Bab 3 ~ Brown eyes

"Kau gila Aby! Benar benar gila! Apakah kau tahu dia sangat kejam? Ia akan melakukan segala cara untuk menjatuhkan siapa saja yang berani mengganggunya. Dan kau? Oh god! Sepertinya kau harus kabur dari negara ini sekarang juga!" Carla terus mengoceh setelah Aby menceritakan perihal pertemuannya dengan Chris.

Ya, sepulangnya dari Lincoln Corporation ia bekerja di restoran lalu setelahnya Aby mampir ke bar tempat Carla bekerja untuk menceritakan kejadian tentang dirinya dan Chris. Dan seperti dugaannya, Carla marah besar. Terlebih Chris adalah pemilik bar tempat Carla bekerja. Karena perjalanan untuk mendapatkan pekerjaan di bar itu cukup panjang, Carla sangat tidak ingin kehilangan pekerjaannya. Ia tidak ingin usaha dan kerja kerasnya terbuang sia-sia.

"Aku hanya mengatakan apa yang kau sampaikan," sanggah Aby yang tak mau disalahkan.

"Aku bilang kau harus hati-hati dengannya, kau minta maaflah yang baik. Jika perlu manfaatkan pertemuan kalian agar bisa dekat. Bukan malah menantangnya. Aku tidak tahu lagi harus bagaimana denganmu, Aby!" Carla terus mengomel meskipun tangannya bergerak lincah kesana kemari meracik minuman.

Aby menghela napas, "baiklah aku salah."

"Memang kau salah, bodoh!" Carla gemas sendiri melihat sahabatnya yang satu ini. Ia tak habis pikir, dengan pesona Chris yang terbilang sangat tinggi masih saja Aby teguh pada pendiriannya anti untuk jatuh hati. Bahkan dia berani untuk berkata dan berlaku kasar pada laki-laki yang digandrungi para wanita itu.

"Lalu aku harus bagaimana Carla? Berhadapan dengannya membuat emosiku meledak!" Aby nampak putus asa. Dia memang merasa salah, tapi ia tak bisa mengontrol emosinya jika berhadapan dengan Chris.

Carla menatap Aby dengan pasrah, ia mengedikkan bahunya. "I don't know."

Dunia benar-benar sedang tidak adil dengan Aby. Belum selesai masalah mengenai ibunya, kini bertambah lagi masalah dengan orang yang baru ia kenali satu malam, bahkan ketika ia tengah mabuk. Aby menyesap kembali wine-nya. Padahal baru tadi siang ia bertekad tidak akan minum-minuman lagi, namun sekarang justru sangat berbanding terbalik. Sekarang sudah dua botol wine ia habiskan.

"Kita bertemu lagi Abygail." Laki-laki dengan setelan kemeja putih dan celana hitam duduk di kursi sebelah Aby yang kebetulan kosong.

Meski setengah sadar, Aby bisa mengenali wajah dan suara yang sejak kemarin menghantuinya. "Hai, Chris. Do you want to drink?" Aby menyodorkan gelasnya yang sudah tak berisi.

"Yes. Satu gelas cocktail, please." Chris memesan minuman kepada Carla yang sejak tadi hanya berdiri menatapnya.

Sebelum Carla beranjak dari tempatnya, Aby memanggilnya dan berbisik dengan suara lantang "Carla! Ini dia Chris kejam yang kau ceritakan tadi! Apakah dia kemari mau menjatuhkanku? Membalas dendam karena kemarin telah menamparpfff--"

Dengan cepat Carla membekap mulut Aby yang sudah tidak bisa dikontrol ketika mabuk. Ingin rasanya Carla melenyapkan Aby dari bumi sekarang juga.

"Kau sudah bosan hidup, Aby?"

Aby mengangguk lalu menggelengkan kepala mendengar pertanyaan Carla. Entah paham atau tidak, Aby hanya bisa mengangguk dan menggeleng karena mulutnya tertutup oleh tangan Carla.

"Tak apa, Carla. Aku ingin mendengar apa yang akan ia ucapkan." Chris secara tidak langsung meminta Carla untuk melepaskan Aby.

Carla meneguk ludah, namun tak urung melepaskan tangannya pada mulut Aby. Sepertinya pekerjaan yang kini ia punya sedang di ambang batas kehancuran. Jika benar Carla dipecat, mungkin ia akan marah besar kepada Aby hingga menemukan perkejaan baru yang setara dengan pekerjaannya sekarang.

Perlahan dan dengan sempoyongan Aby bangkit dari duduknya, berniat untuk pulang. Namun baru satu langkah ia berbalik, "Chris, aku minta maaf." Aby membungkukkan badannya tulus meminta maaf. Setelah itu ia kembali melanjutkan jalannya keluar dari bar.

Carla yang ingin mengejar Aby, dihentikan oleh Chris, "biar aku saja."

"Tapi--" ada keraguan membiarkannya bersama dengan Chris yang notabene adalah orang asing. Terlebih ia tak tahu ada motif apa hingga seorang Aby bisa membuat Christoper tertarik.

"Tenang, aku tak akan macam macam dengan temanmu." Berusaha meyakinkan bahwa ia tak memiliki niat buruk dan ketika diberi lampu hijau ia segera menyusul Aby yang sudah keluar dari bar.

"Berani sekali kau tidur dengan Ibuku! Apakah tidak cukup jika hanya aku saja? Bajingan kau!" Terlihat Aby tengah marah-marah pada sebuah pohon. Banyak orang yang menatapnya prihatin, namun ada juga yang menatapnya aneh seolah Aby adalah pasien yang kabur dari rumah sakit jiwa.

Aby menunjuk pohon lain yang berdiri kokoh di samping pohon tadi ia marahi, "dan kau. Kenapa kau meninggalkan ibuku? Kau membuat ibuku berubah! Kau membuat dia seperti seorang pelacur yang mudah dirayu dan dicumbu oleh laki-laki. Kau membuat dia tak pernah peduli padaku. Kau membuat dia selalu haus akan pasangan dan harta! Kenapa laki-laki seperti kalian selalu menyakiti wanita?!"

Tangan Aby yang akan memukul pohon di depannya lagi di cekal oleh Chris, "hey, jangan sakiti dirimu sendiri."

Dengan cepat Aby menghempaskan tangan Chris, "bukan urusanmu! Menjauhlah dariku Christoper!"

Tanpa menghiraukan ucapan Aby, Chris memeriksa tangan Aby yang sudah lecet karena memukuli batang pohon yang keras. Ia mengeluarkan sapu tangan dari kantongnya, lalu melilitkannya pada tangan Aby yang terluka.

"Kau wanita, jagalah badanmu."

Aby menatap Chris yang tengah melilitkan sapu tangan dengan lembut. Sudah sangat lama ia tak mendapat kelembutan dari seseorang selain Carla, terlebih oleh laki-laki. Selama ini ia selalu menutup diri dan tak memedulikan siapa saja yang ingin mendekatinya. Perasaan aneh mulai menjalari hatinya.

'Tidak! Ini salah. Sadarlah Aby!' batin Aby yang membuat ia menarik tangannya yang tengah dipegang oleh Chris.

"Aku akan pulang." Dengan gegabah Aby ingin menyeberang, karena tidak sepenuhnya sadar ia tak tahu jika lampu penyeberangan masih berwarna merah.

Tinnn....

Sebuah mobil hampir saja menabrak Aby jika saja Chris tidak menarik tangannya.

Kini mereka berhadapan dengan sangat dekat. Bahkan hembusan napas mereka bisa dirasakan satu sama lain. Chris menatap mata Aby dalam, berusaha untuk menyelam ke dasarnya. Sedangkan Aby balik menatapnya, berusaha agar tidak tenggelam dalam tatapan laki-laki di hadapannya.

Aby segera sadar, ia pun mengalihkan pandangannya ke arah lain.

"Rupanya kau memiliki iris mata berwarna cokelat, hem?" Chris menyelipkan anak rambut Aby yang menutupi wajahnya ke belakang telinga.

"Bukan urusanmu!" Lagi-lagi ia menepis tangan Chris yang tengah menata rambutnya. Setelah melihat lampu penyeberangan berwarna hijau dengan tergesa ia menyeberang jalan. Tak menghiraukan Chris yang tadi telah menyelamatkannya. Bahkan mabuk yang ia rasakan seperti lenyap begitu saja. Entahlah, ia merasa aneh jika berdekatan dengan Chris. Chris seperti pusat gravitasi yang terus menarik Aby untuk mendekat kepadanya. Dan Aby takut untuk itu.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Next.

Terpopuler

Comments

Yuki Nagato

Yuki Nagato

Tersentuh banget dengan kisah ini.

2023-08-16

1

Dark Dynamix

Dark Dynamix

Nah, ini baru kualitas cerita yang oke!

2023-08-16

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!