Bab 9 ~ Remember the past

Di sebuah bar yang begitu ramai terlihat seorang laki-laki tengah meneguk botol whiskey-nya. Tak peduli jasnya yang sudah lepas dari badannya, dasinya yang sudah tak beraturan, serta kemeja putihnya yang sudah terlepas tiga kancing teratasnya.

Seorang wanita yang berpakaian mini dress berwarna merah menyala dengan potongan dada yang sangat rendah menghampiri laki-laki itu. Tanpa permisi duduk di pangkuannya. Dan laki-laki itu tidak merasa terganggu sedikit pun. Bahkan dengan rakus mel*mat bibir wanita yang berada di pangkuannya. Entah kemana pikirannya, sekarang ia hanya menuruti nalurinya saja sebagai seorang pria.

"Wah wah wah! Seorang pendiri Lincoln Corporation mencium jal*ng murahan di sebuah bar! Sama sekali bukan gayanya." Seorang wanita yang lebih tua darinya menghampiri sembari bertepuk tangan dan menghina.

Laki-laki itu melepaskan pagutannya dan menurunkan wanita yang disebut jal*ng itu dari pangkuannya, "ini karena keterlambatanmu, Charlotte."

Charlotte menyunggingkan senyum tak bersalah, "sekarang kau menyalahkanku, Chris?"

"Sure." Jawab Chris sekenanya. Kini ia sudah setengah mabuk, tapi masih bisa untuk berpikir.

Chris dan Charlotte sudah saling kenal sejak lama. Feronica, ibu dari Chris adalah sahabat baik Charlotte. Sejak kecil Chris sudah di asuh oleh wanita itu. Charlotte sudah menganggap Chris sebagai anaknya sendiri. Meski terkadang hubungan mereka seperti teman ataupun mitra bisnis. Tapi tak bisa di elak, mereka juga saling mengasihi layaknya ibu dan anak.

"Baiklah, aku minta maaf. Dan sekarang usir ja*ngmu itu," titah Charlotte memandang tak suka kepada wanita penggoda yang berdiri menunggu di samping Chris.

Kepala Chris menoleh ke samping, "pergilah!" Usir Chris seenaknya kepada wanita yang tadi ia cium.

Akhirnya wanita itu hanya bisa mengikuti perintah Chris. Beranjak pergi dari pandangan Chris dan Charlotte.

"Apakah kau butuh seorang wanita dariku, Chris?" Tanya Charlotte berpura-pura bodoh.

Chris memutar bola matanya malas, "untuk apa aku mengundangmu kemari jika tidak meminta wanita? Hanya itu yang kau tawarkan kepadaku."

Charlotte tertawa, meski hanya dibuat-buat, "baiklah baiklah. Tapi kenapa tumben sekali kau minta wanita? Kemana kau setahun belakangan?" Tanya Charlotte.

Sudah setahun lamanya Chris tidak menghubungi Charlotte untuk meminta wanita. Pikir Charlotte, Chris sudah menemukan tambatan hatinya atau menemukan mucikari baru yang mungkin jauh lebih baik darinya. Karena sejak dulu Chris langganan sebulan sekali akan menghubunginya untuk memberi Chris seorang wanita untuk memuaskan hasratnya.

"Aku tidak sempat untuk memikirkan wanita. Aku sedang fokus untuk mengembangkan bisnisku setahun ini, dan yahh seperti biasa proyekku sukses. Tapi belakangan ini aku sedang kacau," jelas Chris memberitahu alasannya tidak menghubungi Charlotte selama ini. Ia tidak ingin partner bisnisnya itu merasa kecewa atau berpikiran aneh-aneh.

"Kau laki-laki Chris, apakah mungkin tahan tidak menyalurkan gairahmu selama setahun?" tanya Charlotte sedikit meledek. Karena, bukankah laki-laki tidak bisa jika tidak menyalurkan hasratnya meski hanya beberapa bulan?

"Otakku sudah mau meledak karena bisnis, tak ada waktu untuk memikirkan selangkanganku!" Ucap Chris putus asa. Sebenarnya pengembangan bisnisnya dalam bidang transportasi hampir gagal, untungnya ia memiliki banyak cara untuk menanganinya.

Charlotte mengangguk, tanda bahwa ia mengerti. Memang berbisnis sangat memusingkan. "Lalu apa yang membuatmu kacau sampai-sampai menghubungiku?"

"Kau tahu Adeline?" Tanya Chris yang mulai untuk bercerita.

"Tentu. Dia wanita yang membuatmu menjadi baj*ngan seperti sekarang, right?" Charlotte tak akan lupa dengan nama itu. Wanita ular yang memporak porandakan kehidupan Chris. Ia teringat betapa hancurnya Chris. Dan betapa sulitnya Chris untuk bangkit dari masa kelamnya.

"Shut up, Char! Dia wanita yang pernah aku cintai." Tidak ingin wanita yang pernah singgah, atau masih singgah di hatinya di cap sebagai perusak hidupnya. Meski pada kenyataannya memang begitu.

"Kau masih berharap dia kembali? Sangat bodoh! Atau dia kembali?" Was-was, Charlotte harus menyadarkan Chris agar tidak terjerumus kembali ke lubang yang sama.

"Tidak. Ada wanita yang ku temui, sangat mirip dengan Adeline perilakunya. Dia sangat sulit untuk di dekati," ujar Chris menerawang, membayangkan sosok Aby yang akhir-akhir ini memenuhi otaknya. Membuat ia tidak fokus untuk melakukan apapun.

Charlotte menggelengkan kepalanya, "sudahlah, akan aku carikan kau sepuluh wanita yang jauh lebih baik dari dia."

"Tidak! Aku ingin dia!" Tak bisa di tawar. Chris menginginkan Aby. Entah apa yang membuat Chris sangat menggebu untuk mendekati Aby.

"Baiklah, terserah kau saja. Asal jangan sampai kau gila seperti dulu." Charlotte mengingatkan. Karena Charlotte tahu, Chris jika sudah mencintai, dia tidak main-main.

"Back to topic! Aku punya wanita baru. Kau pasti suka." Charlotte mulai mengeluarkan jiwa bisnisnya. Tidak mungkin ia menyia-nyiakan waktunya hanya untuk bercerita mengenai seorang wanita yang Chris dambakan. Bagi Charlotte, time is money, jika ada orang yang menghubunginya seperti Chris, ia akan memanfaatkan itu untuk meraup keuntungan.

Chris celingak celinguk mencari seseorang, "mana barang barumu?" Tanya Chris yang masih berusaha untuk mencari.

Charlotte menjitak kepala Chris, "kau ini jika masalah wanita selalu saja nomor satu!"

"Bukankah kau senang jika aku begitu?" Jawab Chris yang di benarkan oleh Charlotte.

"Kau memang pengertian." Charlotte tersenyum lebar menanggapi Chris.

"Tidak bisa hari ini, mungkin besok atau lusa akan aku tunjukkan kepadamu. Tapi kau harus membayar tinggi jika ingin mencobanya. Dia masih segel!" Jelas Charlotte.

Chris terkejut, kenapa ada wanita yang ingin menjadi pekerja Charlotte ketika dirinya masih perawan. Benar-benar di sayangkan. Harusnya itu di berikan kepada orang yang di cintai dan mencintainya. Bukan untuk sembarang orang yang bahkan belum di kenal.

"Are you serious? Apakah kau mempekerjakan anak di bawah umur?" tanya Chris penuh selidik. Ia takut jika Charlotte benar-benar memperjual belikan anak-anak. Dan harus di ingat, Chris bukanlah pedofil yang doyan bercinta dengan anak di bawah umur.

Sekali lagi Chris mendapat pukulan di kepalanya, "jangan asal bicara kau! Jangan sampai bisnisku jelek karena ucapanmu yang sembrono itu! Meskipun pekerjaanku memperjual belikan wanita, tapi aku masih punya hati dan pikiran. Aku tidak sebodoh dan sebiadab itu untuk memberikan anak kecil kepada laki-laki yang gila akan bercinta sepertimu."

"Baiklah, berhenti memanggilku laki-laki penggila ****. Aku tidak seperti itu. Kau tahu, aku bahkan berhenti bercinta selama setahun dan kau masih memanggilku seperti itu." Tak terima karena dirinya selalu di sebut laki-laki yang haus akan bercinta.

"Ohh, maafkan aku. Tapi memang begitulah dirimu." Tak ingin menyerah pada Chris. Charlotte tetap bertahan pada pendiriannya mengenai Chris yang gemar keluar masuk lubang wanita.

"Cukup. Aku tidak bisa lama-lama di sini dan meladenimu untuk berdebat. Mungkin besok malam aku akan menghubungimu untuk memperkenalkan pekerja baruku. Siapkan uang yang banyak, okay!" Charlotte akhirnya menyudahi perdebatan mereka yang benar-benar tidak bermutu dan tidak berguna.

Charlotte meminum tegukan terkahir whiskey-nya. Lalu ia bersiap untuk pergi, "sudah jelas bukan? Baiklah aku pergi dulu. Banyak pelanggan yang sudah menungguku. Dan aku juga harus mengecek pekerja baruku. Bye, Chris!" Charlotte beranjak pergi begitu saja, tidak ingin berbasa basi dengan Chris lebih lama lagi.

Semboyannya tetap harus di jalankan, time is money. Jika waktu bersantaimu banyak, maka gunakanlah untuk menghasilkan uang.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Next.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!