Cerahnya sinar mentari menyelimuti kota Tokyo, keramaian yang masih terasa di sepanjang jalan. Hikaru berjalan menyusuri jalan kearah TKP (tempat kejadian perkara) dimana kakaknya ditemukan meninggal. Hikaru menyisir Kawasan Yanaka yang terletak di distrik Taito-ku dengan berjalan kaki sembari menggendong ransel.
Tepat di sebuah jalan yang terbilang sepi, dimana sebelumnya terbalut police line. Hikaru terdiam dan tertegun sejenak menatapnya, lantas dikeluarkannya sebuah bunga kering yang dia simpan di ranselnya. Di letakkannya di tengah – tengah jalan, tempat dimana kakaknya tergeletak tak berdaya waktu itu.
Kelopak bawah matanya menampung genangan air mata yang dia tahan. “Kak…aku datang, akan aku pastikan pembunuh itu menerima hukuman setimpal. Semoga kamu bisa tenang di alam sana, lihatlah langit yang biru dan awan yang mengiringinya. Aku akan mengukir takdirku sendiri” katanya dalam hati dengan membulatkan tekatnya.
Hikaru mencari kepolisian setempat untuk mengetahui jejak apa saja yang ditemukan oleh polisi saat itu. Namun polisi hanya bisa menggelengkan kepala, seakan jalan buntu tanpa ada yang bisa dikorek. Baik CCTV maupun saksi, tidak ada satu pun yang bisa didapati.
Hikaru dengan keputusasaan, berjalan keluar kantor polisi. Tiba – tiba seorang pria dewasa berusia 40an merangkulnya dari belakang. Dia menunjukkan ID kepolisian miliknya, tertulis Rui Tachibana tim investigasi.
“Nak, tak ada kasus yang tak bisa terpecahkan. Percayalah, kesabaran akan memberikan jalan untuk mencari potongan puzzle yang hilang. Agar bisa di susun sedemikian rupa, maka kita harus berusaha mencarinya” katanya kepada Hikaru.
Hikaru hanya terdiam mendengarnya.
Hikaru diajak ke sebuah kedai kecil yang tak jauh dari kantor polisi, untuk duduk bersama sembari makan mie ramen.
“Hari itu pertama kali aku menginvestigasi kasus ini, kami tim investigasi dihadapkan dengan jalan buntu karena tak ada apapun yang bisa kami temukan. Selang tiga hari, seorang kakek yang menghampiriku di TKP. Dia berkata di hari hujan waktu itu, ada sebuah motor melaju dengan kencang. Sebuah motor sport berwarna merah, dia menambahkan banyak kecelakaan terjadi karena ada beberapa kelompok geng motor suka melalui jalur itu. Begitulah akunya” jelas Rui sembari menunggu mie ramen pesanannya.
“Lantas, kenapa tidak ditelusuri lebih dalam atas informasi yang diterima dari salah satu saksi itu?” tanya Hikaru.
“Kakek itu rabun, dan apa yang dikatakannya bisa saja hanyalah sebuah cerita saja. Memang benar kakek itu sering berlalu lalang di sekitar sana, tapi itu tidak bisa dijadikan point untuk menjadikannya saksi” tambah Rui. Lantas dia mulai menyeruput kuah mie yang telah tersaji.
“Kenapa kalian tidak mencobanya, siapa tahu diantara anggota geng motor itulah yang membunuh korban” Hikaru mulai berbicara penuh penekanan.
“Kamu tahu berapa banyak anggota geng motor di Tokyo? Sebuah kasus tabrak lari yang menewaskan 1 orang, dengan menginvestigasi ribuan orang yang merupakan anggota geng motor. Dan hanya berlandaskan informasi yang belum tentu bisa dibuktikan kebenarannya. Nak, kami selaku polisi juga sudah berupaya tapi banyak hal yang harus kami kesampingkan” aku Rui.
“Aku akan mencari kebenarannya, aku akan membuktikannya” kata Hikaru berapi – api.
Rui tersenyum dan menepuk – nepuk punggung Hikaru yang duduk disampingnya.
“Kalau begitu makanlah, kamu membutuhkan energi yang banyak untuk dapat melakukannya” kata Rui lalu memberikan kartu namanya kepada Hikaru di atas meja.
“Hubungi aku kalau kamu menemukan bukti – buktinya, sekecil apapun potongan puzzle yang dapat kamu temukan itu sangat berguna untuk menyusun puzzle dari misteri yang belum terpecahkan ini” tambah Rui dan mulai memakan mie yang ada di depannya.
“Baik, terimakasih telah berusaha membantu kasus kakakku” kata Hikaru sembari menundukkan kepalanya dihadapan Rui sebagai rasa hormat.
Selepas perpisahan keduanya, Hikaru pergi ke distrik Sumida, Tokyo dimana dia akan menemui satu – satunya keluarganya yakni paman Kin Hasegawa.
Sebuah bengkel motor yang cukup luas, terpampang tulisan sign “The Road of A Samurai”. Ada beberapa mekanik sedang sibuk wara – wiri memperbaiki beraneka ragam sepeda motor. Mulai dari ngelas, check mesin dan lainnya. Ditengah kesibukan itu, Hikaru berjalan pelan masuk ke dalam bengkel memperhatikan sekitarnya. Seorang pria berusia 50an dengan rambut panjang berwarna putih terkepang tunggal, mengenakan t-shirt tanpa lengan berwarna hitam polos, nampak perutnya yang buncit dan wajahnya yang garang sedang mengarahkan salah satu teknisinya.
“Sepertinya itu akinya bocor, temukan dulu titik kebocorannya dimana” katanya.
“Paman Kin!” panggil Hikaru yang ada di hadapannya.
Paman Kin pun menoleh kearah suara, dan memandang wajah keponakannya. “Hei Hikaru, kemarilah!” sahutnya.
Mereka pun berpelukan melepas rasa rindu, maklum sudah sangat lama mereka tidak bertemu sekitar 11 tahun.
Mereke berdua naik ke lantai 2, dimana disanalah rumah yang ditinggali paman Kin. Sebuah hunian sederhana, dan tak banyak perabotan. Sebuah lemari kaca penuh dengan miniature aneka jenis sepeda motor terpajang di ruang tengah, ada sebuah sofa kulit berwarna hitam dan meja kaca kecil berbentuk bundar.
Tak jauh dari sana nampak balkon penuh dengan tanaman bunga, membuat Hikaru mengernyitkan dahinya.
“Sejak kapan paman menyukai tanaman bunga?” tanya Hikaru sembari menyelonong ke balkon.
“Itu tanaman Nami, dia adalah teman wanitaku” akunya agak malu.
“Teman? Atau pacar?” tanya Hikaru sembari menyelidik.
“HE…HE…HE…” dia hanya cengengesan.
Mereka pun akhirnya duduk dengan santai di ruang tengah, Hikaru meletakkan ranselnya di meja.
Paman Kin memberikan sebuah minuman kaleng yang dingin kepada Hikaru. Kemudian dia beranjak duduk di sebelah Hikaru.
“Kata ibu, kamu akan melanjutkan kuliahmu disini”.
“Sebenarnya tidak, ada misi lain dari kepindahanku ke Tokyo”.
“Hmmm… apa yang ingin kamu lakukan nak?”.
“Aku ingin mencari pelaku tabrak lari yang merenggut nyawa kakak Kazuo”.
“Nak, usiamu masih sangat muda. Apa kamu yakin akan membuang waktumu mencapai masa depan, dengan sebuah misi yang polisi pun tidak mampu memecahkannya?”.
“Aku sangat yakin, aku menemukan sebuah celah baru. Dimana seorang saksi mata mendapati sebuah motor sport berwarna merah, yang di duga milik salah satu geng motor di Tokyo melintas di hari yang sama dan waktu yang sama dimana kakak Kazuo meregang nyawa”.
“Tidak mudah untuk menemukannya, dan sangat berbahaya bagimu mencari tahu mengenai berbagai hal yang berhubungan dengan geng motor di Tokyo. Sebagian besar dari mereka terkenal dengan kebrutalannya, dark world itu menjadi cerminan untuk mereka”.
“Aku sudah memutuskan untuk mencari tahu, ku mohon bantu aku untuk masuk ke dalam dunia mereka. Dengan demikian aku bisa mencari potongan – potongan puzzle untuk memecahkan kasus kematian kakak Kazuo”.
Paman Kin merupakan salah satu mantan anggota geng motor di Tokyo yang menjadi legend di eranya yakni Jigokuhenomichi (perjalanan ke neraka). Sebuah kelompok anak muda yang menyukai motor dan bertindak secara brutal di jalan. Paman Kin adalah salah satu anggota dengan pangkat tertinggi di kelompoknya, dimana dia mendapatkan 90% kemenangan dan 10% kekalahan dalam periode 10 tahun di balap liar antar geng motor.
Paman Kin sangat tahu persis bagaimana kelamnya kehidupan sebagai anggota geng motor, hal inilah yang membuatnya tak setuju akan keputusan Hikaru untuk masuk kedalam circle geng motor.
“Hikaru…jalanmu akan sangat terjal, tak mudah masuk ke dalam circle geng motor. Aku tak akan membiarkan masa mudamu hancur karena masuk ke dunia kelam”.
“Setengah dari diriku sudah hancur…paman, kematian kakak Kazuo tak bisa ku terima begitu saja. Apakah paman Kin merelakan pelaku hidup bahagia tanpa pengadilan dan hukuman, padahal keponakan paman meregang nyawa begitu saja”.
Paman Kin terdiam… dia berjalan duduk di balkon, mengeluarkan rokok dan mulai menghisapnya sambil memandang langit biru. Dia mengenang Kazuo saat pertama kali datang kepadanya.
Flash On…
“Paman!!!” teriak Kazuo berlari kearah paman Kin.
Kazuo memeluk pamannya dengan riang dan senyuman yang mengembang. Paman Kin menyambut pelukan Kazuo dengan tersenyum dan berkata “Kamu sekarang sudah tumbuh menjadi anak yang tinggi, hahahaha…!”.
“Paman aku akan berjuang menjadi seorang dokter, agar bisa berkontribusi dalam masyarakat. Aku berharap tak akan ada wabah lagi menjadikan anak – anak yatim piatu sepertiku” kata Kazuo penuh semangat.
“Mimpimu sangat mulia nak, jangan lupa merawat paman saat sakit. HAHAHAAHAH…!” kata paman Kin seraya tertawa.
“Paman aku akan merawat paman dengan sepenuh hati, tetaplah sehat hingga aku lulus. Tapi aku berharap sehat selalu, kurangilah merokok karena tidak baik untuk kesehatan paman” kata Kazuo sambil tersenyum menatap paman Kin.
Flash Off…
Hikaru menghampiri paman Kin yang sedang mengenang Kazuo di balkon.
“Paman ku mohon tolong aku, demi kakak Kazuo” rajuk Hikaru berdiri di depan pintu balkon.
Paman Kin mulai bercerita:
“Kazuo adalah anak yang riang, dia penuh semangat menghadapai hidup. Saat tiba di Tokyo dia mengatakan akan menjadi seorang dokter untuk menolong masyarakat. Dia anak yang tekun dan rajin, dia tidak pernah terlihat sedih, senyumnya selalu mengembang di wajahnya. Apapun kondisinya, dia selalu menunjukkan bahwa dia bahagia.
Saat aku mendapati Kazuo sudah terbujur kaku di kamar jenazah, ku buka perlahan kain putih yang menutupi tubuhnya. Ku pandangi wajahnya, pucat tanpa senyum di wajah… sangat datar. Seakan bukan Kazuo yang ada di depanku kala itu.
Air mataku menetes tanpa terkendali, meski dia memilki mimpi yang begitu mulia tapi takdir menghentikan langkahnya. Kamu benar Hikaru, setidaknya dia patut mendapatkan keadilan atas apa yang telah dialaminya”.
“Jadi paman akan mendukungku dan membantu misiku?” tanya Hikaru merasa lega.
“Baiklah, aku akan membantumu tapi tidak mudah. Kamu harus menyiapkan mental dan fisikmu untuk melakukan latihan yang keras. Menjadi anggota geng motor, kamu harus menjadi bintang yang dicari. Dimana itu menjadi jalan pintas masuk kesana” jelas paman Kin.
“Aku siap, apapun akan aku hadapi” sahut Hikaru penuh semangat membara.
...XXXXXXXXX...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 46 Episodes
Comments