Setelah kecelakaan itu, Usaku di operasi selama kurang lebih 9 jam untuk dapat menyelamatkan nyawanya. Lukanya cukup parah sehingga terjadi kepanikan para anggota Street Fighter. Hikaru meminta kasus ini diinvestigasi internal, beberapa tim inti mengevakuasi motor yang hancur itu dan menyelidiki trouble dalam motor tersebut.
Hikaru dan beberapa tim inti anggota geng motor Street Fighter berjaga di depan ruang operasi dengan sangat cemas.
“Tenangkan dirimu, Hikaru. Kita harus yakin kalau Usaku bisa diselamatkan” kata Kenta sembari menepuk pundak temannya itu.
“Aku tak tahu bakal seperti ini, saat pertama kami berkendara baik – baik saja. Namun putaran kedua kecelakaan itu terjadi, mungkinkah karena motor kami tertukar. Harusnya aku yang mengalaminya” aku Hikaru.
“Jangan pikirkan hal aneh – aneh seperti itu, berpikirlah logis kalau memang kecelakaan bisa terjadi kepada siapapun. Usaku memang waktu itu tidak beruntung saja, kita sedang menyelidiki apakah ada yang salah dengan motor yang dikendarainya. Supir bus pun menjelaskan, dia sengaja membanting stang untuk menghindari bus tersebut. Itu sudah pilihan dia, demi tidak ada korban jiwa lainnya” jelas Kenta.
Suasana menjadi menegang setelah perkataan Kenta. Akhirnya operasi berjalan lancar meski tangan kanannya cidera cukup parah serta kedua pergelangan kakinya yang terbentur pinggiran trotoar beton pun mengalami keretakan tulang.
Usaku yang terbaring di ranjang rumah sakit, masih belum sadarkan diri. Secara bergantian para senior geng motor Street Fighter menunggu Usaku di rumah sakit. Disamping itu, organisasi Street Fighter sedang berdiskusi mengenai kekosongan posisi ketua.
Usaku sadar setelah tiga hari terbaring tak sadarkan diri setelah operasi, Hikaru dan paman Kin senang mendengarnya. Mereka pun berkunjung menemui Usaku yang sudah bisa diajak berkomunikasi.
“Aku tak bisa menggerakkan kakiku, tanganku juga tak berguna. Hmmm… sepertinya sudah waktunya aku lengser” kata Usaku yang terduduk di ranjang dengan tangan kanan di balut perban serta kedua kakinya.
“Kamu masih dapat pulih, sudahlah jangan bahas hal itu. Sekarang adalah waktunya kamu beristirahat dan memulihkan tubuhmu seutuhnya” kata paman Kin.
“Maaf kan aku, mungkin kalau kita tidak bertukar motor…” kata Hikaru terpotong.
“Anak bodoh, jangan menyalahkan diri dengan kemalangan orang lain. Ini sudah menjadi nasibku, waktu itu saat tikungan tajam aku tak bisa mengendalikan rem. Entah kenapa remnya tak berfungsi” ujar Usaku sembari mengingat kejadian waktu itu.
“Apa,,,remnya tak berfungsi? Sebelumnya saat aku mengendarainya semua normal. Apakah ada yang mensabotase di perbaikan sebelum putaran kedua?” Hikaru mulai berasumsi.
“Sebaiknya kita tunggu hasil dari penyelidikan, kalau memang benar adanya maka ada anggota Street Fighter yang sengaja melakukannya” kata paman Kin.
“Kekosongan posisi ketua akan mengakibatkan kericuhan di kelompok kita, harus segara diadakan pemilihan ketua baru. Aku akan vakum cukup lama, tak mungkin menunggu kesembuhanku. Aku sudah bersyukur tak mati…AHHAHAAHAHAA” Usaku mencoba mencairkan suasana.
“Hmmm… tentunya para anggota senior akan bertindak secepatnya” sahut paman Kin.
“Bersiaplah Hikaru, mungkin kamu akan menjadi ketua selanjutnya. Ini sudah ku prediksikan melihat kemampuanmu di setiap kompetisi, kepopularanmu akan meningkatkan nama kelompok kita” kata Usaku menatap ke arah Hikaru penuh pengharapan.
“Aku…tapi aku masih sangat baru di dunia geng motor, aku masih perlu banyak belajar mengelola organisasi ini. Aku tidak mungkin…” kata Hikaru terpotong oleh paman Kin.
“Ini kesempatanmu nak, ingatlah misimu. Dengan adanya dirimu menjadi ketua, kamu bisa berhadapan langsung dengan Eizen. Kita harus mulai bergerak untuk mencari celah mengalahkan Eizen dan membuka kasus kakakmu yang sudah lama terkubur” jelas paman Kin.
“Benar… aku pun berpendapat yang sama” tambah Usaku.
Hikaru terdiam sembari memikirkan matang – matang mengenai posisi ketua yang akan disandangnya. Dalam lubuk hatinya terdalam kasus kakaknya memang lebih penting dari segalanya, namun kesiapan mentalnya untuk memimpin masih belum cukup.
……………..
Itsuki menjemput Fumi di depan gerbang sekolahnya, dia melambaikan tangan mengarah ke Fumi yang sedang berjalan keluar dari gerbang sekolah.
“Kenapa menjemputku?” tanya Fumi heran.
“Aku sedang senggang jadi aku menjemputmu, naiklah” kata Itsuki.
Keduanya masuk ke dalam mobil sport berwarna merah milik Itsuki.
“Bagaimana dengan pelajaranmu hari ini?” tanya Itsuki memulai pembicaraan.
“Ya seperti biasa tidak ada yang special” jawab Fumi.
“Lantas mau kemana kita, apakah kamu lapar?” tanya Itsuki.
“Hmmm… terserah kamu saja, aku tidak lapar” aku Fumi.
“Bagaimana kalau kita kerumahku, aku akan memasakkan makan siang untukmu” ajak Itsuki.
“Ya boleh saja” jawab Fumi singkat.
Sebuah rumah besar dengan gaya modern minimalis, furniture yang tertata sangat rapi dan simple. Seorang kepala pelayan menyambut keduanya di depan pintu. Dia mengambil sepatu keduanya untuk di masukkan ke dalam rak sepatu.
Seorang assistant rumah tangga menyambut Itsuki dan memakaikannya celemek merah. Itsuki memulai memotong sayuran dan aneka bahan yang telah disiapkan oleh assistantnya. Beberapa makanan ala Italia terhidang dengan begitu lezat.
“Sepertinya enak” puji Fumi yang sudah duduk di depan meja makan.
“Aku belajar memasak karenamu” aku Itsuki.
“Benarkah? Kenapa?” tanya Fumi penasaran.
“Aku ingin membuatmu terpukau akan kemampuanku, aku ingin memberikan yang terbaik untuk gadis yang aku cintai” jelas Itsuki.
“Itsuki…sebenarnya aku” kata Fumi terpotong.
“Ayo kita makan, nanti makanannya keburu dingin karena kita malah asyik mengobrol” kata Itsuki.
“Aku harus mengatakan ini, aku tidak mau beban perasaan telah menipumu menenggelamkanku lebih dalam. Aku menyayangimu seperti kakakku sendiri, kamu sangat baik terhadapku. Namun entah kenapa rasa cinta selayaknya pria dan wanita itu tak pernah tumbuh. Maafkan aku” kata Fumi dengan wajah penuhr asa bersalah.
Itsuki tersenyum getir sembari menyuap makanan yang ada di sendok yang di pegangnya.
“Makanan ini enak, cobalah pasti kamu suka” kata Itsuki mengalihkan pembicaraan sembari menahan rasa kecewanya.
“Katakan sesuatu, marahlah atau maki aku … itu akan membuatku lebih baik” minta Fumi.
“Selama kamu disisiku, itu lebih dari cukup” kata Itsuki.
Setelah mengantarkan pulang Fumi, Itsuki menghampiri Eizen di markas The Road Knight.
“Apakah kamu sudah mengatasi serangga itu?” tanya Itsuki.
“Sepertinya aku gagal, karena ada serangga lain yang terkena imbas racun yang aku semprotkan. Tapi aku pastikan dia tak akan mengganggumu, karena dia akan sibuk mengurus koloninya” jawab Eizen.
“Aku pegang kata – katamu, bahwa serangga itu tak akan lagi menggangguku” kata Itsuki mempertegas perkataannya.
Eizen pun tersenyum kepada Itsuki memastikan bahwa apa yang dia katakan bisa dipercaya.
……………………….
Pertemuan geng motor Street Fighter di gelar dimana diagendakan untuk pemilihan dan pengangkatan ketua baru. Para senior anggota geng motor Street Fighter mencalonkan Hikaru menjadi salah satu kandidat. Voting pun dimulai, Kenta dengan suka rela memilih Hikaru sahabatnya.
Dengan banyaknya suara yang terkumpul dari tiga kandidat yang sudah di calonkan, nama Hikaru mendapat suara paling banyak. Sorak sorai para pendukung Hikaru menyerukan namanya “HIKARU…HIKARU…HIKARU!!!”. Kemudian Hikaru berdiri di tengah – tengah para anggota, dia pun di lantik oleh salah seorang anggota yang paling diseniorkan dan dihormati.
Pelantikan itu berakhir dengan dengan haru, Hikaru dengan tenang menanggalkan jaket keanggotaannya kemudian mengenakan jaket khas para ketua geng motor. Dia sadar saat dia menerima itu semua, petarungan baru dimulai.
“Eizen aku akan menyeretmu kepengadilan, kamu perlu diadili dengan segala perbuatanmu” kata Hikaru dalam hati memantapkan tekatnya.
...XXXXXXXXXXXXX...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 46 Episodes
Comments