Flash On
Eizen duduk memangku satu kakinya ke atas kakinya yang lain di sebuah sofa mid – century berwarna abu – abu dengan bantalan berwarna merah, terletak di sudut kamar Fumi dimana menghadap ranjang yang berseprai berwarna merah. Fumi duduk di pinggiran ranjang menghadap kakaknya.
“Aku sudah memutuskan untuk menjalin hubungan kerjasama dengan Itsuki lebih dari sebatas bisnis, namun menjadi keluarga. Seminggu lagi akan ada pertunangan yang digelar yakni antara kamu dan Itsuki”.
“Kenapa kakak tidak berdiskusi terlebih dahulu denganku, usiaku sangat terlalu muda untuk bertunangan dengan pria berusia 24 tahun. Aku saja masih duduk di tahun kedua SMA. Apakah kakak sadar, ini sangat egois?”.
“Aku tak butuh persetujuan darimu yang jelas pertunangan itu harus terjadi. The Road Knight harus tetap berjaya, kamu pun pasti tahu kelompok geng motor ini bukan sekedar hobby tapi bisnis bawah tanah yang harus kita pertahankan”.
“Aku tak percaya kakak menggadaikanku hanya untuk sebuah ambisi kakak sendiri. Aku berpikir dengan tidak adanya ibu dan ayah, kakak akan menjagaku dengan baik”.
“Diam… siapa yang membesarkanmu? Pamanmu yang hanya memberi uang bulanan dan berfoya – foya dengan uang warisan orang tua kita. Aku yang selalu ada disisimu… Fumi! Ingatlah itu. Ini semua demi kebaikanmu, Itsuki adalah pria yang baik. Dia menyukaimu sejak pertama bertemu denganmu”.
“Kalau dia menyukaiku, dia tidak akan menerima pertunangan ini karena dia tahu masa depanku masih panjang. Aku berhak untuk bersuara untuk menolak”.
“Jangan bodoh, menolak adalah langkahmu untuk keluar dari keluarga kita. Aku akan membuangmu”.
“Apa…membuangku? Aku adik kandungmu kak, aku sungguh tak percaya kamu setega itu kepadaku”.
Setelah berdebat beberapa waktu, Fumi pun akhirnya mengenakan gaun berwarna putih gading yang terbuka dengan jaket kulit berwarna hitam dengan logo kebesaran The Road Knight. Sebuah hiasan bunga terpasang di atas kepalanya, rambutnya tergerai indah. Sepatu boots berwarna hitam membalut kaki putihnya.
Dia berdiri di balkon tepat di depan kamarnya, menatap ke bawah dimana para tamu undangan telah hadir. Wajahnya sangat sedih, dia melihat Itsuki tersenyum menyambut para tamu. Mengenakan kemeja putih gading polos dengan bawahan hitam serta jaket kulit sama yang dikenakan Fumi.
TAP
TAP
TAP
“CEKLEK!” suara gagang pintu terbuka.
“Fumi turunlah, semua sudah siap” kata Eizen yang sudah memakai baju resmi. Fumi masih terdiam di balkon menatap ke bawah. Eizin buru – buru menghampiri Fumi dan menarik kasar tangan adiknya itu.
“Tidak usah menjadi manja hanya karena sebuah pertunangan, hidup kita sudah cukup drama sejak kepergian kedua orang tua kita. Tersenyumlah, tunjukkan kebahagiaanmu untuk penghormatan kepada keluarga Itsuki” minta Eizen dengan menyeret adiknya berjalan menuruni tangga.
Fumi hanya diam tak mengatakan sepatah katapun…
Setibanya di serambi bawah, dengan suasana pesta kebun yang sederhana di hadiri beberapa tamu undangan nampak meriah. Itsuki memasangkan sebuah cincin perak dengan hiasan batu rubi berwarna merah di jari manis Fumi. Kemudian Fumi pun menyematkan cincin perak di jari manis Itsuki. Setelah keduanya bertukar cincin, akhirnya mereka saling menatap satu sama lain.
Fumi memaksakan dirinya untuk tersenyum dan mencoba sebisanya untuk tak terlihat terpaksa atas pertunangan yang di gelar itu. Itsuki mengakhirinya dengan mencium bibir Fumi dengan lembut, hiruk pikuk para tamu undangan pun terdengar mengiringinya.
Setelah acara berakhir, Fumi bergegas masuk ke dalam kamar. Di depan cermin dia melepaskan mahkota bunga yang terpasang di atas kepalanya, lalu sepatunya dan kemudian di lemparkannya jaket berlogo The Road Knight ke sudut lantai.
Tiba – tiba Itsuki masuk ke dalam kamar dan menghampiri gadis remaja yang sudah menjadi tunangannya itu. Nampak punggung dengan gaun putih gading yang terbuka membalut tubuh putihnya.
Fumi berdiri di depan cermin, nampak Itsuki berjalan menghampirinya. Itsuki langsung memeluknya dari belakang, menyandarkan dagunya ke bahu kanan Fumi.
“Apakah kamu merasa lelah dengan acara tadi, aku merasa kamu tidak senang dengan pesta pertunangan kita” kata Itsuki.
“Mungkin, aku tidak terbiasa dengan acara seperti ini. Maaf kalau aku tidak exciting dengan adanya pesta pertunangan ini” kata Fumi datar.
Kemudian Itsuki menyibak rambut panjang Fumi yang menutupi jenjang lehernya. Kemudian Itsuki dengan lembut menciumi leher Fumi hingga ke bahu serta mempererat pelukannya. Fumi menatap dingin apa yang dilakukan Itsuki kepadanya melalui pantulan cermin. Akhirya dia melepaskan tangan Itsuki dari tubuhnya, lalu menghadap ke arah pria yang telah menjadi tunangannya.
“Maaf… aku dalam keadaan yang tidak mood untuk itu, bisakah kita akhiri ini. Aku benar – benar lelah dan ingin membaringkan tubuhku” kata Fumi dengan sopan.
“Baiklah, kamu memang butuh istirahat. Kalau begitu aku keluar dulu, minggu depan kita makan bersama yuuuk aku ada rekomendasi restoran bagus di pusat kota Tokyo” kata Itsuki sambil tersenyum.
“Baiklah, kita makan malam setelah aku pulang sekolah” tambah Fumi.
Itsuki memeluk Fumi sekali lagi dan meninggalkannya di kamar sendirian. Fumi hanya berdiri menatap pintu kamarnya dengan dingin.
Flash Back
Pertandingan dimulai, setiap tim mulai bertanding untuk babak penyisihan. Di bangku depan para petinggi masing – masing kelompok geng motor menyimak pertandingan. Aula yang cukup besar melingkar seperti stadion dengan ring tinju yang berada di tengah untuk stage pertarungan. Fumi datang bersama Itsuki untuk menonton pertandingan di baris depan.
Nampak di seberang ada Hikaru dan tim sedang menunggu giliran bertarung, mereka saling beradu pandang satu sama lain. Hikaru cemburu dan benci menatap Fumi bersanding dengan pria lain. Tapi tekatnya sudah bulat untuk fokus pada misinya. Dimana dia sudah berada dekat dengan sang pembunuh kakaknya…dimana tersangka utama adalah Eizen.
Usaku menghampiri para anggotanya yang sudah mempersiapkan diri.
“Kalian adalah yang terbaik dari tim kita, maka aku percayakan semuanya kepada kalian. Ingat!!! nyawa kalian adalah yang paling utama, aku tidak mau kalian menang dengan mempertaruhkan nyawa. Keluarga kalian menunggu kalian pulang ke rumah, kemenangan bukanlah segalanya”.
“SIAP!!!” teriak Hikaru, Kenta dan Yanze bersamaan.
Disisi lain Eizen pun memberikan semangat kepada petarung – petarung handal yang dimilikinya.
“Lakukan segala cara untuk menang, The Road Knight tak ingin menelan kekalahan lagi setelah bapalan sebelumnya kita kalah. Pastikan performa kalian yang paling terbaik, ingatlah setiap kucuran bonus dan kebanggan bagi tim kita ada pada kalian. KALAHKAN MEREKA SEMUA!!!” Katanya penuh semangat berkobar – kobar.
“SIAP!!!” teriak anggota The Road Knight.
Fumi yang duduk di kursi penonton hanya bisa mengamati Hikaru dari jauh. Itsuki tak sadar kalau tunangannya menatap pria lain. Dia menggenggam tangan tunangannya itu sambil berkata “Kita pasti menang, tenanglah”. Fumi menatap Itsuki dan tersenyum meski bukan itu yang diharapkannya.
“Hikaru…aku yakin kamu akan menang, berjuanglah. Maafkan aku atas apa yang aku lakukan kepadamu. Pertemuan kita tak akan aku sesali, ku mohon percayalah akan perasaanku yang tulus kepadamu” kata Fumi dalam hati.
...XXXXXXXXXXXXXXX...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 46 Episodes
Comments