Setelah kejadian Chris mencium Aby, sikap mereka menjadi canggung. Bahkan Chris yang terkenal dengan kebrengsekannya terhadap wanita bingung harus berbuat apa ketika berhadapan dengan Aby.
"Hanya itu barangmu?" Tanya Chris sembari menggaruk tengkuknya yang sebenarnya tidak terasa gatal.
Aby tersenyum, dalam hati ia merasa senang. Lucu sekali melihat Chris yang terkenal kejam malu-malu kucing seperti sekarang. Bahkan daritadi Chris tidak berani untuk bersitatap dengan matanya. Chris selalu mengalihkan pandangannya entah kemana, yang terpenting tidak bertatapan dengan Aby. Mungkin penilaian Aby terhadap Chris salah. Sepertinya Chris bukan laki-laki bajingan seperti yang ia pikirkan dulu. Buktinya hanya dengan berciuman saja Chris menjadi pemalu. Seperti laki-laki yang tidak pernah mencium wanita. Dan Aby merasa Chris tidak sedang bersandiwara.
"Iya, hanya itu." Jawab Aby yang berniat akan mengangkat box berisi barang-barangnya. Namun dengan cepat Chris mengambil alih box itu.
"Jangan menganggap bahwa aku tidak ada disini," ujar Chris sembari berjalan keluar apartemen mendahului Aby.
Aby hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya. Tapi tanpa bisa dicegah, Aby tersenyum melihat perhatian kecil dari Chris.
Setelah menempuh perjalanan selama satu jam, Chris dan Aby sudah tiba di rumah Charlotte. Aby ternyata sudah tertidur nyenyak di jok penumpang. Chris menatap wajah damai Aby yang tertidur.
'Cantik.' ucap Chris membatin. Namun ketika ia hendak merapikan rambut Aby yang menutupi wajahnya, tiba-tiba Aby menggeliat. Mengerjapkan matanya perlahan.
"Kita sudah sampai?" Tanya Aby dengan suara serak, khas orang bangun tidur.
"Iya, ayo turun," jawab Chris yang keluar lebih dulu dari mobil. Lalu ia mengambil barang bawaan Aby dari bagasi mobil.
"Wahh, ternyata pelanggan dan pekerjaku sangat akrab ya? Apakah kau menyukai barang baruku Chris?" Charlotte tiba-tiba saja keluar dari rumah, dan menyaksikan Aby yang keluar dari mobil Chris.
"Aby, kau jangan percaya dengan rayuannya. Dia adalah laki-laki paling buaya yang aku kenal. Kau harus mempersiapkan seribu hati jika ingin dekat dengan Chris. Dan nyawamu harus banyak, karena para wanita pemuja Christoper pasti tidak akan diam saja jika tahu kau dan Chris dekat," ucap Charlotte panjang lebar. Berniat untuk meminta agar Aby mundur saja. Meski nada bicaranya seperti candaan, tapi kenyataannya juga seperti itu.
"Diamlah Charlotte! Harusnya kau senang aku bisa dekat dengan Aby, jadi aku akan membayarmu secara rutin! Bukan justru mengambing hitamkan aku seperti ini!" Chris memasuki rumah Charlotte dengan santai. Tak lupa membawa box milik Aby.
Charlotte berjalan cepat menghampiri Aby yang masih berdiri di samping mobil Chris. "Apakah kau benar-benar dekat dengan Chris?" Tanya Charlotte penasaran.
"Hanya sebatas pelanggan dan penjual, itu saja." Jawab Aby jujur. Karena menurut Aby memang seperti itu adanya.
Charlotte mengetukkan jari telunjuk ke dagunya, seraya menatap Aby penuh selidik, "benarkah? Tapi aku seperti mencium bau-bau kasmaran dari kalian berdua."
Aby menghela napasnya, "bukankah kau pernah bilang, tidak mungkin pelangganmu akan mencari belahan hatinya kepada mucikari sepertimu? Dan kau lupa aku ini siapa?" Tanya Aby mengingatkan ucapan Chatlotte tempo hari. Yang sebenarnya membuat hatinya juga terasa sakit. Memang kenapa jika pelanggan Charlotte ingin menjadi pasangan hidupnya? Apakah itu suatu yang hina? Tapi kembali lagi, ia sadar diri. Siapalah dirinya yang boleh berharap tinggi.
"Sudah ku bilang diam Charlotte! Kau membuatku semakin sulit untuk mendapatkannya!" Sergah Chris yang tiba-tiba datang menghampiri kedua wanita itu.
"Baiklah, tapi kau harus ingat, dia adalah milikku." Ucap Charlotte mengingatkan. Tak mungkin bukan Charlotte menyerahkan Aby begitu saja setelah dirinya mengeluarkan banyak uang untuk membayar Aby. Jika perlu, Charlotte akan meraup keuntungan dua kali hingga lima kali lipat dari mempekerjakan Aby.
"Dia bukan barang yang bisa seenaknya kau miliki, Charlotte." Sanggah Chris yang tidak terima wanita yang menarik perhatiannya itu di anggap seperti barang.
"Memang begitu kenyataannya. Dia memang milikku. Aku sudah membelinya dari Kate dengan harga tinggi. Tidak mungkin aku akan menyerahkan dia begitu saja kepadamu," ujar Charlotte.
"Kau tahu aku bisa saja membayarmu sepuluh kali lipat." Ucap Chris sarkastis.
"Sudah sudah! Kalian tak perlu memperebutkanku! Aku akan masuk ke dalam! Dan kau Chris, lebih baik kau pulang, aku sangat lelah." Aby akhirnya memberi respon. Ia sangat lelah menempuh perjalanan satu jam dari apartemennya menuju rumah Charlotte. Sekarang yang ia inginkan hanyalah tidur. Bukan mendengarkan perdebatan antara majikan dan pelanggannya.
"Kau dengar itu Christoper?" ucap Charlotte penuh kemenangan. Sebenarnya bukan niatnya ingin berdebat dengan Chris, hanya saja mendengar dan melihat sepertinya Chris berusaha untuk mendekati Aby ia merasa tidak terima. Ia merasa kasihan terhadap Aby yang masih polos dan baik. Ia tidak ingin Aby berakhir seperti wanita-wanita yang Chris dekati hanya untuk pelampiasan dan kesenangannya sendiri. Terlebih baru kemarin Chris bercerita ada wanita yang berhasil menarik perhatiannya. Tak mungkin ia membiarkan Chris membuat Aby kembali menangis sementara luka lama karena ibunya belum terobati.
"Baiklah, aku akan pergi. Tapi jangan lupa besok malam kau punya janji denganku. Dan aku sudah membayar Charlotte untuk itu." Chris mengingatkan bahwa besok dirinya sudah memesan Aby kepada Charlotte untuk menemaninya.
"Okay," jawab Aby seadanya. Sebenarnya ia senang karena selama menjadi bawahan Charlotte pelanggannya hanya Chris. Bahkan berharap bahwa hanya Chris saja yang akan terus menjadi pelanggannya. Karena hanya Chris yang mau berjanji tidak akan menyentuhnya sampai Aby sendiri yang mau, itu membuat Aby lega. Dan entah kenapa kini jika bersama Chris Aby merasa nyaman dan aman.
Setelah mendapat jawaban dari Aby, akhirnya Chris meninggalkan rumah Charlotte. Meski sebenarnya ia masih ingin berlama-lama dengan Aby. Tapi jika sudah diusir seperti tadi, ia bisa apa?
"Apakah kalian benar-benar tidak memiliki hubungan apapun?" Charlotte kembali mengejar Aby dengan pertanyaan yang sama. Membuat Aby jengah dan ingin sekali marah pada Charlotte. Tidak tahukah bahwa Aby sedang kelelahan dan ingin tidur? Tapi Aby harus bagaimana? Charlotte adalah majikannya. Jika ia berani marah, akan jadi seperti apa dirinya.
"Tanya sendiri pada Chris. Aku pastikan jawaban dia sama dengan jawabanku," jawab Aby malas. Padahal sedari tadi Aby sudah menguap, kenapa Charlotte tidak sadar Aby sudah mengantuk. Dan kenapa tidak membiarkan Aby istirahat.
"Apa kau mengantuk?" Tanya Charlotte yang melihat Aby sedari tadi menguap dan matanya sudah sangat sayu.
"Kenapa kau baru bertanya sekarang? Aku sudah mau pingsan karena kau terus bertanya. Padahal aku sudah sangat mengantuk. Kau tahu sendiri kemarin aku pulang dini hari karena mendapat pelanggan pertama. Lalu pagi sekali aku harus bangun dan berangkat kuliah. Dan selama itu aku hanya tidur tiga jam. Apakah kau tidak kasihan denganku Charlotte?" Aby memasang wajah memelas. Sudah tidak tahu lagi bagaimana caranya agar Charlotte mempersilahkannya masuk kamar dengan mudah. Tanpa harus banyak tanya lagi.
"Oh baiklah. Kenapa pula kau tidak bilang dari tadi, aku pasti tidak akan cerewet kepadamu. Yasudah sana masuk kamar dan tidur. Jika lapar panggil saja Mba Mira, dia akan menyiapkan makanan untukmu." Akhirnya Charlotte pergi meninggalkan Aby.
Aby yang mendapat tanggapan seperti itu merasa sangat lega dan bahagia. Ingin rasanya ia berlari mengejar Charlotte, menciumnya dan mengatakan aku sangat menyayanginya. Tapi sepertinya rasa kantuk yang Aby rasakan lebih besar. Akhirnya Aby memilih untuk masuk ke kamarnya. Lalu tidur setelah membersihkan dirinya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Next.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 25 Episodes
Comments