Maafkan aku

Paginya saat sarapan Drian sarapan sendiri di lobi hotel meninggalkan Queen yang masih tidur, Queen membuka matanya perlahan sembari memposisikan dirinya untuk duduk.

"Sialan, badanku sakit semua gara-gara tidur di sofa," ucapnya setengah sadar.

Queen mulai bangun sambil menggerakkan kakinya ke kamar mandi, selesai dari kamar mandi ia segera turun ke lobi untuk sarapan, setelah mengambil sepiring salad ia langsung mencari Drian.

Queen duduk di kursi dekat Drian, "Bisa-bisanya lu ninggalin," ucap Queen.

"Buat apa gue nungguin lu, gak ada waktu."

"Dasar sinting."

Sementara itu di bandara internasional Soekarno-Hatta Wilona akan segera pergi ke Amerika bersama kekasihnya ia juga ditemani oleh Julian, orang tuanya tidak mau mengantarkan Wilona karena masih kecewa.

"Queen masih marah yah? Sampai dia bahkan gak mau nemuin aku," tanya Wilona pada Julian.

"Sudahlah jangan pikirkan anak itu, sekarang kau pergi saja. Hati-hati di jalan," balas Julian.

"Katakan padanya kalau aku minta maaf, aku tidak tau kalau pada akhirnya akan seperti ini," Wilona tanpa sadar menangis lagi.

"Pasti ku katakan."

"Aku pergi," pamit Wilona sambil menggandeng kekasihnya.

Setelah Wilona masuk Julian langsung menemui Queen yang ternyata ada di sana bersama Drian sedari tadi, "Kenapa gak temuin aja?" tanya Julian pada Queen yang sudah mau kabur.

Queen menghentikan langkahnya lalu berjalan ke hadapan Julian, "Enggak, enggak mau."

"Dia sudah merasa bersalah, jadi maafkanlah dia."

"Aku masih gak terima aja kak, dia yang buat salah mengapa aku yang harus bertanggung jawab. Hidupku selalu saja seperti itu," bentak Queen.

"Terserah kau saja."

"Ya udah," Queen berjalan pergi bersama Drian.

Julian hanya menghela nafasnya dengan kasar, kini ia juga mulai pergi karena ada rapat di kantornya. Sebagai anak tertua dan anak laki-laki satunya ia jadi yang paling sibuk sekarang karena ayahnya sangat berharap besar pada dirinya.

__________

Queen dan Drian telah pulang ke rumah yang di berikan ayahnya Queen untuk mereka tinggali berdua, mereka membereskan barang mereka di kamar mereka masing-masing.

Karena mereka tidak mau jika harus tidur di satu kamar yang sama, Fernandez ayahnya Queen juga tidak masalah jika mereka ingin tidur pisah.

"Gue mau pergi," ucap Drian pada Queen yang sedang sibuk makan cemilan di ruang tengah.

"Mau kemana?" tanya Queen kepo.

"Kepo lu jadi orang."

"Dih ya udah sih kalau gak mau ngasih tau."

"Kalau gue kasih tau yang ada lu ngintilin gue, gue mau ketemu pacar gue."

"Kayak yang kurang kerjaan banget yah gue ngikutin anda," sinis Queen sembari memutar bola matanya malas.

"Ya udah makannya, ke supermarket sana! Belanja bulanan."

"Boleh."

__________

Queen sudah berada di supermarket, karena selama hidupnya ia tidak pernah belanja bulanan kini ia kebingungan harus beli apa saja. Queen sedari tadi malah berdiri di depan rak cemilan, "Beli apa yah?" Queen menatap keranjang belanjanya yang telah di penuhi oleh mie instan dan snack juga minuman saja.

"Segini cukup kali yah? Belanja bulanan? Emangnya kalau belanja bulanan harus beli apa aja?" Queen termenung.

"Ah udah ah pusing, suruh beli aja sendiri kalau ada yang kurang," Queen pergi ke arah kasir untuk membayarnya.

Sesampainya di rumah ia langsung menyimpan semua belanjaannya di atas meja makan, ia duduk di kursinya. Tidak lama setelah itu Drian datang dan langsung menghampiri Queen.

"Beli apa aja tadi?"

"Tuh," Queen menunjuk kresek belanjaan di meja.

Drian membuka kresek itu, "Lu gak pernah liatin pembantu lu buat belanja bulanan apa?"

"Ya bener gitu kan? Emangnya beli apa lagi?"

Drian menghela nafasnya dalam-dalam, "Gak beres nih anak, emangnya lu sebulan cuman mau makan ini aja? Kita baru pindah loh ke sini. Beli sabun kek atau pewangi ruangan bisa kan?"

"Yah kan gue gak tau harus beli itu, lagian kalau makan kita bisa pesen gofood kan."

Drian lagi-lagi menghela nafasnya, "Terlalu di manja sih, makannya kebutuhan bulanan aja lu gak tau."

"Ya maaf, lagian kalau beli sayuran atau bahan masakan lain siapa yang mau masak? Gue gak bisa masak Drian......"

Drian pergi dari sana.

"Mau kemana?" tanya Queen.

"Supermarket lagi," balas Drian sinis.

"Ikut......." Queen mengejar Drian untuk ikut.

Setelah sampai di supermarket, Queen terus membuntuti Drian. Drian membeli beberapa telur, sayuran dan bahan-bahan masak lainnya seperti minyak, Queen hanya celingukan tidak mengerti apapun, ia memang tidak pernah belanja seperti itu karena semua makanan dan keperluannya sudah di siapkan pelayan.

Setelah selesai belanja mereka langsung pulang, di rumah Drian langsung menyuruh Queen untuk membereskan belanjaannya ke dalam kulkas dan rak makanan. Queen menurutinya.

Drian duduk di kursi yang ada di dekat meja makan sambil memainkan ponselnya, sesekali ia menatap ke arah Queen yang sedang menata makanan, "Ternyata ada enaknya juga nikah sama dia, bisa di suruh-suruh. Padahal dulu mana mau dia di suruh-suruh kayak gitu," gumam Drian tersenyum.

"Dih ngapain gue senyum, ah udahlah," tambah Drian kembali fokus pada ponselnya.

Selesai membereskan semua makanan, Queen duduk di sofa dengan sebotol soda di tangannya, ponselnya berdering dan ternyata itu dari Niana temannya.

"Apa?" tanya Queen pada Niana, Queen mendekatkan ponselnya ke telinga.

"Untuk merayakan pernikahan lu gimana kalau nanti malam kita dinner di restoran," balas Niana di sebrang telpon.

"Merayakan-merayakan, enggak ada. Lagian gue di paksa nikah sama dia."

"Ayolah Queen ku yang baik, siapa tau nanti lu malah suka sama Drian."

Queen mendengar itu langsung pura-pura muntah, "Gak bakalan mungkin, jangan bicara yang enggak-enggak deh."

Niana terdengar tertawa, "Yeh cinta itu ada karena terbiasa Queen."

"Lu ngomong gitu lagi gue apus lu dari daftar teman gue."

"Oh iya Queen, Ken kemarin nanyain lu. Katanya dia juga mau ketemu sama lu, udah bilang belum?"

"Ken?"

"Iya Ken, kayaknya dia juga udah tau deh soal pernikahan lu sama Drian. Makannya dia mau ketemu sama lu."

"Sekarang Ken dimana?"

"Gak tau, entar gue kirim deh nomer Ken nya."

"Okey."

"Ya udah jadi gak ini dinner."

"Iya-iya, ya udah gue matiin dulu," Queen mematikan sambungan teleponnya.

Kebetulan Drian lewat sambil membawa kopi, "Nanti malam Niana ngajak Dinner, ikut yah."

"Boleh."

"Bagus."

Drian berjalan menuju taman belakang rumah, ia ingin bersantai di sana sambil merokok dan minum kopi. Sementara Queen sedang mencoba mengirim pesan pada Ken, Ken adalah mantan pacarnya yang belum lama putus, Queen masih berharap pada Ken makannya ia mencoba menghubungi Ken.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!