PTLove 2B20

“Aku tahu aku orang baru bagimu Nuha, yang tidak tau menahu tentang dirimu sebenarnya, yang tidak memiliki hubungan dekat dan bukan teman masa kecilmu. Tapi, aku akan berusaha untuk bisa memahami dan membantumu”

Naru masih melihat lembaran-lembaran masa lalu Nuha di dalam mimpinya. Lembaran demi lembaran. Perjalanan hidup Nuha dari kecil hingga SMP. Tidak ada perubahan sama sekali di diri Nuha. Nuha yang pendiam, malas bicara dan cuek. 

“Gimana bisa dia punya teman jika dia terus seperti itu?" kata Naru merasa iba.

“Naru! Jangan mencoba menyelidikiku lewat mimpi!”

“Apa?”

“Kamu adalah cowok yang paling tidak sopan yang pernah aku temui!”

“Weh?!”

“Tuk” tiba-tiba suara pukulan mendarat di kepala Naru. Sebuah buku sketsa tebal berhasil membangunkan Naru dari mimpi indahnya.

Tapi, bagi Nuha itu mimpi terburuk dan sangat memalukan. Bagaimana bisa Naru mengetahui masa kecilnya hanya lewat mimpi? Sungguh, tidak bisa dipercaya.

“A-apa yang terjadi?” tanya Naru bingung.

“Kamu ini. Kenapa malah kamu yang tidur nyenyak di kamarku?! Dan juga, seenaknya saja ngimpiin orang. Hmph!!"

"Orang? Jadi, itu kamu Nuha?"

"Hi ih!!"

“Syukurlah kalo kamu sudah bangun,” balas Naru malah tersenyum ramah tanpa merasa bersalah.

Nuha jadi cuek se cuek-cueknya.

"Gadis itu, ternyata sudah selesai bermeditasi melalui tidurnya. Kesedihan sudah tidak terlihat dari raut wajahnya. Kerumitan masalah seolah sudah dia abaikan begitu saja," Ungkap Naru.

Naru menanyakan keadaannnya dan dengan jelas Nuha mengatakan baik-baik saja. Meski Naru curiga, dia mencoba untuk percaya.

Nuha telah kembali pada dirinya sendiri. Dia bangun dari tidur dan menutup gordyn jendela karena teriknya matahari mulai menyerap energi ketenangannya. “Panas” keluhnya.

“Musim hujan, cuaca akan mudah berubah Nuha. Sebentar lagi, mungkin akan turun hujan” kata Naru.

“Kalo begitu, apakah kita bisa hujan-hujan bersama?”

“Boleh, jika itu aman”

Namun, Seketika Nuha kembali melamun tanpa sadar, “Hujan, aku ingin sekali segera mendinginkan isi kepalaku yang masih mendidih ini”

“Aku tahu, dia masih belum baik-baik saja” gumam Naru dalam hati.

Nuha menghela nafas. Ingin sekali Naru bisa menenangkannya. Dia akhirnya menciumnya dengan lembut. Meski Nuha diam saja, matanya terpejam seolah menginginkan lebih.

Nuha terpejam. Sensasi itu, memberikan reaksi yang tidak terduga. Nuha menerima energi kasih sayang Naru dengan senang hati tanpa rasa kaget sedikit pun.

“Apakah dengan ciuman, masalah berat akan menjadi ringan?” tanya Nuha sendu.

“Jika bisa, aku akan memberikannya lagi”

“Tapi, hatiku masih gelisah. Kepalaku pusing. Aku, tidak suka menyelesaikan masalah. Aku, tidak suka punya masalah. Maafkan aku Naru, jika aku seperti seorang pengecut”

"Chuuph" Naru memberinya lagi, lalu berkata "Setidaknya kamu tidak ingin lari dari masalah kan? Kamu hanya butuh waktu untuk bertenang dan memikirkan caranya tanpa harus melibatkan siapapun. Itulah dirimu"

"Uumm.." Nuha terpejam.

Naru menciumnya lagi. Bibir manis itu, membuat Naru tidak bisa berhenti untuk terus memberikan kecupannya. Sangat lembut, sangat imut.

"Umm.."

Sedikit mulai terganggu. Alis Nuha yang sebelah tidak bisa berhenti bergetar. Dia jadi sedikit terganggu oleh Naru yang semakin pandai mencium dirinya.

"Haa ah.. Naru jelek!"

"Eh?"

"Naru jelek!"

"Weh?! Kok gitu?"

"Jelek ya jelek!"

"Kamu kok bilang gitu Nuha? Gimana bisa aku jelek? Heh?!" Naru bingung dan tidak terima.

"Pikir aja sendiri. Kamu kan pinter" sinis Nuha naik ke ranjang kasurnya. Lalu menarik selimut dan tidur lagi.

"Nuha! Kasih tau aku! Nuha!"

"Naru jelek dan cerewet!"

"Apa?"

"Udah deh, tinggalin aku sendiri. Aku mau tidur lagi. Huh! Nyebelin! Naru nyebelin!"

Tidak disangka, obrolan itu malah membuat Nuha semakin ngambek. Tapi hatinya tidak bisa berbohong. Jantungnya terus berdebar-debar dan matanya semakin berkunang-kunang. Dia menyudahinya karena tidak kuat menerima sensasi mistis tersebut.

"Aku.. jadi sangat malu"

Akhirnya Naru membiarkannya. Dia duduk di bangku belajar Nuha dan melihat-lihat buku-buku milik Nuha sambil berkata, "Aku minta izin ya Nuhaaa" dengan nada yang membuat penasaran.

Nuha membalikkan badannya dan sedikit mengintip apa yang sedang Naru lakukan. Naru membuka buku pelajaran Nuha. Sangat serius dan menjadi kagum.

"Rapi banget catatannya"

Lalu, dia berganti melihat buku sketsa yang membuatnya jadi penasaran. Meski dia tahu itu perbuatan yang tidak sopan melihat gambar orang lain, perasaannya jadi terus membuncah.

"Ini adalah harta yang paling berharga bagi Nuha. Di buku ini, semua tentang Hawa ada di sini"

"Ah, tidak! Aku tidak berani membukanya"

"Buka aja Naru" ucap Nuha mengizinkan.

"Gak. Gak perlu Nuha. Aku gak baik kalo harus melihatnya" elak Naru dengan sopan.

"Umm.. Ya sudah.."

"Sebaliknya Nuha.. Bisakah aku.. Umm.."

Mendengar ucapan Naru yang sedikit sembunyi-sembunyi itu, Nuha keluar dari selimutnya dan duduk mengambil buku sketsanya.

"Sebaliknya apa?" tanya Nuha.

"Bisakah kita berbagi nomor telfon?"

"Ooh, gitu ya? Baiklah" balas Nuha santai.

"Apa? Apakah itu tidak menganggumu?"

"Gak sih. Gak tau juga, hihi" Nuha malah nyengir. "Kalo kamu SMS aku, pasti aku akan balas kok" lanjutnya.

"Kalo aku gak SMS?"

"Ya sudah, gakpapa" balas Nuha dengan mudah.

"Baiklah, aku yang akan selalu SMS duluan kalo gitu" balas Naru dengan senang hati.

"Jreengg!!" Seseorang membuka pintu kamar Nuha. Seketika dua insan yang 'merasa' tidak berdosa itu kaget dan merasa takut.

Kak Muha langsung berteriak, "DASAR ANAK BADUNGG!! NANI ATTENDDA OMAERAA!!"

"IYYAAANN!!" teriak Nuha tidak mau kalah.

...*******kuakkuak*******...

Nuha dan Naru langsung disidang kak Muha di ruang tamu. Mereka berdua menundukkan kepala dengan sangat serius dan penuh rasa bersalah. Muha terus menajamkan matanya dengan sikap menantang.

"Apa yang bisa kalian katakan tentang kalian berada di kamar berdua tadi?!"

"Itu.." kata Nuha memalingkan mukanya.

"Saya bisa jelaskan kak-" sela Naru.

"Kau memang bocah yang tidak punya rasa takut. Jika tidak ada yang perlu ditakutkan kenapa kamu tidak bisa menjawab, Nuha?!" Muha menjawab Naru lalu berubah tajam ke arah Nuha.

"Kakak! Jangan galakin aku donk"

Mata kanan Muha bergetar seiring bibirnya yang tidak bisa berdiam tenang. Nuha pun juga berani memberikan tatapan tajam kepada kakaknya yang suka menghakimi dan bertindak sesuka hati.

Awan mendung mulai muncul di atas kepala mereka bedua. Naru bingung melihat ketegangan mereka.

Tiba-tiba, "Bruk!" tangan Muha mengambil sebuah buku dari dalam tasnya dan menaruhnya cepat di atas meja.

"Apa yang ingin kakak lakukan?" tatap Nuha.

"Kerjakan bank soal ini dan selesaikan sekarang juga!"

"Hooee?!! Gak mau!"

"DO IT!!"

"Emoh!"

"Nuhaaa!!" kesal kak Muha langsung menjewer kedua pipi Nuha hingga melar seperti karet.

"Mmooo kakak jahat kakak jahat kakak jahat" keluh Nuha seraya memutar ke dua tangannya untuk memberikan balasan kepada kak Muha namun kak Muha menahan dahi Nuha dengan kuat supaya tidak mengenai dirinya.

"Tolong, kalian berdua tenanglah" ucap Naru.

"Bantu dia menyelesaikannya!" tatap Muha kepada Naru, lalu melanjutkan, "Jika sampe hari jadi sekolah tidak selesai, kakak akan putus hubungan kalian!"

"Hie? SONNAA!!"

Terpopuler

Comments

Drawumy Chan

Drawumy Chan

Kakakkk!!! Aku hadir.. Huhu lama gk jumpaaa.. waaaa

2023-09-25

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!