Selesai bersiap-siap Drian ke dapur terlebih dahulu karena ingin minum, ia kaget melihat piring di rak yang masih berminyak, "Queen," teriak Drian dengan lantang.
"Apa sih teriak-teriak? Masih pagi juga udah berisik aja," bentak Queen yang baru saja hendak ke kolam renang.
"Lu bisa nyuci yang bener enggak sih? Liat nih? Masih berminyak masih kotor tau," Drian menunjuk piring di rak yang masih kotor.
"Yah kan gue gak tau, orang gak pernah nyuci piring juga."
"Dasar, jadi anak jangan terlalu di manja makannya. Cuci lagi, gue gak mau tau yah kalau sampai nanti gue pulang ini masih kotor awas aja lu," Drian langsung pergi karena ia harus rapat pagi ini, masih ada banyak kerjaan di kantor.
Sementara itu Queen pagi ini tidak mau ke kantor, melainkan ingin jalan-jalan dengan Niana. Pekerjaannya di kantor tidak terlalu banyak, lagian sudah lama ia tidak pergi bersama Niana.
Setelah berenang tiba-tiba ibunya Drian menelpon dirinya, Queen yang sedang sibuk pakai baju langsung mengangkat telpon itu.
"Halo, ada apa yah?" tanya Queen dengan tangan yang masih sibuk memakai baju, Queen membesarkan suara telponnya dan menyimpan ponselnya di meja rias.
"Queen, Drian kemana? Barusan dokternya telpon ke rumah katanya Drian gak ke rumah sakit hari ini padahal ada pemeriksaan penting untuk jantungnya hari ini, kemarin jantungnya drop lagi dan harus melakukan pemeriksaan berskala setiap bulannya. Tapi hari ini dia malah tidak datang, Mama udah coba telpon dia, tapi nomornya gak aktif," jelas ibunya Drian dengan suara yang lemah, karena pasalnya ia juga sedang dalam masa pemulihan.
"Tuh anak bisa-bisanya bikin kerjaan gue banyak aja," Gumam Queen dalam hatinya.
"Ya udah nanti Queen coba hubungin Drian yah, soalnya dia tadi bilangnya mau ke kantor. Kalau semisal kan gak di angkat terus, Queen susul Drian ke kantor."
"Makasih yah sayang."
"Okey."
"Ya udah Mama matiin lagi telponnya yah."
"Iya."
Sambungan telponnya di matikan, Queen kini hanya bisa ngoceh-ngoceh sendiri karena kesal dengan Drian. Sementara itu di kantor Drian baru saja selesai rapat, saat hendak ke ruangannya tiba-tiba jantungnya terasa berdetak kencang dan sakit.
Drian memegang dadanya sambil mengatur nafasnya secara perlahan, Widia yang berjalan di sebelah Drian langsung mendekati Drian, "Kamu kenapa?"
"Gak papah," balas Drian santai, ia kembali melanjutkan jalannya seperti tidak terjadi sesuatu.
Kembali pada Queen, ia sudah berada dalam mobil dan mencoba menghubungi Drian. Sayangnya ponsel Drian masih tidak bisa di hubungi, Queen memukul stir mobilnya dengan kesal, "Kemana lagi nih anak? Ah terpaksa harus di susul," Queen akhirnya memutuskan untuk pergi ke kantor Drian sekarang.
Sampailah ia di parkiran kantor Drian, dengan cepat ia turun dari mobil dan berjalan masuk ke kantor Drian. Karyawan di kantor itu begitu terpukau melihat Queen.
"Wah ternyata anaknya Tuan Fernandez cantik sekali, gak heran Pak Drian mau sama dia."
"Bahkan aura duitnya sampai tercium ke sini."
"Pacarnya Pak Drian yang sebelumnya kalah banget sih."
"Yah jelas kalah lah, orang pacarnya Pak Drian Widia. Dia cuman sekertaris nya, gak level banget sama istrinya sekarang."
Kira-kira seperti itulah obrolan para karyawan di sana saat Queen masuk, Queen berjalan ke arah resepsionis, "Ruangan Drian dimana yah?" tanyanya.
"Mari saya antar," wanita di meja resepsionis langsung mengantarkan Queen ke ruangan Drian.
"Ini ruangan pak Drian," setelah berjalan cukup lama mereka sampai di depan ruangan Drian.
"Oke terimakasih," balas Queen dengan senyuman lebarnya.
"Kalau begitu saya permisi."
Queen mengetuk pintu ruangan itu, "Drian buka pintunya," ucap Queen dari luar ruangan.
"Masuk aja gak di kunci."
Queen masuk ke ruangan itu, di sana hanya ada Drian sendiri. Dengan marah Queen berjalan ke hadapan Drian, "Lu bisa gak sehari aja gak usah ngerepotin gue," bentak Queen.
Drian menatap Queen dengan santai, "Lu datang-datang marah-marah ada apa sih?"
Queen berdecak sebal, ia kemudian duduk di kursi yang ada di depan meja Drian, "Hari ini lu harusnya pergi ke dokter kan buat pemeriksaan? Kenapa lu gak dateng?" tanya Queen masih emosi.
"Oh iya gue lupa, tunggu! Kok lu bisa tau?"
"Ya tau lah orang nyokap lu telpon gue tadi. Katanya suruh ingetin lu buat ke rumah sakit, karena lu di telpon nyokap lu nomor lu gak aktif."
"Iya HP gue mati, lupa di cas."
Queen menghela nafasnya dengan berat, saat sedang debat tiba-tiba Widia masuk ke ruangan itu tanpa izin. Queen memutar kursinya untuk melihat siapa yang masuk, "Ternyata dia," ia kembali menatap Drian.
"Maaf, saya ke sini cuman mau nganterin berkas," Widia terlihat kaget.
"Masuk aja gak papah kok," balas Drian.
"Hari ini saya akan pulang sekarang, ada keperluan lain. Jadi tolong batalkan semua jadwal saya pada hari ini," ucap Drian pada Widia.
"Baik Pak."
Saat Drian hendak bangun tiba-tiba jantungnya kembali berasa sakit bahkan membuatnya kewalahan untuk berdiri, Widia dengan sigap menahan tubuh Drian agar tidak jatuh, "Kamu gak papah?" tanya Widia.
Queen yang masih ada di sana hanya menatap mereka berdua dengan santai, Drian menatap Queen.
"Okey karena tugas saya sudah selesai, jadi saya pamit undur diri," Queen bangkit dari duduknya lalu membungkukkan kepala dan berniat pergi dari sana.
Drian menahan tangan Queen, "Anterin ke rumah sakit," ucap Drian dengan nada suara yang lemah.
"Kan bisa dia yang anterin lu ke rumah sakit, okey? Saya masih banyak urusan," Queen berusaha melepaskan genggaman tangan Drian.
"Lu Gila? Kalau sampai orang lain liat gue di antar ke rumah sakit dalam keadaan begini sama dia gue bakalan di anggap selingkuh sama orang lain," bentak Drian.
Queen menghela nafas kembali, "Baiklah-baiklah, demi kebaikan warisan gue, gue mau nganter lu ke rumah sakit," Queen menarik tangan Drian agar kini dirinyalah yang menahan tubuh Drian.
"Berat tau," lanjut Queen, mereka berdua mulai berjalan ke luar.
Widia yang melihat mereka berdua hanya bisa terdiam, tampaknya ia juga bingung harus bagaimana. Sesampainya di mobil Queen yang menyetir mobil, keadaan Drian semakin parah.
Detak jantungnya semakin kencang, alat pengukur detak jantungnya juga sudah berbunyi sedari tadi, Queen membawa mobil dengan cepat.
"Pelan-pelan Queen, nanti yang ada kita berdua malah mati karena ulah lu," bentak Drian.
"Bisa diem gak? Tenang aja gue mantan pembalap, lagian lu pasti gak minum obat lu yah? Udah tau penyakitan masih aja gak mau minum obat."
"Berisik."
"Tuh kan bener, gue aduin nyokap lu nanti."
"Gue jitak pala lu kalau sampai lu bilang nyokap gue."
"Bodoamat."
"Sialan."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 42 Episodes
Comments