Beberapa hari Hikaru beristirahat di rumah, dengan tubuh yang masih lebam dan penuh luka. Paman Kin menyiapkan sarapan, mengajak Hikaru untuk makan bersama. Di meja makan, mereka pun berbincang santai.
“Bagaimana keadaanmu, nak?” tanya paman Kin.
“Lebih baik daripada kemarin paman, aku tak mengerti kenapa geng motor harus jago berkelahi. Bukankah pecinta motor fokus untuk kecintaannya terhadap sepeda motor” ucap Hikaru.
“Di Jepang banyak sekali geng motor yang melakukan pembullyan satu sama lain atar kelompok, sehingga kompetisi untuk bela diri dicetuskan sebagai ajang adu kekuatan untuk masing – masing geng motor. Kompetisi ini diadakan untuk mengurangi pembullyan tersebut, karena mereka akan sadar bahwa dimana rating kekuatan mereka sebenarnya.
Kelompok yang menang akan diberikan penghormatan sebagai kelompok terkuat. Kelompok yang kuat akan memberikan sanksi kepada anggota yang mengganggu mereka, sampai dengan pembubaran kelompok lain” jelas paman Kin.
“Hmmm… sangat menarik” response Hikaru lalu melanjutkan makan.
Hikaru berguling – guling di ranjang, ragu untuk mengabari Fumi. Beberapa menit kemudian dia memutuskan untuk mengirim pesan ke Fumi.
“Fumi, apa kabar? Apakah kamu sibuk?”.
“Hikaru…kun, lama tak mengabariku. Apakah kamu sangat sibuk, aku merindukanmu. Aku tidak ada kesibukan, mari bertemu”.
“Baiklah, kita bertemu dimana?”.
“Besok ketemu di depan mini market yah”.
Mereka akhirnya janjian ketemuan setelah berminggu – minggu tak bertemu.
Fumi datang lebih dahulu sembari memakan es krim di depan mini market, kemudian di susul oleh Hikaru yang berjalan kaki.
Fumi tertegun melihat wajah dan tubuh Hikaru penuh luka lebam, Fumi menatap Hikaru dari ujung kaki ke kepala.
“Kamu habis berkelahi dimana?” tanya Fumi.
“Oh itu, aku habis berduel dengan seorang preman jalanan” jawab Hikaru berbohong.
“Kamu merasa sok pahlawan sampai berduel dengan preman? Coba lihat wajahmu seperti burger, jangan coba berkelahi kalau kamu tidak menguasainya. Apakah masih sakit kalau ku sentuh begini?” kata Fumi sembari menyentuh dan memperhatikan wajah Hikaru.
Hikaru merasa canggung dengan sikap Fumi terlebih dia menyentuh wajahnya dengan lembut, akhirnya dia jadi salah tingkah.
“Fumi… bagaimana kalau kita makan roti saja” kata Hikaru melepaskan tangan Fumi dari wajahnya.
Fumi hanya tersenyum menatap sikap Hikaru, dia pun mengikuti Hikaru masuk ke dalam mini market.
Keesokannya mereka janjian untuk bermain di taman kota Tokyo setelah Fumi pulang dari sekolah.
Hikaru sibuk memilih baju yang di kenakan, sedari tadi paman Kin memperhatikannya di pinggir pintu kamar.
“Kamu mau kemana, kenapa dari tadi memilih baju saja lama sekali?” tanya paman Kin.
“Aku akan bertemu teman” jawab Hikaru.
“Teman special sampai harus memakai baju terbaikmu?” tanya paman Kin lagi.
“Hmmm… bisa di bilang begitu” tambah Hikaru.
“Kamu mau pergi kencan?” tanya paman Kin menyelidik.
“He…he..he…kami tidak berkencan” sahut Hikaru malu – malu.
Akhirnya Hikaru memilih t-shirt berwarna biru tua dengan gambar Doraemon.
“Kamu mau ke acara ulang tahun anak balita, ganti bajumu pakai kaos yang polos saja”.
Paman Kin memberikan saran Hikaru, dengan senang Hikaru mengganti lagi pakaian entah ke berapa kali.
Hikaru pun akhir sampai ke lokasi tujuan.
“Hoi…Hikaru!!!” teriak Fumi memanggil Hikaru dari ke jauhan sambil melambaikan tangan.
“Hoi…Fumi!!!” sahut Hikaru sambil melambaikan tangan.
Mereka pun duduk di area rerumputan, di tengah taman. Menggelar sebuah alas dan Fumi membawa beberapa kotak makanan. Hikaru membawa beberapa snack dan minuman kaleng.
Mereka seperti dua sejoli yang sedang menikmati piknik di taman, dengan wajah bersemu memerah bak pasutri baru.
“Aku membuatnya sendiri, cobalah” Fumi menyodorkan sushi yang sudah diapit sumpit ke mulut Hikaru.
“Aku malu” kata Hikaru.
“Kenapa?” tanya Fumi bingung.
“Aku malu disuapin kaya gini” tambahnya.
Fumi tersenyum, lalu memasukkan sushi tersebut kedalam mulutnya sendiri.
“Kamu benar – benar lucu” aku Fumi.
Hikaru pun mengambil sekotak sushi itu dan memakannya sendiri.
“Sebenarnya apa pekerjaanmu?” tanya Fumi tiba – tiba.
“Kenapa kamu ingin tahu?” tanya Hikaru.
“Memangnya tidak boleh?” Fumi pun bertanya balik.
“Sebenarnya aku hanya seorang mekanik” jawab Hikaru.
“Owh ya, berarti kamu jago dalam memperbaiki mobil atau sepeda motor dong ya” kata Fumi memancing.
“Ya, aku specialist di motor” aku Hikaru.
“Apakah kamu sudah punya pacar?” tanya Fumi membuat Hikaru tersedak saat makan.
“UHUK…UHUKKK…” Hikaru pun mulai meneguk minuman kaleng yang ada di depnnya.
“Kenapa kamu menanyakan hal itu?” tanya Hikaru.
“Karena aku tidak mau sering bermain dengan pacar orang lain, aku tidak mau hubungan dengan segala kesalahpahaman. Bagiku sangat rumit dan memusingkan” jelas Fumi.
Hikaru terdiam sesaat, menatap wajah Fumi lekat – lekat, lalu tersenyum mengusap kepalanya.
“Jangan – jangan kamu mulai menyukaiku ya?” tanya Hikaru.
Hikaru beranjak berdiri lalu berjalan gerombolan anak kecil yang bermain bola.
“Hoi…ayo bermain denganku!!!” teriak Hikaru sambil mengambil bola mereka. Anak – anak kecil itu bermain dengan riang bersama Hikaru di taman, Fumi terus tersenyum memandang Hikaru dari kejauhan.
“Hikaru… bagaimana kalau aku menyukaimu? Mungkin ini akan menjadi sebuah kesalahan, tapi aku ingin bersamamu seperti ini” kata Fumi dalam hati.
Sore pun mulai menunjukkan orangenya memenuhi taman, Hikaru dan Fumi berbaring menghadap kelangit.
“Fumi…”.
“Hmmm…”.
“Aku menyukai senyummu sejak pertama bertemu denganmu”.
“Oh ya”.
“Bisakah kita bertemu selanjutnya bukan menjadi teman?”.
“Maksudmu?”.
“Berkencanlah denganku, Fumi”.
Fumi dan Hikaru saling menatap satu sama lain tanpa kata Fumi hanya tersenyum.
Sejujurnya perasaan Fumi dalam dilemma, dia menyukai Hikaru namun disisi lain dia memiliki Itsuki yakni tunangannya. Akankah Fumi sanggup mengatakan sejujurnya mengenai dirinya?.
...xxxxxxxxxxxxxxxx...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 46 Episodes
Comments