Sebuah pertandingan demi pertandingan yang menampilkan seni bela diri yang begitu sengit satu lawan satu tengah berlangsung di babak penyisihan menuju final. Masing – masing peserta menunjukkan baku hantam satu sama lain. Akhirnya babak penyisihan awal berakhir, Hikaru dan Kenta masuk kedalam babak kedua yang diadakan minggu depan.
Usaku pulang dengan mobil off road beserta tim, Fumi menatap kepergian mereka dari jauh. Mengingat apa yang telah terjadi hari ini, Itsuki merangkulnya dari belakang menggugah lamunan Fumi.
“Pertandingan hari ini cukup seru, apakah kamu tegang?”.
“Tidak juga, aku merasa pertandingan kali ini cukup menarik”.
“Aku melihatmu sangat serius melihat babak penyisihan tadi, siapa yang kamu jagokan kali ini?”.
“Entahlah semuanya bagus”.
“Bagiku perwakilan dari Street Fighter bisa menjadi ancaman kita, mereka cukup tangguh untuk dikalahkan. Padahal mereka wajah baru”.
“Oh ya, semoga minggu depan menjadi pertarungan yang makin seru”.
Fumi menghela nafas, seakan merasa ada ketegangan di babak final nanti. Dia sangat kenal sifat kakaknya yang melakukan seribu cara untuk menang setelah dikalahkan di balapan waktu itu. Hikaru akan diincar, karena dia menjadi rising star yang paling menonjol kemampuannya.
Tiba – tiba dia berpapasan dengan kakaknya yang buru – buru keluar gate markas.
“Kakak mau kemana, kenapa wajah kakak pucat?” tanya Fumi menyela langkah kakaknya.
“Aku harus ke pergi, ada keperluan. Pulanglah ke rumah bersama Itsuki, ajaklah dia makan malam di rumah” kata Eizen dengan wajah cemas.
“Memangnya apa yang terjadi, aku tak pernah melihatmu secemas ini?” Fumi masih penasaran dengan gelagat kakaknya.
“Fumi…aku sedang buru – buru, jangan banyak bertanya. Aku tidak ada waktu untuk menanggapimu” jelas Eizen kemudian bergegas meninggalkan Fumi.
Dalam hati Fumi mencurigai kakaknya menyembunyikan sesuatu darinya. Seperti motor yang terparkir di gudang rahasia.
Eizen masuk ke dalam sebuah bangsal, terdapat seorang wanita cantik berambut panjang dengan raut wajah pucat terikat di ranjang. Infus yang tergantung dan mengalir ke lengannya, tubuhnya kurus mengenakan seragam pasien rumah sakit. Terbaring tak berdaya, dengan bekas cakaran di tangan, lehernya.
Eizen berdiri di pinggir ranjang, membelai kepala wanita itu lalu mencium keningnya.
“Ayaka…bertahanlah, ini semua demi kebaikanmu. Ku mohon sembuhlah, aku menunggumu disini. Ku mohon jangan tinggalkan aku” kata Eizen lirih dengan air mata menggenang di kantung matanya bagian bawah.
Di ranjang bagian depan nampak daftar nama pasien “AYAKA TAKAHASHI” berusia 21 tahun.
Eizen menemui seorang dokter bagian kejiwaan, dimana dia menangani pasien yang bernama Ayaka.
“Dokter kenapa dia mengamuk lagi dan mencoba menyakiti dirinya sendiri?”.
“Hal ini akan terjadi apabila dia mengingat sesuatu yang membuatnya terluka dan tak bisa memaafkan dirinya sendiri”.
“Ku mohon gunakan cara apapun untuk menolongnya”.
“Kami sedang berusaha untuk membantu kesembuhannya”.
“Apa yang harus aku lakukan untuknya, aku tidak sanggup melihat kondisinya terus memburuk”.
“Tenanglah, kami akan berusaha untuk memulihkan mentalnya. Dia membutuhkan orang – orang yang dia sayangi untuk terus berada disisinya dan mendukungnya”.
“Aku akan sering berkunjung”.
“Terimakasih kalau anda bisa meluangkan waktu lebih sering menemaninya. Kalau bisa ajak orang yang bernama Kazuo berkunjung. Karena dia terus menyebut namanya saat ingatannya pulih, seakan dia merindukan orang tersebut. Dia akan terus menangis dan meronta – ronta ingin bertemu Kazuo”.
“Dia tidak akan pernah datang untuk berkunjung dokter”.
“Kenapa?”.
Eizen hanya diam tak menjawab pertanyaan dokter tersebut. Eizen keluar dari rumah sakit dengan wajah yang sangat kesal dan marah, kemudian dia menginjak pedal gas motornya melaju sangat kencang menghempas angin yang menghalanginya.
Seakan ada kemarahan yang membuat dadanya mendidih, nama Kazuo yang begitu dia benci kembali terucap. Dia hentikannya motornya di sebuah pinggir pantai, dibantingnya helm yang dia kenakan ke bawah pasir.
Lalu dia berlari dan berteriak “Kenapa harus dia dan dia!!! Aku yang selalu berada disisimu!!! Ku mohon Ayaka, kembalilah kepadaku …. Aku sangat menderita, cinta ini mencekikku hingga aku tak bisa mengendalikannya!!!”.
Dia mulai berjalan ke tengah laut, terdiam menatap langit oranye yang menggantikan teriknya siang menjadi senja penuh kepiluan. Hantaman ombak yang terus menderu menabrak batu karang seakan seperti dirinya yang kini berjuang melawannya kerasnya hati Ayaka.
Eizen terduduk di tepi pantai dengan memeluk tubuhnya, menatap langit yang menjadi gelap karena malam telah menggeser senja. Dalam diam dia mengingat kepahitan cintanya yang ditepis oleh Ayaka.
Flash On
Eizen menemui Ayaka di sirkuit bapalan sepeda motor, nampak Ayaka mengenakan baju balap dengan riang turun dari motor yang dikendarainya.
“Hoi…Eizen senpai!!!” teriak Ayaka kepada Eizen.
Eizen melambaikan tangan lantas mereka duduk di bangku penonton menghadap ke area sirkuit.
“Ayaka… kenapa kamu seriang ini, apakah kamu akan mulai bertanding resmi?” tanya Eizen sembari menyibak rambutnya yang terurai menutupi dadanya, dan merapikannya ke belakang punggungnya.
“Entahlah, tapi akhir – akhir ini aku sangat bersemangat untuk terus berlatih dan meningkatkan speedku” jawab Ayaka.
“Wah sang calon rising star sudah siap tempur nih” sindir Eizen.
“HEHEHEHE…Kapan kamu bertanding lagi, oh ya sang ketua tak mungkin bertanding karena memberikan kesempatan pada junior untuk menjadi bintang” kata Ayaka.
“Kalau aku bertanding, apakah kamu akan datang?” tanya Eizen memancing.
“Tentu, aku akan mensupportmu di garis depan penonton dan meneriakkan namamu dengan lantang” jawab Ayaka sambil tersenyum.
“Kalau begitu aku akan bertanding dan apabila aku menang maka berpacaranlah denganku” Eizen mulai membuat sebuah pengakuan yang ditanggapi ragu oleh Ayaka.
“Hmmm… senpai, kita tidak mungkin kembali bersama. Bukan karena aku tak memaafkanmu, tapi sudah ada pria lain yang aku sukai saat ini. Maafkan aku” kata Ayaka seraya menggenggam tangan Eizen untuk menenangkan.
“Siapa dia yang mencurimu dariku?” tanya Eizen dengan wajah kecewa.
“Dia adalah seorang mahasiswa jurusan kedokteran, dia baik dan hangat. Mungkin nanti akan ku kenalkan kepadamu kalau kami resmi berpacaran. Saat ini, aku sedang mengejarnya. Banyak gadis yang menyukainya, maka aku harus berjuang dengan sekuat tenaga untuk mengejarnya. Sainganku terlalu banyak. Namanya adalah Kazuo Hasegawa” jelas Ayaka dengan wajah merah merona.
Eizen menatap Ayaka dengan tatapan kecewa, dia menyimpan luka ke dalam hatinya. Meski demikian Eizen berusaha tersenyum dan membelai rambut Ayaka dengan lembut.
Flash Off
Semenjak saat itu, nama Kazuo seakan menjadi batu besar yang menghalangi langkah Eizen untuk kembali bersatu dengan Ayaka wanita yang dia cintai. Nama yang membuat seluruh hidup wanita yang paling dia cintai itu runtuh dan berantakan.
Kebencian yang dirasakannya hingga saat ini, terlebih melihat kondisi Ayaka dengan penyakit mental yang memburuk masih saja menyebut nama Kazuo. Ini menambah luka bagi Eizen serta rasa benci yang menyesakkan dalam dadanya.
...XXXXXXXXXX...
... ...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 46 Episodes
Comments