Nuha sudah berada di rumah, di kamarnya. Dia sangat sedih hingga tak mampu berkata-kata. Memang seperti itu, dia tipe gadis yang tidak bisa menceritakan masalahnya kepada siapapun. Bahkan dia sangat tertutup kepada Ibunya.
“Nuha, istirahatlah jika itu bisa membuatmu tenang. Ibu akan membuatkan makanan untukmu” kata Ibu.
“Saya akan bantu Ibu” pinta Naru, tapi Nuha langsung mencegahnya dengan meraih tangannya, “Tolong, tetaplah disini.”
Ibu tersenyum dan berjalan keluar kamar.
“Nuha, Ibumu itu sangat mirip ya denganmu. Eh, tidak. Kamu yang sangat mirip dengannya. Kepribadian kalian berdua, bisa aku lihat dengan sangat jelas. Pasti Kak Muha juga tau tentang itu”
“Ibu sangat pendiam, jadi turun deh ke aku” balas Nuha gampang, seketika Naru langsung tersenyum lega. Bahwa Nuha sudah terlihat lebih baik.
“Hawa..” Nuha mulai merintih lagi.
“Hawa.. hiks hiks.. Aku tidak bisa melupakanmu.. hiks.. hiks..”
“Aku sangat sedih, kenapa kenyataannya berbanding terbalik dari apa yang kamu katakan di mimpi itu? Katanya kamu akan memberiku kesempatan kedua, tapi kamu malah melupakanku”
Raut wajah gadis itu kembali low emotion. Sedih tapi tidak bisa menangis. Marah tapi tak bertenaga. Matanya yang imut menjadi melamun memandang selimut yang menyelimuti tubuhnya. Naru mendekat dan meraih kedua tangan Nuha yang seolah menginginkan sebuah kekuatan.
“Aku akan menguatkanmu, Nuha” kata Naru tulus.
Wajah tampan itu, senyuman ramah itu, aura kelembutan dan kehangatan hati itu siapa yang bisa menandinginya? Hanya Naru yang memilikinya dan Nuhalah pemiliknya.
Nuha langsung mendekap erat ke dalam pelukan Naru. Entah sudah kesekian berapa dia terus meminta pelukan dari sang kekasih, dan kekasihnya selalu memberinya dengan senang hati.
“Gadis cengengku, tak apa jika mau menangis lagi”
“Umm..”
Waktu sudah menunjukkan jam 11:00 siang, setengah jam lagi istirahat kedua tiba. Murid kelas 12F Multimedia masih fokus menyelesaikan tugas mereka. Asa melirik tanpa menoleh ke belakang. Meski dia sedang kesal dengan Nuha, hati kecilnya sangat mencemaskan sahabat naifnya itu.
“Di mana Nuha sekarang, kenapa dia tidak kembali ke kelas?”
“Kamu mencemaskannya ya?” tanya Sifa.
“Cih! Nuha itu, gak perlu dicemaskan. Gadis gak pekaan dan lelet gitu, ngapain juga aku mencemaskannya. Buang waktu saja” elak Asa.
Fani menghentikan tangannya yang sedang menulis. Dia dan Sifa jadi saling pandang satu sama lain. Mencoba untuk memahami masalah apa yang sebenarnya terjadi antara Asa dan Nuha.
“Kita tahu memang Nuha sangat tertutup, jadi kita tak pernah mempermasalahkan hal itu. Hanya saja, di antara kita ada yang sangat peka dan baperan” lirik Sifa untuk Asa.
“Jadi gue yang salah?!”
“Hehe, bukan begitu”
Tidak ada yang disalahkan pada sebuah persahabatan jika semua karakter bisa saling memahami dan menerima satu sama lain. Pertengkaran dan ketegangan adalah masalah yang harus segera diselesaikan apabila menginginkan keutuhan kembali.
Tapi, siapa yang tidak tahu Asa? Egonya sangat tinggi. Dia tidak akan bisa meredam kekesalan di dalam hatinya jika dia tidak memahaminya sendiri. Dia tidak mudah menerima nasehat dari orang lain jika pikiran bawah sadarnya menuntunnya.
“Yang penting, kita tidak boleh sepihak dalam mendukung salah satu di antara mereka” kata Fani. Sifa pun juga mengatakan, “Emang sih, sangat disayangkan jika Nuha benar-benar tidak mau terbuka dengan kita. Dia juga keras kepala, huh”
Jam 11:30 akhirnya istirahat kedua tiba. Di ruang guru, Bu Rani tampak merapikan meja kerjanya. Yuki berencana akan mengajaknya pergi ke kantin untuk makan siang.
Rani menyetujuinya, bersama Muha mereka bertiga berjalan ke kantin. Rani dan Yuki mengobrol dengan asik, keakraban langsung terjalin di antara mereka. Muha sendiri menjadi canggung mengikuti mereka dari belakang.
Bukan karena cemburu, tapi Muha menyadari bahwa dirinya pun seperti Nuha. Yang tidak mudah bersikap ramah kepada siapapun. Dia jadi terlihat seperti seorang pengawal.
Perjalanan mereka melewati kelas 12F Multimedia. Terlihat Asa, Sifa dan Fani sedang mengobrol di teras kelas. Sudah sangat lama Yuki tidak bersua dengan Asa. Namun, Sifalah yang merindukan kehadirannya.
Asa terlihat cuek dan tidak mau menyapa. Yuki sudah tahu karakternya tersebut. Sedangkan, Muha menyelidik. Dia melihat adiknya sedang tidak bersama ketiga sahabatnya, “Nuha mana?” tanyanya.
“Maaf kak, kami tidak tahu” jawab Fani.
“O, ya sudah” jawab Muha singkat. Lalu, dia berlalu begitu saja. Tapi, Rani langsung menyusulkan. Yuki sejenak mengobrol bersama ketiga sahabat Nuha.
“Muha! Kamu nanyain di mana Nuha lalu ya sudah gitu maksudnya apa?” tanya Rani penasaran.
“Nuha itu pesulap. Suka banget ngilang dari ketiga sahabatnya itu. Jadi aku sudah sangat paham. Tidak perlu aku bertanya lagi”
“Hahaha.. benar juga. Seorang kakak ya, pasti sudah sangat paham betul dengan sifat adiknya. Kamu, sangat menyayangi Nuha ya Muha?”
“Ekhem!” elak Muha merasa malu.
“Kalo begitu, boleh tidak aku juga ikut menyayanginya?”
“Apa?”
Pesulap bagaimana? Memang sih Nuha suka menghilang, tapi sebutan Pesulap memang sangat menggelitik.
Nuha tertidur, begitupula Naru juga tertidur. Pada akhirnya, Nuha sudah tidak menceritakan apapun kepada Naru. Setelah dia lelah, akhirnya dia tertidur. Naru pun menjaganya dengan bersandar di bawah kasur, kemudian jadi ikut tertidur. Jari jemari mereka masih saling bertaut satu sama lain.
Naru bermimpi.
Dia melihat seorang gadis kecil berambut pendek dengan potongan rambut seperti anak laki-laki. Matanya bulat imut, kedua pipinya merah dengan bibir yang sangat manis.
Saat jam pulang tiba, dia ingin pulang bersama teman-temannya naik mobil pick up tapi mereka malah menolak kehadiran gadis itu, “Kamu gak boleh ikut naik mobil!”
“Ke- kenapa? Bukannya tadi kita habis main bersama?”
“Pokoknya gak boleh ya gak boleh! Kamu pulang sendiri sana!”
“Ke-kenapa?”
Lembaran kejadian pun terbuka lagi. Gadis kecil itu mencoba menunjukkan gambarnya kepada teman-temannya, “Kata ayah, kalo aku memberi mereka gambar-gambar ini, pasti mereka akan suka” hal itu membuat gadis kecil itu bersemangat dan optimis. Tapi, apa yang terjadi?
Mereka malah mengejek hasil gambar gadis kecil itu karena terlihat jelek dan tidak bagus. Meski begitu, Gadis itu tidak menyerah, karena dia tahu gambarannya diejek jelek, dia membuatnya lagi yang lebih bagus.
Keesokan harinya, seorang teman akhirnya memuji gambarnya. Gadis kecil itu merasa sangat senang. Mereka bermain setiap hari bersama-sama.
Lembaran kejadian terbuka lagi. Ada murid baru hadir di kelas. Semua teman-temannya langsung menyambutnya termasuk satu teman milik gadis kecil itu. Murid baru yang sangat cantik, ramah dan terlihat menyenangkan apabila diajak bermain. Gadis kecil itu merasa rendah diri, temannya pun sudah tidak mau bermain dengannya melainkan lebih memilih murid baru yang sangat menyenangkan itu.
Meski gadis kecil itu ikut bergabung bermain, tidak ada yang mau menanggapinya karena dia begitu pendiam dan tidak lancar diajak berkomunikasi. Dia sedih melihat teman-temannya tertawa. Dia sedih melihat teman-temannya bercanda. Setiap kali dia ingin mendekati mereka, gadis itu malah merasa semakin jauh tertinggal.
“Nuha..”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 33 Episodes
Comments