini dari dulu?" Selera makan Queen langsung turun.

"Kakak minta maaf untuk itu, karena saat kita tau kalau kondisi Wilona tidak baik-baik saja kau baru sembuh dari Trauma mu. Jadi kita memutuskan untuk tidak memberitahumu, tapi tadi Wilona ingin bertemu denganmu. Jadi kau harus ke Amerika sekarang sebelum Wilona menjalankan operasinya."

Queen langsung mematikan telponnya, ia dengan cepat berlari ke kamar untuk segera berangkat ke Airports, Drian mengejar Queen yang terlihat sedang panik dan nangis, Drian menghentikan Queen di ambang pintu kamar.

Drian menatap Queen yang sedang menangis, "Cukup! Tenangkan dulu dirimu."

"Mana bisa gue tenang, sejak pernikahan kita gue belum pernah bicara lagi sama dia. Gue gak mau di tinggal dia, sebenarnya gue gak benci sama sekali sama dia, gue juga mau marahin dia karena udah lakuin ini," Queen menangis sejadi-jadinya.

Drian memeluk Queen ia tau apa yang Queen rasakan, rasa takut kehilangan yang sudah pernah ia rasakan dulu saat ibunya meninggal, Drian mengelus rambut Queen dengan hangat, "Gue tau lu panik dan khawatir, tapi gue mohon lu tenang dulu. Baru setelah itu kita langsung berangkat," jelas Drian.

_________

Kini keduanya sudah dalam pesawat, Queen masih tidak tenang ia tidak mau kehilangan kakaknya. Drian yang melihat Queen begitu pucat dan menangis terus, malah khawatir pada Queen.

Setelah beberapa saat kemudian Queen ketiduran sangking lelahnya, Drian menarik kepala Queen agar tidur ke pundaknya. Drian sudah menguap beberapa kali karena mengantuk juga, tapi sebisa mungkin ia tidak tidur untuk menjaga Queen, tapi ternyata Drian malah ketiduran juga.

__________

Setelah sampai di bandara Amerika mereka langsung mencari taksi dan pergi ke rumah sakit, selama perjalanan Queen sangat terlihat kecapean.

"Gimana kalau kita makan dulu?" tanya Drian, Queen belum makan sejak keberangkatan mereka.

"Mana bisa aku makan di saat-saat kayak gini, yang bener aja," balas Queen ia tidak mau terlambat.

"Tapi kau juga harus jaga kesehatan, gak liat apa tuh muka udah pucat banget, ntar di kira mayat idup lagi."

Queen menatap Drian dengan tajam, "Gak usah ngelucu, gak lucu tau gak?"

"Gue gak lagi ngelucu Queen, tapi kondisi lu emang udah kayak mayat hidup tau gak, kalau lu kenapa-napa bukannya malah tambah ribet ini masalah."

"Ya udah nanti di kantin rumah sakitnya aja."

"Kepala batu, kalau di bilangin nurut kek sekali, bagaimana pun pernikahan kita terjadi lu tetep istri sah gue menurut agama dan hukum, jadi lu harusnya mematuhi apa yang suami katakan."

"Berisik! Gue lagi gak mau makan."

"Tuh kan, batu kalau dibenturin ke kepala lu kayaknya lebih kerasan kepala lu deh."

"Bodo amat."

Setelah sampai di rumah sakit Queen langsung berlari mencari kamar Wilona, di sana Queen langsung menemukan ibunya dan Julian yang tengah duduk di kursi yang ada di samping pintu masuk kamar rawat Wilona.

Queen menatap ibu dan kakaknya dengan tatapan kesal, "Kenapa kalian gak bilang semua ini sama aku sejak awal? Aku mungkin bisa bujuk Wilona buat gugurin kandungannya," ucap Queen.

"Udah yah sayang, ini adalah jalan yang di pilih kakakmu jadi percayalah padanya kalau dia pasti kuat dan mampu melawan semuanya," ibunya tidak kuat menahan tangisnya di depan Queen.

"Tapi-" Queen tidak dapat mengeluarkan kata-katanya sangking sedihnya, padahal semua kata yang ingin ia ucapkan sudah berada di kerongkongannya.

Drian merangkul Queen, "Gimana kalau kau masuk sekarang," ucapnya.

"Iya, Wilona akan di operasi satu jam lagi, kau harus bertemu dengannya sekarang," setuju Julian.

Ayahnya mereka tidak datang karena ada kerjaan penting yang harus di kerjakan.

"Papa mana?" tanya Queen.

"Papa mu ada kerjaan," balas Julian.

Queen yang sedang menangis tiba-tiba tersenyum miring, "Di saat anaknya dalam keadaan seperti ini bisa-bisanya Papa masih mementingkan pekerjaannya? Aku bener-bener gak habis pikir sama Papa."

"Sekarang kau masuk dan bicaralah pada Wilona, di dalam ada Farhan juga," Julian meminta Queen masuk dengan sesegera mungkin.

Setelah memberanikan diri Queen langsung masuk ke ruangan itu dan saat tatapan matanya berpapasan dengan Wilona, Queen semakin menangis. Queen berlari memeluk Wilona, sejak kecil ia selalu di asuh Wilona, "Kak aku minta maaf, tolong maafkan aku untuk semuanya," ucap Queen.

Wilona ikut menangis, ia sudah sejak lama merindukan Queen, "Tidak usah minta maaf, yang harusnya minta maaf itu kakak, maaf karena udah bikin hidupmu seperti itu."

"Kak," Queen melepaskan pelukannya, kini ia menatap Wilona dengan serius.

Di sana juga masih ada Farhan yang tidak mau meninggalkan Wilona.

"Kenapa kakak lakuin ini?" tanya Queen serius.

"Karena kakak ingin melahirkan anak ini, kakak udah lama ingin punya anak dan hidup bahagia bersama keluarga kecil kakak," Wilona mencoba tersenyum.

"Tapi kan kak," Queen kembali tidak bisa mengucapkan kalimat yang ada di otaknya.

"Tapi boleh gak kakak pesan satu hal buat kamu," Wilona memegang tangan Queen.

"Apa?"

"Kalau sampai kakak nanti gak bisa jagain anak kakak, tolong yah kamu rawat anak kakak. Dia pasti butuh keluarga yang lengkap, aku juga udah bilang sama Farhan tentang ini dan Farhan setuju katanya," jelas Wilona.

"Apaan sih kak? Aku yakin kakak pasti kuat melewati semua-" Wilona memotong ucapan Queen.

"Tolong yah?" Wilona memasang wajah memelas.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!