Kenta sedang menjemput adiknya sekolah dan mendapati Fumi keluar dari gerbang yang ada di hadapannya.
“Bukankah dia adik Eizen?” gumam Kenta yang berdiri di samping motornya menatap kea rah gerbang.
“Oi…Fumi chan!!!” panggil Kenta sambil melambaikan tangan.
Fumi memperjelas pandangannya mencari darimana suara panggilan itu berasal.
“Bukankah itu teman Hikaru, sedang apa dia disini?” tanya Fumi dalam hati.
Fumi memutuskan melangkah mendekati si Kenta.
“Sedang apa kamu disini?” tanya Fumi.
“Memangnya kamu kenal aku, wah hebat aku terkenal sampai adik dari kelompok The Road Knight tahu aku” jawab Kenta sombong.
“Namamu Kenta dari kelompok Street Fighter kan, yang waktu itu dilarikan ke rumah sakit karena cedera berat. Bagaimana keadaanmu?” tanya Fumi kembali.
“Yah seperti yang kamu lihat, aku sudah cukup sehat hingga bisa mengendarai motor lagi. Aku menjemput adikku. Ternyata kalian masuk satu Yayasan yah, aku baru tahu” aku Kenta.
“Kamu punya adik, kelas berapa?” tanya Fumi penasaran.
“Masih SMP, kalau kamu?” tanya Kenta balik.
“Kamu tidak lihat seragamku, sebentar lagi aku akan jadi calon alumni” jelas Fumi yang mengenakan seragam SMAnya dan tote bag yang dia gantungkan di bahunya.
“Owh…ok, datanglah ke party kami malam ini kalau kamu senggang. Meski kamu bukan anggota kami. Tapi kamu sangat hits di mata para anggota Street Fighter. Berasa diva di antara anggota geng motor hehehe” ajak Kenta.
Adik kenta akhirnya nampak menghampiri keduanya yang sedang berdiri mengobrol di sebrang gerbang.
“Hai kak” sapa adik Kenta.
“Adikku sudah datang, sepertinya aku harus pergi dulu. Oh ya Hikaru pun juga datang, karena dia bintang untuk acara kami. Aku tidak ada maksud apapun mengundangmu, karena kamu salah satu fans Hikaru jadi aku memberitahumu. Datanglah ke Classic Bar di Shibuya, kami berkumpul disana malam ini” kata Kenta sembari menunggangi motornya.
Adik Kenta membungkukkan badannya memberi hormat kepada seniornya yakni Fumi, lantas membonceng kakaknya dan berlalu.
Fumi mulai memikirkan ajakan Kenta, sembari menimbang – nimbang dia pun bergegas pulang untuk mempersiapkan diri.
Fumi menggeledah lemarinya, betapa exciting dirinya untuk menghadiri acara itu. Bahkan dia sadar kalau Hikaru pasti mengacuhkannya disana, terlebih acara itu di selenggarakan geng motor rival The Road Knight.
Fumi memilih mengenakan pakaian dewasa dengan mini dress yang sedikit terbuka berwarna hitam, stocking hitam, dan sepatu boots berwarna hitam.
Malam pun datang…
Kemeriahan bar dengan dentuman music yang membuat para pengunjung otomatis menggerakkan tubuhnya bergoyang mengikuti ritme music. Seluruh lantai satu di booking oleh kelompok geng motor Street Fighter, lambang geng motor itu terpampang di punggung para pengunjung. Jaket kulit hitam yang menjadi trend kekinian para anggota geng motor di kenakan wajib untuk para anggota.
Fumi tanpa rasa takut dia menggunakan jaket kebesarannya yakni The Road Knight, membalut gaun hitam yang di kenakannya. Dia masuk dengan mudah dengan menyebut nama Usaku sebagai orang yang mengundangnya. Lolos dari pengawasan security bar, dia berjalan menyusuri lantai 1 dengan dihujani tatapan nakal para anggota Street Fighter.
Kenta yang sedang duduk di depan barista, tertegun menatap kecantikan Fumi yang terlihat menjadi wanita dewasa.
“Oi…Fumi, kemarilah!!!” teriak Kenta ditengah hiruk piruk pengunjung.
Hikaru kaget dengar temannya yang duduk di sampingnya, lantas dia menatap ke arah Fumi yang berjalan mengarah ke mereka. Hikaru seketika terpesona akan kecantikan Fumi, jantungnya berdetak lebih cepat. Dia pun mengendalikan dirinya, memalingkan tatapannya.
“Kenapa dia disini?” tanya Hikaru.
“Aku yang mengundangnya” jawab Kenta.
“Kenapa kamu mengundangnya, ini bukan acara untuk anggota geng motor lain. Kamu tahu kan ini acara Street Fighter?” Hikaru protes dengan sikap Kenta.
“Memangnya kenapa, dia adalah Diva untuk kami. Apalagi dia fans kamu kan, jadi lebih mudah mengundangnya. Kata senior, tahun lalu dia pernah bernyanyi merdu di event perayaan organisasi geng motor. Sejak saat itu dia sangat terkenal, dan saat dia support kamu saat final. Rumor yang beredar mengenai kamu dan dia, menjadi namanya makin hits di mata para anggota geng motor” ungkap Kenta.
“Kamu tahu kan dia itu adik dari Eizen, kalau dia tahu adiknya kesini pasti akan berbuntut panjang” kata Hikaru mencoba menyadarkan Kenta tentang masalah ke depannya.
“Tenang saja, kan adiknya yang memilih untuk datang. Kamu juga senang kan lihat dia ada disini, dia benar – benar cantik. Sebentar lagi dia lulus SMA, tapi auranya sangat dewasa malam ini” aku Kenta.
“Jangan coba berpikir kotor mengenai dirinya” Hikaru marah dengan perkataan Kenta.
Hikaru memilih menghampiri Fumi untuk menjauhkannya dari situasi yang tidak diinginkan.
“Hikaru” sapa Fumi.
Hikaru menarik tangan Fumi dan menggiringnya menuju pintu keluar Classic bar.
“Kita mau kemana?” tanya Fumi.
“Ini bukan tempatmu bermain, maka aku akan membawamu keluar dari sini” ketus Hikaru.
Di depan bar, Hikaru melepaskan tangan Fumi dengan kasar.
“Sedang apa kamu tengah malam kesini, memakai baju seperti itu. Atau memang begini caramu menggoda para lelaki?” sindir Hikaru penuh api cemburu melihat Fumi yang di tatap para anggota lainnya dengan begitu menggoda.
“Aku datang kesini karena ingin bertemu denganmu, aku tidak ada niatan untuk menggoda laki – laki lain” jelas Fumi.
“Kalau begitu pergi sekarang!” bentak Hikaru.
“Kenapa kamu selalu marah kepadaku, aku hanya melakukan kesalahan dengan menyembunyikan identitasku. Tapi kamu sampai sebenci ini kepadaku” protes Fumi dengan wajah sedih.
“Katamu kesini ingin bertemu denganku kan, sekarang sudah bertemu dan aku minta kamu pergi sekarang. Aku benci menatap wajahmu” Hikaru tak bisa mengendalikan emosinya.
Hikaru melangkah meninggalkan Fumi, namun Fumi langsung memeluk Hikaru dari belakang.
“Kenapa…kenapa kamu membenciku sampai segitunya, aku menyesal tak mengatakan kejujuran tapi aku melakukan itu untuk bisa bersamamu” rengek Fumi.
Hikaru mencoba melepaskan tangan Fumi yang melingkar di perutnya dan mendekapnya dengan erat.
“Lepaskan, nanti akan ada orang yang melihat sikap konyolmu. Tunangan dan kakakmu akan murka dengan apa yang kamu lakukan” kata Hikaru dengan kasar melepaskan tangan Fumi.
“Aku tidak peduli dengan mereka” aku Fumi dengan penuh emosional.
“Benarkah, kalau begitu mari kita buktikan” kata Hikaru terpancing untuk melakukan hal yang lebih buruk.
Hikaru menghentikan taxi di depan bar, lalu mendorong Fumi masuk ke dalam taxi pergi bersamanya. Tanpa sengaja Usaku melihat keduanya dari dalam mobil.
“Anak itu sedang menyulutkan api” gumam Usaku.
Hikaru berhenti di salah satu motel di kawasan Minato, menyeret Fumi masuk ke dalam.
“Satu kamar hotel” kata Hikaru.
Fumi terdiam melihat Hikaru memesan kamar untuk keduanya.
Resepsionis dengan wajah full make up itu menyodorkan kunci beserta sekotak pengaman.
“Selamat bersenang – senang” katanya sambil tersenyum.
Tangan Hikaru memegang erat pergelangan tangan Fumi, meski dia sadar itu melukai Fumi. Mereka diam tanpa bersuara dengan perasaan emosional antar keduanya. Masuknya ke dalam kamar, di hempaskan tubuh Fumi ke ranjang “BRUUUUK”.
“Bukankah ini yang kamu mau” kata Hikaru sembari menanggalkan jaket dan t- shirt yang dia kenakan, serta melempar sepatu dan kaos kaki di sembarang tempat.
Fumi masih diam dengan berlinang air mata menatap pria yang dicintainya berubah menjadi seemosional itu.
“Kamu tidak puas bermain dengan tunanganmu yang kaya itu, kini kamu mengejar pria lain untuk memuaskanmu. Aku akan mengabulkannya, sampai kamu bosan melakukannya” kata Hikaru diliputi rasa marah.
“Apakah aku sehina itu di mataku? Bagaimana bisa kamu berubah sejauh ini dengan waktu yang singkat. Aku tahu kamu tak seperti ini, kamu adalah pria baik. Ku mohon kembalilah ke dirimu yang dulu, Hikaru…” kata Fumi sambil menghapus air matanya.
“DIAM! Siapa dirimu yang merasa benar – benar mengenal diriku!” kata Hikaru dengan nada tinggi.
Dia langsung melangkah ke ranjang, menindih tubuh Fumi dan mengunci tubuh ramping gadis itu. Sejenak mata mereka saling menatap dalam satu sama lain, nafas keduanya yang saling bertabrakan.
“Jangan menatapku dengan raut wajah sok sedih itu. Aku benci kemunafikanmu” kata Hikaru.
“Menurutmu begitu, air mata ini adalah kemunafikan. Coba tanya pada hatimu, apakah aku memang kamu benci atau masih ada rasa cinta itu terus tumbuh untukku. Bukankah itu yang disebut kemunafikan?” tepis Fumi dengan pertanyaan menohok.
Hikaru geram lantas menyambar bibir Fumi yang terpoles lipstick merah itu dengan penuh kemarahan. Malam yang hening menjadi malam panas mereka berdua. Hikaru tak bisa mengendalikan dirinya yang dipenuhi rasa marah, benci dan kesedihan. Fumi hanya bisa menerima apa yang dilakukan Hikaru, malam pertamanya dengan pria yang membencinya.
Sepanjang malam penuh hasrat itu Fumi hanya bisa meneteskan air matanya merusak riasanya. Tubuhnya penuh peluh dan erangan demi erangan seakan tak berarti baginya. Perasaan terluka dan kecewa ditelannya sebagai pelampiasan rasa bersalahnya.
Setelah Hikaru menyalurkan hasrat dan emosinya kepada tubuh Fumi, dia sadar bercak merah di seprei menunjukkan ini adalah pertama kalinya untuk gadis yang sedang dia dekap.
Perasaan bersalah mengerutuki dirinya, namun dia tak sanggup menunjukkannya. Egonya sebagai korban atas apa yang dilakukan Eizen membuatnya menutupi rasa bersalahnya dengan kemarahan.
Fumi terbaring dengan memiringkan tubuhnya memunggungi Hikaru yang ada dibelakangnya sedang memeluknya, dia menangis.
“Kenapa kamu tak bilang ini yang pertama kalinya bagimu?”.
“Apakah itu penting, bukankah menurutmu air mataku adalah kemunafikan?”.
“Tak mungkin aku bisa percaya dengan gadis yang sejak awal membohongiku”.
“Anggap saja aku membayarnya lunas malam ini”.
“Menurutmu begitu, bagaimana dengan dosa yang kakakmu perbuat kepadaku. Kakakku meregang nyawa tanpa keadilan, dimana kakakmu sebagai pelakunya”.
DEGH…
Fumi terkejut mendengarnya.
“Kamu tahu motor yang kita temukan di ruangan waktu itu, motor itu menabrak kakakku hingga tewas. Tanpa rasa bersalah dia berlenggang bebas hidup bahagia. Menurutmu bagaimana kamu bisa membayar lunas nyawa kakakku?” tanya Hikaru lalu menciumi punggung Fumi dengan lembut.
Fumi tak bisa berkata apa – apa, lidahnya kelu dan hatinya sakit. Kebencian Hikaru ternyata melebihi apa yang dipikirkannya.
“Benarkah kak Eizen melakukannya?” tanya Fumi dalam hatinya.
Malam itu menjadi malam terakhir untuk keduanya bertemu, Hikaru pergi lebih dahulu tanpa mengatakan apapun. Fumi masih membeku di atas ranjang, merengkuh tubuhnya yang tertutupi selimut. Ada beberapa kiss mark menghiasi punggung, bahu, leher dan dadanya. Dengan matanya sembab menatap cahaya matahari yang masuk dari celah – celah jendela.
XXXXXXXXXX
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 46 Episodes
Comments