Sekitar dua minggu berlalu setelah kecelakaan Usaku terjatuh dari motor, hasil investigasi telah menunjukkan sebuah sabotase pada kabel rem yang di rusak. Hal ini membuat Usaku pada saat kecepatan tinggi dan mencoba handle rem di tikungan tajam tidak bisa digunakan.
Sebuah sidang tertutup untuk para petinggi geng motor Street Fighter di gelar. Beberapa senior, penasihat serta Hikaru selaku ketua berkumpul. Lima orang mekanik yang andil dalam perbaikan di hari itu di hadirkan.
Salah seorang diantaranya adalah pelaku.
“Dari sekian mekanik, kamu di dapati ikut mengambil alih perbaikan sepeda motor yang di kendarai Usaku saat itu. Salah seorang anggota geng motor menemukan kamu keluar terburu – buru dari tenda. Kemungkinan besar kamu satu – satunya mekanik yang melakukan finishing motor itu” kata salah seorang senior Street Fighter.
“Saya tidak melakukan apapun yang dituduhkan” sangkal pelaku.
“Sebuah sidik jari di gunting yang kamu gunakan waktu itu, dimana kamu membuangnya ke tempat sampah telah kami temukan. Kalau kasus ini kami berikan kepada polisi maka kamu akan dihukum berat atas masalah yang telah kamu lakukan” Hikaru mulai angkat bicara.
Mekanik itu mulai berkeringat dingin, setelah beberapa kali di desak dan disudutkan dengan semua bukti yang ditemukan oleh tim investigasi akhirnya dia mengaku.
“Memang benar aku melakukannya, aku takt ahu kalau Usaku akan menjadi korbannya” aku nya.
“Kenapa kamu melakukannya?” tanya salah satu senior geng motor Street Fighter.
“Sejujurnya aku tidak melakukan ini untuk menyakiti Usaku, aku hanya di suruh mencelakai Hikaru” jawabnya.
“Siapa yang menyuruhmu?” tanya Hikaru.
“Aku tak bisa mengatakannya, karena aku sudah berjanji untuk bungkam apabila kasus ini di usut” jawabnya.
“Memangnya apa yang diberikan kepadamu hingga kamu siap bungkam” tanya salah satu penginvestigasi.
“Ibuku masuk rumah sakit karena sakit parah yang dideritanya, aku butuh biaya yang sangat besar untuk itu. Maka aku terima tawarannya untuk melakukan hal ini” ungkapnya.
“Apakah Eizen yang menawarkannya?” tanya Hikaru geram.
Mekanik itu pun hanya menundukkan kepalanya, mengisyaratkan bahwa ia mengiyakan pertanyaan yang terlontar dari mulut Hikaru.
Hikaru menahan marahnya dalam diam dan mengepalkan kedua tangannya yang ada diatas pahanya, persis di bawah meja.
Mekanik itu di keluarkan dari keanggotaan geng motor Street Fighter, Usaku dengan lapang dada tak menuntutnya ke ranah hukum. Bagi Usaku, pelakunya terpaksa melakukan ini semua karena ibunya. Baginya yang harus di tuntaskan adalah Eizen, sang dalang dari kasus kecelakaan yang dialaminya.
Di rumah sakit Usaku duduk di taman bersama Hikaru, setelah terapinya selesai.
“Maaf kan aku, karena akulah kamu menjadi seperti ini” kata Hikaru lirih.
Usaku menggenggam tangan Hikaru yang duduk berdampingan dengannya menatap taman rumah sakit.
“Semua ini sudah menjadi takdirku, jangan salahkan dirimu. Kemalanganku datang kapan pun dan dimana pun serta dengan cara apapun” kata Usaku dengan bijak.
“Aku akan menjaga Street Fighter untukmu, hingga semua misiku berakhir” kata Hikaru.
“Terimakasih” jawab Usaku.
“Aku akan membalaskan dendammu, akan ku lakukan apapun caranya” Hikaru meradang memendam kemarahan.
“Kamu masih sangat muda, masih banyak jalan untuk kamu ambil. Cukup dengan mengadilinya atas kasus yang dialami kakakmu, itu sudah cukup berat. Bagiku apa yang terjadi kepadaku, itu hanya sebuah kemalangan” tambah Usaku.
Hikaru terdiam, namun dia bertekad untuk membalas dendam atas semua yang dilakukan Eizen terhadapnya dan orang – orang yang disayanginya.
…………
Satu tahun kemudian…
Hari kelulusan Fumi, Eizen bersama Itsuki membuat sebuah pesta di rumah. Sebuah pesta kecil yang dihadiri para keluarga dan teman terdekat dari Fumi.
Namun Fumi sepulang sekolah, di hadang Hikaru dengan motor sport berwarna biru.
“Naiklah” kata Hikaru.
“Siapa?” tanya Fumi tak mengenali pria yang menggunakan helm full face itu.
Hikaru membuka helmnya, Fumi terkejut menatap pria yang dicintainya hadir di hadapannya.
“Untuk apa kamu kesini?” tanya Fumi.
“Apa kamu tidak merindukanku, ayo ku traktir es krim untuk hari kelulusanmu” ajak Hikaru sambil tersenyum.
Fumi bimbang dengan senyum Hikaru, kejadian di kamar hotel itu membuatnya sakit hati.
“Aku sudah ada rencana lain, pergilah” tolak Fumi lalu memilih berjalan meninggalkan Hikaru.
Hikaru turun dari motornya yang ada di samping gerbang sekolah, kemudian mengejar Fumi.
“Aku merindukanmu, pergilah bersamaku” minta Hikaru.
“Aku tidak mau, bukankah tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan setelah kejadian malam itu” tepis Fumi dengan acuh.
“Bukankah kamu masih mencintaiku, sorot matamu tak bisa bohong” Hikaru mulai memanipulasi perasaan Fumi.
Dia menggenggam tangan Fumi, gadis berseragam SMA yang baru lulus itu merasa ragu menerima Hikaru.
“Apa benar kamu datang untukku, atau ada hal lain yang belum tuntas antara kamu dan kakakku?” tanya Fumi yang tak ingin disakiti lagi.
“Aku berada di hadapanmu untuk menjadi kekasih gelapmu” kata Hikaru sambil tersenyum, mendengarnya Fumi merasa gusar.
Hikaru pun menarik tangan Fumi menuju motornya dan mengajaknya berkendara.
Hikaru mengajak Fumi ke pantai Isshiki yang memakan waktu satu jam dari sekolah Fumi, keduanya duduk menatap birunya langit dan laut yang membentang sembari memakan es krim.
“Hikaru…kun, aku merasa ini tak nyata makan es krim bersamamu” ungkap Fumi.
“Ini adalah kenyataan, maka ingatlah menjadi moment kelulusan terbaikmu” sahut Hikaru.
“Apakah kamu tak membenciku lagi?” tanya Fumi dengan tatapan mata yang dalam ke arah Hikaru.
Hikaru tersenyum lalu menyambar bibir manis Fumi yang belepotan es krim.
“Aku suka Fumi” kata Hikaru.
Wajah Fumi menjadi merona ke merah – merahan karena sikap Hikaru kepadanya. Meski dia tidak memastikan 100% yang dihadapinya adalah rasa cinta sungguhan atau hanya sementara. Baginya Hikaru adalah cinta pertamanya yang tak terlupakan.
Mereka menikmati matahari terbenam berdua kemudian Hikaru mengajak Fumi ke sebuah kedai mie di sekitar kawasan Zushi. Betapa padatnya pengunjung hingga mereka perlu mengantri untuk makan. Setelah setengah jam berdiri di luar, akhirnya keduanya bisa duduk dan memesan.
“Apakah kamu mau ukuran jumbo?” sindir Hikaru.
“Aku sedang diet” sahut Fumi malu.
“Tubuhmu sudah kurus tidak perlu diet, kita ambil ukuran big size” kata Hikaru lantas memesan.
“Kamu memesan sake juga?” tanya Fumi menatap Hikaru yang menunjuk tulisan sake special kepada pelayan pramusaji.
“Ini untuk merayakan kelulusanmu, kita wajib minum sepuasnya” ucap Hikaru.
“Kamu kan berkendara, itu tidak boleh” Fumi pun tak setuju.
“Kalau begitu bantu aku menghabiskannya” Hikaru pun memancing Fumi.
“Aku bukan peminum yang handal dan kamu pesan minum cukup banyak” keluh Fumi.
“Tenanglah kamu aman bersamaku” kata Hikaru.
Ternyata Hikaru sengaja membuat Fumi mabuk, dia ingin melancarkan aksinya. Setelah makan, Hikaru mengajak Fumi ke sebuah hotel bintang 3 di kawasan Kamakura. Fumi berjalan tertatih di papah oleh Hikaru masuk ke dalam kamar.
“Aku harus pulang, ada pesta untuk merayakan kelulusanku di rumah” kata Fumi yang masih setengah sadar.
“Tenanglah, nanti aku akan memberitahu kakakmu” jawab Hikaru.
“Apa maksudmu memberitahu kakakku?” tanya Fumi mencerna perkataan Hikaru.
“Intinya kita akan menginap disini, tidak mungkin membawamu pulang dengan kondisi seperti ini” jawab Hikaru.
Hikaru membaringkan tubuh Fumi di tempat tidur, dia melepaskan sepatu serta kaus kaki yang ada di kaki gadis remaja itu. Hikaru pun menanggalkan seluruh pakaiannya, samar – samar Fumi melihat punggung Hikaru tanpa busana masuk ke dalam toilet.
Setelah selesai mandi dia mengambil sekotak pengaman yang ada di saku jaketnya. Menaruhnya di tempat tidur, lalu membangunkan Fumi yang terlelap di di tempat tidur.
“Fumi…Fumi…apa kamu bisa melihatku?” tanya Hikaru sembari menggoyang – goyangkan tubuh gadis remaja yang berseragam itu.
Fumi tak merespon hanya menepis tangan Hikaru, dengan senyum licik Hikaru pun melucuti seluruh pakaian yang dikenakan Fumi.
Dilemparnya di sembarang tempat di lantai, menatap tubuh Fumi tanpa busana terbaring tak berdaya di ranjang Hikaru tersenyum licik.
“Rencana pembalasan di mulai” katanya pelan.
Hikaru mulai menciumi perlahan tubuh gadis remaja itu dari bibir hingga ke ujung kaki. Di lepaskannya handuk yang melilit pinggangnya, di tindihnya tubuh Fumi. Di buka lebar kedua paha gadis itu, diangkatnya sedikit dan dia siap menyerang menggunakan pengaman.
Hawa nafsu penuh kebencian dengan sisa cinta dalam hatinya, membuat Hikaru makin menunjukkan hasratnya. Sedangkan Fumi hanya bisa menerima tubuhnya di bolak balikkan sesuka hati Hikaru, bahkan peluh keduanya menyatu dalam kobaran malam yang panas.
“AHGHHH!” suara Hikaru mencapai ******* terdengar menggema memenuhi ruangan, dia pun memberikan ciuman terakhirnya ke kening Fumi yang terlelap. Mengatur ritme nafasnya yang cukup lelah dan beranjak meninggalkan tubuh Fumi. Di lepas lalu di lemparnya pengaman yang menempel di senjatanya itu ke tempat sampah.
Di guyurnya tubuh kekar dan atletisnya itu dengan air shower yang dingin, melunturkan semua peluh yang memenuhi tubuhnya. Perasaannya bercampur aduk setelah melakukannya, namun setan dalam dirinya terlalu kuat untuk terus melancarkan balas dendamnya kepada Eizen melalui Fumi.
“Ini hanyalah awal permulaan, tunggu saja Eizen” katanya sembari mengepalkan tangannya ke sekat kaca dekat shower.
Hikaru mengenakan pakaiannya lalu menutupi tubuh Fumi yang tak berbusana itu dengan selimut. Mengelus – elus kepalanya, perasaan sayangnya muncul namun ditepisnya. Diambil ponseL Fumi yang berada di tas. Di bukanya ponsel itu dengan sidik jari Fumi, kemudian Hikaru memotret gadis remaja yang ada di hadapannya itu sedang tertidur pulas.
Dikirimnya foto itu kepada Eizen dengan pesan “Aku sedang menikmati malam kelulusanku”.
Lalu Hikaru tekan tombol send dan tersenyum puas.
Hikaru sudah merencanakan membalas dendam melalui Fumi, gadis yang pernah dicintainya. Di berusaha menghancurkan Eizen sampai bisa diadali atas semua perbuatannya.
XXXXXXXXXXX
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 46 Episodes
Comments