PTLove 2B16

Pagi hari setelah memarkirkan sepeda, Nuha berjalan menuju gedung sekolah. Dia melihat Asa di depannya. Tanpa berfikir panjang, dia pun menyapa Asa.

Asa menyambutnya dengan gembira. Seketika Nuha terharu, rasa bahagianya pun langsung menyelimuti perasaan. Mengapa? Karena, mengingat kemarin Asa tiba-tiba mengacuhkannya tanpa sebab.

Tapi, tak begitu lama Asa malah kembali bersikap dingin. Dia langsung berjalan meninggalkan Nuha sendiri.

"Ada apa dengan Asa?"

.

.

.

Hari ini, pelajaran Kimia di laboratorium. Bu Rani akan menyampaikan materi pembelajaran tentang Sifat Koligatif Larutan, yang berupa larutan elektrolit dan larutan non-elektrolit.

Nuha dan ketiga the bestFANS berada di barisan yang sama, dengan dibagi kelompok Nuha bersama Fani dan Sifa bersama Asa.

Sebelum praktek kerja dimulai, Bu Rani menjelaskan dengan rinci pembelajarannya tersebut termasuk prosedur keamanan dan keselamatan kerja yang harus selalu diterapkan.

Lalu, beliau menunjukkan bagaimana cara kerja larutan elektrolit dan larutan non-elektrolit. Tapi, tiba-tiba "pyar" tangan Bu Rani yang penuh perban itu menjatuhkan lagi gelas kacanya. Sontak seluruh siswa langsung berkerumun untuk menolong beliau.

"Cih!" acuh Asa, dia berjalan mengambil sapu. Kemudian, dengan lantang berbicara, "Kalian itu sebenarnya lagi caper ato pura-pura peduli sih! Minggir!" perintahnya.

Beberapa siswa pun menyingkir dan Asa mulai memerintah lagi, "Woi para cowok! Bantuin donk! Malah bengong loe pada"

Sifa berjalan mendekati Bu Rani sambil menanyakan keadaannya.

Beberapa teman sekelasnya jadi bingung dan saling bertanya-tanya. "Ada apa dengan Asa?"

"Dasar Asa, sensian banget sih dia itu" ucap temannya. Ditambah lagi, "Dia memang cewek galak yang menyeramkan" kata Rama.

"Sudah-sudah kalian tenang. Saya tidak apa-apa, jadi saya mohon jangan pada gaduh ya," ucap Bu Rani.

"Pasti ada yang salah sama Asa. Jika dia seperti itu, pasti ada yang salah, kan?" tanya Fani sambil melirik kepada Nuha.

"Aku yang salah. Dia sepertinya marah kepadaku tapi kenapa? Apa yang membuatnya marah?" balas Nuha di dalam hati dengan terdiam menatap Fani.

Seperti biasa. Setiap ada masalah, Asa jadi emosional dan menganggu suasana yang ada. Dia memang gadis yang berani dan tidak takut bila ada yang melawannya.

Suasana pun mereda dan keadaan kembali seperti semula. Pelajaran praktek kembali dimulai. Semua siswa fokus dan berhati-hati saat mengerjakannya.

Bu Rani menghampiri Nuha, "Gimana Nuha? kamu sudah kasih password itu belum kepada kakakmu?" tanyanya.

"Eh? Pass-word apa?" tanya Nuha bingung.

"Hahaha.. Ya sudah. Tidak perlu dipikirkan," balas Bu Rani ramah dan tersenyum.

Tawa dan senyumannya Bu Rani, sungguh tidak ada yang menandingi. Wanita cantik itu, sangat mempesona.

"Tangan Bu Rani, kenapa?" tanya Nuha.

"Oh, ini? Hm.. Gakpapa kok"

Asa yang melirik obrolan Bu Rani dan Nuha kembali menggerutu, "selalu selalu saja bilang gakpapa. Gak Nuha, gak Bu Rani gak semuanya! Selalu saja bilang gakpapa. Gue bener-bener muak mendengarnya."

"Duk!" Asa mengakhirinya dengan memukul meja dengan kedua tangannya.

Kembali lagi pada pelajaran. Beberapa siswa telah berhasil melakukannya. Dimana, larutan eletrolit berhasil menyalakan lampu kecilnya dan larutan non-elektrolit tidak bisa menyalakan lampu, alias tidak bisa menghantarkan listrik sama sekali.

Bu Rani menghargai semua hasil kerja murid-muridnya. Tidak lupa mereka mencatat semua hasil percobaannya. Dan pembelajaran pun selesai dengan lancar.

"Kalian boleh istirahat dan meninggalkan lab. untuk kembali ke kelas. Jangan lupa, teliti sebelum pergi ya anak-anak" ucap Bu Rani.

"Baik Bu"

Para murid mulai berurutan keluar laboratorium untuk kembali ke kelas. Asa langsung mengambil langkah pertamanya tanpa bersama ketiga sahabatnya.

Setelah menaruh tas di tempat duduk masing-masing, Asa sekali lagi langsung beranjak pergi ke kantin tanpa menghiraukan ketiga sahabatnya.

Nuha, Fani dan Sifa mengikutinya ke kantin. Mereka berpapasan dengan Kak Muha yang sedang membawa laptop. Nuha menanyainya, "laptop siapa itu kak?"

"Bukan siapa-siapa" balas Kak Muha cuek.

"Hilih, aku tau itu milik siapa" selidik Nuha dengan menyipitkan matanya. Seketika kakaknya langsung menariknya menjauh dari Sifa dan Fani.

"Kamu tau ini milik siapa?"

"Bu Rani, kan?"

"Eh, ssttt.. Pelankan suaramu, Nuha" perintah kakak.

"Kenapa?"

"Ck. Kamu ini!"

"Kalo mencari Bu Rani, dia masih di lab. kak. Oya, tadi Bu Rani menjatuhkan gelas kaca. Untung teman-teman langsung membantunya" ucap Nuha sedih.

"Ya, makasih" balas Muha cuek dan pergi.

"Iiih nyebelin. Harusnya aku duluan yang pergi. Wibawaku jadi terlihat buruk deh di mata Fani dan Sifa" gerutu Nuha untuk kakaknya.

"Nuha.. Nuha.. Kakakmu itu, gak habis-habisnya ya ngerjain kamu" sindir Fani.

"Hmph!"

Sampai di kantin, terlihat Asa sedang makan sendiri. Sifa membuat ide, "Fani, aku titip beliin kayak punyamu ya. Aku mau deketin Asa dulu."

Fani mengiyakan, lalu dia bersama Nuha memesan makanan di Ibu kantin.

Nuha selesai duluan karena Fani harus memesankan lagi untuk Sifa. Saat Nuha menunggu Fani, Naomi datang tepat di hadapannya. Nuha akan menyapa lebih dulu, eh Naomi tiba-tiba menarik nampan Nuha sehingga menjatuhi dirinya sendiri.

"prang"

"kumprang kumprang kumprang"

Semua makanan dan minuman Nuha jatuh mengotori tubuh Naomi dan berceceran dimana-mana.

Nuha yang kaget hanya bisa bilang, "eh?"

"Ada apa Nuha?" tanya Fani menoleh.

"Tadi-"

"Maaf ya Nuha.. Aku gak liat tadi" ucap Naomi jatuh terduduk dan diam saja. Nuha yang kurang tanggap juga kebingungan harus berbuat bagaimana.

Asa datang langsung menolong Naomi, "Kamu gakpapa Naomi?" tanyanya.

"Tadi Nuha gak sengaja nabrak aku. Jadi berantakan semua deh di sini" balas Naomi ramah.

"Kamu itu masih baik banget ngadepin ini. Meski begitu, marah kek sama dia" sahut Asa melihat tajam ke arah Nuha.

"Jlep!"

"Aku-"

"Nuha! Minta maaf donk sama Naomi. Lelet banget sih kamu?!" bentak Asa.

"Asa, tenangkan dirimu" pinta Sifa.

"Akan gue luruskan ya semuanya! Jadi orang tu jangan baik banget napa sih. Punya perasaan tuh jangan munafik gitu. gakpapa, gakpapa. Selalu saja bilang gakpapa" cibir Asa terus-terusan.

"Ayo Naomi, aku bantu bersihin diri" pungkas Asa memapahnya dan membawanya ke toilet. Sifa ikut membantu.

Semua pasang mata jadi menghakimi Nuha. Fani bingung. Begitu juga, Nuha. Dia semakin bertambah bingung.

"Masalah apa yang telah kubuat? Kenapa Asa jadi semakin marah? Aku benar-benar pengecut. Kenapa aku tidak bisa memahaminya? Asa.." keluh Nuha.

"Nuha, kamu gakpapa?"

"Neng, tolong dibantu dibersihin ya" pinta Ibu kantin.

"A, iya bu. Akan saya bersihkan" balas Nuha melamun. Dia mulai membersihkannya tapi tatapannya kosong. Tidak tahu bagaimana cara membersihkannya, Nuha hanya terus mengambilnya dengan tangan kosong.

"Gimana banget sih gadis itu. Ada sapu, ada tisu kenapa dia membersihkannya dengan tangan kosong? Jijik deh gue lihatnya"

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!