Sehari Nuha tidak berangkat ke sekolah, begitu juga Hawa tidak menampakkan dirinya di hadapan Rafly. Naru bertanya-tanya sendiri, kenapa si DOI tidak berangkat sekolah, sakit kah?
Sedangkan, Rafly bisa memahami alasan Hawa tidak muncul karena perkataan Hawa sendiri bahwa menjadi wujud manusia ternyata sangat menyulitkan. Kedepannya, Rafly akan meminta Hawa untuk tidak melakukannya lagi.
Hari berikutnya tiba. Nuha berangkat bersama Kakaknya. Sesampainya di pinggir jalan, Nuha bersiap untuk turun dari motor tapi kakaknya malah terus menarik gas motornya hingga sampai di parkiran sepeda motor.
Nuha bertanya-tanya, “Kenapa parkir disini?”
“Kakak akan menemani Yuki mengajar lagi”
“Whatss?!”
“Jangan kaget! Ini karna kamu kesakitan waktu itu. Kakak akan menyelidikinya siapa yang telah berbuat masalah denganmu” sinis Muha.
“Kenapaaa..” Nuha langsung mengeluh dan menangis buaya karena tak berdaya.
“Aku mau sembunyi-sembunyi dari Naru untuk mencari tahu sendiri, malah ada kakak yang ikut-ikutan. Kenapa jadi serumit ini, MAMANG!!” keluh Nuha sambil meneriakkan kata MAMANG!! dengan kencang.
Setelah sampai di pintu gerbang, Nuha berjalan sendiri ke kelasnya. Muha juga mulai berjalan menuju ruang guru. Tidak lama ia berjalan, Yuki datang menyapanya dari belakang, "Yo!"
“Niat ngajar ato jadi mata-mata lagi nih?” sindir Yuki.
“Sudah tau jawabannya gak usah tanya!”
“Galak bener kakak satu ini”
Saat mereka berdua masuk ke dalam ruang guru, Muha sekilas berpapasan dengan seorang wanita yang tidak asing baginya. “Suinggg..”
“Aura ini..” batinnya.
Wanita itu lewat begitu saja, karena dia sedang keluar dari ruang guru untuk pergi kemana Penulis tidak mengetahuinya. Tapi, sejenak Muha berhenti melangkah dan menatap kepergian wanita cantik tersebut.
“Ada apa Muha?” tanya Yuki.
“Enggak. Hanya saja..”
“Aku akan menemui Pak Darsono tentang kehadiranmu. Ya meski kutahu kamu langsung dibolehkan ngajar lagi, tapi setidaknya kan minta izin dulu” sahut Yuki menyeringai.
“Elo jadi lebih ceria disini, kemana perginya keramahan sok kerenmu itu?” sinis Muha.
“Hahaha” Yuki hanya bisa tertawa.
Karena Yuki meninggalkannya, Muha jadi ingin beranjak pergi. Ada maksud terselubung juga dia berada di sekolah lagi. Meski itu baru saja terpikirkan olehnya.
Sifat angkuhnya memudar karena dia sedang penasaran dengan seorang wanita. Dia mencari tahu kemana wanita itu pergi yang tidak lain guru cantik bernama Bu Rani. Arah matanya celingak-celinguk seperti sedang mencari sesuatu.
“Bug!” seorang siswi yang berjalan mundur menubruknya dari belakang.
“Go- gomenasai” ucapnya bersalah.
Muha menoleh dan siswi itu pun juga langsung menatap, mereka berdua pun berkata bareng dalam sekali waktu, “Naomi?!”/// “Nuha no Onisan?”
Sejenak dengan kekagetannya..
Muha mengajak Naomi ke kantin dan mentraktirnya makan. Di samping itu, dia ingin mengobrol sebentar bersama Naomi. Muha kaget bahwa tidak dia sangka ternyata Naomi bersekolah di sekolah adiknya. Sedangkan, adiknya sendiri tidak menceritakannya sama sekali.
“Sepertinya dia tidak masalah dengan kehadiran Naomi disini?” selidik Muha untuk Nuha di dalam hati.
Naomi sedikit demi sedikit sudah bisa berbicara dengan bahasa indonesia. Muha pun berusaha untuk memahami bahasa campur yang digunakan Naomi.
“Jika kalian tidak terlibat masalah, mungkin kalian berdua harus bisa berteman” pinta Muha.
“Maksud kakak?”
“Bertemanlah dengan Nuha. Saya yakin Nuha akan langsung menerimanya”
“Bisakah begitu?”
“Tentu saja. Bertemanlah dengannya, karena dia juga memiliki teman-teman yang sangat baik”
“Mungkin aku bisa memanfaatkan moment itu” ucap Naomi di dalam hati.
“Kalo kamu sudah gak papa, saya tinggal ya”
“Baik kak, terima kasih karna sudah mentraktir jusnya," balas Naomi tersenyum ramah.
Muha menggaruk-garuk sisi kepalanya sambil berkacak pinggang. Dia jadi sedikit bingung mengikuti alur kehidupan adiknya di sekolah. Apakah Nuha akan baik-baik saja? Mengingat ujian sekolah semakin terlihat di depan mata.
Muha berjalan melewati laboratorium kimia. Disaat pikirannya sedikit berkecamuk, tiba-tiba terdengar suara, "kumprang!! Pyar!"
Suara sesuatu yang pecah berasal dari dalam laboratorium kimia. Muha pun langsung berjalan masuk ke dalam. Dia kaget melihat seorang wanita sedang membersihkannya sendiri.
"Rani.. Rani.. Selalu saja ceroboh. Kamu ini guru kimia tapi selalu saja memecahkan gelas kaca" keluh wanita itu sendiri.
"Tunggu dulu. Gadis ceroboh? Aku jadi mengingat Nuha. Ahhii.. Dia sering kesandung sama kayak aku cerobohnya" ucapnya sambil terus memungut pecahan-pecahan kaca tersebut.
"Dia mengenal Nuha?" batin Muha. Muha pun mendekat dan bertanya, "Anda mengenal adik saya?"
Seketika wanita itu menoleh. Gemerlap bintang-bintang kecil pun mengiringinya. Wajah cantik dan aura keramahan langsung membuat Muha terpana.
"Adikmu?"
"A, iya. Maaf.." balas Muha langsung membantunya memungut pecahan-pecahan kaca tersebut. Tapi, melihat telapak tangan wanita itu penuh perban membuatnya sejenak terdiam.
"Aduh"
"Eh?"
"Berdarah lagi. Hm.." sahut wanita itu terkekeh ceria. Seolah dia memang sudah terbiasa terluka.
"Dia.."
"Seperti Nuha. Enggak! Wanita secantik dia tidak mungkin seperti adikku yang ubsurd itu" sindir Muha di dalam hati.
"Haa syung!!" Membuat Nuha langsung bersin di tempatnya (di kelas).
"Heloow.. Cowok aneh, kok malah ngelamun"
"Apa?"
"Kamu mau niat bantuin gak sih?"
"Eh?"
"Sudah telat, cowok aneh. Sebaiknya kamu pergi bila tidak ada urusan di sini" ucap wanita itu seraya menyimpan pecahan itu dengan aman, kemudian mencuci tangannya yang kedua jarinya sedang tergores dan berdarah.
"Kamu tidak merasa takut atau sakit gitu tanganmu tergores?" tanya Muha sedikit memalingkan muka dan menutup mulutnya dengan punggung tangannya.
Dengan entengnya, wanita itu membalas sambil mencari kotak P3K, "Kenapa? Aku sudah terbiasa terluka kok. Lagian ini hanya luka kecil. Karna, luka fisik, akan lebih cepat sembuhnya." Sejenak, dia terdiam dengan cahaya wajah yang redup.
"Glek!"
Muha tidak bisa berkutik menghadapi wanita tangguh dihadapannya. Benar-benar serasa mati kutu.
Tapi, sejenak dia merasa nyaman dengan suasana di ruang laboratorium tersebut.
"Wangi" ucapnya singkat.
"Benarkah? Syukurlah kamu menyadarinya. Aku baru saja membeli scented candle, itu lilin beraroma. Apa kamu menyukai harumnya?" tanya Rani senang.
"A iya. Aku suka. Hm.. Sangat harum" balas Muha sejenak memejamkan matanya dengan tenang.
"Pria ini.." Mata Rani terpana.
Tapi, kedua insan tersebut tiba-tiba mengatakan kata yang sama, "cantik"
"Apa?" Muha langsung tercengang.
"Ahihihihi" Rani tertawa dengan menutup mulutnya dengan kedua telapak tangan, "cowok aneh yang lucu"
"Gimana bisa dia mengataiku cantik? Heh?" batin Muha heran sambil melihat Telapak tangan yang penuh dengan perban itu, hatinya jadi tersentuh.
"Apa dia tidak apa-apa? Dengan luka seperti itu, apakah dia sendiri yang mengurusnya?"
"Cowok aneh, siapa namamu?"
"Iya?"
"Co-wok a-neh. Aku harus mengganti memanggilmu dengan nama apa? Haah?"
"Aku.."
"Oya! Aku tadi baru ingat. Kamu tadi mengatakan kalo Nuha itu adikmu? Aaaa.. Aku benar-benar jadi ingat. Kamu si kakak yang mengantarnya sekolah waktu lalu?" sela Rani.
"Benar"
"Ooo.. Oke, sekarang namamu siapa?"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 33 Episodes
Comments