19 ~ Controversy

"Hey! Bagaimana kabarmu, Sayang?" Tanya Charlotte bercipika-cipiki dengan Feronica yang baru saja tiba di rumah Charlotte.

Feronica membalas juga cipika-cipiki Charlotte, kemudian mereka berpelukan singkat. "Baik. Bagaimana kabarmu?"

"Kau tahu sendiri aku selalu baik." Charlotte dan Feronica tertawa bersama.

Tatapan Charlotte berhenti pada Aby, "apakah anak itu benar-benar serius dengan dia," tanya Charlotte kepada Feronica tentang hubungan Chris dan Aby.

Feronica tersenyum menatap Aby, "sepertinya Chris benar-benar jatuh cinta kepada Aby. Aku bisa melihat dari tatapan dan perilakunya."

Charlotte menghela napasnya, "bukankah dulu dia juga begitu dengan Adeline? Aku takut Chris main-main dengan Aby hanya karena Aby mirip dengan Adeline." Ucap Charlotte tak enak hati. Ia tidak ingin Aby di sakiti oleh Chris. Apalagi terlihat Aby juga begitu mencintai Chris.

"Itu juga yang aku takutkan sebenarnya. Tapi aku harus mempercayai Chris bahwa dia sudah berubah, dan kembali membuka hatinya untuk orang baru," ujar Feronica.

Aby menghampiri kedua orang itu, lalu mencium pipi kiri Charlotte, "sorry I'm late," ucap Aby kemudian langsung masuk ke dalam tanpa menunggu jawaban dari Charlotte.

Charlotte hanya menggelengkan kepalanya, "anak itu, selalu saja seperti itu!" Tapi tak urung bibirnya menyunggingkan senyum. Hatinya menghangat, ia merasa memiliki anak perempuan.

"Sepertinya kau bisa mengangkat dia jadi anakmu," ujar Feronica yang tahu bahwa Charlotte sudah menyayangi Aby layaknya anak sendiri.

"Tidak semudah itu untuk aku mengangkat seorang anak, Fero. Terlebih dia masih memiliki orang tua yang masih hidup." Jawab Charlotte.

Jika saja Aby sebatang kara, mungkin Charlotte akan mempertimbangkan lebih untuk mengangkat Aby menjadi anaknya. Tapi, Aby masih memiliki orang tua. Dan Charlotte tidak ingin ribet untuk masalah pengangkatan anak. Toh sekarang ia sudah bahagia karena Aby menemaninya di rumah ini. Sepertinya dia mengingkari ucapannya sendiri untuk tidak memanjakan Aby. Buktinya ia membiarkan Aby tinggal di rumahnya, berbeda dengan pekerja lain yang tinggal di mes yang ia berikan.

Entahlah, hanya sepertinya ia butuh teman. Padahal di rumahnya sudah banyak asisten rumah tangga tapi rasanya tetap ia membutuhkan teman. Sepertinya kehilangan suaminya mengubah dirinya. Karena sejak suaminya meninggal dunia, ia merasa selalu kesepian meski di keramaian. Apalagi ia tak memiliki keturunan dan enggan untuk menikah lagi.

"Yasudah, ayo masuk. Apa saja yang ingin kau bahas denganku?" Tanya Feronica yang di bantu oleh Charlotte untuk masuk ke rumah dengan kursi roda.

Tiba di ruang keluarga yang biasa ia gunakan untuk membahas masalah pesta dengan Feronica, Charlotte mengeluarkan sebuah buku tebal yang selalu di gunakan untuk mencatat apa saja perihal pesta yang akan diadakan. Ia buka buku itu yang sudah mencapai pertengahan. Ia baru sadar, ternyata umurnya sudah tidak muda lagi. Terbukti dengan banyaknya pesta ulang tahun yang sudah ia gelar setiap tahunnya.

"Ternyata usiaku sudah lima puluh tahun besok lusa," ujar Charlotte tertawa sembari menyiapkan apa yang akan ia tulis.

"Dan wajahmu masih menunjukkan kau berumur dua puluh tahun!" Ledek Feronica yang disambut gelak tawa oleh Charlotte. Yah, Charlotte memang awet muda, tapi tidak seperti anak dua puluh tahun juga!

"Terimakasih atas hinaannya Nyonya Fero," ucap Charlotte bergurau.

Beginilah ketika dua sahabat di pertemukan. Pujian hingga hinaan akan saling terlontar tapi tak pernah di masukkan ke hati. Terkadang tertawa, tak jarang juga menangis bersama karena bercerita tentang pahitnya kehidupan.

"Aku ingin seperti biasa, pesta yang mewah dan dihadiri banyak orang. Haruskah kita membuat pamflet agar semua orang datang?" Ujar Charlotte. Ia tak mau menyia-nyiakan waktu dan uangnya. Karena saat kecil ia tak pernah mendapatkan kemewahan, maka sekarang jika punya uang ia harus melakukan apa yang ingin ia lakukan.

"Itu terlalu berlebihan Charlotte," jawab Feronica menyanggah. Sebenarnya sudah biasa melihat Charlotte yang berlebihan. Karena sejak ia sukses dan mempunyai banyak uang semua dilakukan dengan tidak wajar. Meskipun sudah memaklumi, tetap saja Feronica kadang geleng-geleng kepala jika melihat Charlotte yang aneh-aneh.

"Eum, baiklah kita buat baliho saja!" Ucap Charlotte.

Lihatlah, Feronica geleng-geleng kepala mendengar ucapan Charlotte yang lebih gila lagi. Pamflet? Baliho? Kenapa tidak sekalian dia membuat iklan di tv dan siaran radio? Padahal hanya acara ulang tahun, bisa-bisanya Charlotte seheboh ini.

"Sudah Charlotte! Jangan gila. Lebih baik kau buat undangan saja, lalu undang saja yang kau kenal. Lalu suruh saja mereka mengajak teman atau kerabat mereka. Bukankah itu cukup ramai?" Tanya Feronica mengusulkan. Sepertinya itu lebih baik, daripada harus membuat pamflet atau baliho hanya untuk acara ulang tahun.

"Baiklah. Tapi aku mau mengadakan pesta yang sedikit berbeda dari pesta-pesta sebelumnya. Aku ingin mengadakan pesta topeng untuk tahun ini. Sepertinya akan menarik!" Seru Charlotte. Ia sungguh tidak sabar untuk menggelar pestanya.

"Jika itu terserah kau saja." Ucap Feronica. Feronica hanya bertugas membantu, untuk masalah menentukan pilihan macam apa pestanya itu hak Charlotte.

"Menurutmu bagaimana dengan kue ulang tahun yang tinggi?" Tanya Charlotte meminta saran kepada Feronica.

Lagi-lagi Feronica di buat geleng-geleng kepala dengan ide Charlotte. Sepertinya jiwa Charlotte tertukar dengan gadis remaja yang terlahir dari orang tua kaya raya. "Kau sudah terlalu tua untuk mengadakan pesta ulang tahun yang berlebihan Charlotte! Ayolah ingat berapa umurmu sekarang? Kau bukan anak kecil yang harus mengadakan pesta ulang tahun yang heboh dan meriah."

"No no no! Aku tetap ingin pesta yang meriah!" Begitulah Charlotte. Selalu keras kepala dan berpendirian tegas. Terkadang sikapnya bisa menguntungkan jika berurusan dengan pelanggan. Tapi jika seperti sekarang, sungguh  menjengkelkan bagi Feronica. Dia harus membujuk Charlotte berjam-jam agar Charlotte mau mengubah pendiriannya. Itu saja jika Charlotte mau, jika tidak mau ya sudah Feronicalah yang akan mengalah untuk mengikuti apa mau Charlotte.

"Baiklah, terserah kau saja," ujar Feronica pasrah. Sudah bosan dia berdebat dengan Charlotte. Setiap setahun sekali pasti ada saja yang menjadi perdebatan antara keduanya. Ujung-ujungnya membuat kepala Feronica pusing. Niat hati hanya ingin membantu, eh pusing juga kepalang karena Charlotte yang meminta saran ini itu tapi tetap saja tidak menerima saran dari Feronica. Ujung-ujungnya Feronica hanya mengalah, dan mengikuti apa yang Charlotye mau. Begitulah kira-kira kesulitan yang Feronica hadapi setahun sekali menyangkut ulang tahun Charlotte.

"Aku ingin membuat aturan berbusana juga!" Ucap Charlotte setelah memikirkan apa yang harus ia usulkan kepada Feronica.

"Baiklah," jawab Feronica menulis apa-apa saja yang harus di persiapkan pada pesta ulang tahun. Ia sepertinya tidak akan menyarankan apapun. Toh sarannya juga tidak akan di terima oleh Charlotte.

"Atau sebaiknya tidak usah?" Tanya Charlotte mulai bimbang. Ia mondar mandir berjalan ke kanan dan ke kiri hanya untuk berpikir.

"Kau ingin mendapat saran dariku?" Tanya Feronica yang di balas anggukan oleh Charlotte.

"Lebih baik buat saja, agar kita bisa tahu mana tamu undangan dan mana orang asing yang seenaknya masuk ke dalam pesta," usul Feronica.

"Tapi aku tak masalah jika ada orang asing yang ikut pestaku. Bisa menambah kemeriahan di pesta!" Ujar Charlotte.

"Bagaimana jika orang itu ingin berbuat jahat kepadamu?" Tanya Feronica yang membuat Charlotte tersadar bahwa ucapan Feronica ada benarnya juga.

"Baiklah, aku ingin dress code warna hitam dan putih. Sangat sesuai dengan seleraku!" Ucap Charlotte kegirangan membayangkan pestanya yang di penuhi warna kesukaannya, yaitu hitam dan putih. Pasti sangat luar biasa!

Akhirnya setelah beberapa jam lamanya, Charlotte dan Feronica menyudahi meeting mengenai pesta ulang tahun. Keduanya tinggal berbincang santai.

"Ada yang ingin aku sampaikan," ujar Feronica seraya meminum teh yang di siapkan oleh asisten rumah tangga Charlotte.

"Apa?" Tanya Charlotte.

Feronica nampak menimang-nimang apa yang akan ia utarakan, "apakah boleh jika Aby tinggal Chris?"

Charlotte terkejut. Pasalnya ia juga merasa nyaman tinggal bersama dengan Aby. Ia merasa ada orang yang mau menemaninya. Tapi ia juga tahu, Chris dan Aby tengah mencoba untuk menjalin hubungan yang serius. Dan mereka membutuhkan waktu yang banyak untuk bersama. Dirinya tidak boleh egois bukan dengan memiliki Aby seorang diri?

"Baiklah, tapi Chris harus membayarku untuk membeli Aby. Aku tak mau rugi. Lalu apakah kalian akan tinggal bertiga?" Jawab Charlotte yang seperti biasanya. Mata duitan. Meskipun sebenarnya ia tidak rela untuk melepas Aby.

"Itu gampang! Tentu saja tidak! Aku akan membiarkan Chris membawanya ke apartemen dia. Aku tidak ingin Aby merasa sungkan jika serumah denganku." Ujar Feronica merasa lega. Semoga saja dengan membiarkan mereka tinggal bersama, Chris akan benar-benar berubah dan tidak lagi mengingat-ingat tentang Adeline.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Next.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!