PTLove 2B5

Di dalam mimpi, sebuah ruang hampa tercipta. Gelap, kosong, sepi dan tak berujung. Mata siapa yang melihat?, mata Nuha pun melihat. Tidak ada apapun di sana. Seperti sebuah kegelapan di dalam mata yang terpejam, melihat di dalam mata yang terpejam.

“Di mana, aku?”

Nuha berjalan. Melangkahkan kaki yang tidak pasti akan ke mana. “Tap, tap, tap”. Tidak ada yang bisa dilihat. Bahkan, tangan yang dia raba, pipi yang dia sentuh, tidak bisa dia lihat.

Lampu sorot dari arah atas pun muncul, “clap!”

Seketika terlihat, “Hawa?”, ucapnya.

“Hawa!”

Nuha berlari menghampirinya. Saat mereka saling berpegangan tangan, dunia hitam pun sirna, berubah menjadi suasana langit nan biru. Awan putih menghiasinya bersama hembusan angin yang membelai keadaan Nuha dan Hawa.

“Aku selalu mencarimu, Hawa” ucap Nuha sambil memeluk Hawa.

“Segitunya kamu mengharapkanku, Nuha. Aku sangat berterima kasih kepadamu, karena kamu benar-benar mengharapkanku untuk ada. Tapi,”

“Jangan bilang selamat tinggal lagi”

“Sudahlah, Nuha. Cukup. Aku hanyalah ilusi. Tidakkah kamu ingat? aku tercipta hanya untuk menyembuhkan kesedihanmu saat ayahmu meninggal dunia. Aku juga telah berjanji kepada Kak Muha, bahwa setelah kamu menemukan kebahagiaanmu, aku.. aku harus..”

“Tidak mau!”

"Kenapa?"

"Tidak mau ya tidak mau!"

“Baiklah, aku akan memberimu kesempatan terakhir”

“Kesempatan, terakhir?”

“Aku akan kembali lagi kepadamu, tapi setelah kamu lulus sekolah kamu harus benar-benar mengikhlaskan aku untuk pergi”

“Tapi..”

“Satu lagi”

“Apa? Satu lagi?”

“Meski aku adalah bagian dari dirimu, sekarang aku sedang terikat dengan seseorang. Kamu ingat dengan syarat itu? Syarat bahwa aku akan muncul kembali jika kamu berhasil menggambarku bersama orang lain. Dan orang lain itu telah berhasil melakukannya”

“Siapa? Ba-bagaimana bisa? Aku menggambarmu dengan siapa? Siapa, Hawa?"

“Cari tahulah sendiri, Nuha”

Hawa pun menghilang dan Nuha langsung jatuh dari langit. "Whooosssshhh!!!"

“Uwaaaaa!!!”

"Waaa!!"

“Gedebug!” Nuha jatuh dari kasur dan langsung bangun dari tidurnya.

“Jantungku, jantungku baik-baik saja kan?”, ucap Nuha kebingungan bangun dari tidur karena mimpi jatuh dari langit.

“Ngeeekk” Suara pintu yang dibuka oleh Kak Muha.

“Kakak mendengar suara meteor jatuh dari atas dapur. Ternyata seorang gadis pemalas yang baru saja bangun dari tidur. Kamu mau sekolah tidak? Sudah jam tujuh kurang seperempat ini”

“Apaaa?!!”

...****************...

“Nuha belum sampai juga ke mana sih tuh anak?”, heran Naru menunggunya di parkiran.

Sambil berjalan keluar parkiran, Naru melihat Double Raffs sedang berjalan bersama. Dia pun memanggil Rafly, “Rafly!”

“Apa loe panggil-panggil kita?”, sahut Raffy.

“Gue gak ada urusan dengan elo. Rafly, bisakah kita bicara sebentar”

“Baiklah. Raffy, elo bisa duluan”, jawab Rafly seraya meminta Raffy untuk masuk ke gedung sekolah duluan.

Raffy pun pergi. Meski matanya sinis penuh kecurigaan, tapi dia patuh untuk segera pergi.

“Gue mau ngomong tentang rahasia Nuha yang elo bicarakan waktu lalu”, ucap Naru

“Mau peduli ya?”

“Rahasia itu hanya elo saja yang tau atau kembaran loe juga tau?”

“Tidak. Hanya gue yang tau”

“Lalu, apa yang elo lakukan padanya? Apa yang elo rencanakan sebenarnya? Apa yang elo inginkan?!”

“Apa elo berfikir bahwa gue akan berbuat buruk kepadanya? Haha, tenanglah wahai pangeran. Meski gue tidak bisa dekat  dengan sang putri, tapi beruntung bagi gue bisa memiliki jiwanya”

“Apa elo bilang?!”, Naru mulai geram.

“Apa yang ingin elo lakukan? Menghajar gue? Tidak kan? Gak ada yang bisa elo lakuin, Naru. Terima aja. Be Calm down. Jiwa itu, aman kok sama gue” pungkas Rafly seraya akan pergi.

“Rafly, tunggu!”

“Elo bisa menemui gue lagi kalo elo sudah menemukan cara untuk menghentikan gue”

“Ck! Kenapa harus dia?”, keluh Naru.

Sampai di sekolah. Nuha diantar oleh kakaknya dengan sepeda motor. Pintu gerbang sudah ditutup sebelah dan sudah tidak ada siswa yang berangkat. Nuha terlambat sampai di sekolah.

Turun dari motor, dia mulai berlari menuju gerbang sekolah. Kebiasaannya mulai lagi. Nuha tidak bisa tenang jika berjalan kaki, akhirnya dia berlari dan..

“Gedubrak!”

Dia tersandung di depan pintu gerbang sekolah. Pak Satpam pun langsung kaget dengan tingkah konyol Nuha. Kak Muha hanya bisa menepuk dahinya lagi.

“Aduh.. sakit..”

“Kamu, gakpapa?”

Seseorang menolongnya. Wanita cantik, bu Rani guru mata pelajaran Kimia menolongnya kembali. Kak Muha yang melihatnya sejenak kaget.

“Kakak? Eh, Bu- Bu Rani”

“Kamu kok bisa jatuh lagi, Nuha. Apa ini kebiasaanmu?”

“I- iya. Aku buru-buru jadi jatuh lagi”

“Haha, gitu ya”

Tawa ramah Bu Rani benar-benar menyejukkan hati di pagi hari. Aura kebaikannya pun menghadirkan angin yang membelai lembut keadaan. Hari ini, rambut panjangnya dia kuncir menyatu dengan disilakan di leher sebelah kiri. Angin berhasil melepas pita yang dia gunakan sebagai kuncir rambut.

“Kuche kuche hota hai”

“Whuss”

Pita itu terbang dan ditangkap oleh Muha yang masih berdiri di samping sepeda motornya. Muha sejenak terpana dengan suasana, sejenak terhipnotis oleh kehadiran wanita baru tersebut. Ini baik atau buruk?

Muha dan Rani saling menatap satu sama lain meski jarak jalan berada di antara mereka. Angin terus saja usil hingga rambut Rani mulai tergerai indah. Helaian demi helaian memantulkan sinar matahari pagi. Kilauan semburat cahaya emas memberikan pesona.

“Kakak!”

Nuha langsung menyadarkan kakaknya yang masih saja melamun. Dia ternyata sudah menyeberangi jalan untuk menghampiri kakaknya kembali.

“Nuha? Kenapa balik lagi?”

“Kakak! Pitanya. Sini”

“Eh? Apa?”

“Pagi-pagi melamun. Kesambet entar baru tau rasa”

“Ke-kesambet katamu?”

“Makanya, sini pitanya!”

“Oh, I- iya. Nih”

Muha menyerahkan pita itu kepada adiknya. Setelah Nuha kembali menemui gurunya, Muha pun mulai menaiki sepeda motornya dan beranjak pergi.

Hati ini, tiba-tiba berdegup oleh sesuatu yang tidak disadari. Entah apa maksudnya, tapi sesuatu yang menekan telah berhasil menyesakkan nafas. Inikah, jatuh cinta?

Rasanya gelisah dan cukup mengganggu kendali tubuh. Muha, sedang tidak fokus saat sedang berkendara. Akhirnya, dia mampir ke sebuah warung untuk menenangkan sesuatu yang membingungkan tersebut.

“Nuha, itu tadi kakakmu?”

“Iya”

“Oh. Makanya, saat kamu waktu itu memanggilku kakak rasanya aku tuh jadi seneng banget gitu. Entah kenapa"

“Maaf ya bu Rani, kalau aku tidak sopan waktu itu”

“Gakpapa Nuha. Kan aku udah bilang. Kamu boleh kok memanggilku kakak.”

“Iya, tapi..”

“Jangan berhenti untuk memanggilku kakak, ya” pungkas Bu Rani ramah kemudian pamit untuk menuju ruang guru. Sedangkan, Nuha berjalan menuju kelasnya.

“Ada apa dengan Bu Rani?”

Kedatangan Nuha langsung disambut oleh ketiga sahabatnya. Sifa melanjutkan kabar beritanya mengenai kegiatan yang sudah ditempel di dinding pengumuman.

Kegiatan akan dimulai dua minggu lagi. 

Terpopuler

Comments

Call me Peri

Call me Peri

Guru kayak Bu Rani, kayaknya nyenengin banget deh

2023-08-21

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!