Li Fengran berjalan tanpa niat, terkadang tubuhnya terseok-seok terbawa angin yang datang berhembus. Dia yang seperti ini seperti layangan kertas yang talinya putus, siap melayang dan jatuh kapan saja.
Ekspresinya juga tidak sedap dipandang, membuat pelayan istana yang berjumpa dengannya bergidik ngeri.
Berita itu, dalam sekejap sudah menyebar ke seluruh penjuru istana. Entah kasim mana yang membocorkan situasi
di dalam pengadilan tadi, tapi yang jelas kini semua orang tahu jika seseorang baru saja diangkat menjadi Pemangku Pedang.
Sekali dalam seumur hidup, mereka dapat menjadi bagian dari diangkatnya seorang Pemangku Pedang kedua setelah Ratu Pertama Donghao.
“Tuan Pemangku Pedang, silakan,” ucap Wang Bi.
Sekarang ia bahkan mengganti panggilannya, karena sebutan “nona” terlalu feminim dan penyebutan itu hanya untuk gadis-gadis bangsawan biasa.
Li Fengran mendesah pasrah, langkahnya gontai dan tak bertenaga. Sesampainya di dalam Aula Qihua, dia melihat Nangong Zirui tengah berdiri memunggunginya.
Pria itu menghadap jendela yang mengarah ke kolam beku yang sudah mencair. Astaga, Li Fengran tiba-tiba mendapat firasat buruk.
“Kasim Wang, bisakah aku tidak bertemu Yang Mulia hari ini?” tanyanya pada Wang Bi. Wang Bi menggelengkan kepala. Kasim itu justru malah berucap, “Yang Mulia, Pemangku Pedang sudah ada di sini.”
Nangong Zirui langsung berbalik. Matanya menatap Li Fengran, memperhatikan penampilan wanita itu yang tampak tertekan dan tidak bertenaga.
Ia tahu, wanita itu pasti sedang kesal dan berusaha melarikan diri. Namun, sekeras apapun dia berusaha, dia tidak akan berhasil. Nangong Zirui tidak akan melepaskan siapapun yang mengusiknya, termasuk Li Fengran.
Wanita ini bukan hanya sudah memukulnya dan bersikap lancang dengan pura-pura tidak kenal, tapi juga telah melakukan banyak hal aneh yang belum pernah dilihatnya seumur hidup.
Apakah Dongchuan memang memiliki seorang putri seperti ini, yang sangat lancang dan aneh?
Wang Bi melihat Li Fengran tidak segera menunduk, ia kemudian menyenggolnya dan berbisik, “Beri salam.” Barulah Li Fengran sadar.
“Salam kepada Yang Mulia.”
Nada suaranya tertahan. Nangong Zirui berjalan mendekat padanya, refleks Li Fengran mundur. Wajah pria itu sangat tidak enak dilihat.
Bukan karena marah, tapi Li Fengran rasa pria ini punya niat lain. Matanya menatapnya sejak tadi, sampai-sampai Li Fengran merasa kalau dirinya sedang dikuliti hidup-hidup.
“Sekarang kau sudah bisa bersikap sopan padaku, ya?”
“Ahahaha… Yang Mulia, yang kemarin itu hanya bercanda. Yang Mulia begitu murah hati, bisakah kamu tidak memperhitungkannya dengan orang bernyali kecil sepertiku?” ucap Li Fengran.
“Oh ya? Aku justru ingin tahu sekecil apa nyali yang dimiliki Nona Li Fengran dari Dongchuan ini.”
Nangong Zirui menyeringai. Ia melihat Li Fengran begitu tertekan dan berusaha menghindarinya, dan itu sangat lucu menurutnya.
Wanita lain, begitu melihatnya, langsung terpesona dan tergila-gila. Wanita ini, bahkan saat digoda pun, malah ingin melarikan diri dan ketakutan. Benar-benar langka.
Li Fengran tidak bisa melawan seorang raja, bahkan meskipun ia adalah seorang master beladiri dari masa depan.
Orang di hadapannya ini adalah raja sungguhan, bukan sebuah gambar di komiknya yang ia beli dengan harga diskon itu. Kuasa dan keagungannya jauh melampaui deskripsi di dalam komik itu.
“Aku sudah tahu salah. Yang Mulia, tolong lepaskan aku,” ucap Li Fengran ketika Nangong Zirui semakin mendekat. Ia bahkan memejamkan matanya dan sedikit memohon.
Ada senyum kecil tersungging di bibir Nangong Zirui. Ia berbalik lagi, kemudian mengambil sebuah pedang yang sudah tersimpan di meja. Nangong Zirui kemudian melemparkannya ke arah Li Fengran.
“Ambil ini!”
Saat Li Fengran membuka mata dan melihat sebuah pedang melayang padanya, ia refleks menangkapnya dengan kedua tangan.
Berat pedang itu kira-kira dua kilogram, dua kali lebih berat daripada pedang yang pernah ia sentuh di museum bertahun-tahun lalu. Ukiran di pegangannya sangat indah, ada rumbai berwarna silver di ujungnya.
“Pedang Yueliang tidak bisa kuberikan padamu. Ambilah pedang itu sebagai gantinya!”
“Yang Mulia, apa kamu serius ingin menjadikanku seorang Pemangku Pedang?” tanya Li Fengran.
“Zhen tidak pernah bermain-main dengan perintah.”
Setelah itu, Nangong Zirui pergi begitu saja dari aulanya. Li Fengran menatap kepergiannya dengan bengong, bingung dengan maksud perkataan pria itu.
Dia kemudian beralih menatap Wang Bi yang senyam-senyum sendiri. Kasim itu sepertinya sangat senang hari ini.
“Kasim Wang, apa maksud Yang Mulia ini? Dia benar-benar memberiku sebuah pedang?”
“Tuan, kamu tidak tahu? Pedang Yueliang adalah pedang milik Pemangku Pedang Pertama. Pedang itu disimpan di Menara Qianmeng, tentu saja Yang Mulia tidak bisa memberikannya padamu. Pedang yang ada di tanganmu adalah Pedang Xingyu.”
“Apa benda ini punya sejarah?”
“Tentu saja. Pedang Xingyu ini adalah pedang pertama yang didapat Yang Mulia dari mendiang raja sebagai hadiah atas kemenangannya melawan empat tuan muda dari empat wilayah pada kompetisi berburu saat usianya sepuluh tahun.”
Sepuluh tahun? Jika dihitung dengan perkiraan usianya sekarang, Nangong Zirui mungkin sudah berusia dua puluh tujuh tahun.
Usia pedang ini berarti sudah tujuh belas tahun. Ini bahkan lebih tua daripada mainan klasik miliknya di masa depan. Li Fengran mendecih.
“Rajamu memberiku pedang bobrok ini sebagai senjata untuk melindunginya?”
Seketika Wang Bi langsung menutup mulut Li Fengran dengan tangannya. Setelah memastikan tidak ada yang mendengar perkataan Li Fengran barusan, ia baru melepasnya.
Ekspresi kasim itu jadi jelek. Li Fengran sepertinya sudah menyinggung sesuatu dan membuatnya tidak senang.
“Pedang Xingyu ini adalah pedang kesayangan Yang Mulia. Dia bahkan tidak rela meminjamkannya kepada Pengawal Mo Wei. Bagaimana bisa kamu mengatakan pedang ini bobrok?”
Ah, benar. Li Fengran sudah bicara sembarangan dan membuat kasim kecil ini tidak senang. Mengenai sejarah pedang ini, Li Fengran sungguh tidak peduli.
Baginya, pedang ya pedang saja. Dirinya justru penasaran akan alasan mengapa Nangong Zirui tiba-tiba memberikan pedang berharganya kepadanya.
Bukankah pria itu kesal padanya dan hanya ingin membalas dendam?
“Aku akan segera mengirimkan seragam resmimu ke Istana Changsun. Tuan Pemangku Pedang, silakan kembali dan tunggu sampai Yang Mulia memberikan instruksi berikutnya,” ucap Wang Bi setelah rasa kesalnya mereda.
“Oke.”
Setelah itu, Li Fengran keluar dari Istana Qihua sambil membawa Pedang Xingyu.
***
“Heh, kualifikasi apa yang dia miliki sampai Yang Mulia mengangkatnya menjadi Pemangku Pedang?”
Su Min, gadis dari Beichuan yang baru diangkat menjadi selir mengeluh dengan suara keras. Hari ini juga, dia langsung dipindahkan ke Istana Belakang dan diberikan sebuah istana yang letaknya di sebelah utara istana Ratu Donghao.
Di sebelahnya adalah istana untuk Fei Jia, gadis dari Nanchuan yang juga diangkat menjadi selir bersamanya. Sementara itu, Shen Lihua dari Zichuan yang dinobatkan sebagai calon ratu menempati istana paling besar kedua setelah istana Ratu Donghao. Letaknya agak terpisah dari istana para selir.
“Dia bahkan diberikan tempat tinggal istana yang terpisah dari harem. Huh, gadis dari Dongchuan itu benar-benar beruntung!”
Mendengar keluhan itu, Fei Jia juga mau tak mau ikut menanggapi. Ia juga heran mengapa Raja tiba-tiba mengangkat Pemangku Pedang.
Perihal pengangkatan selir, mungkin bisa dimengerti karena saat ini hubungan empat wilayah mulai merenggang sehingga harus menggunakan pernikahan untuk memperkuat ikatan. Tapi soal Pemangku Pedang, sungguh tidak terduga.
Sebelum berangkat ke ibukota Donghao, Fei Jia pernah diberitahu kalau ia mungkin tidak akan dipulangkan dan itu memang terjadi, tapi ia tidak menyangka semua wanita dari empat wilayah juga tidak dipulangkan.
Tiga masuk ke harem, satu orang justru malah jadi pendamping raja. Jika bicara soal keberuntungan, tentu saja gadis dari Dongchuan bernama Li Fengran itu yang paling beruntung.
“Bakatnya biasa saja. Dia juga terlihat tidak pernah dididik sopan santun. Apa yang membuat Yang Mulia Raja begitu memandangnya sampai mengangkatnya menjadi Pemangku Pedang?” tanya Fei Jia. Su Min menggeleng kesal.
“Pemikiran Yang Mulia Raja, siapa yang tahu dan siapa yang berani menebaknya?”
Tiba-tiba mereka dikejutkan oleh suara seseorang dari belakang. Saat menoleh, Shen Lihua datang bersama pelayannya.
Wanita yang baru diangkat menjadi calon ratu itu sudah berganti pakaian dan memakai busana mewah.
Aksesorisnya banyak dan hampir memenuhi bagian kepalanya, membuat mata silau jika berbenturan dengan cahaya matahari. Untung saja hari ini cuaca tidak terlalu panas.
“Yang Mulia,” Fei Jia dan Su Min langsung berdiri menyambut.
“Ssstt… Panggil aku kakak saja, posisi Ratu Donghao belum menjadi milikku,” ucap Shen Lihua sembari duduk. “Mengapa kalian mengeluh? Apakah kalian tidak puas dengan putusan yang diberikan Raja?”
Su Min dan Fei Jia seketika menggelengkan kepala. “Bukan, kami tentu saja tidak berani merasa tidak puas. Hanya saja kami merasa kalau Li Fengran tidak lebih baik dari kami. Jika dibandingkan denganmu, itu jelas seperti langit dan bumi.”
“Adik Su, tidak boleh bicara begitu. Wanita itu harus rendah hati. Mungkin Raja memiliki pertimbangan lain perihal utusan Dongchuan. Sebagai wanita milik Raja, tidak boleh membandingkan diri dengan yang lain,” ucap Shen Lihua.
Fei Jia mengangguk, begitu pula dengan Su Min.
“Seharusnya keberuntungan tertinggi itu milik Kakak Shen saja. Gadis dari Dongchuan, tidak cocok memiliki keberuntungan itu,” ucap Fei Jia.
Shen Lihua menanggapinya dengan senyuman.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 111 Episodes
Comments
Bzaa
ratu baru kyknya gak sebaik keliatannya
2025-03-18
0
Dewi Ansyari
Apakah Li fengran bisa kuat dan bisa belandiri
2024-09-18
0
Fifid Dwi Ariyani
tryssehat
2024-01-22
1