Aby mengerjapkan matanya, menyesuaikan cahaya yang masuk ke matanya. Di lihat tempat sekelilingnya. Satu kata yang terlintas di benak Aby. Mewah. Ya, kasur yang kini ia tiduri sangat besar, mungkin berukuran king size, kaca-kaca besar yang mengelilingi kamar ini, yang menjadi pembatas antara ruangan ini dengan dunia luar. Dan lihat, interiornya terlihat sangat mahal.
"Kau sudah bangun, sayang." Seorang wanita tiba-tiba ada di hadapan Aby, entah masuk dari mana.
Aby mengernyitkan dahinya. Mencoba mengingat-ingat siapa wanita di hadapannya itu. "You know me?" Tanya Aby penasaran.
"Oh tentu saja sayang," wanita itu duduk di sisi ranjang lalu mengelus rambut Aby.
"Kau Abygail Chloe. Ibumu bernama Kate Nicxel dan Ayahmu bernama Andrew Chloe. Usiamu dua puluh tiga tahun, dan tiga bulan lagi kau berumur dua puluh empat. Sayang sekali Ayahmu pergi meninggalkanmu dan Ibumu. Namaku Charlotte Gudytha, tapi kau bisa memanggilku Madame. Kau memang sangat cantik dan tubuhmu juga proporsional, sangat melebihi ekspetasiku. Terlebih kau juga sangat pintar." Charlotte berdiri dari duduknya, kemudian menghadap Aby dengan menyilangkan tangannya di depan dada.
"Sayang sekali dandananmu sangat kuno. Tapi tenang saja, kau akan ku sulap menjadi wanita sempurna mulai sekarang. Jadi, sepuluh menit lagi ku tunggu kau di bawah. Bersih-bersihlah, kau sangat bau kemiskinan!" Charlotte melenggang untuk keluar kamar Aby.
"Tunggu!" Aby berlari menghentikan langkah Charlotte yang sudah berada di ambang pintu keluar.
"Aku tidak mengerti, mengapa aku bisa ada disini dan kenapa kau tahu identitasku." Disini Aby sangat bingung. Berawal dari dua orang yang menculiknya kemudian dirinya yang terbangun di kamar mewah dan sekarang ucapan Charlotte yang benar-benar tidak Aby mengerti. Kenapa Charlotte peduli dengan penampilannya?
Charlotte kembali menghadap Aby, dan sedikit mundur untuk menjauh dari Aby, "kau sekarang sudah resmi menjadi pekerjaku. Kate telah menjualmu kepadaku dengan harga yang sangat fantastis. Kau harus mendapatkan klien yang banyak. Kau juga akan bekerja denganku seumur hidup, kecuali ada klien yang ingin membelimu dengan harga tinggi. Tapi sepertinya sangat tidak mungkin, karena klienku akan memilih pasangan hidupnya bukan dari mucikari sepertiku. Dan baiklah, sekarang kau harus mandi! Aku ingin muntah mencium bau kemiskinan yang sangat menyengat dari dirimu."
Bagai disambar petir di siang bolong, Aby benar-benar tak percaya. Apa ia tengah mimpi buruk? Sekali, dua kali, hingga tiga kali ia mencoba untuk menampar dirinya sendiri. Dan memang terasa perih pipinya. Tapi lebih perih lagi hatinya. Benarkah ibunya setega itu? Setidak berharga itukah dirinya sampai-sampai ibu kandungnya sendiri menjualnya kepada mucikari? Hanya demi uang?
"Oh tidak tidak, kau tidak boleh menyakiti dirimu sendiri sayang. Tubuhmu harus tetap mulus. Aku tak mau hari pertamamu bekerja tidak mendapatkan hasil apapun." Charlotte menghentikan tangan Aby yang akan menampar pipinya sendiri untuk ke empat kalinya.
Air mata mulai tak bisa Aby bendung. Ia kira, dengan dirinya bekerja banting tulang untuk menghidupi dirinya dan ibunya, itu sudah cukup. Ternyata itu tak berarti apa-apa. Kenapa hidupnya harus seperti ini?
Charlotte tak tega melihat Aby yang menangis tanpa bersuara. Dengan menurunkan egonya, Charlotte merengkuh Aby ke dalam pelukannya. Meski dia hanya seorang mucikari, tapi ia tahu bagaimana perasaan Aby sekarang. Karena dulu, ia pernah merasakannya. Di jual seperti barang dan tidak di anggap sebagai anak oleh orang tuanya. Itulah yang menyebabkan ia menjadi mucikari seperti sekarang. Beruntunglah bosnya dulu merawat dia seperti anaknya sendiri, meskipun ia harus tetap bekerja melayani konsumen dari bosnya. Tapi ia lebih nyaman daripada harus hidup dengan orang tua kandungnya yang tidak pernah menganggap dia ada.
Dalam pelukan Charlotte, Aby menangis. Ia menumpahkan semua rasa sakit, kekecewaan dan kepahitan yang ia telan dari ibunya sendiri.
"Kau akan baik-baik saja, sayang. Disini kau akan hidup enak dan nyaman. Aku berjanji tidak akan mengekangmu. Kau boleh melanjutkan hidupmu. Berkuliah, bersenang-senang dengan temanmu dan berlibur ke rumah kakek nenekmu. Tapi kau harus kembali bekerja setiap hari libur untuk melayani klienku. Semua pelangganku dari kalangan atas, jadi kau tidak perlu khawatir dengan uang yang akan kau dapatkan. Kau tidak perlu bekerja di restoran lagi. Kau tidak perlu tidur di tempat kumuh lagi. Dan kau akan memiliki uang untukmu bersenang-senang dengan teman-temanmu." Begitu menggiurkan. Tapi tetap saja Aby tidak ingin dirinya bergelimang harta dengan mengorbankan harga dirinya.
"Aku tidak mau," tolak Aby lemah. Tapi ia harus terima kenyataan bahwa dirinya telah di jual. Dan mau tidak mau ia harus menjalani itu.
Tangan lentik Charlotte kembali mengelus kepala Aby, "kau akan bahagia. Aku yakin itu. Sekarang mandi dan bersiap-siaplah. Aku akan menunjukkan kegiatanmu ketika waktu senggang saat bekerja bersamaku." Charlotte akhirnya melenggang pergi meninggalkan Aby yang masih di rundung keraguan.
Menjadi pelacur? Bahkan dalam mimpi pun ia tak pernah menjadi itu. Tapi entah kenapa Charlotte membuatnya yakin dan percaya bahwa dirinya akan jauh lebih bahagia bila bersama Charlotte. Apakah begini akhir cerita dirinya? Menjadi seorang anak yang di jual untuk menjadi pelacur oleh ibu kandungnya sendiri?
Aby akhirnya memilih untuk mandi dan bersiap. Untuk kini, ia hanya bisa pasrah dan mengikuti instruksi dari Charlotte. Ia tidak boleh berlarut dalam kesedihan. Percuma juga, nasi sudah menjadi bubur. Terlebih ia tak tahu dimana ibunya kini.
Setelah mandi ia mencari lemari yang biasa untuk menaruh baju. Tapi ia sama sekali tak menemukannya. Haruskah ia keluar dengan jubah mandi ini? Ia sudah membuka setiap pintu di kamarnya, tapi tetap tak menemukannya.
"Kau sudah si--" tanpa mengetuk Charlotte tiba-tiba masuk dan melihat Aby yang masih mengenakan jubah mandi dengan wajah kebingungan.
"Astaga! Kenapa kau belum siap?" Tanya Charlotte menghampiri Aby.
"Aku tak tahu dimana kau meletakkan lemari baju!" jawab Aby polos.
Mendengar itu Charlotte tertawa, "sepertinya Kate benar-benar mengajakmu hidup susah ya?"
Charlotte menuntun Aby untuk masuk kembali ke kamar mandi, dan ada sebuah ruangan di dalamnya. Wow, batin Aby melihat baju-baju, tas, sepatu dan fashion wanita lainnya yang berjajar di dalam ruangan yang Aby tahu namanya walk in closet.
"Kau tak pernah punya ruangan ganti pribadi seperti ini?" tanya Charlotte seraya memilihkan pakaian untuk Aby.
Aby menggelengkan kepalanya, "tidak!" Aby melihat-lihat baju yang tergantung rapi. Sangat indah. Tapi, menurutnya sangat mini dan terbuka.
"Pakai ini saja! Bagaimana?" Charlotte menunjukkan midi dress berwarna navy. Modelnya simpel tapi terkesan manis dan cute.
Tak lupa Charlotte juga memilihkan heals berwarna senada. "Hari ini aku memberimu libur untuk mempercantik diri. Aku tak bisa ikut, tapi Bella, asistenku akan menemanimu. Pilihlah baju-baju sexy, dan jangan lupa untuk ke salon! Nanti malam aku akan kembali lagi untuk mengecek hasilnya. Sekarang aku ada urusan, sampai jumpa nanti malam!" Charlotte meninggalkan Aby untuk bersiap.
Setelah bersiap ia turun ke lantai bawah dan ternyata Bella sudah menunggu. Aby sungguh kagum dengan rumah Charlotte ini, sangat-sangat mewah! Dan lihatlah, Bella juga sangat cantik dan elegan. Berbeda dengan dirinya yang, kampungan. Kini Aby berpikir, apakah ia cocok untuk menjadi pekerja Charlotte?
Kemudian Bella dan Aby akhirnya pergi menuju butik dan salon ternama. Tak lupa Bella menunjukkan daftar list dari Charlotte mengenai apa saja yang harus di lakukan dan di beli oleh Aby. Tanpa bisa menolak, Aby pun mengikuti semua yang di suruh oleh Bella sesuai permintaan Charlotte.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Next.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 25 Episodes
Comments