Fumi makan es krim duduk di depan mini market, sudah sebulan dia menunggu Hikaru yang tak kunjung datang. Dia sadar bahwa Hikaru menjauhinya sejak saat ini, namun dia tak bisa membendung rasa rindunya.
Hari itu Fumi akhirnya bertemu dengan Hikaru…
“Hikaru!!!” panggil Fumi, namun Hikaru tak memperdulikannya.
Fumi tetap mendekati Hikaru meski Hikaru tak peduli kepadanya.
“Bagaimana kabarmu? Apakah lukamu sudah pulih total setelah pertandingan waktu itu? Ku mohon jawablah pertanyaanku, aku benar – benar ingin tahu keadaanmu”.
Setelah membeli minuman kaleng dan membayarnya, Hikaru langsung berjalan ke luar mini market. Fumi mengikuti Hikaru berjalan keluar, meski Hikaru terus berjalan tanpa menoleh ke belakang. Setelah 10 menit berjalan, akhirnya Hikaru menoleh ke belakang menghampiri Fumi.
“Jangan ikuti aku, aku membencimu” kata Hikaru secara langsung melukai hati Fumi.
“Kenapa kamu membenciku?” tanya Fumi polos.
“Harusnya kamu sadar posisimu, apakah kamu tidak tahu malu? Kamu bertunangan dengan pria lain, dan kini kamu sedang mengejar pria lain” ketus Hikaru.
“Aku akan meminta membatalkan pertunangan dengan Itsuki” kata Fumi.
“Menurutmu kakakmu akan baik – baik saja dengan apa yang kamu lakukan. Apakah kamu bisa meninggalkan kakakmu dan segala fasilitas yang diberikannya?” Hikaru menantang Fumi.
“Mungkin dia akan marah sesaat, tapi seiring berjalannya waktu dia akan menerimanya. Aku akan berusaha membujuknya meski itu sulit” jawab Hikaru.
“Fumi kamu tahu sikapmu seperti ini membuatku semakin muak, pergilah dan jangan ganggu aku” tambah Hikaru.
“Aku mencintaimu, mungkin ini terlambat bagiku mengatakannya tapi aku sadar tentang apa yang aku rasakan” aku Fumi.
Hikaru mendekatkan wajahnya ke wajah Fumi, lalu menempelkan keningnya dan merengkuh tengkuk leher gadis berseragam SMA yang ada di hadapannya itu.
“Aku mencintaimu, aku sangat mencintaimu…Fumi tapi itu sebelum aku tahu kamu adalah adik Eizen. Kamu adalah tunangan dari pria lain, kamu adalah anggota The Road Knight” kata Hikaru lalu mencium bibir Fumi dan berlari meninggalkannya.
Air mata Fumi tak sadar menetes membasahi pipinya, melihat Hikaru berlari menjauh darinya. Disisi lain Hikaru pun merasa hancur, dia tak sanggup lagi menatap gadis yang dicintainya yang kini menjadi sebuah kebencian.
“Kamu tak pernah salah Fumi, tapi aku tak bisa memaafkan kamu adalah adik Eizen. Dimana kakakmu merenggut nyawa kakakku tanpa diadali” kata Hikaru dalam hati sembari terus berlari untuk menenangkan hati yang gundah.
Fumi pulang dengan wajah sedih, dia terduduk di balkon dengan memeluk tubuh dengan tatapan kosong. Dia sadar meski Eizen kasar dan sering memaksakan kehendaknya, namun dia tetaplah kakaknya. Satu – satunya keluarganya dan tak mungkin meninggalkannya.
Ditengah kemelut pikiran Fumi, Itsuki datang dan duduk di sebelah Fumi tanpa Fumi sadari. Dia mengelus kepala tunangannya itu yang sedang melamun.
“Apa yang kamu pikirkan sampai sesedih itu?” tanya Itsuki.
Lalu mencubit pipi Fumi yang putih bersih itu dengan kencang.
“AAAAUUUU!!!” teriak Fumi terkejut.
“Itsuki … sejak kapan kamu ada disini?” tanya Fumi bingung mendapati Itsuki sudah ada di sebelahnya.
“Sejak dari tadi, kamu saja yang terus melamun tanpa menghiraukan sekitar” jawab Itsuki.
“Oh ya, maaf aku tak menyadari kedatanganmu” kata Fumi.
“Apa yang kamu pikirkan sampai sesedih itu?” tanya Itsuki penasaran.
“Aku…aku hanya memikirkan kelulusanku” kata Fumi berbohong.
“Hmmm… memangnya nilaimu turun, bukannya kamu selalu mendapat nilai bagus. Aku tahu bekerja keras untuk lulus dengan nilai bagus. Kamu mau masuk universitas tahun depan kan” kata Itsuki yang heran.
“Begitulah, aku merasa nilaiku belum cukup baik. Kamu tahu kan, aku mau masuk jurusan teknik” jelas Fumi mencoba menutupi kebenaran tentang apa yang dia pikirkan sebenarnya.
“Jangan terlalu dipikirkan, kamu bisa saja masuk dengan kerja kerasmu. Kalau kamu terus memikirkannya nanti membuat stress. Oh ya, apakah kamu tahu Hikaru?” mendadak Itsuki mengubah haluan pembicaraan.
“Hah…ya kenapa?” tanya Fumi agak panik.
“Seberapa jauh kamu mengenalnya?” tanya Itsuki memastikan.
“Oh itu, kami kenal karena dia temanku makan es krim di mini market. Aku hanya tahu dia masuk jadi anggota Street Fighter itu saja” jelas Fumi dengan berhati – hati.
“Owh begitu, berarti aku tak perlu cemas mengenai rumor yang beredar” aku Itsuki meski dalam hatinya masih meragu.
“Rumor tentang aku dan Hikaru? Aku mendukungnya karena dia adalah orang yang punya potensial bagus, coba kalau dia bisa masuk ke kelompok kita. Sangat di sayangkan, meski demikian aku akan tetap mensupport dia” tambah Fumi agar terlihat realistis memberikan opininya.
“Benar dia adalah rising star tahun ini” sahut Itsuki.
Sebenarnya di balik pengakuan Fumi mengenai hubungannya dengan Hikaru, dia sadar ada kejanggalan dari sikap Fumi. Saat itu, sebelum pertandingan berlangsung Eizen dan Itsuki melihat Fumi menarik tangan Hikaru masuk ke dalam gudang 2. Seakan ada yang dirahasiakan diantara mereka berdua. Keraguan mengenai perasaan Fumi di perkuat dengan response Fumi saat pertandingan final. Jelas ekspresinya tak bisa menipu mata Itsuki.
Fumi penuh dengan emosional meneriaki Hikaru yang tumbang dan terkapar kala itu, tak mungkin kalau mereka tak punya kedekatan. Fumi menangis haru saat Hikaru dinyatakan menang. Awalnya Itsuki menganggap Fumi adalah fans yang mendukung idolanya. Namun entah kenapa perasaannya selalu meragu.
Tapi Itsuki mencoba mempercayai tunangannya itu, dia tahu sejak awal cintanya bertepuk sebelah tangan tapi dia berjuang untuk mengambil hati Fumi.
XXXXXXXXXXXXXXXXX
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 46 Episodes
Comments