"Naru, aku pusing, aku ingin tidur" ucap Nuha yang bersandar di belakang Naru. Sedangkan, Naru sendiri masih terus mengayuh sepedanya.
"Belum setengah perjalanan dia udah ngeluh gitu, kasihan sekali" batin Naru.
Naru mencari cara supaya Nuha bisa sejenak menenangkan diri. Akhirnya dia mengajak Nuha untuk berteduh sebentar di bawah pohon di taman kota.
Dia berhenti dan menstandartkan sepedanya. Lalu dia membawa Nuha ke sebuah kursi taman di taman kota. Nuha langsung menyandarkan tubuhnya di sana.
"Tunggu sebentar ya, aku akan belikan minum dan makanan," ucap Naru. Nuha mengangguk dan Naru segera berjalan mencari apa saja yang dibutuhkan. Di pinggir jalan, banyak penjual kaki lima di sana.
Naru membeli teh hangat, air hangat dalam botol, cilok dan obat. Saat dia kembali, dia melihat Nuha telah tidur nyenyak di alas kursi taman tersebut.
"Dingin" keluh Naru sejenak karena merasakan dinginnya angin yang sedang berhembus. Musim hujan yang datang di bulan ini, cukup menyulitkan aktifitas dan menganggu daya tahan tubuh manusia.
"Nuha, ayo sini" ucap Naru seraya mengangkat kepala Nuha dan menaruhnya di pangkuannya. "Apa yang harus aku lakukan? Dia jadi sakit di sini. Dahinya benar-benar panas" lanjutnya.
Naru mengambil sapu tangannya dan menghantarkan panas dari air hangat dari botol. Lalu, menaruhnya di dahi Nuha sembari menawarkan minum teh hangat untuk Nuha kesayangannya.
"Naruuu.. Aku pusing!! Aku kebanyakan makan es batu!! Kepalaku pusing!!" rengek Nuha. Dia mulai memberontak di pangkuan Naru karena tidak bisa mengendalikan kepalanya yang sangat pusing. Air matanya mengalir dan Nuha malah terus merengek.
"Eeehh.. Kendalikan dirimu Nuha, Nuha!!" Naru jadi kebingungan. "Kalo gitu, Sini. Aku pijitin kepalamu. Jangan nangis donk"
"Huwa huwa.. Kepalaku pusing"
"Ya sudah nih minum obat aja dulu" bujuk Naru sambil membuka satu biji paracetamol dari wadahnya.
Saat dia menyuapi obat tersebut sambil menyiapkan teh hangatnya, Nuha malah langsung melepehnya.
"Lhoh, kenapa Nuha?"
"Aku gak bisa minum obat. Aku gak mau minum obat kayak gini. Ini pahit Naru, aku bisa muntah" keluh Nuha semakin tidak berdaya.
"Walah, gimana ini? Sambil ditelan pake cilok kalo gitu" ucap Naru memberikan solusi.
"Huek. Gak mau. Gak bisa!"
"Lha gimana? Aku gak bisa bawa kamu pulang kayak gini. Apa aku panggil pak sopir biar antar kamu sekalian ke rumah sakit?"
"Gak mau"
"Susah bener nih anak" gerutu Naru di dalam hati. "Kalo gitu, minum donk obatnya. Satu aja, habis itu kamu bisa sembuh" lanjutnya.
"Huwwaa.. Huwaa"
"Jangan nangis. Ayo cepet, nih diminum"
Akhirnya Nuha patuh. Dia bisa menelan obatnya sambil meminum teh hangatnya meski sejenak melenguh mual karena kesulitan menelan, "huek"
"Naah, pintar sekali. Habis itu, tidur gih. Aku akan jagain kamu" ucap Naru seraya membenarkan kepala Nuha di pangkuannya lagi. Tidak lupa dia menyelimuti tubuh Nuha dengan jaketnya.
"Huuff.. Benar-benar dingin. Pantas saja, Nuha langsung terserang sakit. Cuacanya cukup menganggu daya tahan tubuhnya" ucap Naru sendiri.
Nuha tidur cukup lama. Naru menjaganya sambil makan cilok yang dia beli. Lalu mengambil buku untuk dia baca dengan sejenak bermain ponsel. Dia mengingat pesan Kak Muha.
..."Bimbinglah Nuha untuk belajar di rumah", ucap Kak Muha....
Ternyata, Muha sudah mengatakan permintaan itu kepada Naru saat di taman. Tapi, Nuha sendiri belum mengatakannya. Jadi, Naru lebih ingin Nuha sendiri yang akan mengatakannya nanti.
"Nuha, maaf ya aku memberitahu Kak Muha tentang Rafly. Tapi, tenang saja. Aku tidak memberitahunya tentang Hawa. Aku hanya memberitahukan kepadanya kalo kalian berdua memiliki hobi yang sama"
"Hfff.." Keluh Naru sejenak.
"Memiliki hobi yang sama, akan memiliki jalan pikiran yang sama. Apa kamu tega Nuha akan mendekati Rafly demi hobimu itu. Aku benar-benar merasa cemburu. Astaga, perasaan ini membuat jalan pikiranku menjadi dangkal"
Naru pun sejenak ikut tertidur di tempat.
Kak Muha, ternyata tahu akan keberadaan mereka berdua di taman. Dia tersenyum lega bahwa Naru bisa mengatasi Nuha dengan baik.
"Bocah tengik itu, memang tidak layak gue panggil bocah. Dia sangat dewasa dari usia anak sekolah pada umumnya. Semoga dia terus bisa bersikap bijak kepada pacarnya itu" pungkas Muha kemudian meninggalkan mereka untuk pergi bekerja.
Nuha menggeliat ingin mengubah posisi tidur miringnya ke arah lain. Dia tidak tahu sedang tidur di mana, seenaknya saja menggeliat-geliat seperti itu. Membuat Naru jadi terbangun.
"Udah bangun kah?" tanyanya setengah bangun dan setengah tidur.
"Hmm.."
"Nuha.. Nuha.. Aku tuh sayang banget sama kamu. Tapi kamu selalu gak bisa serius dengan perasaan cinta ini. Bikin gemas saja" ucap Naru dengan tidak sengaja mencubit pipi Nuha.
"Sakiiit.." Keluh Nuha masih tertidur.
Beberapa daun pun gugur karena tiupan angin. Satu daun jatuh di rambut Nuha. Membuat suasana menjadi sangat romantis.
"Sudah lama, kita tidak memiliki moment romantis seperti ini. Aku tau, saat masa pacaran berjalan kita tidak bisa terus menuntut untuk selalu memiliki moment romantis. Kehidupan harian harus terus dijalani untuk masing-masing kita sebagai individu"
"Nuha, ayo bangun. Udah satu jam kamu belum bangun juga. Seharusnya udah sembuh kan?"
"Umm.." Ucap Nuha abai.
"Nguuuungg~" suara perut Nuha.
"Ibu, aku lapar" keluhnya, lalu dia bangun dari tidurnya. Sejenak mengucek mata dan menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi.
"Syukurlah kalo udah sembuh" ucap Naru tersenyum.
"Naru?"
"Huwaa!!" seketika Nuha meraih leher Naru dan memeluknya erat. Dia merengek lagi seperti anak kecil.
"Hahaha.. Obatnya sangat ajaib" balas Naru sambil tertawa lepas, tawanya terdengar merdu hingga membuat hati ini menjadi meleleh.
"Maafkan aku.. Maafkan aku, Naru"
"Ye, harusnya bilang makasih gitu malah bilang minta maaf. Minta maaf kenapa?"
"Semuanya.."
"Banyak sekali berarti kesalahanmu, Nuha" canda Naru.
"Iyaaa!! Haa.. Huwa huwa huwa.. Hiks!"
"Huwa huwa huwa.. Hiks"
"Aku bercanda Nuha. Kamu gak salah, gak ada yang salah. Kamu gak perlu minta maaf"
"Asa, Asa.. Naru.."
"Weh? Asa? Di parkiran tadi kamu juga bilang Asa, sebenarnya ada apa dengan dia?"
"Gak tau.. Tapi aku merasa dia marah kepadaku. Hiks"
"Kenapa?"
"Gak tau"
"Ye, kalo cuma bilang gak tau aku kan jadi gak bisa memahami masalah kalian berdua"
"Panjang ceritanya"
"Yaudah gak usah diceritain" sindir Naru.
"Kruess!!" Nuha kembali menggigit leher Naru. Dia tidak merasa bersalah malah memberinya lebih. Seketika Naru mendorong pundak Nuha untuk melepas pelukannya. "Sakit, Nuha!" katanya.
"Hahaha" Nuha tertawa.
"Ka- kamu?!"
"Aku akan gigit leher satunya lagi" ucap Nuha tidak segan untuk menggigit sisi leher Naru yang satunya lagi.
"Nuha! Kamu ini apa sih?! Vampir?"
"Hihi.."
"Bener-bener gadis ini. VAMPIR!!"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 33 Episodes
Comments