Dia Baik

"Kebanyakan bicara deh lu," Drian tetap menarik Queen masuk ke pasar, di sana Drian langsung pergi ke penjual sayur dan makanan lainnya.

"Nih nanti cobain ini, lu pasti suka deh," ucap Drian.

"Ya udah belanjanya cepetan, bau tau gak," Queen menutup hidungnya dengan tangan.

"Sabar, lu biasanya juga belanja lama ah."

"Tapi ini beda Drian, ah mana tas gue basah lagi," Queen mengusap tas LV yang terkena tetesan air dari genteng di sana.

Tiba-tiba ada seorang ibu-ibu yang menawarkan dagangannya, "Ih neng tinggal aya tas ayar," ucap si ibu penjual itu sembari menyodorkan tas bermerek Dior palsu.

"Ini bagus tau, orang kota mah moal apal iyeu palsu," tambah penjual itu.

Karena kurang ngerti Queen langsung saja mengajak Drian pergi dari sana, "Drian ayok pulang," rengek Queen.

"Sabar ya ampun."

Queen memasang wajah memohon, tapi sayangnya itu tidak mempan untuk Queen, Drian terus saja asik berbelanja dengan terpaksa Queen harus ikut dengan Drian karena ia tidak ingat kemana jalan pulang.

Setelah itu mereka beristirahat di jalan, di pinggir jalan ada sebuah kursi mereka duduk di sana untuk beristirahat dan bersantai, tapi Drian membeli dua es kelapa, "Nih minum, enak tau," Drian menyodorkan Es kelapa pada Queen.

"Pakai plastik yah?"

"Udah minum aja enak kok."

Setelah Queen mencobanya ternyata itu beneran enak dan menyegarkan, "Cobain juga nih jajanan pasar," Drian memberikan sekeresek makanan yang tadi ia beli di pasar.

Queen mulai penasaran dan makan satu-persatu, ia tidak menyangka dengan rasa makanan itu, "Walaupun di jual di tempat kayak gitu ternyata enak juga yah," gumam Queen senyum-senyum sendiri.

"Lu tau gak segitu banyak harganya seberapa?"

"Berapa emang?"

"Dua puluh ribu."

Queen yang sedang makan hampir tersendat karena mendengar harga makanan yang tengah ia makan itu, "Gila, tuh penjual dapat untung darimana segini banyak cuman 20 ribu?" Queen bingung.

"Di sini itu emang harga rata-ratanya segitu, makannya kalau makan tuh jangan makan-makanan mahal mulu. Kali-kali lah makan-makanan kayak gini, biar bantu-bantu juga."

"Yah tapikan dulu gak ada yang ngajak gue makan kayak gini, tapi makasih lu. Ternyata kedatangan lu dalam hidup gue ada untungnya juga, ngasih pengalaman yang baru buat gue," Queen tersenyum sambil kembali makan dan memandangi hamparan sawah yang luas di depannya.

Drian ikut tersenyum saat melihat Queen, "Emang tipe cowok lu kayak gimana sih?"

Queen langsung menatap Drian, "Ngapain jadi ke sana sih? Yang jelas dan pasti adalah cowok yang bukan kayak lu, gue tuh suka cowok yang romantis dan humble gak kayak lu yang judes dan banyak bacot, mana ada lagi romantis-romantisnya," jelas Queen tersenyum sinis.

"Tapi gue juga bisa romantis kok."

"Enggak percaya, gue punya cita-cita pengen di lamar dengan 100 tangkai bunga. Cowok males kayak lu mana mungkin mau kayak gitu."

"Yeh."

Setelah cukup lama beristirahat mereka langsung pulang ke rumah kakeknya Drian, di sana seperti biasa Drian lah yang masak, Queen malah sedang asik mengobrol dengan Eca dan kakek neneknya Drian.

Drian yang sempat melihat kedekatan Queen dan keluarganya merasa bahwa Queen ternyata adalah orang yang baik juga, buktinya dia mau menginap di rumah sederhana ini dan juga akrab dengan nenek kakeknya Drian yang notabene nya orang kampung.

Besok mereka harus pulang, keadaan neneknya juga sudah membaik setelah di bawa ke dokter di puskesmas terdekat kemarin, neneknya Drian hanya kecapean saja, di tambah kerjaan Drian dan Queen pasti sangat menumpuk mereka harus segera pulang ke Jakarta.

"Nenek, Kakek, besok aku sama Drian mau balik lagi ke Jakarta gimana kalau kalian ikut? Sekalian Nenek berobat di sana juga biar makin sehat, kalau di sini kan kemarin di periksa nya cuman gitu doang," usul Queen.

"Enggak, nenek mau di sini aja. Di sini tenang nenek suka suasana di sini," Neneknya Drian memegang tangan Queen.

"Tapi Nek ini juga buat kesehatan nenek, kalau Nenek nanti di periksa benar-benar gak kenapa-napa baru kita pulang lagi," Queen terus membujuk neneknya Drian.

"Nenek sakit cuman karena usia aja, kamu gak usah khawatir yah?"

"Ya udah kalau emang nenek maunya gitu aku gak masalah, yang penting Nenek jaga diri baik-baik yah di sini."

"Makasih yah sayang udah peduli sama nenek dan kakek di kampung."

"Kan sekarang kalian juga keluarga aku."

Eca kini membantu Queen membereskan pakaian ke koper karena besok kan Queen harus pulang, "Wah baju-baju kamu barang bermerek semua yah? Jadi iri deh," ucap Eca saat membantu Queen.

"Kamu mau? Ambil aja yang kamu mau," ucap Queen dengan santainya.

"Hah?" Eca tampak kaget, "Beneran boleh? Ini kan mahal semua, ratusan ribu bahkan jutaan loh, dengan gampangnya kamu mau kasih ke aku?" lanjut Eca.

"Beneran boleh kok, kalau mau ambil aja yang kamu mau."

"Ah makasih," Eca memeluk Queen.

Queen tersenyum.

Eca kini mulai memilih-milih baju yang ia inginkan, "Ini boleh?" Eca memilih satu kaos Gucci dan memperlihatkannya pada Queen.

"Boleh."

"Makasih-makasih, akhirnya punya juga baju Gucci kayak orang-orang."

Queen sempat termenung ternyata apa yang menurutnya biasa bisa begitu berarti buat orang lain, ia senang ketika Eca senang dengan pemberiannya, Eca terlihat sangat tulus di matanya.

"Oh iya ini tas juga mau enggak?" Eca menyodorkan tas Dior pada Eca, tas selempang kecil yang sudah lama ia beli.

"Mau sih? Tapi beneran buat aku?" Eca masih tidak menyangka nya.

"Iya ambil aja, itu tas udah lama juga aku belinya. Jarang kepakai juga."

Eca memeluk tas itu, "Aku beneran ngerasa mimpi bisa punya tas ini, di kantor kadang suka iri liat atasan pada pakai tas mewah."

"Gimana kalau nanti libur kerja kamu ke rumah aku aja, di sana banyak tuh tas sama sepatu yang udah jarang aku pakai, kalau ada yang suka kamu boleh ambil."

Eca mengangguk dengan cepat.

________

Setelah membantu Queen beres-beres Eca langsung menghampiri Drian, "Istri lu baik banget tau, masa dia kasih baju sama tas mewahnya ke gue, lu emang pinter cari istri sih," Eca menceritakannya dengan semangat.

"Lagian itu bukan hal yang spesial buat dia, udah deh mending bantuin gue masak."

"Dia juga ngajak gue ke rumahnya tau katanya masih banyak yang pengen dia kasih ke gue."

"Di kasih barang buangan juga seneng banget kayaknya elu."

"Eh gila kali yah, barang buangan nya tuh jutaan ya kali gue nolak, tapi jujur walaupun dia orang kayak tapi gue gak denger satu kalimat pun dia menyombongkan dirinya."

"Biasa udah kayak dari orok, jadi buat apa dia pamer dan sombong? Semua orang kayak di jakarta juga tau dia siapa tanpa bilang dia siapa ke mereka."

"Oh gitu yah? Pasti hidupnya enak banget yah, gak kayak gue sekarang."

"Udah jangan banyak omong, bantuin gue masak."

"Iya ih iya bawel deh jadi manusia."

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!