"Passwordnya apa?" tanya Muha.
"Apa? Umm.."
"Nih," Muha menyerahkan laptop itu bermaksud untuk Rani mengetikkan password laptopnya sendiri setelah proses restart selesai.
"Kupikir dia ingin tahu" batin Rani sembari menerima laptopnya sendiri, lalu mulai mengetikkan passwordnya. Muha sedikit mengintip, meski dia tahu itu perbuatan yang tidak sopan. Tapi, karena rasa penasaran yang semakin mendera batinnya, dia tetap berani mengintip.
Sangat jelas sebab Rani mengetiknya menggunakan sebelas jari. Muha menjadi heran, "Kenapa dia mengetik seperti itu?"
"Udah" balas Rani singkat.
"A- iya"
...****************...
"Elo mau kemana Rui?" cegah Dilan yang juga sedang berada diluar kelas sambil bercanda dengan teman-temannya.
"Ke toilet" balas Naru singkat.
"Guru udah jalan ke kelas kita elo malah mau pergi"
"Kan gue udah bilang, mau ke to-i-let!"
"Oke-oke sana!"
Naru hanya beralasan, karena rencananya berubah. Saat dia berjalan melewati kelas 12F Multimedia, melalui kaca jendela dia tidak melihat Nuha ada di kelas tersebut, "Apa dia ketemu si Raff itu lagi?" sinis Naru menyelidik.
Setelah Nuha selesai membersihkan diri di dalam kamar mandi, dia membuka kunci pintunya. Tapi malah pintunya tidak mau dibuka.
"Hah, kenapa gak bisa dibuka? Siapa yang sedang iseng di sini?" tanyanya sendiri.
Dia duduk terdiam di atas toilet duduk yang ditutup. Sejenak bisa membuatnya tenang karena dia ingin menenangkan pikiran dan perasaannya.
"Asa, kenapa kamu begitu marah kepadaku? Sedangkan, Aku.. gak bisa cerita apapun tentang masalahku ini," ucapnya tertunduk sedih.
"Hiks"
Naru berjalan mencari, "Kemana dia pergi?"
Dia berjalan lagi dan melewati toilet perempuan. Tempat itu, juga terlihat sepi. Tapi, di luar toilet terlihat bekas telapak sepatu yang mengotori lantai.
"Nuha, kamu di mana?"
"Hiks"
Terdengar samar-samar suara isak tangis di dalam kamar mandi. Naru sedikit merinding tapi dia menjadi penasaran.
"Hiks"
Meski bukan tangisan, tapi suara isak tangis seseorang yang kesulitan menarik kembali ingusnya yang cair terus keluar.
"Ada.. Seseorang di dalam?" tanya Naru.
"Na-" Nuha langsung tahu ada seseorang yang datang. Tapi, karena dia sedang sedih dia mengurungkan niat untuk meminta tolong.
"Nuha, kamu di dalam?" tanya Naru sekali lagi, sembari melihat pintu terkunci dari luar.
Tidak ada jawaban. Nuha berdiam diri tidak ingin beranjak dari tempatnya.
"Kamu sedang ngapain di dalam? Ada yang mengunci dari luar apa kamu gak tau?"
Tidak ada jawaban.
"Baiklah. Aku tidak tau kamu siapa di dalam, yang pasti aku telah membantumu membuka kuncinya yang terkunci dari luar. Oke, aku pergi" pungkas Naru.
Naru keluar. Nuha masih terdiam di dalam kamar mandi. Entah apa yang masih dia risaukan, yang jelas dia masih berdiam diri di sana.
Lima belas menit pun berlalu. Tidak ada suara lagi yang terdengar. Naru masih setia menunggu diluar, "Tidur kah dia? Apa jangan-jangan.."
Saat dia akan melangkah masuk kembali ke dalam, akhirnya Nuha membuka pintu. Seketika Naru kembali berbalik ke tempatnya lagi.
"Hfff.. Okei. Saatnya fokus dan gak perlu dipikirin lagi. Sadar Nuha, sadar" ucap Nuha sendiri sembari mencuci muka di depan wastafel.
"Aku sudah kelamaan merenung. Baiknya kembali ke kelas" pungkasnya seraya berjalan keluar.
Seketika Naru mengagetkan Nuha yang berjalan keluar dari toilet, "BA!"
"Uwa!!" Nuha kaget.
"Hahaha.. Lama banget di toilet. Diare ya?"
"Hmph! Gak sopan," cuek Nuha.
"Nuha, kok cuek? Ngapain sih di toilet?" tanya Naru sembari mengikuti Nuha yang berjalan.
"Kepo"
"Ke- kepo?"
"Cerewet"
"Ce- cerewet?! Nuha! Kamu, benar-benar ya!"
"Aku mau balik ke kelas, jangan mengikuti donk" tandas Nuha berbalik arah memarahi Naru. Tapi, dari jarak pandangnya tepat searah ke area taman, dia melihat sebuah sosok.
"Ye, aku kan juga mau-"
"Naru!" seru Nuha langsung berlari menuju taman. Dia terus berlari hingga sampai di sana.
"Eh? Malah lari"
"Ha- Hawa?" panggil Nuha yang melihat sosok itu dari belakang. Sosok yang mendengar itu kemudian menoleh, "Iya?" seketika Nuha langsung memeluknya senang.
"Hawa. Hawa! Kamu ada. Kamu benar-benar Hawa kan? Iyaa aku sangat merindukanmu"
"Ka- kamu siapa?" tanya Hawa bingung.
"Apa?"
"Ke- kenapa kamu bisa memelukku? Dan, kok kamu sangat mirip denganku?"
"Aku, Aku Nuha. Hawa, jangan membuatku bingung"
Bagi Nuha, Nuha sendiri bisa menyentuh jiwa imajinasinya itu. Sangat nyata saat dia memeluk Hawa. Tapi, ketika Naru melihatnya, dia mencoba memahami bahwa Nuha memeluk seseorang yang tidak terlihat olehnya. Rafly datang mendekat.
"Dia terlihat gembira, ya" sahutnya.
"Elo?!"
Merindukan seseorang yang tiba-tiba telah melupakanmu, bagaimana ya rasanya? Sedih, kecewa atau marah? Benar-benar tidak terbersit di fikiran sedikit pun bahwa Hawa telah melupakan Nuha.
"Hawa" panggil Rafly.
"Rafly" sambut Hawa. Dia pun terbang menghampiri Rafly dengan senang hati. Mereka berdua pun pergi.
"Deg!"
"Gak mungkin"
"Deg!"
"Bagaimana bisa?"
"Deg!"
"Hiks.."
"Deg!"
"Aku lelah kalo harus terus nangis"
"Deg!"
"Tapi.."
"Deg!"
"Nuha?" ucap Naru cemas.
Nuha jatuh bertekuk lutut. Dia tertunduk memandang tanah tepat di hadapannya. Perlahan, air matanya berlinang. "Tes" Setetes air mata pun jatuh. "Tes" setetes lagi terjatuh, kemudian diiringi isakan tangis yang mulai terdengar, "Hiks"
Bibir manis itu, semakin lama semakin bergetar. Tidak bisa dikendalikan karena terus bergetar. Dia pun menggigitnya dengan seerat mungkin. "sakit"
Menangis. Hanya menangis lagi yang Nuha bisa lakukan. Sedih, sangat sedih. Air mata semakin berderai karena Nuha tidak mampu mengendalikan emosinya. Punggung tangannya terus mengusap-usap air mata yang semakin deras tidak mau berhenti.
"Hiks.. Hiks.. Hawa.. Kenapa.."
Perasaan sakit hati bercampur kecewa benar-benar menyayat. Seperti inikah rasa sakit tanpa darah? Rasa sakit tanpa obat. Rasa sakit yang bahkan bisa menghujam otak ini sekaligus. Benar-benar seperti gila dan menganggu kesehatan mental.
Nuha, akhirnya terlihat seperti apakah dirinya yang sebenarnya. Nuha yang cengeng dan tidak berdaya. Nuha yang kecil dan lemah.
"Nuha, sudah.." kata Naru mendekap perlahan tubuh Nuha yang kecil. Rintihan tangis bernada rendah terus terdengar di telinganya. Nuha terus menangis di dalam dekapan sang kekasih.
Bagi Nuha, memiliki hubungan sama dengan memiliki satu nyawa yang lebih. Hal itulah yang sangat berharga. Dia tidak bisa menyia-nyiakan sebuah hubungan yang telah mengikat dirinya. Jika hubungan itu putus, hatinya akan benar-benar hancur. Maka dari itu, dia selalu membatasi diri dalam pertemanan supaya tidak sering merasa kecewa dan sakit hati. Karena dia bukan pribadi ekstrovert yang dengan mudah berbaur dengan siapapun.
Naru ingin membawa Nuha pulang ke rumah Nuha. Dengan menelepon pak Sopir untuk menjemputnya, Naru akan mengantar Nuha untuk pulang ke rumah.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 33 Episodes
Comments