Queen memutuskan untuk menunggu Drian di luar, tapi saat hendak menjelaskan hasil pemeriksaan yang telah di lakukan Queen di panggil oleh dokternya untuk ikut mendengar juga.
Queen duduk di samping kursi Drian, "Kita harus secepatnya melakukan operasi, jantung mu sudah terlalu lemah," jelas dokter itu dengan tatapan penuh harap pada Drian.
Queen ikut menatap Drian, entah mengapa kini di hatinya terdapat sedikit kasihan.
"Tidak, sampai kapan pun aku tidak mau melakukan itu," kekeh Drian.
"Keras kepala banget sih anak," Queen memukul kepala Drian sambil memutar bola matanya malas.
"Sakit Queen," Drian menatap Queen.
"Bodoamat," Queen melipat kedua tangannya di dada.
"Kalau kau tidak mau Operasi maka minum obatmu secara beraturan dan jaga kesehatanmu, jangan capek-capek istirahatlah," tegas dokter itu.
"Percuma dok, dia itu keras kepala mau di ingetin model gimanapun juga tetep aja gak bakalan di turutin," timpa Queen sinis.
"Enak aja," Drian merasa tidak terima.
__________
Selesai pemeriksaan Drian langsung pulang bersama Queen ke rumah, sesampainya di rumah Queen langsung duduk di sofa begitupun dengan Drian.
"Gara-gara lu gue hari ini gak jadi jalan-jalan," rengek Queen.
"Kan bisa besok."
Ponsel Queen tiba-tiba bunyi, saat melihat nomor penelpon ternyata itu adalah ayahnya. Queen mengangkat sambungan telpon dari ayahnya, "Iya ada apa Pa?" tanyanya sembari mendekatkan ponselnya ke telinga.
"Pergilah Bulan madu ke Singapura," balas Fernandez.
Queen membulatkan matanya dengan sempurna, "Apa Pa?"
"Kamu itu gak tuli, jadi gak usah pura-pura gak denger."
"Maksud aku ngapain harus bulan madu segala sih? Ini kan pernikahan pura-pura doang jadi gak usah pake acara bulan madu segala bisa kan," tegas Queen tidak terima.
"Bukan Papa juga yang mau, Kolega Papa kasih tiket liburan buat kamu sama Drian ke Singapura. Pokoknya Papa gak mau tau kamu harus berangkat ke sana besok, karena malam minggunya kita ada pesta di Singapura dan kamu sama Drian harus hadir," tanpa basa-basi lagi Fernandez mematikan sambungan telponnya secara sepihak.
Queen menatap ponselnya yang sudah mati, "Sialan kenapa harus kayak gini sih? Gue gak mau gue gak mau," teriak Queen.
"Lu pikir gue mau apa? Tapi udahlah turutin aja daripada jadi masalah," Drian melempar bantal sofa pada Queen.
"Tapi-tapi."
"Udah gak usah tapi-tapian, sekarang mending lu siap-siap sana."
"Lu seneng kan pergi liburan sama gue ngaku aja," Queen menunjuk Drian sambil melayangkan tatapan curiga.
"Enak aja, enggak ada seneng-senengnya. Tapi karena gue males ada masalah jadi turutin aja."
"Ah sial, Kenapa semuanya sangat menyebalkan," Queen berjalan ke arah kamarnya sambil marah-marah.
Sementara Drian hanya tersenyum kecil melihat tingkah laku Queen ketika sudah marah-marah seperti itu, "Dia memang tidak pernah berubah sejak dulu," Gumam Drian.
___________
Paginya Drian dan Queen sudah berada dalam pesawat menuju Singapura, di perjalanan Queen ketiduran semalam ia tidak bisa tidur entah mengapa.
Awalnya Queen akan pergi menggunakan pesawat pribadi milik keluarganya, tapi pesawat itu malah di pakai ibunya yang tengah jalan-jalan bersama teman-temannya. Jadi terpaksa Queen naik pesawat lain.
Tidak terasa mereka sudah sampai di Singapura sebelum menuju hotel yang telah di siapkan oleh Kolega ayahnya mereka menyempatkan untuk makan di restoran yang ada di Bandara Singapura.
"Udah lama banget gak keluar Negara," Gumam Queen sembari menghirup angin Singapura.
"Selama apa sih emangnya? Biasanya juga tiap minggu keluar Negeri."
"Gue udah gak keluar Negeri satu bulan yang lalu."
Drian yang sedang minum hampir memuntahkan minumannya, "Itu bukan lama bodoh, kalau baru sebulan yang lalu."
"Tapi itu lama tau buat gue."
"Terserah lu."
Selesai makan mereka pergi ke hotel, sesampainya di kamar hotel Queen tiba-tiba ingin muntah melihat desain kamar hotelnya yang norak, dimana di kasurnya bertaburan bunga dan juga di hiasi boneka angsa berbentuk Love.
"Apaan sih? Kita tidur di satu kamar yang sama?" tanya Queen marah.
Drian menutup pintu kamar lalu menyimpan koper di pojok, "Kayaknya seperti itu."
"Enggak gue gak mau."
"Emangnya gue mau apa? Yah enggak lah, tapi kalau lu pesan kamar lagi nanti Kolega dan teman-teman bokap lu curiga. Ini hotel temen bokap lu kan."
"Ya udah kita pindah aja kalau gitu."
"Sama aja bodoh."
"Tapi gue gak mau tidur sama lu, najis banget tau."
"Gue juga daripada tidur sama lu mending sama cewek panggilan."
"Dasar cowok murahan."
"Wah berani-beraninya lu bilang murah sama gue," Drian menggiling lengan bajunya lalu menghampiri Queen dan menjewer Queen.
"Sakit Drian," Queen menginjak kaki Drian dengan keras.
"Sakit juga."
"Selain murahan ternyata lu lemah juga," Ledek Queen sambil tertawa.
Drian mendorong Queen ke arah kasur, dengan reflek Queen menarik baju Drian hingga membuat Drian ikut terjatuh. Drian menindih tubuh Queen, mereka kini sangat dekat bahkan hembusan nafas mereka terasa begitu hangat, mereka bertatapan cukup lama sampai akhir Queen menendang perut Drian agar menjauh darinya.
Setelah di tendang Drian langsung berdiri sambil memegang perutnya, "Sakit Gila."
"Bodoamat lagian lu malah ambil kesempatan dalam kesempitan."
"Apa gak kebalik? Lu yang tadi narik gue tau."
"Tau ah capek."
"Ya udah gue mau nyantai dulu di lobi, kalau ada lu gak bisa tenang kepala gue," Drian meninggalkan Queen sendirian di sana.
"Lu juga berisik tau."
Sementara itu di Amerika Wilona dan kekasihnya baru saja dari dokter kandungan, mereka sudah menikah di Indonesia secara diam-diam sebelum pergi ke Amerika.
Di sana kekasihnya Wilona juga sudah dapat kerjaan yah walaupun kerjaannya hanya sebagai kasir supermarket, kekasihnya Wilona berasal dari keluarga yang biasa-biasa saj itulah mengapa ayahnya Wilona awalnya tidak setuju dengan mereka.
Tapi walaupun begitu kekasihnya sangat menyayangi Wilona, di sana ayahnya Wilona berniat membiayai kehidupan mereka tapi Wilona dan kekasihnya sepakat bahwa mereka ingin hidup mandiri tanpa bantuan siapapun, sebenarnya Fernandez selalu mengawasi mereka lewat anak buahnya yang ada di sana.
Fernandez hanya tidak mau Wilona menderita saja, tapi tampaknya walaupun mereka hidup sederhana Wilona sangat bahagia.
Mereka kini sedang duduk di ruang tamu rumah mereka, nama suaminya Wilona adalah Farhan. Kedua orang tuanya sudah meninggal tiga tahun lalu ia hanya hidup sebatang kara sebelum akhirnya ia bertemu Wilona dan jatuh cinta padanya, Farhan menggenggam tangan Wilona.
"Aku minta maaf yah," ucap Farhan dengan tatapan tulusnya.
"Minta maaf soal apa?"
"Untuk semuanya, kalau bukan karena aku mungkin kau tidak akan hidup seperti ini."
Wilona tersenyum, "Cukup, aku bahagia dan senang bersamamu. Tidak peduli bagaimana keadaannya, asal bersamamu aku bahagia."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 42 Episodes
Comments