Selesai kuliah Aby berniat pulang ke apartemennya, untuk mengambil beberapa barang yang mungkin ia butuhkan.
"Kau benar-benar akan pindah?" Tanya Carla yang sedari tadi mengikutinya dari belakang. Hingga bosan Aby mendengar pertanyaan yang sama terlontar dari bibir Carla.
"Iya, Carla. Tenang saja, aku akan tetap membayar setengah bagianku." Jawab Aby sembari tetap berjalan.
"Kau akan meninggalkanku?" Carla tidak ingin Aby pindah. Ketika liburan musim panas saja Carla berat untuk melepas Aby berlibur ke Florida, bagaimana sekarang jika Aby harus pindah rumah.
Aby menghentikan langkahnya. Ia membalik badan menghadap Carla, "aku tetap akan bermain denganmu. Aku tetap akan mengunjungimu di bar. Aku tetap akan jalan-jalan keluar bersamamu. Dan yang terpenting aku akan tetap menjadi sahabatmu. Kau tak usah khawatir, aku pasti akan sering menginap. Lagi pula aku tahu kau senang, bisa bebas berduaan dengan Gery tanpa terganggu olehku."
Ya, biasanya Gery--pacar Carla sering menginap di apartemen. Mereka akan bermesraan di kamar seolah Aby tak ada di sana. Tapi itu tak masalah bagi Aby. Selama Carla senang, ia juga senang. Lagi pula mereka tidak merugikan Aby sedikitpun. Mungkin hanya suara-suara menjijikkan yang mengganggu telinga Aby. Selebihnya tidak ada.
Wajah Carla yang semula murung kini berangsung cerah. Mungkin ia baru sadar, ucapan Aby ada benarnya juga. Terlebih ia hanya membayar setengah, jadi sangat menguntungkan baginya. Tapi tetap saja, nanti pasti Carla akan merindukan Aby yang biasanya tidur di atas kasur yang sama. Entah itu suara dengkurannya, igauannya, mimpi buruk dan indahnya ataupun tetesan liur yang membanjiri bantal. Pasti nanti Carla akan merindukan semuanya.
"Baiklah, tapi kau harus berjanji akan sering mengunjungiku. Jangan lupa teman jika sudah meninggi, ya!" ucap Carla mengingatkan agar Aby tetap menjadi Aby yang ia kenal.
Aby menyunggingkan senyumnya, "tenang saja! Ya sudah sana kau berangkat kerja! Jangan sampai atasanmu mengomel dan memecatmu karena kau terlambat bekerja gara-gara merengek kepada sahabatmu."
Carla memutar bola matanya, "baiklah! Aku tidak pernah merengek kepadamu!" Kecam Carla kemudian beranjak meninggalkan Aby untuk berangkat kerja.
Aby menyusuri koridor kampus. Sebenarnya barang-barang yang diberikan Charlotte untuknya sudah lebih dari cukup. Tapi ia merasa tetap harus mengambil barang-barangnya di apartemen.
Ketika keluar dari area kampus, tiba-tiba sebuah mobil membunyikan klakson tepat di sambing Aby. Aby yang tengah serius berjalan sembari menikmati pemandangan terlonjak kaget. Ia pun menghentikan langkah kakinya. Ketika menengok, wajah Chris yang terlihat dari balik kaca mobil sport yang berjalan pelan mengikutinya.
Chris melambaikan tangannya, mengisyaratkan kepada Aby untuk menghampirinya. Aby yang sedang dalam kondisi hati baik, akhirnya menuruti permintaan laki-laki tampan itu.
"Kenapa kau di sini?" Tanya Aby to the point dari luar mobil.
Chris mengedikkan bahunya, "menjemputmu. Apa lagi?"
"Apakah kau tidak memiliki kesibukan lain Chris?" Tanya Aby yang heran karena mengingat Chris adalah pemilik perusahaan terbesar di negara itu.
"Laki-laki yang baik akan melakukan apapun demi wanita yang ia cintai. Meski harus mengorbankan waktu sibuknya," ujar Chris yang mulai menggombal.
"What ever you say, Chris! Aku mau pergi ke apartemenku dulu untuk mengambil beberapa barangku, setelah itu baru pulang ke rumah Charlotte." Ucap Aby menjelaskan kemana saja tujuannya.
"Apakah kau memerlukan bantuan?" Tanya Chris yang mengharapkan Aby membutuhkan bantuannya. Padahal sebentar lagi waktunya untuk meeting dengan klien. Tapi entahlah, ia sedang ingin menghabiskan waktunya bersama Aby. Wanita yang berhasil mencuri perhatiannya.
"Sepertinya tidak," jawab Aby. Kemudian ia melangkah pergi menjauhi mobil Chris. Yah, karena apartemennya sudah di depan mata. Untuk apa ia menumpang mobil Chris?
Chris yang kembali mendapat penolakan langsung menjalankan kembali mobilnya untuk mengikuti Aby. Tak lupa ia menyalakan klakson beberapa kali, yang membuat orang-orang di sekitar memperhatikan mereka.
Aby yang mulai risih akhirnya menghampiri Chris lagi. "Baiklah kau boleh membantuku! Itu di depan sudah apartemenku, jadi berhentilah membunyikan klakson layaknya anak kecil! Kau membuatku malu Chris!"
"Tapi cara ini membuatku berhasil untuk bisa membantumu!" Tanpa rasa bersalah Chris tersenyum penuh kemenangan. Dan dengan percaya diri turun dari mobil lalu berjalan mendahului Aby yang masih diam tak percaya melihat sisi lain dari seorang Chris. Benar-benar kekanakkan!
Akhirnya setelah beberapa saat mereka tiba di kamar Aby. Chris yang baru memasuki kamar langsung tercengang melihat penampakkan ruangan yang biasanya Aby gunakan untuk tinggal. Benar-benar jauh dari ekspetasinya.
Kamarnya sangat kecil, mungkin seukuran gudang di rumah Chris. Tidak ada barang mewah di dalamnya. Jangankan mewah, menurut Chris mungkin bisa di sebut barang rongsokan. Tidak ada pendingin ruangan. Hanya ada kipas yang tertempel di atap kamar. Itu adalah satu-satunya sumber kesejukan ketika udara sedang panas-panasnya.
Di sana juga hanya ada satu kasur yang di jadikan tempat tidur. "Kau tidur satu kasur dengan Carla?" Tanya Chris tak percaya.
"Tentu saja. Kenapa? Apakah kau tidak pernah merasakan berbagi tempat tidur dengan orang lain?" Tanya Aby yang tidak mau di rendahkan.
"Aku mau jika berbagi denganmu." Kembali Chris menggoda Aby.
Aby langsung melempar bantal sofa ke wajah Chris. Namun dengan sigap Chris menangkapnya. Seulas senyum terukir di bibir tipis milik Aby. Kini ada sedikit kesenangan jika bersama dengan Chris. Mungkin karena sikap Chris yang berbeda dari biasanya. Sikap yang hanya Chris tunjukkan kepada orang yang menurutnya istimewa.
"Apakah kau lapar?" Tanya Aby yang sekadar basa-basi.
"Tidak. Tapi sepertinya tak masalah jika kau menghidangkan beberapa camilan," ucap Chris yang sekarang sudah duduk di sofa depan televisi. Tak lupa ia menyalakan televisi dan mencari siaran yang mungkin ia sukai.
Niat hati hanya ingin berbasa-basi, ternyata Chris menganggapnya sungguhan. Akhirnya Aby ke dapur dan membuat sesuatu untuk mereka makan. Karena di kulkas dan lemari dapur tidak ada snack yang bisa mereka makan. Akhirnya Aby memutuskan untuk membuat sandwich. Membuatnya tidak ribet, tapi mengenyangkan. Jujur saja Aby tidak pandai memasak masakan yang susah. Hanya sekadar sandwich atau makanan instan yang bisa di buat dengan cepat dan tanpa harus mempertimbangkan bumbu-bumbu yang masuk.
Selesai membuat roti lapis, ia sajikan dengan susu putih yang untungnya ada di dalam kulkas. Biasanya Aby yang bertugas untuk belanja mingguan, karena Carla selalu malas jika di suruh belanja kebutuhan dapur. Berbeda ketika di ajak untuk shopping. Ia akan bersiap sedini mungkin. Dan mengingat Aby sudah berada di rumah Charlotte selama seminggu, jadi tidak heran kulkas di apartemen mereka kosong. Hanya tersisa makanan yang Aby belanjakan sebelum ia berlibur ke Florida.
"Terimakasih," ucap Chris menyomot roti yang Aby letakkan di meja.
Keduanya pun makan, dan terlihat sangat lahap. Itu karena Aby belum makan sejak pagi. Ia harus terburu-buru, karena rumah Charlotte terletak jauh dari kampusnya. Sedangkan Chris, ia tidak pulang ke rumah dari semalam. Ia terus mengejar pekerjaannya yang terbengkalai karena ingin bersama dengan Aby.
Aby tertawa melihat Chris yang makan dengan acak-acakan. Bahkan serpihan roti sudah menempel di sudut kanan dan kiri bibir Chris. "Kau memang seperti anak kecil, Chris!" Ledek Aby seraya membersihkan sudut bibir Chris.
Chris yang mendapat perlakuan seperti itu langsung diam. Ia nikmati sentuhan tangan Aby yang tengah membersihkan sudut bibirnya. Oh ayolah, Chris adalah laki-laki normal. Apalagi Aby adalah wanita yang ia sukai. Chris sudah tak tahan. Akhirnya Chris tarik tangan Aby agar semakin dekat Aby dengan dirinya. Lalu tanpa aba-aba Chris mencium bibir Aby dengan lembut. Sangat lembut.
Aby yang mendapat ciuman tiba-tiba merasa terkejut. Namun ia juga terbuai. Karena tidak ada yang pernah menciumnya selembut ini.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Next.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 25 Episodes
Comments