Part 4

Hari ini Drian akan kembali mulai ke kantor, setelah dua hari tidak masuk ia yakin kalau pada hari ini kerjaannya akan menumpuk banyak. Sementara Queen juga akan ke kantor ayahnya, Queen sebenarnya kerja menjadi ketua manajer keuangan di kantor cabang yang ada di jakarta milik ayahnya.

Selesai siap-siap keduanya memutuskan untuk naik mobil mereka masing-masing, karena letak kantornya mereka juga berlawanan. Sesampainya di kantor, seperti biasa Queen menyapa karyawannya dengan senyuman hangat.

Setelah itu ia masuk ke ruangan kerjanya, di sana juga ada 4 orang yang merupakan timnya, "Selamat yah Bu," ucap Cia saat melihat Queen masuk.

Queen tersenyum, "Iya, baiklah kita mulai kerja saja hari ini. Kerjaannya saya pasti menumpuk sekali setelah saya tidak masuk beberapa hari ini."

"Rajin sekali yang baru nikah, laporan keuangan bulan ini sudah di susun dengan rapih. Ibu hanya perlu mengeceknya kembali lalu menandatangani dan memberikannya pada Tuan Julian saja," jelas Erik.

"Baik terimakasih," Queen duduk di kursinya, ia mulai memeriksa berkas-berkas yang ada di meja kerja.

Di tempat lain Drian juga baru sampai di ruang kerjanya, Widia sudah menunggunya di ruangan itu. Widia adalah karyawan di perusahaan Drian, "Sayang nanti malam kau ada acara?" tanya Widia dengan nada suara manja.

"Enggak."

"Ke apartemen aku yuk? Aku rindu padamu."

"Kita bicarakan ini nanti yah, sekarang aku sedang sibuk. Karena kemarin gak masuk kerja jadi kerjaannya numpuk ini."

Widia menghela nafasnya dengan berat, "Baiklah kalau itu memang kemauan kamu," balas Widia yang langsung bergegas pergi dari ruangan itu.

Drian hanya menatap kepergian Widia sekilas, setelah itu ia kembali menatap layar laptop untuk bekerja.

"Sangat-sangat menumpuk," ujar Drian setelah melihat kerjaannya.

___________

Malamnya Drian masih di kantor, karena kerjaannya belum selesai. Di sana ia di temani oleh Widia, "Sayang udah kita pulang aja ke apartemen aku," Widia menarik lengan baju Drian.

"Tunggu!" balas Drian dingin.

"Yang apaan sih? Kamu bisa kan kerjakan itu nanti di apartemen ku aja."

"Gak bisa."

"Kenapa gak bisa?"

"Aku harus pulang ke rumah sekarang, mengertilah saat ini aku sudah menikah dan aku menikah dengan anaknya Tuan Fernandez jika sampai aku ketahuan selingkuh maka nama baik keluargaku akan langsung kotor seketika."

"Kau menikah dengan Queen, Drian. Dia bukannya musuhmu kan? Jadi apa masalahnya kalau dia tau kalau kita selingkuh."

"Ini bukan tentang Queen yah, tapi tentang pendapat orang lain kalau tau kita selingkuh. Aku tidak peduli bagaimana pendapat anak itu karena tidak akan berarti apapun, tapi kalau sampai wartawan yang tau bagaimana?"

"Tapi sayang," Widia bergelayut manja di lengan Drian.

"Lepaskan, kerjaan ku sudah selesai dan aku akan pulang," Drian melepaskan genggaman tangan Widia.

"Kau benar-benar sudah berubah saat ini," Widia kecewa dengan apa yang di lakukan Drian padanya.

"Tolong biarkan aku bersama Queen selama satu tahun saja, setelah itu aku berjanji akan menikahimu."

"Janji?" tanya Widia.

Drian menganggu, "Jadi jangan dulu ganggu hubungan ini selama satu tahun."

"Bagaimana kalau nanti kau malah akan mencintai dia dan meninggalkan ku?"

"Tidak akan pernah, aku tidak akan mungkin mencintai wanita seperti itu."

"Baiklah aku percaya," Widia memeluk Drian sambil tersenyum bahagia.

Setelah itu Drian mengantarkan Widia ke apartemen, barulah selesai mengantarkan Widia ia langsung pulang. Sesampainya di rumah ia malah kebingungan karena Queen tidak ada di rumah, "Tuh anak cabut kemana lagi?" Gumamnya sembari duduk di sofa, Drian juga mengecek jam, ternyata ini sudah jam 9 malam.

Drian mencoba menghubungi Queen, tapi sayangnya nomer Queen tidak bisa di hubungi, "Sialan kalau kenapa-napa kan gue juga yang ribet urusannya," gumam Drian kembali.

Di tempat lain ternyata Queen sedang bersama Ken di sebuah restoran yang bisa memesan ruangan privat, "Gimana kabarmu?" tanya Ken.

"Baik," balas Queen singkat, ia masih merasa canggung dengan Ken karena kejadian di masa lalu.

"Santai saja, jangan tegang seperti itu. Aku tidak akan mengigit mu kok," canda Ken sembari menuangkan Wine ke gelas Queen.

"Iya."

Mereka makan malam sambil ngobrol-ngobrol santai, sesekali mereka juga tertawa mengingat semua kekonyolan yang telah mereka lalui. Suasana di antara keduanya mulai mencair, Queen yang awalnya tegang kini sudah tidak terlalu tegang lagi, "Kita pulang yuk, sudah malam. Nanti suamimu mencari mu," Ken bangkit dari duduknya.

Queen menarik tangan Ken tanpa menatap Ken, "Kau tau bukan kalau pernikahanku dengannya-" Queen tidak melanjutkan ucapannya.

Ken menaikan dagu Queen agar dapat melihat wajah wanita itu dengan jelas, "Aku tau Queen, aku juga tau kalau kau tidak mau ada dalam posisi ini itu sebabnya malam ini aku mengajakmu ke sini. Aku akan tetap ada bersamamu bagaimana pun kondisimu, jadi mari kita pulang," Ken mengulurkan tangannya.

Queen tersenyum dengan tatapan mata yang berbinar, mereka berdua pun pulang. Ken mengikuti mobil Queen dari belakang takut terjadi sesuatu pada wanita itu, setelah memastikan Queen sampai di rumahnya barulah ia pulang.

Saat Queen hendak membuka pintu masuk ternyata dari dalam Drian juga membuka pintu itu, mereka berdua kini saling tatap.

"Kau darimana saja?" bentak Drian.

"Memangnya kau harus tau aku darimana?"

"Sialan, kalau kau kenapa-napa gue juga yang di salahin."

"Buktinya gue gak kenapa-napa kan? Jadi udahlah," Queen berjalan meninggalkan Drian.

"Dasar."

Queen ke kamarnya begitupun dengan Drian, Queen di kamarnya tengah senyum-senyum sendiri karena bertemu dengan Ken kembali setelah sekian lama mereka tidak bertemu.

____________

Paginya Drian seperti biasa memasak sarapan untuk Queen dan dirinya, Queen yang baru saja bangun langsung turun ke ruang makan, dengan santainya ia menunggu Drian selesai memasak.

Drian menyimpan nasi goreng di hadapan Queen, "Makasih," ucapnya yang langsung menyantap nasi goreng tersebut.

Di tempat lain orang tua Queen juga sedang sarapan bersama, Julian masih tinggal dengan orang tuanya, "Bagaimana keadaan anak itu sekarang yah?" ucap ibunya Queen yang tiba-tiba teringat dengan Queen.

"Dia harus belajar mandiri, kau tidak bisa membiarkannya terlalu manja," tegas ayahnya Queen.

Ibunya Queen kini sedang membayangkan bagaimana Queen memasak dan beres-beres rumah, padahal itu semua tidak pernah Queen lakukan walaupun sudah menikah. Karena Drian lah yang memasak dan membereskan rumah.

"Aku akan menjenguknya nanti," tambah ibunya kembali.

"Jangan dulu Ma, biarkan dia mandiri terlebih dahulu. Kalau Mama menjenguknya bisa-bisa ia tidak betah dan ingin pulang lagi," timpa Julian.

"Julian benar, tenanglah jangan terlalu mencemaskan dia. Kau hubungi Wilona tanya bagaimana kabarnya, apakah baiknya baik-baik saja atau tidak," titah ayahnya, ternyata Fernandez masih peduli pada Wilona. Yah sebenarnya sesalah apapun Wilona ia tetap anaknya.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!