Setelah malam yang panjang di rasakan oleh Hikaru dalam berlatih untuk menaikkan level kecepatan dalam berkendara, Hikaru memutuskan menikmati siangnya membeli sebuah minuman kaleng ke mini market terdekat untuk dapat dinikmatinya.
Setibanya Hikaru di mini market, nampak seorang gadis berseragam SMA sedang duduk memakan es krim di depan mini market. “Bukankah ini jam sekolah?” gumamnya dalam hati seraya berlalu dan masuk ke dalam mini market.
Hikaru langsung menuju chiller yang memajang aneka minuman, dia memilah – milah minuman mana yang akan dia ambil. Tiba – tiba gadis berseragam SMA itu mengambil sebuah minum bersoda disampingnya. “Hai berkaos abu – abu, belikan aku satu minuman ini ya” mintanya langsung berjalan ke kasir.
Hikaru nampak bingung dengan sikap gadis itu, “Kenapa dia seenaknya meminta dibayarkan minuman terhadap orang asing? Apakah ini culture baru di Tokyo?” keluhnya lirih sembari mengambil beberapa minuman yang ada dalam chiller.
Dikasir gadis itu sudah menunggunya, Hikaru menatap gadis berseragam SMA itu dalam diam. Tanpa perdebatan atau pertanyaan AIUEO…Hikaru membayarkan minuman kaleng milik gadis itu. Setelah di bayar, gadis itu langsung meminumnya di depannya.
“Terimakasih ya” katanya sembari berlalu meninggalkan Hikaru. Hikaru hanya menganggukkan kepala.
Beberapa hari selanjutnya, setelah Hikaru mengalami cedera di bagian kakinya dia memutuskan rehat sejenak dalam berlatih. Dia memutuskan dengan berjalan terseok – seok membeli roti ke mini market yang sama dimana dekat dengan bengkel milik pamannya.
Dia mendapati gadis berseragam SMA itu lagi, sedang duduk di depan mini market sambil memakan es krim. Hikaru mengacuhkan gadis itu, dia berjalan memasuki mini market dan memilih roti yang dia inginkan. Namun seperti yang sebelumnya dia mendapati gadis itu mengambil roti di sampingnya. “Hai berkaos biru, belikan aku roti ini ya” katanya dengan wajah datar.
Hikaru terdiam dan tak menggubris sikap gadis itu kepadanya. Sesampai di kasir dia pun membayarkan roti yang diambil gadis itu tanpa kata – kata.
“Siapa namamu?” tanya gadis berseragam SMA itu.
“Hikaru” jawab Hikaru singkat.
“Aku Fumi, terimakasih atas rotinya” kata Fumi datar.
Tapi gadis itu tidak meninggalkan Hikaru seperti sebelumnya, dia malah berjalan sambil memakan roti di belakang Hikaru. Kemudian Hikaru menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang ke arah Fumi.
“Kenapa kamu mengikutiku?” tanya Hikaru heran.
“Aku hanya ingin memastikan kamu tidak terjatuh dengan kakimu yang terluka itu” jawab Fumi.
“Tidak perlu, pergilah” kata Hikaru.
“Baiklah, jaga dirimu baik – baik” sahut Fumi sambil tersenyum kepada Hikaru.
Hikaru melihat punggung gadis itu menjauh darinya. “Dia aneh” kata Hikaru.
Seminggu setelahnya mereka kembali bertemu di mini market yang sama.
Hikaru mengendarai motor cross, parkir d depan mini market dan turun dari motor. Kini setelah menguasai teknik dan speed motor sport dia mulai belajar dengan motor cross.
Hikaru melihat Fumi duduk di depan mini market sambil memakan es krim.
“Hei Hikaru!!!” teriak Fumi menyapa Hikaru yang baru turun dari motor.
Fumi menghampiri Hikaru, “Bagaimana kondisi kakimu?” tanya Fumi.
“Kaki sudah pulih” jawab Hikaru singkat.
“Kalau begitu traktir aku makan ramen untuk merayakan kesembuhanmu” kata Fumi sambil mengaitkan lengannya ke lengan Hikaru.
“Kenapa harus aku melakukannya?” tanya Hikaru tak mengerti.
“Karena kamu orang baik, ayo bonceng aku. Akan ku tunjukkan kedai mie ramen yang super enak di sekitar sini” kata Fumi sambil tersenyum manja.
Hikaru merasa tak kuasa menolak Fumi dengan mata kucing yang penuh pengharapan itu.
Pergilah mereka ke sebuah kedai sekitar 1 km dari mini market itu.
Kedai kecil yang cukup ramai, dengan sebuah papan tertulis “JUTSU RAMEN”.
Hikaru dan Fumi duduk di pojokan ujung kedai. Mereka memesan 2 porsi ramen jumbo.
“Kamu yakin bisa memakannya?” tanya Hikaru.
“Tenanglah, aku ahli dalam mengunyah dan menelan” jawab Fumi sambil tersenyum.
Sembari menunggu pesanan, Fumi mengeluarkan ponselnya untuk main games.
“Kamu selalu bolos sekolah ya?” tembak Hikaru.
“Siapa bilang, itu hanya asumsimu saja” elak Fumi.
“Ini kan jam sekolah tapi kamu malah berkeliaran disini” tambah Hikaru.
“Aku tidak sekolah dengan jam sekolah yang terlalu ketat, selama aku bisa menyelesaikan tugas dari guru maka sebagai kompensasi aku bisa pulang sesukaku” kata Fumi.
“Mana ada sekolah seperti itu” Hikaru tak percaya.
“Ada, nyatanya kamu bisa melihatku sekarang” tambah Fumi.
Mereka pun mulai makan ramen jumbo yang ada di hadapan mereka.
“Hua….kenyang sekali, ini enak…aku suka sekali super pedas” kata Fumi yang telah melahap seisi ramen yang ada di mangkuk di depannya.
“Perutku pasti bakalan sakit kalau begini, ini pedas sekali” keluh Hikaru.
Fumi tersenyum melihat tingkah Hikaru yang kepedasan.
“Hikaru, terimakasih telah mentraktirku hari ini. Berikan kupon ini kepada kasir, kamu akan mendapat potongan 50%” kata Fumi menyodorkan kupon diskon.
Hikaru pun menurutinya dan berjalan menuju kasir. Seselesainya makan dan membayar, Fumi mengulurkan tangannya kepada Hikaru membuat Hikaru bingung.
Fumi langsung menyambar tangan Hikaru untuk bersalaman sambil berkata “Hari ini, kita resmi menjadi teman ya”.
Hikaru tersenyum menatap Fumi yang nampak polos itu.
“Gadis kecil, belajarlah dengan baik. Jangan suka bolong, aku bisa membantumu belajar kalau kamu mau” kata Hikaru.
“Aku sudah sangat pintar untuk diajari, tenanglah. HEHEHEHE…” sahut Fumi dengan sangat percaya diri.
Mereka pun saling bertukar nomor telepon.
“Aku akan mengirimi pesan, jangan lupa di balas!!!” kata Fumi sudah berlari meninggalkan Hikaru.
“Baiklah!!!” sahut Hikaru sambil tersenyum menatap kepergian Fumi.
...XXXXXXXXXXX...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 46 Episodes
Comments