Reunian Part 2

Saat Drian masak Queen hanya melihat saja di meja makan, Tio datang menghampiri Queen, "Ini pasangan suami istri yang kebalik ini," ledek Tio.

"Biarin aja, orang gue gak bisa masak," timpa Queen acuh.

"Oh iya, Nana gak lu ajak?" lanjut Queen.

Nana adalah istri Tio.

"Enggak, males bawa istri. Yang ada nanti malah bikin ribet lagi di sini," canda Tio sembari cengengesan.

"Kebangetan lu, emang cowok kek gitu semua kayaknya."

Makanan Drian sudah jadi, Queen makan duluan.

"Siapa yang masak siapa yang makan duluan," ledek Drian.

"Terserah gue," acuh Queen dengan tangan dan mulut yang sibuk makan.

Beberapa orang datang ke dapur karena mencium aroma masakan Drian, "Wah makanan nih," sorak yang lainnya.

"Gue juga jadi lapar, dari dulu masakan lu emang enak sih," Tio ikutan makan.

Sejak sekolah Drian memang sering masak, jadi tidak perlu di ragukan lagi. Drian juga terkadang ikut lomba masak saat sekolah, hobby Drian sepertinya masak.

"Emang cocok sih lu sama Queen nikah," timpa Niana yang baru datang.

"Berisik lu Niana," bentak Queen.

"Ya abisnya lu suka makan, jadi cocok sama Drian yang hobby masak," lanjut Niana tertawa kecil.

"Gak ada cocok-cocoknya," bantah Queen lagi.

"Kalau makan tuh makan aja, muncrat tuh makanan lu ke meja," timpa Drian yang duduk di kursi sebelah Queen duduk.

"Bodoamat."

"Nih anak kepala batu banget sih kalau di bilangin," Drian memukul jidat Queen pelan.

"Diem!" Queen menatap Drian dengan tajam.

__________

Sorenya mereka memutuskan untuk pergi ke kebun Bunga yang jaraknya tidak jauh dari Villa penginapan mereka, sesampainya di sana semuanya berpencar untuk sekedar foto-foto mengabadikan momen.

Queen berfoto dengan Niana sampai Juan menarik Niana untuk jalan-jalan berdua, "Kok gue di tinggal sendiri?" tanya Queen cemberut.

"Tuh lu sama Drian dulu," balas Niana sambil terus jalan.

"Dasar kalian semua jahat," rengek Queen.

Queen kini tinggal berdua dengan Drian, karena yang lainnya sibuk masing-masing, padahal teman-temannya sengaja melakukan itu agar Queen dan Drian dapat berduaan, siapa tau saja butir-butir cinta di antara mereka semakin tumbuh.

"Mau kemana?" tanya Drian dingin.

"Gak tau, fotoin gue dong di sini," Queen menyodorkan ponselnya pada Drian.

"Gak mau males," Drian memalingkan tatapannya.

"Ih semua orang hari ini nyebelin," Queen menghentakkan kakinya beberapa kali ke tanah.

"Ya udah sini," Drian merebut ponsel Queen.

"Nah gitu dong, kali-kali nurut," Queen cengengesan, ia berjalan ke arah hamparan bunga, ia berjongkok untuk mendapatkan foto yang bagus.

"Jongkok juga," pinta Queen pada Drian.

Drian menghela nafasnya, "Banyak mau banget sih jadi orang," Drian mengikuti perintah Queen.

Queen tersenyum, "Nah gitu dong," ia mulai berpose cantik dengan tangan yang ia simpan di dagu menatap bunga matahari di depannya.

Drian mulai memotret Queen beberapa kali, Queen juga berganti-ganti pose, dari kejauhan teman-temannya ternyata memperhatikan mereka, "Momen langkah ini, harus di abadikan sih," Niana mengeluarkan ponselnya dan memfoto mereka berdua dari kejauhan.

"Udah kayak pasangan suami istri beneran," tambah Tio meledek.

Setelah cukup lama berkeliling Queen dan Drian memutuskan untuk duduk di kursi taman menunggu yang lainnya selesai, hari sudah mulai sore, "Langitnya bagus banget," Queen memandangi langit senja yang begitu cantik di tambah hamparan bunga di sana.

Drian ikut menatap langit, langit di sore ini memang sangat sempurna, Niana dan Juan datang menghampiri mereka, Niana menyodorkan minuman pada Queen dan Drian, "Nih siapa tau kalian haus abis jalan-jalan berdua," ledek nya.

"Apaan sih? Ini tuh akibat lu semua ninggalin gue tau," walaupun marah Queen masih menerima minuman dari Niana.

Niana tersenyum miring, "Ah bilang aja bahagia," ledek nya.

"Terserah lu," Queen dan Drian minum barengan.

Selesai dari kebun bunga mereka memutuskan untuk mencari restoran, setelah menemukan restoran yang pas mereka langsung makan bersama di sana.

__________

Di tempat lain Wilona tiba-tiba pendarahan, untung saja Farhan saat ini sedang di rumah. Farhan yang melihat istrinya sedang pendarahan langsung membawa Wilona ke rumah sakit terdekat untuk di periksa, saat di ruang UGD Farhan mencoba menghubungi Julian karena takut terjadi sesuatu pada Wilona.

"Aku akan beritahu orang tua, kau jaga baik-baik Wilona, jika ada kabar apapun segera hubungi aku secepatnya," ujar Julian lewat sebrang telpon.

"Baik kak."

Setelah menunggu lama akhirnya dokter yang menangani Wilona keluar dari ruangan UGD, ia langsung meminta Farhan untuk ikut dengannya ke ruangan dokter ada hal yang harus ia bahas.

"Jadi begini, kondisi kandungan pasien sangat lemah. Ibunya juga begitu lemah, Satu-satunya cara yang bisa kita lakukan adalah mengugurkan kandungan tersebut," jelas dokter itu.

Farhan yang mendengar itu sangat Syok.

"Kita memang bisa mempertahankan kandungan tersebut, tetapi saya khawatir pada kondisi ibunya. Jadi pilihannya adalah tetap lahir kan anak itu tapi kehidupan ibunya jadi taruhan, atau kita gugurkan saja kandungannya," lanjut dokter itu.

Farhan di berikan waktu untuk memutuskan apa pilihannya, Farhan masuk ke ruangan UGD di sana Wilona sudah sadar dan sudah tau juga bagaimana kondisinya saat ini.

Wilona menggenggam tangan Farhan dengan uraian air mata, "Aku ingin mempertahankan anak ini bagaimana pun caranya," ujar Wilona memohon.

"Jangan bodoh, kalau kau pertahankan bagaimana dengan dirimu sendiri?"

"Aku tidak mau tau, aku ingin anakku lahir."

"Tidak bisa, aku tidak sanggup kehilanganmu."

"Kalau aku menggugurkan kandungan ini aku tidak akan punya anak lagi, aku tidak mau itu terjadi," jadi tidak hanya lemah, Wilona juga punya tumor di rahimnya jadi rahimnya juga harus di angkat setelah menggugurkan kandungannya.

"Tidak, ku mohon kita relakan saja kepergiannya yah," pinta Farhan.

Wilona menggelengkan kepalanya, "Tidak, aku akan tetap pertahankan anak ini."

"Jangan egois Wilona."

"Aku tidak egois, justru sikap inilah yang terbaik."

"Terbaik darimana Wilona?"

Setelah mengobrol cukup lama akhirnya Farhan meminta Wilona untuk memikirkannya lagi secara baik-baik, Farhan juga mengabarkan kondisi Wilona pada Julian sebagai kakaknya. Julian ingin Farhan membujuk Wilona untuk menggugurkan nya saja, karena itulah yang menurutnya yang terbaik.

Kembali ke indonesia, Julian langsung mengabarkan kondisi Wilona pada orang tuanya, Kedua orang tuanya langsung memutuskan untuk terbang ke Amerika secepatnya. Mereka naik pesawat pribadi mereka agar tidak lama, "Apa kita kabari Queen sekarang?" tanya Julian pada ayahnya yang kini sudah berada dalam mobil.

"Jangan dulu, dia masih banyak pikiran karena kejadian kemarin. Kita pastikan dulu bagaimana kondisi Wilona di sana," tegas ayahnya.

"Ya sudah kalau begitu."

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!