Mengawali keberhasilannya menjadi seorang anggota geng motor, Hikaru pergi ke jalanan dimana kakaknya meninggal. Dibawakan seikat bunga krisan, di letakkannya di atas jalan aspal. Dia terdiam sedikit merenung dan meratapi atas nasib kakaknya.
“Hai kak, apa kabar…saat ini aku sudah masuk menjadi anggota geng motor. Sebentar lagi aku akan semakin dekat menemukan pembunuhmu. Semoga kamu tenang dialam sana, aku merindukanmu”.
Seorang pria tua mengamati Hikaru yang sedari tadi berdiri di jalan tersebut. Pria tua itu pun menghampiri Hikaru.
“Nak, apa yang kamu lakukan disini?”.
“Saya sedang mengenang kakakku, kek”.
“Anak muda yang ditemukan meninggal tertabrak motor disinikah?”.
“Kakek tahu mengenai kejadian itu?”.
“Saat police line terpasang saat itu, aku sudah menemui seorang polisi. Aku memberitahukan apa yang aku lihat disaat kejadian, namun polisi tidak menemukan jejak apapun”.
“Bisakah kakek menjelaskan apa yang kakek lihat di saat hari kejadian, ini akan sangat membantu kami”.
“Hari itu hujan deras, aku mendapati sebuah motor berwarna hitam dengan ornament merah melaju sangat kencang. Keesokannya aku mendapati berita bahwa di jalur yang sama ada korban tabrak lari. Saat itu aku merasa perlu memberikan informasi ini kepada polisi”.
Hikaru sadar bahwa seorang kakek yang disebutkan oleh polisi Rui adalah si kakek yang sedang berada di hadapannya.
Hikaru pulang dengan berkendara sambil memikirkan apa yang dikatakan kakek tersebut.
Saat di perjalan menuju rumah, Hikaru mendapati seorang anak berseragam SMP sedang di keroyok di sebuah gang sempit. Hikaru menghentikan motornya dan memarkirkannya lalu bergegas menghampiri mereka.
“Sedang apa kalian?” tanya Hikaru kepada anak – anak berseragam SMA sedang mengerumuni satu anak laki – laki mengenakan seragam SMP.
“Kami sedang bermain” kata salah satu anak berpakaian SMA.
Nampak anak SMP itu ketakutan, ada sebuah luka dibibirnya.
“Apa kalian menganiayanya?” tanya Hikaru tegas.
“Tidak, kami hanya bermain – main saja dengannya” jawab salah satu anak berpakaian SMA.
“Jangan ganggu dia, pergilah kalian” kata Hikaru tegas.
Mereka malah tidak terima di usir, dengan begitu percaya diri mereka menantang Hikaru.
“Yang seharusnya pergi adalah kamu, kenapa mengganggu urusan kami. Menyingkirlah, kami lebih banyak dari kamu” kata salah satu anak berseragam SMA itu.
Hikaru menatap 8 anak SMA nakal itu dengan tenang. dia berjalan mendekati mereka.
Anak – anak itu pun mulai menyerang Hikaru, dengan sigap Hikaru menangkis semua serangan. Meski di keroyok dia masih dengan tenang menghadapi mereka. Hingga Hikaru dapat melumpuhkan mereka, dan mereka pun melarikan diri.
Hikaru lalu berjalan menghampiri anak berseragam SMP yang meringkuk di sudut gang.
“Nak, apakah kamu baik – baik saja?” tanya Hikaru pelan.
“Aku baik – baik saja. Terimakasih kak, kamu telah menyelamantkanku. Mereka terus menggangguku” kata anak itu.
“Sama – sama nak, dimana rumahmu. Ikutlah denganku, aku akan mengantarkanmu pulang”.
Hikaru mengantarkan anak itu ke sebuah pemukiman di pinggiran Tokyo.
Nampak ada sebuah motorcross kuning yang terparkir di depan rumah, Hikaru merasa pernah melihat motor tersebut.
Anak itu turun dari motor, langsung mengajak Hikaru untuk berkunjung ke rumahnya.
“Ayo kak mampir kerumahku terlebih dahulu” kata anak berseragam SMP itu.
“Lain kali saja, owh ya siapa namamu?” tanya Hikaru yang masih diatas motor.
“Namaku Kenzo” jawab anak SMP itu.
Tiba – tiba ada seorang laki – laki keluar dari pintu, menuju ke halaman rumah. Ternyata dia adalah Kenta, Hikaru pun tertegun menatap siapa yang ada di hadapannya.
“Hei Kenta” sapa Hikaru.
“Kakak kenal dia?” tanya anak SMP itu.
“Kenapa wajahmu Kenzo, apakah kamu habis berkelahi?” tanya Kenta balik tanpa menjawab pertanyaan adiknya.
“Aku tadi di ganggu oleh sekelompok anak SMA, kakak inilah yang membantuku. Hingga mengantarkanku pulang” jawab Kenzo.
“Masuklah dan beristirirahatlah, nanti kita cerita lagi di dalam” perintah Kenta.
“Baiklah, aku masuk dahulu kak. Mampirlah sesekali ke rumah saat waktu luang” kata Kenzo sambil melambaikan tangan ke Hikaru.
“Ok” sahut Hikaru.
Kenta yang berdiri di depan pagar rumahnya, dengan sedikit kikuk menghampiri Hikaru di luar pagar.
“EHMMM…mengenai adikku, aku mengucapkan terimakasih” kata Kenta.
“Sudah menjadi kewajiban kita sebagai manusia untuk saling membantu, apalagi kita sekarang kan teman” kata Hikaru sambil tersenyum.
“Apa teman?” tanya Kenta tak terima.
“Bukanlah kita masuk dalam kelompok Street Fighter, berarti kita adalah teman. Hei Kenta bertemanlah denganku, mari kita berjuang bersama di Street Fighter” kata Hikaru membuat Kenta tersadar bahwa Hikaru adalah anak polos dan tulus.
“Akan ku pertimbangkan” kata Kenta dengan angkuh.
“Aku pulang dulu, selamat bertemu di pertemuan kelompok berikut. Jangan merindukanku, hehehe…Selamat tinggal!” kata Hikaru mengakhiri pembicaraan dan berlalu meninggalkan Kenta yang masih tak percaya akan sikap Hikaru kepadanya.
“Teman…” gumam Kenta menatap punggung Hikaru yang mengendari motor meninggalkannya.
Sejak saat itu, Kenta luluh dan menganggap Hikaru adalah temannya. Meski sebelumnya dia merasa Hikaru adalah rivalnya.
...XXXXXXXXXXXX...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 46 Episodes
Comments