"Gadis itu lagi? berani sekali sih, Datang datang mencari Rui Naru. Gak biasanya gue lihat Naru dilirik cewek," ucap salah satu teman sekelas Naru.
"Yaa.. Mungkin adik kelasnya. Dia kan sering bantuin guru ngajar di sana.." balas temannya cuek.
Dilan yang melihatnya jadi menggerutu kesal, "Ck! Gue jadi gak bisa punya kesempatan lagi buat deketin Nuha. Sial!" Tapi, dia sejenak melirik Naomi.
Naomi terlihat benci tapi tidak bisa berbuat apa-apa. Dia hanya bisa terus menggigit bibir bawahnya sambil kedua tangan mengepal kesal.
Senyum licik pun terlihat di bibir Dilan, "Gue tau gue harus gimana.." ucapnya misterius.
Sementara itu, Naru sudah berada di luar kelas untuk menemui Nuha. Nuha yang tidak sabaran langsung menarik kedua tangan Naru dan menatapnya serius tapi dengan tatapan wajah penuh kepanikan.
"Jangan serius begitu. Ada apa sih Nuha?" tanya Naru menarik nafas untuk memahami situasi.
"Gawat, Naru!"
"Ga-gawat kenapa?" Naru jadi langsung kaget.
"Ayo sini, ayo sini" ajak Nuha menarik tangan Naru. Dia membawanya ke kelas 12A Bahasa.
Sesampainya di sana, Nuha bersembunyi di balik pintu kelas 12A Bahasa dan berbisik kepada Naru.
"Naru, bisakah kamu memanggil Ra- Ra..." ucap Nuha terhenti karena merasa malu dan sungkan untuk mengucapkan nama Rafly di depan pacarnya.
"Ra Siapa?" tanya Naru serius.
"Naru, jangan marah"
"Ma- marah? Ngapain aku harus tiba-tiba marah kepadamu, Nuha? Aku hanya.. Aku hanya ingin kamu bisa lebih tegas mengatakannya. Katakan, siapa yang harus aku panggil"
"Rafly" balas Nuha memalingkan matanya.
"Ck! Dia ternyata" Naru malah lebih sinis memalingkan matanya karena kesal.
Nuha pun menundukkan kepalanya karena kurang percaya diri dengan sedikit menarik baju Naru lalu melanjutkan, "Buku sketsaku.. Sepertinya.. Sepertinya ada padanya" ucap Nuha pelan.
"Hmm.." Sejenak menarik nafas, Naru membalas dengan ramah, "baiklah. Aku akan memanggilnya"
"Te-"
"Udah gakpapa, gak usah terima kasih" sela Naru gemas sembari mencubit pipi Nuha yang sedikit merona.
Naru mulai mengetuk pintu dan meminta izin kepada guru yang mengajar di kelas 12A Bahasa untuk bisa bertemu dengan Rafly.
Guru pun memanggilkan Rafly untuk Naru. Sedangkan, Nuha jadi semakin gugup untuk menghadapinya. Dia bingung, perkataan apa yang harus dia ucapkan saat berhadapan dengan Rafly.
Naru yang melihat ekspresi Nuha itu jadi semakin khawatir. Dia tidak ingin, sikap canggung dan wajah yang tersipu malu itu harus dilihat oleh orang lain. Perasaannya benar-benar terganggu.
"Nuha. Beranikan dirimu. Hanya karna harus ketemu dia, kamu jadi malu-malu kucing begitu. Aku kan.. Jadi gak suka" ucap Naru cemburu.
"Glek!" Nuha sedikit tertusuk.
"Tapi, Naru. Ini bukan berarti aku menyukai-"
"Ada apa elo mencari gue?" sela Rafly yang tiba-tiba sudah keluar dan berbicara langsung kepada Naru.
"Ada yang ingin gue bicarakan" balas Naru enggan menatap lalu menarik Nuha untuk mengajaknya ke suatu tempat.
"Sebaiknya, kita bicara ke tempat yang lebih nyaman" lanjutnya berjalan mendahului. Sedangkan, Rafly bersedia mengikutinya dari belakang.
Mereka bertiga turun dari lantai dua dan berjalan menuju gazebo di dekat taman sekolah. Karena Nuha belum bisa mengatakan sepatah kata pun, Naru jadi sedikit kesal jadinya.
Tapi, Rafly mulai bisa memahami dan berkata kepada Nuha, "Kau mencariku karena sesuatu?" tanyanya kepada gadis berkuncir air mancur itu.
"Buku sketsaku.. Apakah kamu yang mengambilnya?" tanya Nuha tidak berani menatap.
"Aah.. Akhirnya kamu ingat juga" balas Rafly.
Seketika Nuha langsung bisa mengangkat kepalanya. Dan bertanya, "Jadi benar, buku sketsaku ada padamu?"
"Kenapa kamu baru ingat?" sindir Rafly.
"Itu karna.." balas Nuha memiringkan bibirnya dan memalingkan mata seolah-olah sedang mencari alasan yang tepat.
"Hahaha.. Kalo iya, haruskah aku mengembalikannya?" tanya Rafly sambil tersenyum ramah tapi ekspresi dibalik itu terasa licik bagi Naru yang melihatnya.
"Kembalikan saja buku itu kepada pemiliknya. Jangan membuat urusan ini jadi panjang" sindir Naru menatap serius kepada Rafly.
"Iya, bisakah kamu mengembalikannya kepadaku?" pinta Nuha kurang tegas.
"Kalo aku meminjamnya untuk beberapa hari apakah gak boleh? Itulah kenapa aku belum ingin mengembalikannya kepadamu, Nuha" balas Rafly.
"Kusso! Orang ini!" kesal Naru di dalam hati.
"Sayang sekali lho kalo aku harus mengembalikannya sekarang, padahal ada sesuatu yang ingin aku kasih tau kepadamu" bujuk Rafly kepada Nuha.
"Apa?" Nuha kaget.
"Elo jangan memancing emosi gue ya?! Buku itu adalah barang berharga bagi Nuha. Kembalikan saja dan jangan membuat masalah!" sela Naru semakin menggeram marah sambil menarik keras kedua kerah baju Rafly.
"E- emosi? Naru.." Nuha menjadi cemas.
"Mudah sekali ternyata gue mancing emosi elo. Terus saja begitu, supaya Nuha bisa tahu sifat kasarmu itu" pungkas Rafly. Ternyata dia enggan mengembalikan buku Nuha dan beranjak pergi meninggalkan mereka berdua.
Naru duduk lemas di bambu gazebo. Ketidakberdayaannya menjadikannya seperti pengecut. Tapi, dia memang tidak bisa berbuat kasar di hadapan sang pacar.
"Maafkan aku, ya Na-"
Saat Nuha ikut duduk, Naru langsung memeluknya. Memeluk erat hingga membuat Nuha sedikit ketakutan.
"Bisakah kamu tidak berurusan lagi dengan dia?" pinta Naru sendu di atas bahu Nuha.
"Umm.. Ma-"
"Jangan meminta maaf!" ucap Naru tegas. Ucapannya langsung membuat Nuha benar-benar kaget.
"Hiks hiks.." Nuha jadi sedikit sesenggukan.
"Nuha, aku tidak ingin kamu terlibat pada suatu masalah. Aku tidak ingin duniamu semakin luas dengan sesuatu yang buruk dan sia-sia. Duniamu harus selalu indah, Nuha."
"Aku benar-benar mengecewakan" batin Nuha.
"Ingat ya, jangan mencari Rafly sendiri dan jangan menyelesaikan masalahmu sendiri. Aku akan carikan caranya" ucap Naru.
"Um"
"Aku tau Naru cemburu. Tapi, kenapa dia sangat marah. Apa yang dia takutin? Dan juga, Kenapa Rafly harus bilang kek gitu. Padahal kan, bisa langsung kembalikan aja itu buku aku" selidik Nuha di dalam hati.
"Meski begitu, aku tidak bisa harus mengandalkan Naru. Aku harus berlatih untuk bisa lebih berani menghadapi orang. Aku harus bisa" lanjut Nuha yang tanpa sadar dia sudah berhenti menangis.
"Udah mau istirahat, lebih baik kita ke kantin aja ya daripada harus kembali ke kelas" ajak Naru.
"Iya"
Mereka berdua saling melempar senyum. Tapi, Naru lebih menekankan senyuman dan tatapan matanya. Membuat Nuha tidak bisa berkutik.
"Iya-iya.." Balas Nuha mengerti.
"Yuk" akhirnya Naru bisa lega dan berjalan sambil menggandeng tangan Nuha untuk pergi ke kantin.
"Maaf ya Naru, mungkin aku berbohong. Aku tidak bisa hanya diam saja sendiri. Karna aku tau, ini ada hubungannya dengan Hawa" batin Nuha.
"Naru!" cegah Nuha.
"Iya?"
"Umm.. Seperti katamu, aku tidak akan terlibat lagi dengan Rafly. Jadi, kamu juga tidak perlu mencari cara. Jadi, biarkan aja gakpapa kok. Kan itu cuma buku sketsa baru, ya walaupun ada satu gambar sih. Tapi gakpapa, biarin aja ya" pinta Nuha.
"Hm? Mana bisa Nuha.. Meskipun itu hanya satu, tapi ada Hawa di sana, kan? Aku gak akan ngebiarin dia memiliki buku itu"
"Hawa.." balas Nuha sendu dengan raut wajah yang suram dan sedih.
"Udah tenang aja. Serahin semua padaku" balas Naru yakin dan kembali menarik tangan Nuha untuk berjalan lebih cepat lagi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 33 Episodes
Comments