Siangnya sebelum pulang Queen memutuskan untuk jalan-jalan terlebih dahulu di Mall sendirian, di tangannya sudah ada beberapa tas belanjaan yang bergantung.
"Ah sial, hari ini panas banget," gumamnya sambil minum tes jus.
Queen memilih untuk beristirahat sebentar di salah satu kafe yang ada di Mall tersebut, tapi matanya tiba-tiba tertuju pada seorang pria dan wanita yang tengah bercanda. Queen tiba-tiba bersembunyi di balik pilar yang ada di dekat meja kedua orang itu.
"Jadi Queen udah mau balikan sama lu?" terdengar suara seorang wanita itu bicara pada pria di dekatnya.
"Yah pastilah orang gue cinta matinya, mana mungkin dia bisa lepas dari gue gitu aja," balas pria di sampingnya dengan nada suara arogan.
"Baguslah, lu bisa manfaatin dia lagi sekarang."
"Iya sabar aja, jangan terlalu keliatan dulu sekarang mah."
"Bener, kalau lu morotin sekarang ketahuan banget nanti."
Pria itu tertawa bareng cewek tersebut, Queen yang mendengar percakapan itu langsung marah. Dengan sorot mata tajam Queen langsung berjalan ke arah mereka, setelah di samping meja Queen langsung menuangkan air minum yang ada di gelas.
"Oh jadi gitu?" ucap Queen berusaha tegar, yah walaupun hatinya kini hancur setelah mendengar apa yang Ken katakan barusan.
Benar, pria yang barusan bicara adalah Ken bersama Diana teman Ken. Queen juga mengenal Diana sebenarnya, namun tidak terlalu dekat dengan Diana, ia hanya pernah beberapa kali bertemu dengan Diana.
Ken langsung berdiri dan menatap Queen kaget.
"Kok kamu bisa ada di sini?" tanya Ken berusaha mengalihkan topik pembicaraan.
"Gak usah ngalihin topik pembicaraan, jadi selama ini cuman itu yang lu mau? Butuh berapa juta sih sampai segitunya?" tanya Queen sudah emosi.
"Queen tenang yah! Orang lain liatin kita sekarang, kamu harus denger dulu penjelasan aku," Ken mencoba membuat Queen untuk duduk.
"Gak usah pegang-pegang gue dan gue gak butuh penjelasan apapun dari lu," bentak Queen sembari menghempaskan tangan Ken dari pundaknya.
"Mulai hari ini gak usah hubungin gue lagi, gue gak nyangka yah lu sejahat ini sama gue," lanjut Queen sembari berjalan pergi dari sana.
Ken berusaha mengejar Queen agar tidak pergi, sementara Queen terus menghindar dari Ken.
"Gak usah ngejar-ngejar gue, gue gak butuh cowok brengsek kayak lu."
____________
Sorenya Queen sedang berada di club ia tengah minum sambil menangis, jujur saja ia benar-benar mencintai Ken jadi ia sangat sakit hati setelah tau kalau ternyata selama ini Ken hanya memanfaatkan dirinya saja.
Di tempat lain Drian tengah kelimpungan mencari keberadaan Queen, padahal sore ini mereka akan pulang ke Indonesia tapi Queen malah hilang entah kemana, Drian sudah berusaha menghubungi Queen tapi sayangnya Queen tidak mengangkat telpon darinya.
"Queen lu dimana sih? Kalau ilang gue repot nanti, angkat telponnya!" Drian mencari Queen di sepanjang jalan dekat hotel mereka menginap.
Sampai akhirnya Drian melacak keberadaan ponsel Queen, "Nih anak ngapain di club sore-sore coba?" ucapnya setelah mendapatkan posisi Queen.
Drian menuju Club itu dan saat masuk ia langsung menemukan Queen yang tengah nangis histeris di mejanya, Drian menghela nafasnya berat ia langsung berjalan ke arah Queen.
"Lu kenapa sih?" tanya Drian setelah berada di hadapan Queen.
Queen menatap Drian dengan mata yang sudah sembab, Queen sudah dalam keadaan mabuk berat sekarang, di mejanya sudah banyak botol wine bergeletak.
"Lu minum segini banyak sendirian? Lu gak tau apa kita bakalan pulang hari ini? Lagian kenapa sih?" oceh Drian.
Queen malah terus merengek sambil menundukkan kepalanya ke atas meja, "Ken jahat," hanya itu kata yang mampu Queen ucapkan.
Drian duduk di sebelah Queen, "Ken mantan lu itu? Kenapa sih?"
Queen mendongkrak kepalanya menatap Drian, "Bisa-bisanya dia pacaran sama gue cuman mau manfaatin gue? Gak tau apa gue beneran suka sama dia. Kan tolol tuh anak," jelas Queen sembari terisak.
"Ya udah kita pulang, gak enak di liatin orang. Udah kayak gue aja yang nyakitin lu."
"Gue gak bilang berdiri pusing."
Drian kembali menghela nafasnya, "Sialan," Drian langsung memapah Queen untuk keluar dari club itu.
Di dalam mobil Queen masih menangis, "Gue setidak layak itu yah buat di cintai? Tai lah," Queen terus ngoceh-ngoceh.
"Berisik!"
"Lu juga jahat banget, orang lagi sedih tenangin kek malah di marah-marahin."
"Norak nangis gara-gara cinta, gue pikir cewek kayak lu gak bakalan nangis cuman gara-gara cinta."
"Ya gue tetep manusia bodoh."
Sesampainya di hotel Drian membatalkan kepulangannya karena melihat kondisi Queen yang tidak memungkinkan untuk di bawa pulang, di hotel Queen langsung tiduran di kasur masih sambil nangis dan ngoceh gak jelas.
"Udah nangis mulu berisik tau," tegas Drian.
"Lu gak punya hati."
"Yah emang berisik tau."
"Ah jahat lu," Queen malah semakin membesarkan tangisannya.
"Udah berisik!"
"Tau ah," Queen menutup tubuhnya dengan selimut.
Drian ke dapur membuatkan Queen susu hangat, yah walaupun ia membenci Queen tapi melihat Queen menangis ia juga tidak tega.
Setelah itu ia kembali ke kamar dan langsung memberikan susu yang ia buat pada Queen, "Nih minum dulu, seenggaknya lu sadar dikit."
"Makasih," Queen minum susu itu dengan perlahan.
Drian duduk di sofa memandangi Queen yang tengah minum, "Kita pulangnya besok, gue gak mungkin bawa lu pulang dalam keadaan kayak gitu."
Queen tidak menjawab, setelah minum semua susunya Queen kembali tiduran.
"Gue gak bisa berhenti nangis, padahal gue udah capek ini mau berhenti. Kenapa air matanya turun terus sih?" oceh Queen.
"Makannya tidur aja."
"Enggak bisa juga."
"Tutup matanya," bentak Drian.
Queen mencoba menutup matanya, lama-kelamaan Queen akhirnya tertidur juga.
____________
Saat tengah malam Queen terbangun dari tidurnya, matanya bengkak karena tadi menangis tanpa henti. Kini ia berjalan ke kamar mandi untuk membasuh matanya, setelah dari kamar mandi ia mendengar dering ponsel milik Drian berbunyi, karena Drian tidur jadi ia iseng melihatnya.
Yang menelpon Drian ternyata adalah ayahnya Drian, Queen mencoba membangunkan Drian. Tapi Drian malah tidak mau bangun, "Nih anak kebo juga tidurnya," gumam Queen.
Saat Queen hendak mengabaikan telpon dari ayahnya Drian, ponsel itu kembali berbunyi. Queen meraih ponsel Drian saat di lihat ternyata sudah ada 10 panggilan masuk karena takut itu penting Queen langsung mengangkat telpon tersebut.
"Halo," ucap Queen.
"Ini Queen?" tanya ayahnya Drian dengan nada suara yang seperti habis menangis.
"Iya Om, Drian nya lagi tidur. Tapi aku coba bangunkan dia gak bangun-bangun, jadi aku angkat telponnya takutnya penting, soalnya Om udah telpon beberapa kali."
"Ibunya Drian meninggal, kamu tolong sampaikan itu pada Drian."
Queen terdiam untuk beberapa saat, ia kaget sekaligus sedih.
"Om aku bangunin Drian aja yah sekarang, biar Om yang bicara sama Drian. Aku gak tega kalau aku yang sampaikan pada Drian," ucap Queen.
"Baik."
Queen menjauhkan ponsel itu lalu membangunkan Drian, "Drian bangun," Queen memukul-mukul Drian.
"Apaan sih?" Drian akhirnya terbangun, "Ganggu aja."
"Ini bokap lu telpon," Queen memberikan telponnya pada Drian, saat Drian sedang bicara dengan ayahnya lewat telpon Queen langsung menjauh dan membereskan semua pakaiannya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 42 Episodes
Comments