20. Es krim

Eh ada Kak Afgan, ngapain di sini?" tanya Alena dia menyimpan ponselnya.

Afgan memutar mata malas. "Beli siomay, Len... Ya, beli martabak dong, gimana sih," jawabnya tidak santai, membuat Alena mengerutkan alis.

"Santai napa, Kak," kekeh Alena, tangan kanan menepuk bangku kosong agar Afgan duduk disampingnya.

Afgan yang memang tau sifat Alena, hanya menghela napas panjang lalu duduk setelah memesan pesanannya, yaitu martabak manis.

"Sama siapa lo di sini?" tanya Afgan kala Alena ingin mengambil ponselnya.

"Sama cowok dong," jawab Alena tanpa melihat ekspresi wajah Afgan yang cemberut.

"Sejak kapan lo punya cowok? Lain kali kenalin sama gue lah, tuh cowok layak kagak buat jadi pacar lo," Afgan mengangkat bibir sebelah, membuat Alena menahan tawa. Astaga ada-ada aja kelakuannya si kakak kelas eh?

"Gue gak bilang pacar, tapi gue bilang cowok, Kak," balas Alena tidak bohong, memang benarkan Alena datang bareng Bima.

"Lain kali jangan sembarangan pilih pasangan, Na. Nanti lo disakiti kawus loh," ucap Afgan membuat Alena melotot, apa-apaan coba ucapannya itu?

"Mana ada, gue juga pilih-pilih lah Kak kalo soal cowok. Ya kali, modelan preman gue pacarin," jawab Alena MEMBUAT Afgan tersenyum.

"Nah gitu dong, kan seneng jadinya," gumam Afgan, Alena yang tidak terlalu mendengar hanya mengangkat bahu acuh lebih baik melihat video dari aplikasi hiburan dibandingkan bercerita dengan Afgan.

Martabak pesanan Alena sudah siap untuk disajikan, mata gadis itu menyapu sekitar tukang martabak mencari sosok Bima yang sedari tadi pergi namun tidak kunjung kembali, bagaimana kalo dia pulang tanpa membayar martabak terlebih dahulu. Tidak, tidak Bima tidak seperti itu pada Alena, lantas dimana dia?

"Mang es krimnya dong tiga yang rasa vanilla, dua yang rasa coklat," ucap Bima ketika sampai di ruko seberang jalan.

"Yang coklat sudah habis udah diborong sama dia, Mas," jawab pedagang itu membuat Bima mendengus kesal, karena rasa coklat adalah rasa yang paling enak diantara es krim yang lain menurut Bima, satu lagi Rasa coklat adalah kesukaan Alena.

Bima menatap wanita yang menenteng sekresek es krim berbeda-beda, hanya saja yang paling banyak adalah rasa coklat. Cowok itu melangkah ke wanita tadi, niat ingin menukar rasa es krim miliknya dengan milik cewek itu, semoga dia baik.

"Mbak, boleh es krimnya dituker gak? Saya mau tuker es krim vanila ke coklat, boleh?" Bima menyodorkan es krim vanillanya padahal wanita itu belum setuju dengan keinginannya.

Cewek itu menggeleng pelan, membuat Bima kesal. Dia sudah baik, tapi masih saja ditolak kebaikannya. "Satu aja kenapa sih, gue juga mau yang rasa coklat buat adik gue, jangan pelitlah ketimbang dituker juga," kesal Bima dia mengembalikan es krimnya ke kresek.

"Lah kok ngamuk?" cewek itu berdiri, menatap wajah Bima heran. "Kalo gak mau tuker yaa jangan dipaksa dong, gimana sih?" lanjutnya membuat Bima semakin kesal.

"Tukeran satu doang, Mbaknya banyak kok tuh yang rasa coklat. Satu aja buat adek gue!" ucapnya tetap ditanggapi gelengan oleh wanita itu.

Bima mendecak kesal, tanpa ba bi bu lagi dia langsung meninggalkan ruko itu setelah membayar es krim yang dia beli. Tujuannya sekarang adalah Alena, pasti adiknya itu sudah selesai. Matanya menyipit kala melihat Alena berdekatan dengan laki-laki seumuran dirinya, setengah lari menghampiri mereka berdua.

"Berapa, Mang?" tanya Bima kepada tukang martabak, matanya sekilas menatap Alena yang masih sibuk dengan ponsel. Matanya sekarang menatap Afgan yang kini menatapnya, melotot sebentar lalu menerima martabak. Afgan yang di tatap seperti itu tentu saja kaget, apa salah dia?

Setelah mendapat uang kembalian Bima menghampiri Alena yang kini menatapnya, Afgan melihat laki-laki asing menatap Alena dengan tatapan tajam membuatnya waspada akan penculikan. Tangan Bima meraih tangan lembut Alena, anehnya satu pergelangan tangannya di cekal kuat oleh seseorang, ternyata dia adalah Afgan.

"Punya masalah apa ya?" tanya Bima masih santai, Afgan yang mendengar itu semakin mengeraskan cekalannya, membuat Bima mendengus sebal. "Lepasin anjing, tangan gue sakit, kenapa sih lo?" maki Bima membuat Alena melotot lalu melepaskan cekalan Afgan.

"Lo bisa santai gak sih sama cewek?" tanya Afgan.

Bima mengerutkan alis, begitupun dengan Alena. "Gue aba—"

"Dia cowok gue, Kak." setelah mengakatakan itu Alena buru-buru pergi dari tukang martabak, bisa bahaya nanti kalo Bima marah pada Afgan. Tidak hanya marah pasti akan mengeluarkan banyak pertanyaan tentang siapa laki-laki itu.

Alena menuntun Bima ke arah mobil sembari menenteng kresek yang isinya cemilan dirinya sendiri, berbeda dengan Bima laki-laki itu masih kesal dengan kejadian beberapa menit. Tangan kanan bergerak memberi sesuatu pada Alena, dengan cepat Alena menerima es krim kesukaannya.

"Tumben beli yang vanila doang, Bang kan Alena sukanya coklat," celetuk Alena di sela makan es krim.

"Es krim coklat habis, jadi itu aja. Kalo gak mau buat abang gak papa," jawab Bima sembari menyetir mobil.

Alena menggeleng. "Gak bang, rezeki gak boleh ditolak," balas Alena, membuat Bima mengelengkan kepala heran selalu saja begitu.

"Yang tadi cowok siapa?"

"Bang jangan tanya yang begitu, gak penting. Mending kita rencanakan mau kemana sekarang," jawab Alena buru-buru mengalihkan pembicaraan Bima.

"Kamu ini selalu saja begitu kalo ditanya soal cowok, lagian abang cuma nanya kamu kenal apa engga," ucap Bima.

Alena terkekeh saja tanpa menjawab ucapan Bima, lebih baik menikmati es krim dibandingkan menjawab pertanyaan Bima yang tidak ada ujungnya itu. Bima yang sudah tahu watak Alena hanya menghela napas gusar, harus menunggu Alena sadar dan kenyang terlebih dahulu.

Bima pokus menyetir, tiba-tiba teringat dengan janji temannya yang akan bertemu di cafe biasa. Menatap Alena yang masih sibuk memakan es krim lalu martabak membuat Bima mengurungkan niat, mungkin lain kali saja atau menunggu dia puas dulu?

"Dek, mau ikut ketemu teman abang gak?" tanya Bima ekor matanya menatap Alena yang menganggukkan kepala pelan.

"Jawab, Dek jangan gerakan tubuh doang," tegur Bima, kini gadis itu terkekeh.

"Mau bang, tapi seperti biasa ya," jawab Alena membuat Bima menghentikan mobil karena memang harus berhenti karena lampu merah.

"Makanannya masih banyak loh, Dek. Masa minta jajan lagi, habisi dulu itu baru minta lagi," ucapnya sudah tahu jalan pikiran adiknya itu.

Alena memanyunkan bibir, merajuk. "Yaudah iya, tapi jangan lama. Kalo makanan habis berarti kita pulang, kecuali kalo abang pesen lagi makanan Alena diam," ujar Alena sembari memasukan martabak ke dalam mulut.

"Lo manusia licik yang pernah gue temui, Alena."

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!