Kampung Masa Kecil Drian

Queen dan Drian telah sampai di kampung neneknya Drian, di sana udara dan suasana masih sangat segar. Banyak pohon dan juga sawah yang luas di pinggir jalanan, Queen merasa senang bisa menghirup udara yang segar dan jauh dari polusi, tidak seperti di jakarta yang begitu berpolusi, di tambah jalanan macet.

"Gue baru tau kampung nenek lu sebagus ini," ucap Queen, mereka masih dalam mobil.

"Makannya main tuh jangan di kota mulu."

"Apaan sih?"

Sampailah mereka di rumah neneknya Drian, di sana mereka di sambut hangat oleh keluarga Drian. Ada saudara-saudara Drian juga di sana, termasuk teman-teman masa kecilnya yang juga ikut berkumpul karena ingin bertemu kembali dengan Drian.

"Eleuh ges gede nya maneh," ucap Ahmad pada Drian, mereka menggunakan bahasa sunda.

Drian tersenyum, "Iya."

"Poho teu manh ka urang? Urang teh nu baheula maen layangan tea gening," tambah Ahmad.

"Enggak lah, gak lupa," balas Drian.

Queen mendekat pada Drian, "Ngomong apa sih mereka? Gue gak ngerti," bisik Queen pelan.

"Udah diem aja kalau lu gak ngerti," balas Drian.

"Drian sialan," sinis Queen sembari memutar bola matanya.

"Iyeu istri maneh teh? Meni gelis pisan," Ahmad tersenyum pada Queen.

Queen yang tidak mengerti apa yang di katakan Ahmad hanya bisa tersenyum sembari menatap Drian, berusaha meminta penjelasan pada Drian, "Iya ini istri gue," balas Drian.

"Pinter oge neangan istri, menang nu gelis, pasti perawatan mahal-mahal."

"Ya udah gue tinggal dulu yah, mau liat nenek," pamit Drian sembari menarik tangan Queen masuk ke kamar neneknya.

Di sana Drian langsung memeluk neneknya, Queen bersalaman dan juga memeluk nenek Drian juga. di sana Drian dan neneknya ngobrol-ngobrol ringan mengenai keseharian Drian di kota, tidak lama setelah itu kakeknya Drian datang dan langsung memeluk Drian juga, mereka sangat merindukan cucunya itu.

Mereka adalah orang tua dari almarhumah ibunya Drian, Drian saat kecil sering berkunjung ke sini kalau libur sekolah. Nenek dan kakeknya dulu sempat ingin di ajak ke Jakarta tapi mereka menolak dan lebih ingin hidup sederhana di kampung, mengurus perkebunan dan juga sawah.

Queen terdiam sejenak melihat kedekatan Drian dan kakek neneknya, ia merasa sedikit iri dengan kehangatan keluarga Drian, sejak kecil Queen selalu di titipkan pada beby sisters. Kedua orang tuanya sibuk kerja, bahkan dulu kakek neneknya juga sibuk semua, sebelum akhirnya kakek neneknya meninggal semua.

Queen belum pernah merasakan ngobrol santai dan hangat bersama keluarganya, kini ia hanya bisa tersenyum miris saja.

Setelah itu mereka langsung di ajak makan siang di dapur, mereka duduk di lantai karena di sini tidak ada meja makan, makanan yang di hidangkan juga sangat sederhana. Drian menatap Queen ia takut Queen tidak selera makan, "Kalau emang gak bisa lu makan gak usah di paksa, nanti gue cariin makanan di depan," bisik Drian.

"Gue bisa makan itu kok, lagian gak enak kalau gue gak makan. Mereka pasti udah siapin makanan ini dari tadi," balas Queen.

"Tumben lu baik, gak kayak biasanya gitu."

"Berisik lu Drian Sialan."

Queen menikmati masakan sederhana itu dengan lahap, walaupun makanan itu sederhana tapi jika di masak dengan cinta itu akan menjadi istimewa. Drian senang melihat eksepsi Queen saat makan.

"Di lapang depan nanti malam ada pasar malam loh, kalian ke sana deh pasti rame," ucap Eca cucu dari kakek dan neneknya Drian juga, Eca juga baru sampai di sana setelah mendengar kakek neneknya sakit.

Eca bekerja di salah satu kantor di jakarta, tapi ia hanya karyawan biasa saja.

"Boleh tuh, lu mau kan?" Drian menatap Queen.

"Kalian kok suami istri panggilnya lu gue?" tanya Eca heran.

"Yah nyamannya panggil itu, jadi udahlah gak usah di pikirin," balas Drian.

"Saat pernikahan kalian, kakek minta maaf yah gak bisa hadir. Soalnya saat itu kakek bener-bener gak bisa ke Jakarta, tapi kakek seneng sekarang kakek bisa liat istri cucu kakek, cantik sekali," ucapnya sambil menatap Queen.

"Gak masalah kek, saya juga senang bisa datang ke sini," balas Queen.

"Kek gimana kalau abis makan kita ke sawah, aku kangen liat suasana sawah," ujar Drian.

"Kalian baru sampai, mending istirahat dulu. Kalau langsung ke sawah nanti kasian istrimu," jelas kakeknya Drian.

"Dia suruh tunggu aja sama Eca di sini, iyakan?" Drian menatap Queen sambil mengedipkan matanya memberi isyarat supaya Queen setuju.

Queen langsung menatap kakeknya Drian dan setuju dengan ucapan Drian.

____________

Beberapa saat kemudian Queen sedang bersantai di kursi yang ada di belakang rumah kakeknya Drian bersama Eca, mereka menikmati suasana di kampung ini, dimana anak-anak kecil masih asik bermain tanpa ponsel.

"Seru yah di sini, setelah hirup pikuk di kota ngerasa adem banget datang ke sini," gumam Queen.

"Iya, makannya aku kalau libur kantor suka banget ke sini buat nenangin pikiran dari kerjaan," Eca dan Queen terlihat sudah semakin akrab.

"Ini kali pertamanya aku datang ke kampung, ternyata suasana di sini bener bikin tenang."

"Pantes sih kamu baru pertama kali."

Saat keduanya sedang asik bersantai tiba-tiba datang dua orang wanita yang tiba-tiba menyenggol Queen, "Oh jadi ini orang yang rebut Aa Drian dari gue?" bentaknya.

Queen langsung menatap wanita itu dengan tatapan tidak suka.

"Dia Ayu, temennya Drian waktu kecil yang emang suka sama Drian dari dulu," bisik Eca.

"Emang siapa sih lu berani-beraninya rebut Aa Drian dari gue? Lu gak tau apa kalau gue adalah karyawan tetap PT. DEN Bosch di jakarta," Ayu menyombongkan dirinya.

Ayu sombong di depan orang yang salah, Queen terlihat hanya diam dan tidak memperdulikan ucapan Ayu.

"Ayu jangan gitu, bagaimana pun juga Drian udah nikah sekarang," Eca menengahi keributan Ayu.

"Ini lagi, pasti ini baju palsu, mana mungkin lu bisa beli baju bermerek Gucci," ucap Ayu setelah melihat pakaian yang di pakai Queen.

"Terserah lu deh, gue males ribut," balas Queen.

"Sepatu lu juga Gucci palsu itu, mana mungkin lu bisa beli sepatu harga 70 juta. Ngarep banget yah jadi orang kayak sampai pakai barang-barang palsu karena mau dateng ke sini? Mau pamer lu? Lu kira di kampung ini gak ada yang bakalan tau yah kalau itu palsu," Ayu tersenyum sinis sembari memalingkan bola matanya.

Drian yang baru datang langsung menghampiri mereka karena Drian merasa pasti terjadi keributan, setelah sampai di sana Drian langsung menatap Queen, "Ada apa ini?" tanya Drian.

"Aa, akhirnya Aa pulang juga. Aku kangen tau," Ayu langsung memeluk Drian saat melihat Drian datang.

Drian melepaskan Ayu, "Apa-apaan sih? Aku udah punya istri sekarang jadi jangan peluk-peluk," bentak Drian.

Queen melipat kedua tangannya di dada sambil berdiri di depan Ayu, kemudian ia berbalik menghadap Drian, "Kasih tau temen lu, kalau gue gak pakai barang-barang palsu yang dia katakan tadi, gue mampu kok beli ini semua. Bahkan gue mampu beli kantor yang dia tempati kerja sekarang," Queen kemudian berjalan pergi setelah beberapa langkah ia kemudian menghentikan langkahnya dan kembali berbalik menatap Drian.

"Satu hal lagi, kasih tau dia siapa pemegang saham terbesar di PT. DEN Bosch, kalau dia mau tetep kerja di sana suruh dia minta maaf," setelah itu Queen kembali melanjutkan langkahnya.

"Bikin gue gak mood aja tuh orang," gumam Queen dalam hatinya.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!