Queen dan Drian telah sampai di Indonesia, ibunya Drian sudah di semayamkan di peristirahatan terakhirnya. Kini Drian dan Queen sedang berada di pemakaman itu, Queen memegang payung untuk memayungi Drian yang sedang menatap nisan ibunya dengan tatapan kosong.
Di sana hanya ada mereka berdua karena yang lain sudah pulang, Drian tidak menangis tetapi sorot matanya tidak bisa bohong kalau dirinya sedang hancur dan sakit hati.
Queen menyimpan payung yang ia genggam sedari tadi di tanah, ia menepuk pundak Drian sembari menghela nafasnya, "Udah gak ada orang, kalau mau nangis, nangis aja. Sekuat apapun seseorang ia akan tetap merasa sakit jika di tinggal oleh seseorang yang begitu ia sayangi."
Air mata yang berusaha Drian tahan sejak awal kini pecah, kepura-puraan nya kini mulai runtuh saat mendengar ucapan Queen. Rasa sesak di dada yang kini tidak bisa ia bendung lagi, semua perasaan sedihnya mulai menyeruak menembus jantungnya.
Queen memeluk Drian, membiarkan air mata dari pria itu tumpah ke pelukannya, "Gak usah pura-pura kuat untuk hari ini aja, lu bebas nangis di depan gue hari ini. Gue janji bakal lupain hari ini untuk lu," lanjut Queen.
Drian membalas pelukan Queen, ia memeluk Queen dengan erat tidak peduli bajunya kotor terkena tanah yang basah karena terkena air hujan, cuaca hari ini mendung dan sedikit gerimis. Baju keduanya mulai basah terkena air hujan, Queen mengelus pundak Drian beberapa kali.
Tangisan pria itu kini benar-benar pecah, tadi ia berusaha sekuat mungkin untuk tidak menangis tapi semuanya sia-sia saat ini.
"Mengapa dia pergi secepat ini?" teriak Drian.
Queen hanya diam, ia ingin membiarkan Drian bicara sesuai yang Drian inginkan.
____________
Selesai dari pemakanan Drian mengurung diri di kamar dengan di temani beberapa botol alkohol dan sebatang rokok di tangannya, ia terdiam menatap bintang di langit.
Queen masuk ke kamar Drian karena kamarnya tidak di kunci, ia menghampiri Drian yang tengah berada di balkon kamar.
"Cukup minum-minumnya," Queen merebut beberapa botol minuman yang masih ada.
"Cuman dengan minum gue bisa tenang hari ini," timpa Drian sambil tersenyum miris.
"Kalau lu sampai kenapa-napa gue juga yang ribet, lu gak ingat jantung lu, jangan karena lu sedih sampai membuat lu gak peduli kesehatan sendiri," bentak Queen.
"Gue tau lu pasti sedih tapi gak gini caranya, lu gak boleh juga rusak kesehatan lu. Nyokap lu gak mau lu kayak gini," lanjut Queen.
Drian terdiam sembari mengisap asap rokoknya, Queen duduk di samping kursi Drian, "Baju lu basah, masih belum ganti baju juga?"
Drian masih tidak mau menanggapi ucapan Queen, suara bel terdengar. Queen berdiri dan pergi untuk menemui orang yang datang ke rumahnya.
"Siapa?" tanya Drian.
"Widia, pacar lu. Gue tau dengan kehadiran gue lu gak bakalan ngerasa tenang, makannya gue minta Widia buat datang ke sini," balas Queen.
"Emang dengan kedatangan dia gue bisa tenang juga?"
"Yah kan Widia pacar lu, seenggaknya dengan kedatangan orang yang lu suka bisa buat lu seneng," Queen melanjutkan kembali langkahnya keluar dari kamar Drian.
___________
Kini Queen lah yang duduk di balkon sendirian, ia menatap ratusan bintang di langit yang berjejer begitu indah menemani sang bulan.
"Bulan malam ini indah banget yah," gumamnya tersenyum miris.
Padahal sebenarnya kini ia juga butuh seseorang untuk menemaninya, karena baru saja di kecewakan oleh orang yang paling ia sayangi. Tapi pada kenyataannya di saat seperti ini ia justru tidak punya siapapun, Queen menghela nafasnya dengan berat.
"Semuanya tampak mengecewakan," gumamnya lagi.
"Ternyata bener yah, luka paling sakit itu bukan di sebabkan oleh orang yang kita benci. Melainkan oleh orang yang kita sayangi," lanjutnya.
Bruk tiba-tiba pintu kamarnya terbuka dengan keras, Queen langsung menatap ke arah pintu kamarnya, di sana berdiri Drian yang mulai berjalan ke arahnya.
"Ngapain ke sini?" tanya Queen.
"Emangnya gak boleh?" Drian duduk di samping Queen.
"Yah kan di kamar lu ada Widia, ngapain ke sini?"
"Tidur."
"Hah?"
"Berisik deh, gue juga tau kalau lu lagi butuh temen. Dan sayangnya lu gak punya temen, karena gue baik hati makannya gue temenin, cuman buat hari ini yah."
Queen tersenyum kecil, "Tumben lu."
Mereka kini saling diam menatap langit, Queen menyenderkan kepalanya ke pundak Drian, "Cuman buat malam ini aja kan?" tanya Queen.
Drian mengangguk.
"Kalau gitu kita gak usah pura-pura kuat, biarkan malam ini kita jadi diri sendiri yang sangat rapuh ini," lanjut Queen.
Tanpa mereka sadari, Widia sebenarnya ada di sana. Widia menatap mereka dari ambang pintu kamar yang terbuka sedikit, kepergian Drian membangunkan dirinya. Kini Widia mulai sadar kalau Drian sudah benar-benar berubah di matanya, tadi Drian benar-benar tidak mau bicara padanya sedikitpun tapi entah mengapa Drian kini begitu terbuka pada Queen.
Widia merasa akan kehilangan Drian, sesuatu yang ia takutkan sejak dulu.
"Dari awal, aku tau kalau kau suka pada Queen," ucap Widia.
______________
Paginya Queen terbangun dan sudah berada di kamarnya, semalam Drian menggendong Queen saat ketiduran di balkon. Drian sedang memasak sarapan di dapur di temani Widia yang ternyata belum pulang, Queen berjalan ke dapur menuruni tangga.
Queen duduk di kursi menunggu Drian selesai masak, Widia duduk di sebelah Queen sambil memandangi Queen yang masih menguap karena mengantuk.
"Gimana kalau habis sarapan kita jalan-jalan? Hari ini kan tanggal merah jadi libur di kantor," ucap Widia pada Drian.
"Gak bisa, ada urusan," balas Drian singkat, Drian menyodorkan sepiring masakannya pada Widia dan Queen.
Tanpa basa-basi Queen langsung makan.
Drian duduk di kursinya dan mulai sarapan juga.
"Mau kemana? Aku temenin yah?" Widia masih terus berusaha.
"Gak bisalah, hari ini aku harus ke rumah keluarga. Masa aku bawa kamu."
"Oh ya udah, abis sarapan aku pulang."
"Lu ikut gue hari ini, enggak ada kerjaan kan?" Drian menatap Queen yang sibuk dengan makanannya.
"Hah apa?" tanya Queen yang mendengar ucapan Drian tidak jelas.
Widia semakin kesal sekarang.
"Gak usah pura-pura budeg."
"Emang gak denger bodoh."
"Nanti ikut gue."
"Kemana?"
"Ke rumah."
"Okey," balas Queen singkat.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 42 Episodes
Comments