Paginya Queen bangun duluan ia langsung duduk saat kaget tengah memeluk Drian, Drian terbangun karena Queen, "Ada apa sih?" Drian masih mengumpulkan nyawanya.
"Gue bilang apa jangan tidur berdua," bentak Queen.
"Emangnya ada apa sih?"
Queen termenung, ia malu jika sampai mengatakan bahwa ia tadi memeluk Drian, "Pokoknya jangan, udah ah males," Queen pergi ke kamar mandi dengan malu-malu.
"Aneh tuh anak," Drian kembali tiduran dengan menutup kepalanya menggunakan selimut.
Queen keluar dari kamar mandi, "Bangun udah pagi, lu gak ke kantor emangnya," Queen memukul Drian menggunakan selimut.
"Bentar lima menit masih ngantuk."
"Udah terang tuh," Queen membuka gorden kamar, cahaya matahari mulai masuk ke kamarnya.
Drian akhirnya bangun, ia dengan mengantuk berjalan ke kamar mandi, sedangkan Queen pergi ke dapur untuk sarapan.
____________
Beberapa hari telah berjalan dengan cepat, trauma Queen sudah mulai sembuh. Queen dan Drian bahkan sudah kembali ke rumahnya, berita mengenai Queen juga sudah tidak ramai di perbincangan lagi.
Kini keduanya sedang belanja di supermarket untuk besok ke Bogor menghadiri acara reuni.
"Mau beli apa aja?" tanya Drian.
"Gak tau."
"Emang gak berguna lu tuh."
"Sialan, gue yang bayar."
"Gue juga punya duit, gue aja yang bayar."
"Ya udah terserah."
Pulang dari supermarket mereka berdua langsung bersantai di ruang tengah, Queen tiduran sembari memainkan ponselnya sementara Drian malah ketiduran beneran.
____________
Hari yang telah di nantikan datang, Queen dan Drian satu mobil bersama Niana dan Juan kebetulan mereka berdua memang sedang dekat sekarang.
"Lu beli apa aja? Banyak banget perasaan," tanya Niana setelah melihat isi bagasi mobil Queen.
"Yah buat stok makanan aja, gue beli cemilan, sosis sama daging buat bakar-bakar di sana," jelas Queen sembari fokus memainkan ponselnya.
Drian yang menyetir.
"Kita jadinya mau di Villa siapa?" tanya Drian.
"Villa nyokap gue, kebetulan di sana ada beberapa kamar," jelas Juan
"Bagus deh."
Setelah menempuh perjalanan satu jam akhirnya mereka sampai di Villa tersebut, semua orang tiduran di lantai bawah ruang tengah, ada yang tiduran di lantai dan ada juga yang tiduran di sofa.
"Capek banget gila," gumam Juan.
"Gue yang nyetir bodoh," timpa Drian.
"Tapi gue juga ikutan capek tau," timpa Juan lagi sembari cengengesan.
"Hari ini kita istirahat aja dulu, kita mulai jalan-jalan malem aja," ujar Sinta sambil memejamkan matanya.
"Iya badan gue juga capek banget, pulang kerja langsung otw," setuju Dio.
"Ya udah pembagian kamar aja dulu, di sini ada 5 kamar, tidurnya cewek sama cewek begitupun sebaliknya. Terkecuali si Queen sama si Drian mereka satu kamar aja," timpa Juan.
Drian dan Queen yang sedang asik bersantai memainkan ponsel seketika langsung menatap Juan berbarengan, "Mana bisa gitu," balasnya berbarengan juga.
"Ya bisalah, orang udah nikah. Udah sah," timpa Niana sembari tersenyum jail.
"Enggak mau, lu semua tau kan pernikahan-" ucapan Queen di potong oleh Niana.
"Enggak ada tapi-tapian, lagian kita semua gak bakalan izinin kalian masuk ke kamar lain, bener gak?" Niana menatap semuanya bergantian.
Yang lain mengangguk setuju.
"Gue nyesel ikutan ke sini, ya udahlah terserah kalian," Queen tidak mau memperdulikannya lagi.
"Ya udah sekarang kalian ke kamar dulu aja beres-beres sana, abis itu baru kita jalan-jalan," titah Dio.
"Okey."
Drian dan Queen masuk ke kamar mereka, di sana Queen menyimpan kopernya di pojok begitupun dengan Drian, "Lu tidur di lantai yah," ujar Queen.
"Enak aja, enggak mau."
"Kok gitu sih?" Queen menatap Drian marah.
"Gue mulu yang ngalah, lu aja sana," Drian meniduri kasurnya duluan.
Queen menatap Drian yang malah tidur di kasur, "Dasar manusia kepala batu."
Di tempat lain Juan dan Niana sedang bersantai di dekat kolam renang, mereka menurunkan kakinya ke kolam renang untuk bermain air, "Gimana hari ini?" tanya Juan.
"Baik, gue cuman lagi berharap Queen sama Drian bisa bener-bener saling cinta. Walaupun Drian mulutnya jahat, tapi dia sebenernya baik kok sama Queen," jelas Niana.
"Jadi ingat dulu," mereka kini tengah membayangkan masa-masa mereka sekolah.
Dimana saat itu Queen tiba-tiba menghilang ketika tengah lintas alam di Bandung dan orang yang paling khawatir adalah Drian, ia mencari Queen sampai tengah malam sendirian.
Queen juga di temukan oleh Drian saat dalam keadaan pingsan, karena tidak mau Queen geer akhirnya Drian meminta semua orang untuk diam dan tidak mengatakan bahwa dialah yang telah menemukan Queen.
"Iya, bahkan waktu Queen ke kunci di gudang aja dia keliatan panik," timpa Juan.
"Mereka tuh sebenarnya sama-sama suka, cuman ketutup gengsi aja. Kebencian yang terlalu mendalam kan kadang bisa bikin orang jatuh cinta juga," jelas Niana.
Queen tiba-tiba datang dan ikut duduk di samping Niana, "Lagi ngomongin apa sih? Kayaknya serius banget?" tanya Queen.
Niana hanya senyum, "Kepo lu."
"Yeh, oh iya nanti malam kita mau kemana?" tanya Queen.
"Enggak tau, kita bahas itu sama yang lain aja," balas Niana.
"Oh."
"Widia di penjara?" tanya Juan tiba-tiba.
Niana menyenggol tangan Juan, bermaksud untuk tidak usah membahas hal itu, takutnya Queen masih sensitif dan malah kembali sedih.
"Iya, gue juga gak nyangka kalau Drian sendiri yang bakal nangkap Widia," jelas Queen yang sudah merasa tidak masalah dengan hal itu.
"Bagus deh, dari dulu dia emang kayak gitu orangnya."
Dio datang ke sana, "Queen lu ganggu orang lagi pacaran aja," ucapnya tiba-tiba.
"Oh, jadi kalian udah pacaran?" Queen menatap Niana dan Juan bersamaan.
"Apaan sih?" Niana senyum malu-malu.
"Lu gimana sih? Katanya sahabat deket Niana masa gitu aja gak tau," Dio duduk di kursi dekat mereka sembari membawa secangkir kopi.
"Orang dia gak bilang."
"Belum pacaran, tapi sedang proses," gumam Juan cengengesan.
"Wah bisa tuh nanti malam tembak," ledek Queen.
Marsya juga datang ke sana, "Lagi ngomongin apa sih? Kayaknya asik banget."
"Biasa tuh lagi berbunga-bunga," Dio melirik Juan menggunakan ujung matanya.
"Oh yang mau pacaran yah," Marsya mengangguk paham.
Drian ikut datang ke sana, "Gue laper banget masak sana," titahnya sembari menatap Queen.
"Lu yakin nyuruh gue masak? Yah kalau lu mau keracunan sih gak papah," balas Queen ngegas.
"Jadi istri gak ada gunanya banget sih lu."
"Cie jadi sekarang udah di anggap istri yah," ledek Niana.
"Apaan sih lu," Drian kembali pergi.
"Gue mau masak, lu semua ada yang mau makan enggak?" tambahnya.
"Gue mau," Queen menjawab paling keras.
"Gak nanya lu, lu udah pasti makan. Hidup lu emang makan teruskan," timpa Drian sinis.
"Biarin dih," Queen mengejar Drian.
"Dah mulai tuh tom end Jerry berantem," timpa Dio menghela nafas.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 42 Episodes
Comments